
Setelah merasa tenang Keenan pun mengajak Nura kembali ke hotel, tapi yang pasti pergi ke kamar mereka masing-masing.
Sebelum keduanya berpisah Keenan meminta nomor ponsel Nura.
"Tuliskan nomor ponselmu disini," Keenan menyerahkan ponselnya agar Nura mau menuliskan nomornya.
Nura pun mengambil ponsel Keenan dan segera menuliskan nomornya, setelah itu dia mengembalikan ponsel Keenan. Keenan segera menyimpan nomor Nura dengan nama My Wife.
"Kenapa My Wife?" Nura mengernyitkan dahinya melihat nomornya yang Keenan simpan dengan nama My Wife.
"Karena sebentar lagi kamu akan segera menjadi istriku," Keenan tersenyum dan senyumnya itu berhasil membuat jantung Nura hampir saja jatuh dari tempatnya.
Nura pun memutuskan untuk segera kembali ke kamarnya karena berlama-lama dengan Keenan bisa membuat Nura mati lemas karena perkataan dan juga senyuman Keenan.
Setelah sampai dikamarnya Nura tersenyum sendiri saat mengingat apa yang sudah terjadi dengan dirinya dan Keenan dipantai tadi, di tambah lagi sikap dan perkataan Keenan yang selalu membuat Nura tak bisa untuk tak menyukai Keenan.
"Oh Tuhan, apakah saat ini aku harus menerima pria itu. Apa sebaiknya setelah menyelesaikan urusanku dengan Wahyu dan istrinya, aku segera menerima Keenan menjadi suamiku?" Nura bergumam sendiri dalam kamarnya. Saat dia sedang memikirkan Keenan pria itu sudah meneleponnya.
Saat ini nomor Keenan belum tersimpan dalam kontaknya Nura, dan setelah mengetahui kalau yang menelepon Keenan, Nura segera menyimpan nomor pria itu dengan nama Cowok aneh. Setelah menyimpan nomor Keenan, wanita cantik itu tersenyum melihat nama yang ada di ponselnya.
Nura pun akhirnya terlelap dalam tidurnya, tapi berbeda dengan Keenan yang sampai saat ini masih belum bisa merapatkan kelopak matanya. Masalah yang mengganggunya kembali membuat pikiran Keenan kacau saat dirinya tak bersama Nura lagi.
"Sial, beraninya Papi menghianati Mami. Aku akan memberikan pelajaran kepada Papi dan wanita simpanannya itu." Keenan membanting botol minuman yang ada dalam kamarnya.
Keesokan harinya Nura terbangun karena suara ponselnya yang sangat menggangu tidurnya.
__ADS_1
"Ck, siapa sih pagi-pagi ganggu orang tidur saja." masih dengan memejamkan matanya Nura menjawab panggilan telepon itu.
"Hallo ...." belum juga Nura menanyakan siapa yg telepon, orang di sebrang sana sudah lebih dulu bersuara.
"Baby, masih tidur ya? Bangun yuk dan bersiap-siap, hari ini kita akan kembali ke Jakarta." Ternyata yang menelepon adalah Wahyu.
Setelah mendengar kalau mereka akan pulang ke Jakarta hari ini, Nura segera bangun dari tidurnya dan beranjak menuju kamar mandi.
Setelah dirinya selesai mandi, ponsel Nura kembali berbunyi. Nura segera meraih ponsel yang berada diatas nakas dan setelah melihat nama sang penelepon, senyum tipis menghiasi wajahnya yang cantik itu.
"Hallo ..." Nura menjawab telepon dengan hati yang berbunga-bunga.
"Hallo, sayang. Hari ini aku ingin mengajakmu pergi berjalan-jalan, apa kamu tidak keberatan?" ternyata yang menelepon adalah Keenan yang ingin mengajaknya pergi berjalan-jalan. Tapi Nura tak mungkin mengiyakan karena hari ini dirinya harus kembali ke Jakarta dan menyelesaikan misinya.
