Amanah Terakhir

Amanah Terakhir
Bab 2


__ADS_3

Badanku masih lemas saat ibu membawaku pulang ke rumah. Tapi wajahku sudah tak pucat lagi seperti tiga hari yang lalu, sakit Typus yang ku alami membuatku terbaring lunglai di rumah sakit, dan sempat koma. Ingatanku tentang kejadian di rumah sakit, masih saja terrekam jelas. Bapak tua itu seakan tak pernah berhenti meneriakiku atas permintaannya. Aku bingung, aku tak berani cerita pada siapapun, apalagi sama ibu ku sendiri. Hingga hari ini, tepatnya siang hari.


Badanku sudah terasa segar, karena air hangat yang aku gunakan untuk membasuhnya, rambutku sudah tak kusut lagi, dan wangi aroma buah buahan kesukaanku menempel padanya.


Setelah makan siang dengan bubur ayam yang ibu siapkan tadi, rasanya tenagaku mulai pulih. Dan aku benci saat ibu menyuruhku meminum obat yang dia bawa dari rumah sakit, tapi apa boleh buat, demi kesembuhanku aku tetap meminumnya, walaupun perutku kembung sesudahnya, karena air yang kumasukkan begitu banyak agar obat itu tidak ku muntahkan lagi.


Teras rumah adalah tempat favoritku saat aku merasa bosan. Ibu belum megijinkanku pergi ke kampus, karena aku anak yang patuh, akupun menurutinya.


"Assalamualaikum "


Suara ceria dari anak anak membuatku senang, dan senyumku terukir untuk memyambut kedatangan mereka. Jujur, aku juga merindukan mereka, anak anak didikku di mushola.


" waalaikumussalam"


Lalu mereka menyalami tanganku dan memelukku, badanku merasa hangat dengan pelukan mereka yang menutupi sekeliling badanku, karena mereka secara bersamaan memelukku, hingga sedikit nafasku terasa sesak.


" Kak hyla.., kami rindu kakak. " kata risa salah satu anak didikku.


" kakak juga rindu kalian. " jawabku.


" kapan kakak ngajar ngaji kami lagi?"


Ilham menyambung percakapan kami.


" Insyaallah, secepatnya kakak ngajar ngaji lagi, doakan kakak ya, biar cepat sembuh! " balasku.


Lalu mereka melepaskan pelukan. Dan duduk di bawah mengitari posisiku. Kemudian ibuku datang membawakan seteko teh hangat, dan makanan kecil untuk disajikan diatas meja, setelahnya anak anak itu memyalaminya.


***


Hari ketujuh.


Siang itu aku berniat ke kampus, mengejar mata kuliah yang tertinggal. Untunglah, dosenku tak keberatan meminjamkan bukunya kepadaku. Hingga aku bisa mencatat pelajaran yang tertinggal selama seminggu kemarin.


Dan aku juga sudah mulai ke mushola pada sore hari, setelah pulang sekolah untuk mengajar mengaji.


Hingga malam hari tepat di hari ketujuh. Bapak tua itu mendatangiku dalam mimpi, meminta kembali padaku, untuk mewujudkam permintaannya. Dengan peluh yang sebesar biji jagung, aku terbangun seketika. Rasanya menakutkan, demi Tuhan, ini pertama kalinya aku di temui orang yang sudah meninggal, dan di beri amanah.


Untuk itu, aku memutuskan untuk mengerjakan sholat sunnah di malam hari, dan meminta petunjuk dari Tuhan.


***


Aku bertekad menemui guru pembimbingku, untuk menanyakan peristiwa yang aku alami tadi malam. Beliau menyuruhku untuk menjalankan amanah dari bapak tua yang menemuiku dalam mimpi. Sampai akhirnya, aku harus mendatangi rumah sakit dimana waktu itu aku dirawat, dan menanyakan pada resepsionis alamat rumah bapak yang ada dalam mimpiku tadi malam.


