Amanah Terakhir

Amanah Terakhir
Bab 5


__ADS_3

Seperti biasa, mataku tidak bisa terpejam lagi, walaupun aku sudah susah payah melakukan serangkaian hal yang katanya akan cepat membuat mata kita mengantuk, tapi nyatanya aku tidak berhasil setelah melakukan semuanya.


" Apa apaan ini, mata pandaku nampak menonjol, membuat wajahku jadi lucu, ahh... " diriku kesal, ketika menatap ke dalam cermin.


Entah sampai berapa lama aku akan tahan dengan hal yang selalu menghantuiku. Rasa rasanya akan nampak menyedihkan jika masalah ku ini berlarut larut, tidak segera ku selesaikan.


Aku berupaya keras ,menemukan jalan keluarnya, dan kurasa hanya ada satu jalan penyelesaian nya, yaitu kelihatannya aku harus mulai menjalankan amanah dari Almarhum pak Burhanuddin itu, walaupun mungkin itu akan sulit.


Entah kenapa tiba tiba nyaliku menciut membayangkan sosok pria itu, anak dari pak Burhanuddin , walaupun sebetulnya sama sekali aku belum mengenalnya. Kesan pertama ketika melihat dia waktu itu, walau dari jarak jauh, aku sudah bisa menebak, orang itu arogan ,sombong, mungkin juga sangat sulit di dekati. yah... aku tidak yakin juga semua benar, tapi kelihatannya iya...


***


Sehabis sholat subuh, aku sengaja berpamitan ada ibu, untuk sekedar berjalan jalan dengan motorku, mencari udara segar, ibu mengijinkannya, sekalian memintaku untuk membelikan beberapa bahan mentah keperluan dapur di supermarket terdekat.


Kubawa Si" bebek" pagi itu, menuju rumah bu Siska terlebih dahulu, yah.. siapa tahu aja, beliau sudah bangun, dan aku bisa berbincang dengan nya, bathinku.


Sebetulnya aku merasa ini tidaklah sopan, bertamu sepagi ini ke rumah orang, tetapi apa boleh buat, aku hanya punya waktu pagi hari, dan itupun terkadang tidak pasti .Mengingat kebiasaanku sebelumnya, jam segini aku masih malas bangun. sehabis sholat subuh aku tidur lagi, dan mandi, ketika jam weker membangunkanku di pukul setengah enam pagi.


Sesampainya di rumah besar milik Bu Siska, aku sedikit kedinginan, karena tanpa sadar aku berkendara dengan cukup kencang di pagi hari, sampai sampai bibirku sedikit bergetar. Ku lihat Pintu pagarnya saja masih tutup, aku tak yakin, Bu Siska sudah bangun, apa aku perlu membangunkannya, tetapi.., tiba tiba aku ragu, apaa sebaiknya aku pulang saja? " bathinku bingung.


Aku kecewa, dan hampir putus asa, ketika tiba tiba kulihat lampu di salah satu ruangan di rumahnya menyala. Aku mengurungkan niatku untuk pulang, dan kini malah bersemangat memanggil Bu Siska, agar segera membukakan pintu pagar ini untuk ku masuk ke dalam.


" Assalamualaikum " ucapku pertama kali, mengucapkan salam.


" Bu Siska.... Assalamualaikum... "teriakku untuk kedua kalinya.


" Bu... bu Siska.... assalamu'alaikum... " ucapku lagi, tetapi tak ada orang yang datang sama sekali, apalagi Bu Siska ,untuk membukakan pintunya.


Entah begitu saja ,terbesit dalam pikiranku, untuk memanjat pintu pagar yang tidak terlalu tinggi ini. Dan pikiran itu langsung di setujui oleh gerak tubuhku, Aku segera mulai mengambil ancang ancang. menaiki si bebek lalu setelahnya ,aku akan naik ke pintu pagarnya, dan meloncat turun , masuk ke pekarangan rumah Bu Siska.

__ADS_1


***


Gerak kaki ku lincah, ketika mulai memanjat pintu pagar itu, kini aku sudah berada di atas dan siap akan meloncat ke bawah, ketika seseorang menarik jilbabku dari belakang ,dengan sangat kuat.


" Aaaaaauuuuwww" pekikku ,sedikit keras dan merasa tidak nyaman, karena hijabku hampir saja lepas. seseorang itu sekarang memberhentikan tangannya. Spontan aku menoleh kepada nya ,ke belakang, dengan hijabku yang sudah sama sekali berantakan, bahkan anak rambutku terbang kemana mana, karena kebetulan sekarang ini ,angin pagi berhembus ke arah kami.


