
Chika shock mendengar penuturan sang ibu. Sekolah yang selama ini ia impikan sudah di depan mata, namun ditolak oleh ibu dengan alasan cemas jika berjauhan dengannya.
"Tenanglah bu, Chika janji bisa menjaga diri dengan baik." rengeknya kepada ibunya.
"Tapi sayang, ibu tetap tidak setuju jika kamu mengambilnya. Ibu tau kamu sangat menginginkannya, Ibu juga tau seberapa susahnya kamu berjuang untuk mencapainya. Percayalah pada ibu, banyak jalan menuju roma. Bukan hanya di sekolah itu kamu bisa menggapai semua impianmu di masa mendatang, tapi masih banyak sekolahan lain di kota ini yang bisa juga membawamu menggapai impianmu sayang"
"Chika hanya ingin sekolah di situ bu. Sama seperti ayah. Ibu tau kan betapa inginnya Chika sekolah di sana. Betapa inginnya menunjukkan kepada Nenek bahwa Chika bisa membanggakan keluarga Darmawan. Ibu tau bukan dengan semua itu? Apa ibu ingin Chika selalu dianggap anak sial di keluarga Darmawan oleh nenek? Itu kah yang ibu mau?"
"Bukan begitu nak. Ibu hanya tidak ingin jauh dari mu. Ibu khawatir melepaskan anak perempuan tinggal jauh dari ibu. Itu saja"
"Alasan yang tidak masuk akal. Aku benci sama ibu!" Chika berlari meninggalkan kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar.
BRAK!
Chika menutup pintu dengan kasar. Ia pun menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa ibu tak menyetujuinya bu? Chika sudah berusaha dengan sekuat mungkin untuk masuk ke sana hiks. Chika ingin menunjukkannya pada nenek bu hiks"
Chika terus saja menangis hingga ia terlelap dalam tidurnya. Saking capeknya menangis, Chika tertidur hingga melewati jam makan siang. Ayah dan Ibunya cemas memikirkan anaknya yang tidak terima dengan penolakan ibunya. Ingin sekali menghampirinya, tapi mereka takut membuat anaknya semakin marah dan benci padanya. Hanya menunggu itu yang mereka lakukan. Hingga malam menjelang, Chika pun tidak keluar dari kamarnya. Sekarang sudah waktunya makan malam. Sejak tadi Chika belum makan, bahkan makan siang pun ia lalui. Ibu makin panik. Ia khawatir jika anaknya berbuat nekat.
"Mbak Nul.. boleh minta tolong panggilkan Chika untuk makan malam?" pinta sang ibu kepada pembantunya.
"baik Nya, saya panggilkan nona Chika."
Tok.. tok.. tok..
"Non, ini mbak Nul. Sekarang sudah malam non, waktunya makan malam. Nyonya sama Tuan sudah menunggu sedari tadi di meja makan"
Lama tak ada jawaban. Mbak Nul pun kembali mengetuk pintu kamar tersebut untuk memastikan sebelum melapor kepada majikannya.
Tok.. tok.. tok..
__ADS_1
"Non, apa nona sedang tidur? atau nona sedang sibuk? Mbak Nul cuma mengingatkan kalau sekarang waktunya makan malam non."
Tetap tidak ada jawaban. Akhirnya Mbak nul turun kembali ke ruang makan, melaporkan kepada sang nyonya.
"Permisi nyonya, maaf. Saya sudah berkali-kali mengetuk pintu kamar tapi tak ada satupun jawaban dari nona."
"Ya sudah mbak tidak apa-apa, biar saya saja yang memanggilnya. Terimakasih ya mbak sudah dipanggilkan"
"Iya Nya, sama-sama. Saya permisi ke belakang dulu ya Nya. Mari nyonya..tuan." pamit sang pembantu.
Sepeninggalnya mbak Nul, terlihat kecemasan dan kepanikan di raut wajah sang ibu.
"Ayah, bagaimana ini? Ibu takut terjadi sesuatu sama anak kita. Ibu khawatir yah" rengek sang ibu.
"Ibu tenang lah. Percaya pada Chika kalau dia sudah besar, tidak akan melakukan apapun yang dapat mencelakainya. Biar ayah saja yang menyusulnya. Tunggu lah di sini"
Tok... tok... tok...
"Nak, Chika sayang.. Ini papa nak. Minta tolong bukakan pintunya. Sekarang sudah malam, waktunya makan. Kamu belum makan dari tadi bukan? Ayolah turun dan makan sama papa. Apa kamu tidak merindukanku sayang?"
Kayla semakin panik karena sang suami belum juga turun kembali dari kamar anaknya. Ia pun cemas dan menyusul suaminya ke lantai dua.
"Bagaimana yah, apa sudah ada respon dari Chika?"
"Belum bu, ayah sudah banyak bicara membujuknya tapi tetap tidak ada suara dari dalam"
"Bagaimana dong yah. Apa yang harus kita lakukan? Ibu takut kenapa-kenapa sama Chika yah. Atau kita dobrak aja yah?"
"Tunggu, ibu tenang dulu. Bukan kah di kamar ini ada kunci cadangannya? kemana ibu menyimpannya?"
"Ah ayah benar. Kenapa tidak dari tadi ya yah. Sebentar yah, ibu ambilkan dulu ya." Ibu pun mengambil kunci cadangan di almari penyimpanan. "ini yah kuncinya"
__ADS_1
"baiklah ayah buka dulu ya" Ayah mencoba membuka namun tidak bisa. Berkali-kali mencoba membukanya namun tetap tidak bisa. "Sepertinya kunci masih tertancap dari dalam bu".
"Aduhhh.. lalu bagaimana yah? apa tidak ada solusi lain?"
"Ada, satu-satunya cara yaitu mendobraknya"
"Buruan dobrak aja pintunya yah"
"Baiklah bu, ayah dobrak ya. Ibu minggir dulu"
BRAAAKKK
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa Like, Komen, dan Votenya ya :)