Amanah Terakhir

Amanah Terakhir
Bab 7


__ADS_3

Kakiku gemetaran, ketika ku ayunkan untuk menghampiri Pria kurang ajar itu. Tidak seperti tadi ,saat aku dengan mantap melemparkan botol minuman ke arahnya. Rasa percaya diriku menyusut, dan kini nyalikupun mulai mengerut.


" Mampus.. mampus.. mampus kamu hyla", sambil bathinku, merutuki diri sendiri.


Aura Lutfi benar benar terasa mengintimidasiku, melihatnya saja sudah membuat ku merinding, apalagi saat ini, dia suguhkan senyumnya yang mengerikan...benar benar seperti iblis. Tetapi aku sudah terlanjur menantangnya, masak aku harus mundur, apa nanti kata mahasiswa mahasiswa kampus ini, yang sekarang entah kenapa jumlahnya semakin banyak. Emang apa ini tontonan bagi mereka?,bathinku kesal memikirkannya.


" Aku harus kuat.. aku tidak boleh takut, aku akan balas tonjok dia jika dia menonjokku, aku akan meneriakainya kalo dia meneriaki ku, aku akan balas memakinya kalo dia memakiku" bathinku, mengobarkan lagi jiwa kepahlawananku, "what apa ini adalah tindakan kepahlawanan " bathinku dengan konyolnya ,di saat situasi gawat seperti ini.


" Oke, aku harus pasang wajah garang, supaya dia tidak meremehkanku, aku harus berani menghadapi dia yang telah bertindak jahat, karena bagaimanapun, bukankah kejahatan itu perlu di musnahkan? ", Dengan semangat yang membara, aku kini siap bersitegang dengan nya.


"Minta maaf sama dia! " ucapku dengan keras dan tegas , kuusahakan nada bicaraku mengintimidasi, sama seperti dia. Tidak lupa aku memendelikkan mataku yang sudah besar ini, ketika jarak kami sudah cukup dekat, berharap dia takut padaku.


"Sialan, Lutfi malah tertawa miring, seolah diriku hanyalah serangga meraung", bathinku lagi, emang serangga bisa meraung?. sudahlah lupakan, Aku mulai tersulut emosi sama kelakuannya.


" Apa yang lucu, kamu kira tindakan jahatmu itu lucu! " hardikku, sama seperti caraku menghardik muridku, ketika mereka membuat gaduh, dan biasanya mereka akan takut, tapi apakah ini juga akan berhasil kulakukan padanya?.


Aku tertegun, kenapa dia diam saja membalasku, mata itu seolah terpana memandang padaku?, sesaat wajahku memerah, aku tersipu. Otakku sedikit oleng. "What", mana mungkin si iblis itu terpana , yang ada mungkin dia sedang merencanakan sesuatu. Untunglah aku segera sadar, dan bisa membaca situasinya.


"Aku tetap was was terhadapnya, bahkan tanganku sudah sengaja ku kepalkan, mengantisipasi, barangkali dia akan memukulku, "oke siapa takut," bathinku dengan mantap, Jika dia melayangkan pukulan padaku, aku sudah siap membalasnya.


Dia kembali menyunggingkan senyuman iblisnya, tatapannya meremehkanku, aku benci itu, kemudian dia berdiri dari motor, dan memasang standarnya, memarkir motornya, mengabaikanku, lalu berjalan ke depan.


" Mau kemana dia? "aku berbalik seketika,pandanganku mengikuti langkahnya yang terus berjalan maju.


Rupanya dia menghampiri temanku yang tadi jatuh karena ditabrak olehnya, bahkan, Resty, teman ku itu melongo, menatap ke arahnya. Lelaki itu berjongkok, sembari melihat lukanya. Resty terlihat ketakutan ,dari apa yang aku lihat. Aku hendak berlari, ketika lelaki itu tiba tiba berdiri, niatku jadi urung, untunglah Dia tidak apa_apa_kan Resty.


Aku bernafas lega, setidaknya hal ini mengurangi beban ketegangan yang kurasakan sendiri. Ku amati mereka, lelaki itu kemudian membuka dompetnya yang dia ambil dari saku celana bagian belakangnya, lalu melemparkan uang 2 buah uang ratusan_ ke tanah. Ku lihat Resty menunduk, sembari wajahnya ketakutan. Apa yang lelaki itu katakan, apa dia mengancam Resty.


" Sungguh tidak bisa di maafkan kelakuannya, kemana sopan santun nya, apa bu Siska lupa mengajarinya sopan santun menghargai orang " batinku jengkel, sembari menggeram dan berlari menyusul mereka.


Belum berhasil aku sampai di tempat mereka, Lutfi berbalik dan kini berjalan dengan congkak, ke arah motornya, bahkan dia mengabaikanku. Aku semakin jengkel oleh ulahnya, spontan aku teriak lagi.

__ADS_1


" Hey,.. punya adap gak sih, gak sopan banget? "


. Dia acuh, tetap berjalan lurus ke motornya tanpa menoleh sedikitpun.


Ku hela nafas kesal, beribu ribu kesal yang menggunung, dengan ulahnya, ternyata benar, dia badboy , apakah aku sanggup mengajaknya untuk berhijrah, tekadku kini kembali ragu untuk menjalankan amanah itu.


" Kamu tidak di apa_ apakan kan sama dia? " tanyaku seketika pada temanku, sembari Memapahnya ke bangku satu satunya yang ada di tempat parkir. Mahasiswa mahasiswa itu kini mulai bubar.