Sederetan perumahan dikawasan elite membuatku ragu untuk melangkahkan kaki. Itu membuat si "bebek" motorku, ku parkir di depan gerbang kawasan, lalu aku berjalan menuju pos satpam yang masih ada dalam perbaikan.


"Cari siapa mbak? "


Suara yang tiba tiba mengejutkanku, membuat jantungku hampir jatuh seketika itu.


Aku menolehkan kepala, dan mendapati seseorang dengan badan subur menggunakan seragam dan seperangkat atributnya. Kemudian pria subur itu mendekatiku, dan meneliti penampilanku dengan serius.


" Mbak mau kemana? "


Tanyanya lagi.


"Emmm, maaf pak Satpam, saya mau menanyakan alamat ini"


Sambil ku sodorkan sebuah buku kecil yang sudah ku tuliskan alamat yang ku dapat dari resepsionis rumah sakit.

__ADS_1


" Oh, rumahnya bu Siska??"


Pak satpam itu rupanya tahu, dan kenal atas alamat yang aku tunjukan. Kemudian dia berjalan, dan kini sibuk membuka sebuah besi palang yang biasanya juga digunakan untuk menutup palang kereta api.


Dengan si "bebek" aku memasuki kawasan itu, dan berterima kasih pada pak satpam tadi, karena telah membantuku menunjukkan salah satu rumah yang aku maksud.


Aku berhenti di sebuah rumah yang sangat besar, halamannya luas, kalo di lihat lebih rinci, banyak sekali ruangan yang berjejer di sebelahnya. Dan rumah itu bertingkat dua. Aku terbengong melihat semua apa yang ada di depan mata.


"Masyaallah.."


Tiba tiba bibirku berguman. Mengagumi apa yang aku lihat sekarang.


Aku semakin tidak punya nyali untuk bertamu di rumah megah ini. Aku bingung...


" Apa aku pulang saja ya..?? " decakku dalam hati.


Lalu aku turun dari si" bebek", dan memeriksa ke dalam melalui pagar gerbang rumah itu.


"kelihatannya di dalam ramai?"


Aku memukul wajahku sendiri karena rasa "bodoh" yang spontan aku dapatkan.


" Yang benar saja Ela, khan masih suasana berduka, pantesan banyak orang berkunjung untuk bela sungkawa. "


"Kesempatan bagus untuk nyari alasan"


" yess"


Bersyukurlah diriku, karena punya alasan untukku bertamu dan dengan maksud yang sudah aku rangkai dalam pikiranku.


Pintu gerbang itu terbuka, dan mungkin memang sengaja, melihat suasana masih dalam berkabung.


Tanpa ragu lagi aku memasuki pekarangan rumah mewah itu, setelahnya meninggalkan si" bebek" yang sudah ku kunci stang, di luar.


Aku menarik nafaku dalam dalam, dan menghembuskannya pelan.


Lalu aku masuk ke dalam rumah itu, yang kebetulan juga masih ada orang orang yang bertamu.


"Assalamualaikum "


"Waalaikumsalam warohmatuahiwabarokatuh"


Balas semua orang yang berada di dalam rumah itu dan sedang duduk di sebuah karpet tebal dan empuk.


"Silahkan masuk"


Ucap dari wanita yang sudah aku kenal saat di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Wanita yang anggun dan lemah lembut, dan sangat elegan karena penampilannya.


" Masyaallah", aku terpesona dengan sekilas pandang sekarang.


Kemudian ibu itu menyalamiku, dan menyuruhku duduk di karpet dengan sederetan makanan kecil yang tersaji di depannya. Tak lama ibu itu mengambil minuman gelas yang tersaji , dan menaruhnya di depanku.


" Silahkan di minum. " tawarnya padaku.


" Ibu ini tahu saja kalo aku sedang haus"


kataku dalam hati.


'Alhamdulillah "

__ADS_1


Ucapku kemudian setelah meminum minuman gelas tadi.


