
Nura telah menghabiskan beberapa gelas wine dan membuat kepalanya sedikit pusing, akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari bar itu, tapi saat dia hendak beranjak dari tempat duduknya tiga orang pria yang tampaknya sudah mabuk datang mendekati Nura dan mencoba untuk merayu gadis itu.
"Hai cantik kamu mau pulang? Mau dianterin sama Abang gak?" ucap salah satu pria mabuk itu sambil memegang tangan Nura.
Nura yang merasa risih dengan perlakuan pria itu mencoba untuk menepis tangan pria itu, tapi hal itu membuat pria mabuk itu menjadi marah.
"Jangan sok jual mahal, memangnya Lo minta dibayar berapa huh," ucap pria mabuk itu yang sudah semakin mendekati Nura. Sementara kedua sahabat pria itu hanya menertawakan apa yang teman mereka lakukan pada Nura.
"Minggir Lo, gue gak sudi tubuh gue disentuh sama pria kayak kalian ini," Nura coba melawan tapi karena kepalanya terasa berat dia kesulitan untuk melawan para pria mabuk itu.
Pria mabuk itu semakin memojokkan tubuh Nura, dan Nura hanya bisa memberontak tanpa ada orang yang membantu dirinya.
Dan ternyata dari lantai atas Aldo yang duduknya tepat menghadap kearah Nura sedang memperhatikan apa yang terjadi pada Nura saat ini.
"Wah kasian bidadari gue, kayak nya gue harus bantuin tuh cewe dari para pria hidung belang itu," ucapan Aldo membuat tiga pria lainnya melihat kearah Nura, tapi belum sempat Aldo berdiri untuk membantu Keenan sudah lebih dulu berdiri dan turun kebawah. Dan hal itu mengundang protes dari ketiga sahabat Keenan.
"Anjir sih Keenan, cepat banget dia berdiri, kayaknya gadis itu sudah berhasil membuat hati manusia es itu mencair," ucap Geri yang tak biasanya melihat Keenan perduli pada mahluk beda jenis itu.
__ADS_1
"Tuh cewe kayaknya udah mabuk, rupanya malam ini Keenan bakal melepas keperjakaannya," Raka menambahkan ucapan dua sahabatnya itu.
Sementara itu dilantai bawah Keenan tampak sedang menghajar pria mabuk yang sudah mengganggu Nura.
"Kalian sebaiknya pergi dari sini dan jangan berani mengganggu wanita milik saya," Keenan memberikan peringatan kepada tiga pria mabuk itu, dan saat mereka tau siapa pria yang ada dihadapan mereka itu ketiga pria itu hanya bisa menghindar karena mereka tak mau berurusan dengan seorang Keenan Dirgantara.
Nura yang melihat kalau tiga pria yang mengganggunya sudah pergi juga ikut pergi tanpa mengucapkan terimakasih terlebih dahulu kepada pria yang sudah menolongnya, melihat wanita itu pergi begitu saja membuat Keenan merasa kesal dan segera mengejar gadis itu.
"Hei, kamu mau kemana?" tanya Keenan yang saat ini sudah menahan tangan Nura.
"Sialan tuh cewe, udah dibantuin juga tapi gak tau berterimakasih," Keenan yang merasa kesal langsung kembali kedalam bar dan bergabung lagi dengan ketiga sahabatnya itu.
Melihat Keenan yang sudah kembali membuat ketiga sahabatnya itu saling memandang.
"Cepat banget Lo balik, mana cewe yang tadi?" Aldo yang tak bisa menahan rasa penasarannya akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"Gue pikir Lo bakal bawah tuh cewe ke lantai atas bro atau gak ke apartemen Lo," tambah Gery yang merasa lucu melihat wajah kesal Keenan yang tak biasanya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi bro? Kenapa muka Lo kayak gitu?" Raka juga ikut bertanya karena dirinya juga merasa penasaran dengan apa yang terjadi.
"Tuh cewe cuekin gue, bahkan dia gak ucapin terimakasih padahal gue udah nolongin dia, ini pertama kalinya gue Keenan Dirgantara mendapatkan penolakan dari seorang wanita, disaat wanita-wanita lain berebutan buat dideketin sama gue cewe yang tadi malah mengabaikan gue," perkataan Keenan membuatkan ketiga sahabatnya tertawa terbahak-bahak.
"Gue harus kasih penghargaan ke perempuan tadi, dia perempuan pertama yang udah berhasil buat Keenan si manusia es galau kayak gini, hahaha." Aldo tak bisa menahan tawanya melihat Keenan uring-uringan karena ditolak oleh seorang gadis yang bahkan mereka tidak tau siapa nama gadis itu.
Keenan pun hanya dia saja melihat ketiga sahabatnya sibuk menertawakan dirinya, karena yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Nura gadis yang sudah berani menolak pesona dirinya yang selalu menjadi impian gadis-gadis lainnya.
Keenan Dirgantara seorang CEO dari sebuah perusahaan besar nomor satu dikota Jakarta, wajahnya yang tampan dihiasi oleh hidungnya yang mancung, bibirnya yang sexy dan memiliki tatapan tajam seperti elang yang selalu membuat semua lawannya merasa merinding dan tak berani untuk menatapnya, serta bentuk tubuh yang atletis dan juga tinggi menjadi impian setiap gadis yang melihatnya, tak hanya ketampanan Keenan tapi kekayaan Keenan juga yang membuat gadis-gadis selalu memuja Keenan.
Keenan Dirgantara seorang pengusaha muda yang berhasil sukses dan menjadi nomor satu, putra tunggal dari Wahyu Dirgantara dan sekaligus pewaris satu-satunya Dirgantara grup siapa yang tidak mengenal pria itu tapi pada malam ini seorang gadis yang sudah berhasil menggetarkan hati Keenan dan disaat Keenan ingin mencoba untuk dekat dengan gadis itu malah kali ini dia mendapatkan penolakan dan hal itu tak bisa diterima oleh seorang Keenan Dirgantara.
"Gadis itu mengingatkan ku pada gadis kecil itu, gadis kecil yang tak pernah mau untuk berkenalan denganku, yang tak pernah mau untuk mengenal namaku, dan gadis kecil itu sekarang entah dimana, sekian lama aku menutup hatiku untuk menunggu gadis itu kembali tapi sampai saat ini aku tetap tak tau dimana keberadaan gadis kecil ku itu, dan tiba-tiba datang seorang gadis yang berhasil mengganggu pikiran ku, aku harus mencari tau tentang gadis itu," Keenan membatin dalam hatinya, saat ini pikirannya sedang dipenuhi oleh Nura yang sudah mengabaikan dirinya sehingga ocehan dan ejekan ketiga sahabatnya itu tak dia dengarkan.
Nura baru saja sampai di apartemennya, dia masuk kedalam apartemen dalam keadaan sempoyongan, tapi bukan berarti Nura tak sadar dengan apa yang sudah terjadi, dia ingat betul dengan kejadian barusan bahkan dia ingat betul wajah kesal pria yang sudah menolongnya tadi.
"Sebenarnya aku ingin mengenal pria itu, saat pertama melihat pria itu rasanya ada yang aneh dengan hati ini, tapi aku tak bisa merusak semua rencana ku hanya karena aku jatuh cinta, aku harus bisa menahan hati ini agar semua dapat berjalan dengan sempurna," Nura bergumam sendiri, dia mendudukkan dirinya di sofa yang ada di apartemennya dan menyandarkan tubuhnya yang rasanya begitu lelah.
__ADS_1