Resty menghela nafas, raut wajah ketakutannya kini mulai menghilang.


"Iya, aku baik baik saja La" jawabnya.


" Dia bicara apa?, apa dia mengancammu? "


Resty menunduk, mata itu berkaca kaca sembari memandang ke tanah. kemudian temanku itu menggeleng dengan berat.


" Tidak... aku tidak apa-apa" ucapnya. Aku tau, dia tidak baik baik saja, ekspresi itu bisa aku tafsirkan. Tetapi aku juga bingung, aku tidak tau apa yang ingin aku lakukan jika Resty tidak bicara padaku ,hal yang di sembunyikannya.


" Ya sudahlah.... ,mari ku antarkan pulang" ajakku kemudian. Aku mengantar Resty ke rumahnya, dan motor Resty ku titipkan di kampus.


****


Malam ini dingin, langit begitu gelap karena mendung. tidak ada satu bintang pun yang hadir menghiasnya, apalagi bulan yang bersinar.


tok tok tok..


Sepertinya ibu mengetuk pintu kamarku, aku beranjak dari atas kasur, dan segera melangkah membukakan pintu.


" Iya bu" balas ku,


"Hyla, Ibu besok mau jemput Bapak di bandara, sekalian kami berencana untuk mampir ke rumah teman bapak di depok"kata ibuku.

__ADS_1


" Aku ikut ya bu" ucapku spontan. Tetapi Ibu menggeleng, itu membuat bibirku seketika manyun. Ibu tau aku merajuk.


" Kamu kan sudah besar, tunggu rumah aja ya, lagian cik Cici besok mau ambil jahitan,..kalo gak ada yang dirumah kan kasihan , pasti cik cici kecewa, bajunya katanya mau di pake buat acara besok malam." jawab ibuku sembari tersenyum lembut, tetapi tetap saja membuat hatiku sedikit kesal. Dengan terpaksa aku mengangguk menyetujuinya. Kemudian Ibu menepuk pelan pundak kananku, sebelum beliau berjalan ke kamarnya.


Ya ..aku memang bukan lagi anak kecil , tapi apa salahnya ikut?, Aku juga kangen ingin segera bertemu Bapak. bathinku ngedumel protes, tapi sepertinya itu sia sia saja. Dengan lunglai aku berjalan kembali menuju ranjangku, sesudah menutup pintu kamar.


Aku adalah anak tunggal, sejak kecil jika di bandingkan ibu, aku lebih suka bersama dengan Bapak. Beliau sangat menyayangiku, dan aku lebih di manja jika bersama Bapak. Hal itu juga yang mungkin membuat karakter ku jadi tomboy seperti ini, walaupun aku perempuan, tapi aku sangat jarang menangis.


Bapakku adalah pegawai pemerintahan, dan sering di kirim untuk bertugas ke luar kota. Bapak adalah salah satu tangan kanan dari Walikota yang sekarang.


Mungkin esok malam aku akan di rumah sendirian, karena bapak dan ibuku pasti akan pulang esok paginya. Sungguh menyebalkan, apa aku betah sendirian di rumah. Aku bukan orang yang suka menyendiri. Aku lebih suka bersama dengan orang orang, walaupun sekalipun tanpa adanya komunikasi.


****


Siang ini aku berangkat ke kampus, karena hari ini hanya ada satu mata kuliah , dan itu sehabis duhur. Aku sekalian mampir ke rumah Cik Cici yang ada di perumahan di gang sebelah. Ku lihat suasana di rumah cik cici begitu sibuk, banyak orang di sana, juga tratak yang baru saja selesai di dirikan.


" Permisi Cik" ucapku , Cik cici dan sekeluarga non muslim, jadi aku tidak mengucapkan salam.


" Eh.. Lyla," Cik Cici datang menghampiri menyebutku, dan menyambutku, Aku langsung memberikan jahitan itu kepadanya, dan kami sedikit mengobrol sebelum aku pergi dan menerima uang dari jahitan itu.


Tadi malam memang hujan cukup lebat, hingga membuat jalanan agak becek. Sebetulnya ada jalan yang sudah sepenuhnya baik dari gang perumahan kami, tapi aku sengaja memilih jalan alternatif lain yang biasa aku lalui ,ketika hendak pergi ke kampus, untuk meringkas waktu. Perjalanan yang seharusnya 2 jam, menjadi satu seperempat jam jika aku melewati jalan ini.


Sebuah motor lain yang juga melewati jalanan yang sama dengan ku. Pengemudi motor itu adalah anak laki laki SMA, dia ngebut tanpa hati hati, motornya menginjak kubangan air hujan yang sudah bercampur tanah dan menyipratkan air hujan berwarna coklat itu ke bajuku dengan cepat, membuat sebagian baju dan hijab ku jadi sedikit kotor.


" Astaghfirullah... , " tentu saja aku kaget. "Eh.. kalo jalan hati hati ya! " dan menjadi geram. Motor anak SMA itu melaju cukup cepat, dan aku sengaja mengejarnya, dia harus bertanggungjawab atas perbuatan, setidaknya minta maaf padaku.


Entah dari arah mana mobil itu datang, dan melaju saat aku sedang serius mengejar anak itu. Aku terkejut dan terjatuh saat menghindar motorku yang akan menabraknya.


Mobil itu berhenti, dan pengemudinya keluar, sebuah mobil Catering dengan seorang bapak tua yang menyupirinya. Dan mataku seketika menjadi gelap, saat terakhir kali ku lihat bapak tua itu berjalan menghampiri.


( bersambung)

__ADS_1


__ADS_2