
Nura saat ini sedang duduk disebuah restoran, tampaknya dia sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian orang yang ditunggunya tampak memasuki restoran itu dan Nura melambaikan tangannya kepada orang tersebut.
"Apa kamu sudah lama menunggu?" tanya Wahyu kepada Nura. Ternyata orang yang ditunggu Nura adalah Wahyu.
"Belum lama kok, kamu mau langsung pesan makanan saja atau bagaimana?" Nura bertanya dengan lembut kepada Wahyu, sikap perhatian Nura inilah yang membuat Wahyu sangat menyukai wanita itu. Terutama Nura juga bisa menjaga dirinya, terbukti dia tak mau disentuh Wahyu sebelum mereka resmi menjadi sepasang suami istri.
"Iya, kita pesan makanan aja dulu. Sebenarnya aku juga sudah lapar jadi sebaiknya kita makan dulu," Wahyu tersenyum kepada Nura. Nura akui memang Wahyu pria yang tampan meskipun usianya tidak muda lagi tapi penampilan dan ketampanannya dapat menutupi usia Wahyu.
Tapi sayangnya Nura tak pernah benar-benar mencintai Wahyu, sekalipun Wahyu selalu meratukan Nura tapi wanita itu tak pernah mencintai Wahyu.
"Kenapa juga kamu tidak makan malam dirumah saja, kenapa sampai mengajak aku makan malam?"
"Itu karena aku bosan dengan istriku yang mulai bersikap posesif, nafsu makan ku hilang karena dirinya. Dan sekarang setelah melihat dirimu aku jadi lapar lagi," Wahyu menggenggam tangan Nura yang saat ini sedang berada diatas meja. Tanpa keduanya sadari ternyata seseorang sedang memotret apa yang mereka lakukan.
Disaat Wahyu dan Nura sedang tersenyum bahagia, disebuah rumah mewah seorang wanita paruh baya tampak sedang menangis meluapkan semua rasa sakit hatinya. Tamara baru saja mendapatkan kiriman foto suaminya yang sedang menggenggam tangan Nura dan menatap gadis itu penuh cinta, dan hal itu berhasil membuat hatinya hancur berkeping-keping.
Tamara terus saja menangis didalam kamarnya, sebuah kenangan masa lalu seketika mulai berputar di kepalanya.
__ADS_1
"Apa ini semua karma yang aku dapatkan karena aku pernah membuat sebuah rumah tangga yang bahagia hancur berantakan, seharusnya aku tak melakukan permainan bodoh itu yang membuat aku harus menanggung beban penyesalan sampai saat ini. Apa ini semua balasan yang aku terima karena hal itu," Tamara berbicara pada dirinya sendiri masih dalam keadaan menangis.
Dirinya akhirnya tau bagaimana rasa sakitnya saat melihat orang yang kita cintai malah berselingkuh dan menduakan cintanya.
Tamara segera menghapus air matanya dan berpura-pura tidur saat dirinya mendengar suara deru mesin mobil yang masuk ke halaman rumah.
Tak lama kemudian seseorang masuk kedalam kamarnya, ternyata yang pulang adalah sang suami. Tamara masih saja berpura-pura tidur. Wahyu bahkan tak membangunkan Tamara dan hanya mengganti pakaiannya kemudian keluar lagi dari dalam kamarnya.
Mendengar suara pintu yang dibuka dan kemudian ditutup lagi, Tamara pun berbalik menatap kearah pintu yang saat ini sudah tertutup rapat.
"Bahkan wanita yang kamu jadikan selingkuhan mempunyai usia sama dengan putramu," Tamara bergumam sambil menatap pintu yang tertutup rapat. Dia pun kembali menangis mengingat apa yang sudah dilakukan oleh suaminya dibelakangnya.
Saat dirinya sedang memikirkan Keenan ponselnya kembali berbunyi dan ternyata itu adalah panggilan telepon dari Carlos sepupunya. Nura langsung menjawab panggilan itu tanpa harus membuat Carlos menunggu lama.