"Oh, tidak apa-apa. Lagipula kita bisa bertemu di Jakarta nanti, setelah pekerjaanku selesai aku akan segera pulang dan kita akan pergi berkencan," ucap Keenan dengan begitu bahagia.
"Hmm, baiklah. Aku akan menunggu dirimu," Nura merasa bingung entah kenapa dirinya malah mengatakan akan menunggu Keenan.
Sambungan telepon mereka pun terputus saat Nura mendengar suara ketukan dari pintu kamarnya.
Nura dan Wahyu pun kembali ke Jakarta, setelah mengantarkan Nura ke apartemen yang diberikan Wahyu untuk Nura, pria itu segera pergi menuju ke kediamannya.
Saat ini disebuah rumah yang sangat mewah, sebuah mobil memasuki gerbang rumah itu. Siapa lagi kalau bukan Wahyu, seorang wanita paruh baya tampak sedang berdiri menunggu kedatangan sang suami. Wanita yang terlihat masih sangat cantik walaupun usianya tak muda lagi.
Melihat sang suami turun dari mobilnya, wanita itu segera menyambut dan mengambil alih tas yang ada ditangan sang suami.
__ADS_1
"Papi pasti capek, yuk masuk dan beristirahat dulu." wanitai tu menggandeng tangan sang suami dan mengajaknya masuk kedalam rumah.
"Rupanya Papi mau mandi dulu, Mi. Setelah mandi Papi mau makan, tadi Papi gak sempat sarapan karena harus mengejar keberangkatan pesawat.
"Baiklah, Pi. Papi naik dan mandilah dulu, Mami mau nyiapin makanan buat Papi." Tamara pun segera menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk sang suami.
"Aku harap semua yang aku liat dalam foto-foto itu hanyalah rekayasa semata, karena sampai saat ini suamiku masih terlihat baik-baik saja," Tamara bergumam dalam hatinya. Entah apa yang dilihatnya dalam foto itu, tapi yang pasti hal itu membuat hatinya merasa begitu sakit.
Setelah selesai mandi, Wahyu turun ke lantai bawah menggunakan lift dan langsung menuju ruang makan karena perutnya saat ini sudah merasa sangat lapar.
Wahyu pun makan dengan ditemani oleh sang istri, tapi saat Wahyu sedang makan terdengar suara ponsel berbunyi dan rupanya itu pesan masuk dari Nura.
Wahyu pun keasikan berbalas pesan dengan Nura tanpa memperdulikan sang istri yang tampaknya sedang menatap kearahnya. Saat ini Tamara kembali merasa gelisah melihat apa yang dilakukan oleh sang suami.
"Pi, makanlah dulu. Memangnya siapa yang kirim pesan sampe Papi kayaknya serius amat ngebalas pesannya." Tamara memicingkan matanya, dia mulai merasa curiga kepada sang suami.
"Bukan siapa-siapa kok, tadi Niko ngirim pesan dia cuma bilang kalau nanti akan ada meeting sama klien dari Korea untuk membahas kelanjutan kerjasama kita yang baru disepakati dua minggu lalu," Wahyu menjelaskan kepada sang istri siapa yang sudah mengirimkan pesan, dia tampak biasa saja saat menjelaskan dan tak tampak ada yang mencurigakan.
Setelah selesai makan, Wahyu sudah bersiap-siap untuk pergi karena sebenarnya dia sudah membuat janji dengan Nura.
"Pi, mau kemana lagi sih. Baru aja nyampe udah mau pergi lagi?" Tamara merasa heran kepada suaminya, karena belum lama dirinya sampai dari Bali, sekarang malah sudah mau pergi lagi.
"Boleh gak Papi tuh diam dirumah aja dulu?" Tamara berharap suaminya mau mendengarkan apa yang dikatakan, tapi alih-alih mendengarkan perkataan sang istri. Wahyu malah pergi begitu saja karena kesal dengan sikat istrinya yang mulai menjadi posesif.
Tamara hanya bisa menatap kepergian sang suami tanpa bisa menahan atau bertanya kemana suaminya itu akan pergi. Tanpa di sadari air mata sudah menetes di pipi Tamara.
__ADS_1