Antara Cinta Dan Kesedihan

Antara Cinta Dan Kesedihan
Episode 6


__ADS_3

Setelah beberapa lama Cika menunggu, akhirnya kelar juga makannya. Mereka pun segera keluar dari restoran itu menuju ke mobil. Dibuka lah kunci mobil itu dengan remot. Cika pun langsung membuka pintu dan duduk di kursi belakang.


"Heeeeh. Siapa yang menyuruhmu duduk di situ? Emang kamu pikir aku ini supirmu apa?" decak sebal sang bapak kos.


"Kan di sini aku numpang doang" ucap Cika dengan santainya.


"Pindah ke depan, dan duduklah dengan tenang!" perintah Radit dengan tegas. Cika pun langsung menurut dengan pindah ke kursi depan.


Sepanjang perjalanan tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut mereka. Cika yang fokus melihat ke luar cendela, berbeda dengan Radit yang diam-diam mencuri perhatian pada gadis di sebelahnya.


"Oke juga nih bocah bar-bar" batin Radit sambil melihat tubuh gadis itu.


"Ah apaan sih aku ini? bisa-bisanya tergoda dengan bocah bar-bar yang masih ingusan ini" batin Radit dengan sebal sambil memukul kemudi mobil. Gadis disebelahnya pun terkaget karena pukulan itu.


"Ada apa pak?" tanyanya penasaran.


"Udah ku bilang berkali-kali, jangan panggil aku bapak! Masih muda dan ganteng begini dipanggi bapak" tegas Radit dengan sebal.


"Huuuh dasar cowok gak jelas! Pantes aja belum nikah-nikah, sok kegantengan sih" ejek Cika.


Ciiiiiiitttttt.....


Radit menginjam rem seketika.


"Apa kamu bilang?" tanya Radit dengan geram.


"Gak ada" ketus Cika.

__ADS_1


"Cepat turun dari mobil sekarang!" perintah Radit kesal.


"Jangan dong, terus aku pulang sama siapa?" rengek Cika.


"Itu urusanmu!" ucap Radit.


"Iya iya, sorry deh udah ngejek mas Radit. Gak lagi-lagi ngejekin begitu ke mas Radit" ucapnya pasrah karena takut diturunkan di jalan.


"Apa? kamu panggil aku apa tadi?" tanya Radit.


"Mas Radit.. " jawab Cika.


"Manis sekali panggilannya" ucap Radit sambil mengacak-acak rambut gadis di sebelahnya.


Baru kali ini ada yang manggil Radit dengan sebutan mas. Terdengar manis sekali pikirnya. Tanpa sadar, Raditya tersenyum sendiri karena saking senangnya.


"Iss apaan sih senyum-senyum kayak orang gila" batin Cika.


"Terimakasih mas, aku pamit masuk dulu ya" ucapnya sambil menggoda. Bukan Cika kalau gak ngerjain orang.


"ehhh.. iya" spontan si Radit terkejut dengan ucapan gadis bar-bar itu.


"Manis juga dia kalau feminim gitu" batin Radit sambil melihat Cika yang masuk ke dalam kosan.


Radit pun menyadarkan diri dari mematungnya itu. Ia memasuki rumah sambil senyam-senyum bak orang jatuh cinta.


Di tempat lain seorang gadis yang baru memasuki kamarnya itu langsung merebahkan diri di atas kasur.

__ADS_1


"Ahhh akhirnya rebahan juga" ucapnya dengan lega.


Ia pun membuka hp yang sedari tadi ia taruh di dalam saku.


"Aduh gawat, ibu nelfon berkali-kali dari tadi" ucapnya terkejut ketika melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari sang ibu. Cika pun langsung memvideo call ibunya itu.


"Dari mama aja kamu sampai telfon ibu tidak diangkat sejak tadi?" tanyanya tiba-tiba ketika baru saja gambar sang ibu muncul di HP.


"Isss ibu. Baru aja video call udah begitu. Tanya kabar Cika dulu gitu, jangan asal nanya sambil marah-marah" ucap Cika dengan sebal.


"Kamu ini ya, udah salah malah ngeles lagi!" bentak sang ibu.


"Aduh bu, Cika itu baru aja sampai kosan. Disekolah pulang sore lalu Cika sekalian aja beli makan karena udah lapar banget" jawabnya dengan membela diri.


"Alasan aja kamu. Bilang aja kalau lagi kencan sama cowok!" Ledek sang ibu.


"Iss ibu ini apaan sih? Cika gak punya cowok ya bu!" tegasnya memperjelas bahwa statusnya yang masih jomblo itu.


"Ah iya ibu lupa. Bagaimana kamu bisa punya pacar, kelakuanmu aja arogan. Mana ada cowok yang mau dengan cewek sepertimu itu?" ejek ibu kepada Cika.


"Ibu ini dari tadi ngeledekin Cika mulu. Tau ah, Cika matiin aja video callnya. Capek, mau mandi terus tidur" ucapnya ngerengek karena ledekan sang ibu.


Akhirnya Cika mematikan video call secara sepihak. Kemudian ia pun bergegas mandi agar segera beristirahat.


Beberapa saat kemudian Cika selesai mandi dan bersiap untuk tidur. "Ahhhh akhirnya waktunya bobo juga" ucapnya sambil memeluk guling. Tanpa terasa ia pun tertidur dengan pulas.


Berbeda dengan Radit. Jika Cika bisa tidur dengan pulas, justru ia hanya bisa merenung memikirkan perkataan sang papa tadi di kantor. Ya, dia memikirkan sampai kapan ia menutup hatinya untuk wanita lain. Umurnya pun semakin tua, teman seusianya sudah banyak yang mempunyai anak. Radit pun menyadari bahwa ia juga butuh seoranh istri yang baik untuk memanjakan dan menyayanginya. Ia bingung, wanita mana yang akan menjadi istrinya kelak sedangkan ia hanya kenal dengam beberapa wanita saja.

__ADS_1


Cukup lama Radit merenung memikirkan itu. Hingga akhirnya ia tertidur dengan pulas.


Jangan Lupa Like untuk Vote ya :)


__ADS_2