
Di lain tempat, kedua orang tua terkejut karena HP mereka terdapat notifikasi secara bersamaan. "Siapa yang mengirimkan pesan malam-malam begini?" gumam sang ibu. Mereka berdua pun langsung membuka pesan tersebut.
Makin terkejut lah mereka melihat pesan tersebut dari sang anak sulungnya yang sedang berada di kota. Bagaimana tidak, Cika si anak gadis bar-bar yang tidak pernah peduli dengan kerapian apalagi kemandirian itu pun bisa mulai menepati janjinya.
"Rupanya anak gadis kita sudah mulai nepati janji tuh yah" ucap sang ibu sambil menowel lengan ayah.
"Kita lihat aja dulu seberapa lama dia bisa berakting begitu pada kita" jawab sinis sang ayah sambil senyum licik.
"Bener juga ya yah, ini kan baru beberapa jam doang. Kita lihat aja nanti kayak gimana" ucap sang ibu yang menyetujui perkataan sang ayah.
"Ah sudahlah bu, ayo kita tidur saja" ucap ayah sambil menaruh hp kembali di atas nakas. Mereka pun tidur dengan pulas.
Keesokan harinya
Kriiiiiiiiiing..Alarm pun berbunyi.
"Hoaaaammmb.. sudah pagi aja, baru juga tidur. Ah rasanya aku masih mengantuk" ujar si Radit sambil menarik selimut kembali.
Baru saja ia menarik selimut, HP pun berbunyi menandakan panggilan telfon masuk. "ah siapa sih pagi-pagi udah telfon, ganggu aja" ucap si Radit sambil membuka selimut lalu mengambil hp di atas nakas. Ia pun terkejut ketika melihat panggilan tersebut dari sang papa.
"Raditya Sanjaya, cepat berangkat ke kantor sekarang juga! Ada masalah yang harus diselesaikan" ucap seorang pria yang menelponnya secara singkat. Ya, siapa lagi kalau bukan papanya. Tidak ada yang berani memerintah dia selain papa dan mamanya.
Sejak kecil Raditya dididik disiplin dan mandiri oleh kedua orang tuanya. Sebab ia lah yang akan meneruskan perusahaan keluarganya, karena sang kakak memilih jalur yang berbeda sesuai dengan minat dan bakatnya yaitu seorang dokter estetika. Sejak kecil itu lah Radit tidak pernah berani membantah apapun yang diperintahkan oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Ah menyebalkan. Baru juga tidur, udah disuruh kerja lagi" decak si Radit. Ia pun langsung bergegas mandi dan bersiap-siap ke kantor karena sudah ditunggu oleh papa dan rekan kerjanya.
Di tempat lain
Cahaya matahari memasuki sela-sela jendela kamar kosan sang gadis bar-bar. Ia pun mulai mengerjapkan matanya.
"Hoamb.. sudah jam berapa ini ya?" gumamnya.
Ia pun terkejut melihat jam yang dikiranya pagi ternyata sudah siang. Ya bagaimana tidak, dia menata barang hingga larut malam lalu tertidur dengan nyenyak hingga ia merasa tidur hanya sebentar.
"Astagaaaa. aku terlambat" ucapnya sambil panik bergegas ke kamar mandi. Untung saja ayahnya memilihkan Cika kos-kosan yang kamar mandi dalam, jadi ia tak harus lama menunggu antrian.
Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, ia pun langsung bergegas memakai sepatu dan berlari ke depan.
"Ah sialan. ngapain sih kamu ini pakai acara barengan sama aku segala" decak Cika setelah tau tangan lain itu tak lain adalah pak kosnya.
"Issss.. Siapa juga yang mau barengan sama kamu! Yang ada kamu tuh yang ngikutin aku" ucap Radit tak terima dengan tuduhan Cika.
"Serah kamu pak, buka pintunya sekarang!" perintah Cika.
"Siapa kamu beraninya merintah-merintah aku? ha?" tanya Radit sambil geram.
"Oh iya, lupa saya kasih tau nama. Kenalin, saya Cika. C I K A" ucapnya sambil mengejek.
__ADS_1
"Siapa juga yang mau kenalan sama kamu!" jawab Radit yang makin sebal.
"Bodo amat, aku mau pergi sekolah. Udah telat. Bye" Pamit Cika sambil menginjak kaki Radit lalu membuka gerbang dan kabur begitu aja.
"Awas kamu ya, tunggu pembalasan dari ku" teriak Radit kepada Cika.
Cika pun berlari dengan cepat. Tidak mempedulikan ucapan Radit yang mengancamnya itu.
Drtttt... drrttttt...
Ponselpun berdering dan menyadarkan Radit bahwa ia ada urusan yang begitu penting itu.
Radit pun mengabaikan ponselnya, kemudian ia melajukan mobilnya dengan cepat.
Sesampainya di loby kantor, Radit menyerahkan kunci mobilnya kepada satpam yang akan memarkirkan. Ia pun bergegas lari masuk ke dalam dan memasuki lift khusus atasan di kantor tersebut.
Setelah keluar dari lift dengan ngos-ngosan, ia pun mengatur nafasnya sebelum mengetuk pintu dan menghadapi sang papa yang akan marah itu. Diketuklah pintu ruang meeting. Baru saja ia membuka pintu sudah mendapat omelan dari sang papa.
"Ahh sialan, gegara bocah itu aku jadi dimarahi papa" gerutu Radit dalam hatinya.
Ia pun duduk dan memulai rapat dengan papa beserta orang-orang yang berwenang dalam permasalahan itu.
Jangan Lupa Like untuk Vote ya :)
__ADS_1