Amanah Terakhir

Amanah Terakhir
Bab 8


__ADS_3

(Pov) Lutfi


Rasa bosan membuatku memilih menjalani kegiatan yang menurutku cukup menyenangkan, bahkan aku merasa tertantang untuk menguji nyaliku di alam bebas, menjelajah hutan hutan yang masih liar dengan mengendarai motor super bising ini.


Yea...Tadinya itu kulakukan hanya sekedar main main, tetapi kini seolah aku semakin gemar melakukan nya. Ternyata Alam bebas membuat pikiranku tenang, dan perlahan aku menemukan duniaku yang baru , setelah kepergian nya.


Tak terasa, setengah tahun sudah hobby ini berlangsung, dan rasa bosan belum aku jumpai pada diriku. Event, event dan event , semua tidak pernah sekalipun aku absen mengikutinya. Dan terkadang jika event itu di selenggarakan di luar pulau, sebulan penuh aku tidak pulang ke rumah. Dan mereka( kedua orang tuanya) sama sekali tidak berani menggangguku. Persetan, aku tidak butuh mereka lagi, walaupun sebenarnya aku kecewa.


Ya..Dua tahun yang lalu, semenjak dua tahun yang lalu, semua berubah, hidupku berubah. ya benar, .semenjak kedua orang tuaku semakin sibuk dengan bisnis mereka. Itu Ibu yang membuka usaha catering baru, dan Bapak yang semakin memperluas bisnisnya di bidang perdagangan. Aku senang, karena dengan itu mungkin masa depanku sangat terjamin, tapi bukan itu yang aku butuhkan, aku butuh kasih sayang mereka, aku butuh perhatian mereka. aku butuh berbicara pada mereka, Apa mungkin mereka berpikir aku sudah dewasa, jadi mereka percaya saja padaku, itu aku yang selalu membuat mereka marah, itu aku yang selalu membuat ibu menangis karena bapak yang menegurnya dengan tegas.


Dulu , sebelumnya mereka masih sempat menyentuhku, ibu yang membelai kepalaku, bapak yang mengajariku pelajaran bisnis, mereka yang menanyakan kuliahku, prestasiku bahkan teman teman pergaulanku. Hidupku cukup sempurna, dengan dia( teman baiknya) ada di sisiku.


Namanya Mia, dia sosok wanita yang aku kagumi selain ibuku, usianya lebih dewasa dariku satu tahun. Dan dialah yang selalu menemaniku setiap hari, baik di kampus, ataupun di rumah. Aku sempat berpikir untuk melamarnya, karena kupikir dia yang paling mengerti aku, tetapi , takdir berkata lain, hatiku hancur , setelah ku tau bahwa hidupnya ternyata hanya di tentukan oleh dokter, dia mengidap kanker stadium akhir dan Satu tahun setengah tepatnya, dia meninggal.


Apa yang mereka( orang tuanya) lakukan, mereka hanya memandangku, dan tidak pernah bicara padaku sekalipun. Brengsek, orang tua macam apa mereka, apa uang lebih penting daripada anaknya.


Aku butuh orang berbicara padaku, aku butuh mereka mendengarkan ceritaku, aku butuh belain dari seseorang yang selama 5 tahun itu ada menemaniku, aku benci sendiri, aku benci rasa kesepian.


****


" Seorang Ayah akan selalu mengkhawatirkan putranya, apalagi mereka anak tunggal. Tidak ada seorang Ayah yang tidak akan khawatir akan masa depan anaknya. Mereka bekerja untuk keluarga dan masa depan anak anaknya. Dan aku yakin, Ayahmu juga berpikir demikian"


Belum lama ini, aku sadar, aku salah, dan aku menyesal. Andai saja pikiran ku lebih terbuka, mungkin Bapak masih berumur panjang, Itu semua salahku, aku yang selalu membuatnya cemas dan selalu khawatir.


"Hiks.. hiks.... Bapak.. maafkan aku,... maafkan aku yang selalu membuatmu cemas"


Yah... aku menangis, aku menangis jika kuratapi kebodohan ku, penyesalan yang tidak akan ada habisnya seumur hidupku, yaitu membuat Bapak tidak tenang di alam sana.


tok.. tok.. tok


" Ibu mau bicara sama kamu " suara ibu, suara yang menyejukkan hati bila ku dengar.

__ADS_1


Aku menghapus air mataku,.. sungguh kenapa akhir akhir ini aku jadi cengeng, mirip anak perempuan saja.


Aku segera memakai sandalku dikakiku, dan ku seret untuk membuka pintu kamar untuk ibu.


Ibu memandang, ya.. aku tau, ibu melihat mataku yang sedikit basah dengan air mata tadi. Tetapi beliau sama sekali tidak berkata apa apa. Pandangan mata itu, seolah membuatnya ikut sedih. dan lihatlah,... matanya mulai berkaca kaca. Aku tak tahan dan tak mau membuat ibu semakin sedih, maka ku palingkan wajahku dan segera menghapus habis airmata sialan ini. Kenapa laki laki juga di beri air mata?.


