
Azalea tinggal bersama ibu dan adiknya, di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota.
Setelah kelulusan sekolahnya, Lea tau jika dirinya tidak akan bisa melanjutkan pendidikan karna terkendala biaya. Maka dari itu, Lea bertekad untuk bisa mewujudkan mimpinya menjadi artis terkenal.
Impian itu sudah Lea pikirkan sejak masa sekolahnya, Lea semangat berlatih dan mengumpulkan uang, karna Lea tau jika mengejar impiannya itu bukanlah hal yang mudah, sedikitnya pasti membutuhkan biaya.
Hari-hari Lea di lalui dengan terus memantau audisi yang akan di ikutinya.
Karna rencananya Lea akan mengikuti audisi nya melalui online.
[HARI YANG DI NANTI PUN TIBA, AUDISI MULAI DI BUKA]
*mengirim video rekaman Lea yang sedang bernyanyi*
"bismillah, semoga aku lolos" Harap Lea.
Setelah mengirimkan video tersebut, Lea pun keluar kamar nya untuk menghampiri ibu dan Lily yang sedang menonton tv.
*DARRR*
"aduh Lea, kebiasaan deh bikin ibu jantungan"
"iya nih kebiasaan tau gak kak!"
"idihhhh jangan marah-marah gitu, gaenak diliat" jawab Lea sambil cengengesan.
*Lea mendekati ibu*
"bu, minta do'anya ya.. Lea baru aja ikut audisi. Pengumuman ke lulusan nya sebulan lagi"
ibu sejenak terdiam,
"kamu serius mau jadi penyanyi? nanti kalo kamu lolos, kamu harus tinggal di kota loh, jauh dari ibu dan adikmu, apa kamu siap?"
Lea menjawab dengan penuh keyakinan,
"bu, Lea kan udah besar, impian Lea dari kecil emang pengen jadi penyanyi, biarkan Lea mengejar mimpi Lea bu, kalo Lea udah sukses, Lea langsung jemput ibu dan Lily buat tinggal di kota"
ibu memeluk dan mengelus kepala Lea,
"apapun yg membuat kamu senang lakukanlah nak, asal kamu harus selalu ingat pesan ibu, jangan pernah tinggal ibadah dan jangan pernah berani melanggar aturan Allah, kamu harus bisa jaga diri kamu, harga diri kamu ya nak"
Lea merespon perkataan ibu dengan anggukan.
SINGKAT CERITA.
[1 BULAN BERLALU]
Tiba saatnya pengumuman yang ditunggu-tunggu.
Mereka yang sudah sangat penasaran itu, berkumpul di ruang tv sambil menunggu email masuk.
*TRING*
*EMAIL MASUK*
Mereka bertiga membaca email tersebut bersama,
pelan-pelan Mereka baca....
Email itu berisi
"SELAMAT AZALEA, KAMU LOLOS AUDISI, SELAMAT BERGABUNG DENGAN MANAGEMENT KAMI"
Ah rasanya badan Lea lemas saking bahagianya, Lea tidak bisa berkata-kata, hanya bisa memeluk ibu dan Lily.
Bagi Lea, hari ini terasa seperti mimpi. Lea tidak menyangka jalan menuju impiannya seakan terbuka lebar.
[MALAM HARI].
*TOK TOK TOK*
terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Lea.
"Lea.. buka sayang ini ibu"
Lea pun bergegas membukakan pintu
Melihat ibu membawa makanan, Lea kemudian membantu untuk membawa makanan tersebut.
"ibu gaperlu repot-repot, Lea bisa ambil makan sendiri"
Ibu pun masuk kedalam kamar, melihat seisi kamar, ternyata Lea sedang siap-siap mengemasi barang-barangnya untuk pindah ke kota.
"loh udah beres-beres? emang kamu perginya kapan nak?"
Tanya Ibu.
"minggu depan sih bu"
Kata Lea sambil tersenyum malu.
"walah semangat banget beres-beres nya dari sekarang"
"biar nanti tinggal bawa aja bu"
Kemudian Lea dan ibu duduk di kasur.
"bu, gapapa lea tinggal?"
Tanya Lea.
