ANNURA(Antara Dendam & Cinta)

ANNURA(Antara Dendam & Cinta)
Chapter 6


__ADS_3

"Bukankah dia tuan Jimmy," Annura bergumam dalam hatinya.


Dia segera mengambil ponselnya dan berterima kasih kepada pria yang ada dihadapannya itu.


"Terimakasih tuan, dan juga saya minta maaf karena tak sengaja saya sudah menabrak anda," Nura memberikan senyum termanis nya kepada pria itu.


"Tidak apa-apa, Nona. Saya juga salah karena tadi saya sedang kesal kepada orang yang membuat janji dengan saya yang tak kunjut datang," Jimmy tampaknya sudah mulai tertarik dengan Nura.


Nura pun mulai menjalankan aksinya, dia pura-pura merasa sakit sehingga mau tak mau Jimmy pun menawarkan diri untuk mengantarkan Nura pulang kerumah dan hal itu dipergunakan Nura untuk mulai menjerat Jimmy dalam pesonanya.


Mulai malam itu Jimmy dan Nura memulai hubungan tersembunyi mereka, sampai pada suatu hari hubungan mereka diketahui oleh istri Jimmy yang bernama Sarah dan dia pun melabrak Nura yang sedang bersama Jimmy disebuah rumah makan.


Seperti biasanya Nura langsung meninggalkan sepasang suami istri yang sedang bertengkar itu dan menghilang dari kehidupan sang pria.


Nura terus melancarkan aksinya merusak rumah tangga para pengusaha kaya dan tujuan berikutnya Nura adalah Wahyu Dirgantara, seorang pengusaha nomor satu yang ada di Jakarta dan dia tak hanya memiliki usaha di kota Jakarta saja bahkan bisnisnya sudah sampai keluar negeri.


Nura tak begitu kesulitan untuk menjerat para pengusaha itu karena mereka memang terkenal dengan pria hidung belang, tak terasa sudah hampir seminggu Nura menjalin hubungan dengan Wahyu dan Nura yang memang sangat cantik itu selalu dimanjakan oleh Wahyu dengan segala kemewahannya.


Bahkan Wahyu sempat mengajak Nura untuk ke Bali saat dirinya harus melakukan kunjungan kerja di salah satu cabang perusahaannya di kota penuh pesona itu.


Tapi jangan di kira Nura akan tidur sekamar dengan Wahyu dia tak akan melakukan hal itu.

__ADS_1


Saat ini Nura sedang merasa bosan didalam kamar hotel yang dia tempati di Bali. Gadis cantik itu memutuskan untuk berjalan-jalan ke pantai untuk menghilangkan kejenuhan yang dirasakannya.


Nura saat ini hanya memakai hotpants dan kaos oversize dengan rambutnya yang dibiarkan nya terurai, Nura terlihat begitu menawan saat dirinya bediri di tepi pantai dengan rambutnya yang dimainkan oleh angin pantai.


Bahkan beberapa turis sempat terpesona dengan gadis itu tapi Nura tak memperdulikan hal itu, dirinya terlalu terbuai dengan suasana pantai yang indah dan membuat hatinya merasa tenang.


Saat Nura sedang menikmati kesendiriannya dengan duduk menghadap pantai, tiba-tiba seseorang datang mendekati gadis itu.


"Hai ... bukankah kamu gadis yang pernah membuat kekacauan di bar pada malam itu?" seorang pria mendekati Nura dan duduk disampingnya tanpa permisi terlebih dahulu.


Nura hanya melirik sekilas kepada pria itu dan tersenyum menatap kearah larutan luas.


"Rupanya kamu masih mengingat diriku, padahal tak hanya diriku gadis yang sering berbuat kekacauan seperti itu." Nura menyindir pria yang ada disampingnya itu.


Tak bisa dipungkiri Nura pun sebenarnya tertarik dengan pria itu sejak malam pertama mereka bertemu di bar itu, tapi dia masih dalam misi dan dia tak mau kalau sampai misinya gagal hanya karena dia menyukai seorang pria.


"Annura, panggil saja Nura." Nura pun menyambut uluran tangan Keenan dan membuat pria yang terkenal dingin, arogan dan kejam itu tersenyum. Senyum begitu sulit untuk ditemukan dari wajah seorang Keenan.