"Hallo, ada apa Carl?" Nura bertanya kepada sepupunya itu.
"Nura, sekarang kamu sudah berada di Jakarta. Sebaiknya kamu segera mengakhiri skenario ini, aku khawatir kalau lama-lama kamu malah akan jatuh cinta kepada pria tua itu," Carlos ternyata hanya ingin mengingatkan kepada Nura tentang rencana yang sedang dijalankan saat ini, karena dia takut kalau nanti Nura malah terjebak dalam skenarionya sendiri.
__ADS_1
"Iya, aku tau. Besok aku akan membujuk Wahyu untuk menggugat cerai istrinya, pasti setelah itu aku yakin kalau wanita itu akan menjadi gila." seringai licik tampak di wajah cantik Nura.
"Baguslah, aku harap semuanya cepat selesai dan kamu akhirnya dapat membalaskan semua dendam kedua orangtuamu." Carlos pun dapat bernafas lega mendengar apa yang dikatakan Nura.
Sambungan telepon mereka pun terputus dan kini Nura sudah membaringkan tubuhnya diatas tempat tidurnya, "Aku pun ingin semuanya berakhir secepatnya karena aku ingin menjalin hubungan dengan Keenan dan berbahagia bersamanya," Sebuah senyum yang sangat manis tampak diwajah Nura. Dan akhirnya dia pun memejamkan matanya dan terlelap dalam tidurnya.
Keesokan harinya Nura berencana untuk menemui Wahyu, dia ingin meminta Wahyu untuk segera menceraikan Tamara. Dan setelah rumah tangga Tamara hancur maka Nura akan segera meninggalkan Wahyu juga dengan segala kehancurannya.
Sebuah bayangan masa lalu berputar kembali dalam otak Nura, bayangan dimana dia menyaksikan kedua orangtuanya bertengkar dan akhirnya ibunya mengalami depresi dan bunuh diri kemudian ayahnya yang saat itu penuh dengan penyesalan karena kematian sang istri, ternyata semua yang terjadi dalam rumah tangga kedua orangtuanya hanyalah sebuah keisengan dari sahabat ibunya yang berniat hanya untuk bermain-main saja tapi mereka tak pernah tau kalau itu akan berakibat fatal dan bahkan merenggut nyawa orang lain.
Tanpa disadari air mata kini menetes di pipi Nura, saat ini di menjadi yatim piatu karena ulah dari para sahabat ibunya itu, bahkan setelah melakukan kesalahan itu mereka tak ada yang mau menyadari itu semua bahkan mereka menikmati melihat kehidupan keluarganya yang hancur berantakan. Dan ternyata mereka semua hanya iri melihat keharmonisan dalam rumah tangga kedua orang tua Nura dan akhirnya mereka berniat untuk membuat keluarga Nura hancur.
"Ma, akhirnya Nura dapat membalas semua rasa sakit yang Mama rasakan. Sekarang mama dapat beristirahat dengan tenang disana." Dia pun menghapus air matanya dan segera bersiap untuk pergi menemui Wahyu.
Wahyu yang sudah menunggu Nura di sebuah ruangan VIP disebuah restoran terlihat begitu bahagia saat wanita yang ditunggunya masuk kedalam ruangan VIP itu.
Nura mendekati Wahyu dan mengecup bibir pria paruh baya itu. Wahyu tampak tertegun sejenak mendapatkan perlakuan seperti itu dari Nura, pasalnya sejak mereka berhubungan Nura bahkan tak pernah mau untuk disentuh oleh Wahyu mereka hanya akan berpegang tangan atau saling bergandengan saja.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa sih gak mau membalas ciumanku. Apa kamu tidak suka aku mencium dirimu?" Nura tampak merajuk karena Wahyu yang hanya diam saja.
Melihat Nura yang saat ini sedang merajuk bahkan dia sedang memajukan bibirnya, membuat Wahyu semakin gemas dengan Nura, pria itupun segera menarik Nura keatas pangkuannya dan melahap bibir Nura dengan begitu bernafsu.