" Kami pulang dulu bu Siska, " seorang wanita memeluk ibu siska.


" Yang tabah ya bu..!!"


Kata kata yang di ucapkannya dalam pelukan.


" Terima kasih" jawab bu Siska membalasnya.


Kemudian rombongan itu pergi meninggalkan kami, kini hanya ada aku saja yang bertamu.


Aku mengutarakan maksud kedatanganku saat kami berhadapan kemudian. Tetapi aku masih ragu dan juga bingung, jika aku bilang dengan kejadian yang aku alami, apakah ibu ini akan percaya. Karena hal itu terdengar mistis tapi aku mengalami nya. Dengan sedikit ragu aku mulai percakapan.


"Saya Hila bu..." aku memperkenalkan diri.


" Emmm... " rasa gugup mulai ku alami. Aku menghela nafas, dan mencoba memilih kata kata yang tepat untuk menjelaskannya.


"Bismillah " ucap hatiku untuk mengusir rasa gugup.


" Sebelumnya maaf bu, maksud kedatangan saya ini, untuk berbela sungkawa, dan juga...saya mau mengutarakan amanah yang saya terima dari bapak...?? "


Kata- kataku terputus putus, dan juga aku lupa nama bapak yang telah meninggal itu, padahal petugas resepsionis itu tadi sudah memberitahukan nya.


"Maaf sebelumnya, ehmm.., kalo boleh tahu nama Bapak siapa? "


Ibu itu tersenyum, sembari menjawab..


"Bapak Burhanudin.. "


Wajahku langsung memerah karena malu, dan itu bisa saja ibu ini akan mengira aku berbohong.


" Eh iya, bapak Burhanudin. " ucapku sembari tersenyum kaku , aku merasa terlihat seperti orang bodoh. Aku malu dan berusaha seolah tidak malu.


"Bapak Burhan, waktu di rumah sakit pernah meminta saya untuk mengabulkan permintaan terakhirnya bu,... " ucapku mulai menjelaskan, aku sengaja mengarang sana sini agar ibu ini percaya, terpaksa ku lakukan, sebab jika aku berkata yang sebenarnya mungkin juga ibu ini malah mengira aku mengada - ada dengan kejadian itu.


Syukur lah ibu ini mau percaya dengan cerita ku dan malahan kini terlihat sedih.


"Tapi sebelumnya maaf, bukannya saya mau ikut campur dalam urusan rumah tangga ibu, tapi saya hanya mau menyelesaikan amanah bapak kepada saya saja kok bu. "


Jelasku panjang lebar, pada ibu Siska.


" hiks. .. hiks.. hiks.."


Suara tangis bu Siska akhirnya terpecah setelah penyampaian maksduku.


Aku jadi bingung harus bagaimana lagi, aku tidak bermaksud membuat nya sedih.


" Maafkan saya bu,.. bukan maksud membuat ibu bersedih begini. " ucapku, kini merasa tidak nyaman.


Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara isak tangis ibu Siska. Aku sengaja diam, menunggu sampai ibu Siska berhenti menangis


"Memang betul nak Ela, putra ibu benar benar telah menjadi beban yang berat bagi bapak semasa beliau masih hidup dulu, karena harapan bapak sangat besar kepadanya, tapi ibu juga bingung harus berbuat apa dan bagaimana, ibu belum mampu membuat anak itu menurut dan patuh pada kami. "


Wanita di depanku mulai bercerita padaku, tentang putra semata wayangnya itu. Aku mulai paham dari cerita yang aku dengar langsung, tersentuh hingga ingin sekali membantunya mewujudkan harapannya.


"Jika nak Ela bersedia dan tidak keberatan membantu membuat anak kami mau berhijrah, saya sangat senang sekali"


Aku mengangguk pelan, tapi jujur hatiku masih ragu.

__ADS_1


" InsyaAllah bu, saya akan pikirkan kembali"


( bersambung)


__ADS_2