"Senang bisa bertemu dengan dirimu lagi, Nura." Keenan mencoba untuk berbasa-basi tapi dirinya cukup kaku karena ini pertama kalinya dia mencoba untuk mendekati seorang wanita. Karena sejak malam itu pikirannya memang sudah terganggu dengan kehadiran seorang Annura yang mungkin juga sudah singgah dalam hati Keenan.


Sampai pada akhirnya dia kembali melihat Annura di pantai, awalnya dia mengira ini hanya halusinasinya karena selalu memikirkan gadis itu tapi ternyata itu adalah nyata. Dan keena tak mau melepaskan kesempatan untuk berkenalan dengan gadis itu.

__ADS_1


Nura menatap Keenan dan tersenyum kepada pria itu, jangan ditanya bagaimana perasaan Keenan saat ini yang pasti pria itu merasa kalau jantungnya akan segera terjatuh kalau sekali lagi Nura tersenyum seperti itu.


"Apa kamu datang sendiri ketempat ini?" Keenan kembali memberanikan diri untuk bertanya lebih banyak lagi kepada Nura.


"Aku tidak sendiri, aku datang bersama seorang teman tapi saat ini dia sedang mengurus pekerjaannya dan karena merasa bosan aku memutuskan untuk datang ketempat ini untuk melihat sebuah pemandangan indah yang tak bisa aku nikmati setiap harinya," Nura berbicara dengan begitu santai kepada Keenan seakan-akan mereka sudah saling mengenal lama.


"Apa temanmu pria atau wanita," saat mendengar Nura datang bersama seseorang Keenan langsung merasa kesal dan entah kenapa dia merasakan hal itu. Bahkan saat bertanya kalau orang itu pria atau wanita Keenan berharap kalau itu adalah seorang wanita.


"Apa perlu kamu tau siapa yang datang bersamaku? Lagi pula kita juga baru saling mengenal dan aku rasa kamu tidak perlu tau banyak tentang diriku," Nura berkata dengan begitu dingin dan baru kali ini Keenan mendengar seorang wanita berbicara seperti itu kepada dirinya. Karena selama ini para wanita pasti akan berbicara manis kepada dirinya.


"Aku hanya ingin tau, barangkali kita bisa menghabiskan waktu bersama di tempat ini apabila temanmu itu tidak keberatan," entah kenapa saat ini Keenan merasa kalau dirinya sudah mulai banyak bicara. Padahal biasanya dia sangat irit dalam mengeluarkan kata-katanya.


Nura tak menjawab dia hanya menoleh sekilas kepada Keenan dan kembali menatap lautan.


"Apa lautan itu lebih indah dibandingkan pria yang ada disamping mu ini? Sehingga kamu lebih betah menatap lautan itu dari pada diriku yang juga ingin ditatap seperti itu," kali ini Keenan merutuki dirinya yang sudah berani mengeluarkan kata-kata seperti itu kepada seorang wanita yang bahkan baru bertemu dua kali dengan dirinya.


"Entah kenapa aku merasa kalau lautan itu lebih menarik dibandingkan pria yang ada di sampingku saat ini," kembali Nura menjawab pertanyaan Keenan dengan begitu dingin membuat Keenan hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Bolehkah aku meminta nomor telepon mu?" Keena memberanikan diri untuk meminta nomor Annura dan kalau seandainya gadis itu memberikannya Keenan pasti akan sangat bahagia. Tapi sebelum Nura memberikan jawaban ponsel gadis cantik itu sudah berbunyi, Nura menjawab panggilan telepon itu dan dirinya segera berdiri dari duduknya.


"Kalau seandainya takdir kembali mempertemukan kita berdua, aku akan memberikan nomor telepon ku. Maaf aku harus pergi," Nura pun melangkah meninggalkan pria yang sudah sempat membuat perasaannya campur aduk, sementara itu Keenan hanya bisa menatap gadis itu yang perlahan mulai menjauh dari dirinya.

__ADS_1


"Aku berharap takdir akan berpihak kepada diriku dan kembali mempertemukan kita berdua," Keenan bergumam lirih, baru pertama kali dia tertarik dengan seorang wanita tapi wanita itu bahkan tak mau melirik dirinya.


__ADS_2