" Dasar maling! " aku kena tuduh, membuat mataku membelalak sempurna, ingin rasanya aku memprotes, karena aku tidak bermaksud demikian, tetapi mulutku, tidak mendukung ku, hanya membuka ,kemudian menutup kembali, wajahku langsung memerah, aku malu ,karena memang kenyataan tindakan ku ini persis seperti maling.


" Cepat turun! ' ucapnya tegas bercampur marah. Aku menuruti perintahnya, dan sekilas menunduk meminta maaf.


" Maaf,... aku tidak bermaksud maling kok, aku cuma mau ketemu Bu Siska" ujarku menjelaskan kesalahan pahaman yang dia tuduhkan.


Aku kembali menengadahkan kepala,menatapnya, hanya mata tajam dan alis yang tebal yang bisa ku lihat dari keseluruhan panca indra di wajahnya. Dia memakai helm yang hanya menampakkan bagian itu, dan sebagian yang lain tertutup oleh helm tersebut.


Sejenak dia seperti mengamatiku dengan tatapannya, lalu memalingkan muka ke pintu pagar, sembari menggerakkan tangan ,membuka kunci gembok.


Tanpa berkata apa apa, lelaki itu masuk ,sembari menuntun " motor tril" nya, meninggalkanku begitu saja, aku melongo dengan sikapnya yang kurang sopan.


Dia masih tidak berhenti melangkah, bahkan tanpa mau repot repot menolehkan kepalanya ke belakang, setidaknya memeriksa ,siapa yang berjalan membuntuti nya. Apa dia sudah tahu kalo aku mengikuti nya masuk?.


"Bu... ada tamu" anak itu berteriak sedikit lantang, tanpa melepaskan helm, begitu saja berjalan masuk, lagi lagi tak memperdulikan ku. Aku hanya diam sambil melongo, seolah terpana dengan sekelumit adegan bagaimana pria itu memanggil Bu Siska.


Aku cukup tau diri, kali ini aku tidak mengikutinya masuk, aku berdiri sambil menunggu siapa saja, akan menyuruhku masuk, bertamu sepagi ini di rumahnya.


***


Tak lebih dari setengah jam, Bu Siska akhirnya datang dengan "apron" berwarna putih, perempuan itu juga memakai "topi chef" diatas kepala nya.


" Selamat pagi bu, assalamu'alaikum " sapaku pertama kali. Bu Siska mulanya diam, seolah mencoba mengingat siapa aku , mungkin beliau lupa padaku, hal itu wajar, karena aku sudah cukup lama tidak berkunjung lagi ke sini.

__ADS_1


Aku tak sabar, maka sengaja aku menghampirinya lalu menjabat tangan, memperkenalkan diri lagi.


" Saya Hyla, yang..... " kata kataku belum selesai, karena bu Siska sudah menyela nya.


" Oh.. nak Hyla... " ucapnya dengan euphoria. Kelihatannya Bu Siska mulai mengingatku. Aku hanya tersenyum sipu, ikut senang, karena ternyata Bu Siska tidak melupakan ku sepenuhnya.


" Masuk Nak.... " ucap Bu Siska, kemudian mempersilahkan masuk ke dalam ruang tamu, lalu menyuruh ku duduk.


Aku hanya terkekeh sedikit malu, dalam hati, tiba tiba saja menyalahkan diri sendiri , ini hal yang tak pantas aku lakukan, menganggu aktivitas orang di pagi hari.


" Sebentar ya Nak, ibu tunggal ke dapur dulu " ucapnya, setelah aku duduk di ruang tamu. Dia membiarkan aku sendiri,


kruyuk.. kruyuk...


tiba tiba aku merasa lapar, untung tidak ada orang yang mendengar perutku, yang sudah memberi kode untuk segera makan sesuatu.


Aku mengedarkan pandangan, mengamati apa saja yang ada di ruang tamu tersebut.


Deg


Jantungku berdebar keras, ketika ku lihat sebuah foto berukuran besar terpampang di dinding, yah.. dia adalah orang yang memberiku amanah ini, bayangan dalam mimpi itu muncul lagi dalam pikiranku. Aku sedikit pusing, dan tiba tiba ingin sekali muntah, maagku mulai perlahan menyerang lambungku.


Bau harum makanan yang tercium oleh hidungku, kembali membuatku sedikit lebih baik.


" Maaf ya Nak, menunggu lama" ucap Bu Siska ketika datang menemuiku lagi ,di ruang tamu, dengan sepiring kue yang baru saja matang, dan juga segelas teh hangat.


Bau harum dari kue yang baru matang itu, langsung membuat air liur ku menetes, aku segera mengusapnya dengan punggung tangan.


" ayo di cicipi, kue yang baru saja ibu buat "

__ADS_1


Hatiku bersorak riang, ketika kata kata itu meluncur , mempersilahkan ku memakan kue yang enak ini.


( bersambung)


__ADS_2