Aku berdehem sebentar, sebelum mengucapkan kata kataku, setelah berhasil air mata itu ku singkirkan sepenuhnya.


" Ada apa bu? " tanyaku kemudian sambil menatap dalam mata ibuku, ya.. hampir saja beliau juga mengeluarkan air mata seperti ku, mungkin ada semacam ikatan pada diri kami. Eh... kenapa aku jadi dramatis.


Ibu mengusap air mata yang tadi menggenang di matanya, sebelum berbicara padaku.


" Boleh ibu masuk? " katanya, dan aku membuka pintu kamarku lebih lebar untuk beliau masuk, badannya kini agak kurus, tidak seperti dua bulan yang lalu, sebelum Bapak sakit. kulitnya ternyata sudah nampak guratan guratan halus, tanda beliau sudah mulai menua karena usia.


Ibu duduk di atas kasurku, dan aku menyeret kursi di dekatnya sambil menunggu kata katanya untuk ku.


" Ada anak perempuan tadi pagi kesini, katanya sebelum Bapak meninggal, anak itu di amanahi untuk mengajar mengaji kamu"


Aku terbelalak seketika, "karangan drama macam apa itu, siapa perempuan itu, apa tidak ada tema yang lain? " pikirku konyol setelah mendengar cerita ibuku.


" Apa dia masih kerabat kita? " lanjut ku kemudian.


Ibu menghela nafas panjang, sebelum bertutur kata.


" Sebenarnya ibu juga tidak percaya, tapi kenapa insting ibu merasa dia itu tidak berbohong"


" Ck... " Aku berdecak lalu berdiri dan mengambil almameterku, lalu berjalan menyeret langkahku.


" Kamu mau kemana nak? " tanya ibu seketika.


" Kuliah"

__ADS_1


****


Aku mengurut hidungku tak habis pikir dengan keputusan dosenku yang mengharuskan aku mengulang kuliahku dua tahun lagi.


" Sialan"


Memikirkannya membuat aku frustasi, Aku butuh sesuatu untuk melampiaskan kekesalanku ini.Aku sengaja ingin pergi ke kantin, mungkin dengan meminum sesuatu , pikiranku menjadi ringan.


" Lutfi, kamu ke kelas sekarang ! "


" Brengsek, ada apa dosen itu mengejarku dan menyuruhku ke kelas, ****"


" Minggir" gertakku pada seseorang gadis yang menghalangi jalanku. Dan diapun segera minggir dengan raut wajah ketakutan.


" heh, ketakutan, apa yang mereka takuti! "


Yah.. kelas ramai seperti dulu, tetapi sekarang kulihat banyak anak anak yang baru. wait... wajarlah.. aku hiatus selamanya satu tahun masuk kelas ini. Memikirkannya membuat ku jadi tersenyum konyol, " Hah... dunia akan selalu berubah, karena manusia merubahnya, dan manusia juga berubah.


Berubah... aku jadi ingat kata kata ibu tadi, kenapa ada seseorang yang dengan bodohnya berkata kepada ibu ingin merubahku, siapa dia, seperti apa wanita itu, heh... Konyol.. manusia memang konyol. Wanita itu pasti juga konyol.


****


Pagi yang buta, aku kecewa dengan pak Yanto yang tiba tiba meliburkan kegiatan di sirkuit itu. Apa yang akan aku kerjakan sekarang. pulang... buat apa aku pulang, palingan juga di rumah aku bosan, bathinku ketika aku melaju jalan raya yang masih sepi dengan tujuan yang gak jelas. Aku berhenti di salah satu pom bensin, dan mengisi bahan bakar motor.


" Ternyata motorku sudah sangat kotor" melihat motorku yang kotor, akhirnya aku putuskan untuk pulang ke rumah, istirahat lalu kuliah. Apa aku gak bosan dengan kuliah. Tapi walau bagaimana pun, aku harus lulus, aku gak mau tua di kampus.


" Siapa perempuan ini, kenapa dia memanjat pagar" pemandangan yang membuat diriku geram, seorang perempuan berhijab, dan hijab itu cukup panjang, karena hampir membungkus seluruh badannya. wanita syar'i, aku jadi ingat sebutan mereka. Tapi wanita syar'i mana yang memanjat pagar rumah orang pagi pagi begini.


Seketika tindakan untuk menjeratnya ku lakukan, ku tarik hijab panjangnya dengan kuat, beberapa helai rambut itu terlepas dan tertiup angin beterbangan. Cukup panjang rambut wanita ini.


" Kamu maling ya"

__ADS_1


Ternyata dia masih seorang bocah, bocah yang sudah remaja, kulit nya putih bersih, dan dia sangat manis dengan mata besarnya. Aku melepaskan tanganku, dan mulai geram, wajah itu sama sekali tidak takut , walaupun kepergok ingin masuk rumah orang. ekspresinya cukup tegas, dia wanita yang pemberani, atau jangan jangan dia tomboy.


( bersambung)


__ADS_2