"ya gapapa nak, kalo kamu sukses kan ibu juga yang bangga"
Lea pun tersenyum datar, dalam hatinya berat sekali meninggalkan ibu dan Lily dirumah.
ibu yang mengerti keadaan lea langsung memegang tangan lea,
"Lea, gaperlu khawatirin ibu dan Lily ya.. In Syaa Allah kita disini selalu dalam lindungan Allah"
Lea pun memeluk ibu dan menangis.
Tidak terasa 10 menit berlalu Lea menangis, kemudian ibu menyuruh Lea untuk berhenti menangis.
"sudah nak, jangan nangis terus, ibu masih mau tanya tentang management itu"
Lea mengusap air matanya,
"ibu mau tanya apa?"
"yang dimaksud grup di email tadi... itu maksudnya apa nak?"
"oh ituu, jadi Lea tuh jadi penyanyi nya ga sendirian bu tapi bergrup, nanti Lea nyanyi sambil nari gitu bu"
Kata Lea menjelaskan.
Dengan wajah meledek,
"sejak kapan kamu bisa nari?"
Tanya Ibu.
Mendengar pertanyaan ibu, Lea pun merasa malu.r
"ah ibu, Lea emang belum bisa nari tapi nanti disana ada yg ngajarin bu, yg penting bisa nyanyi dulu"
"ohh gitu, yaudah deh.. tuh dimakan dulu, udah makan langsung tidur ya"
Ibupun menuju pintu kamar, sambil bernyanyi dan berjoget dengan maksud mengejek Lea.
Melihat tingkah ibunya, Lea hanya bisa tertawa kegelian.
[DILUAR KAMAR]
Ibu berniat menuju kamarnya untuk tidur, tapi saat melewati kamar Lily, ibu melihat pintu kamarnya terbuka dan Lily sedang duduk menunduk di kasurnya.
Melihat itu, ibu menuju kamar Lily.
*TOK TOK TOK*
"nak.. ibu boleh masuk?"
Lily yang sedang termenung seketika terkejut lalu dengan gelapan Lily memperbaiki posisi duduknya.
"eh ibu, boleh bu masuk aja"
*Ibu pun masuk dan duduk di samping Lily*
"sudah makan nak? mau ibu ambilkan makan?"
Tanya ibu membuka percakapan.
"sudah bu"
Jawab Lily tidak bersemangat.
Melihat raut wajah Lily yang murung, ibu pun mengerti apa yang sedang dirasakan Lily.
"Lily sedih ya kak Lea mau pergi?"
*Lily pun mengangguk pelan*
*ibu merangkul bahu Lily*
"nak.. setiap pertemuan pasti ada perpisahan, mau selama apapun kita hidup dengan seseorang pasti pada akhirnya kita akan berpisah. Entah itu berpisah karna meninggal atau alasan lain. Lily sekolah SD-SMP-SMA pasti bertemu dan berpisah kan pada akhirnya dengan teman-teman Lily, bahkan orang tua yg selalu ada dari anaknya lahir sampai dewasa, tetap akan berpisah jika waktunya sudah harus berpisah. Perpisahan itu hal yang biasa, mangkannya sebelum kita mencintai manusia, kita harus mencintai pemilik manusia nya dulu, supaya kita bisa selalu menerima segala takdir yang sudah Allah tetapkan"
Perkataan ibu memang selalu bisa menenangkan anak-anaknya, bagi Lily dan Lea, ibu itu orang yang bijak itulah yang membuat ibu kuat menghadapi segala hal dalam hidupnya. Ibu adalah sumber kekuatan bagi Lily dan Lea.
*Lily pun mengangkat kepalanya menatap ibu kemudian tersenyum*
"ibu pasti bangga banget ya sama kak Lea"
*Ibu mengangguk dengan semangat*
"tapi apa yang mau dibanggakan dari Lily?, Lily pengangguran, gapunya bakat kaya kak Lea"
*ibu menatap Lily sejenak, kemudian tersenyum*
"ukuran kesuksesan itu tidak selalu tentang penghasilan, pencapaian, atau jabatan. Bagi ibu, anak yg sukses itu adalah anak yg bisa membantu ibu kelak di akhirat, anak yg bisa membawa ibu masuk surga. Apa gunanya harta melimpah kalau anak ibu gabisa bantu ibu di akhirat?"
*Ibu terdiam sejenak, kemudian melanjutkan perkataanya*
"anak-anak ibu selalu menjaga ibadahnya, menjaga harga dirinya. