
Chika Naisya Darmawan terlahir dari keturunan keluarga Darmawan yang terkenal akan kesuksesannya di dunia bisnis itu tidak membuatnya bangga akan hidupnya.
Sejak ia lahir di dunia ini tak ada satu pun dari keluarga sang ayah yang menyayanginya. Bahkan neneknya pun sangat membencinya. Setiap kali sang ayah membawanya ke rumah nenek, beliau tidak pernah mau menemuinya. Hingga suatu ketika, Chika datang berkunjung bersama sang ibu disambut oleh para pembantu di rumah itu. Mereka antusias menyambut kedatangannya karena sosok Chika kecil sangatlah lucu dan menggemaskan. Salah satu pembantu tersebut menyampaikan kedatangan Chika dan ibunya kepada majikannya yang sudah tua itu.
"Permisi tuan besar dan nyonya besar, nyonya Kayla dan non Chika datang kemari. Mereka sedang menunggu di ruang tamu"
"Untuk apa anak sialan datang kemari? aku tidak sudi bertemu dengan anak sialan itu. Bilang pada ibunya, suruh bawa dia pergi dari sini" bentak sang nenek.
Yups, anak yang di maksud adalah Chika kecil. Beliau selalu saja menolak untuk bertemu dengan Chika. Hanya ketika dengan Haikal lah beliau mau menemui Chika. Ya, Haikal adalah ayah Chika. Anak laki-laki terakhir di keluarga Darmawan.
"Bilang sama mereka, tunggu lah sebentar. Aku akan menemuinya" titah sang kakek yang memiliki karakter berbeda dengan istrinya. Selalu mau menemui Chika tanpa ada perasaan benci.
Seperti itu lah masa kecil Chika yang selalu saja dibenci oleh sang nenek. Hingga suatu ketika sang nenek benar-benar murka tanpa alasan. Beliau ingin membunuh Chika dengan membakarnya secara hidup. Betapa miris dan terlukanya hati sang ibu mengetahui anaknya akan dibunuh oleh neneknya sendiri.
Sejak saat itu lah sang ibu tak pernah lagi mendekatkan Chika dengan neneknya.
Chika seorang gadis yang ramah, ceria, dan polos itu tumbuh menjadi seorang gadis yang akan menggapai impian demi membahagiakan kedua orang tuanya, dan menepati janjinya membuktikan kepada neneknya bahwa ia bukanlah sosok yang pembawa sial.
Chika duduk di bangku sekolah menengah pertama tahun ketiga. Sebentar lagi ia akan melanjutkan ke jenjang berikutnya. Chika ingin sekali bersekolah di tempat sang ayah sekolah dulu, karena dia ingin membuktikan kepada sang nenek bahwa dirinya bisa membanggakan keluarga.
Belajar dan terus belajar hingga akhir ujian sekolah pun tiba. Ia mengerjakan semua soal-soal dengan baik berkat kerja kerasnya selama 3 tahun ini. Meski ia harus membagi waktu antara ujian sekolah dengan ujian seleksi masuk sekolah impiannya itu. Chika berhasil melewati hari-hari tersibuk dan terberat dalam hidupnya. Hingga suatu saat waktu bahagia itu tiba.
Satu hari sebelum pengumuman kelulusan, ia mendapatkan kabar yang begitu ia tunggu. Cemas dan takut itu yang selalu ada dalam benak Chika. "Bismillah, semoga hasilnya tidak mengecewakan ayah dan ibu" ucap Chika dengan penuh harap.
__ADS_1
Dibuka lah situs pengumuman tersebut. Ia cari berdasarkan nomer seleksi. Dicari satu persatu dengan teliti hingga tampak sebuah nama, 'Chika Naisya Darmawan - IPA Unggulan di SMA D'.
"Alhamdulillah... terimakasih ya Allah, engkau qabulkan keinginanku. Aku akan selalu berusaha membahagiakan ayah dan ibu. Aku juga akan membuktikan kepada nenek bahwa aku bukanlah anak pembawa sial" tutur Chika dengan bangganya.
Ia pun berlari keluar dari kamar, memberitahukan kabar bahagia tersebut kepada kedua orang tuanya.
Tok.. tok.. tok..
"Ibu, Ayah. Bolehkah Chika masuk? Chika ingin memberikan sesuatu untuk ayah dan ibu"
"Masuk lah nak, pintunya tidak ayah kunci"
Chika pun masuk ke dalam kamar sang ayah dan ibunya dengan sangat bahagia.
"Iya dong bu. Hari ini tuh Chika seneeeeeeeeng bangeeeeetttt"
"Seneng kenapa sih anak ayah ini? kok sampai segitunya"
"Nih yah, bu. Chika bisa capai satu per satu impian Chika" antusias sambil menunjukkan hasil pengumuman seleksi masuk sekolah menengah atas itu.
Di luar dugaan Chika. Kedua orang tuanya tak merespon sama sekali dengan hasil pengumuman tersebut. Mereka saling memandang satu sama lain, hingga timbullah pertanyaan yang tidak enak itu dari sang anak.
"Kenapa ayah ibu diam saja? Apa kalian tidak suka dengan hasil seleksi ini?"
__ADS_1
"Bukan begitu sayang. Ayah dan ibu sangat bangga dengan hasil dari perjuanganmu, hanya saja ibu tidak menyetujui kamu untuk mengambil itu. Ibu cemas kalau jauh dari kamu sayang. hiks" jawab sang ibu dengan sedih.
Jedyaaaaaarrrrr
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bantu Like, Comment, dan Vote ya :)
__ADS_1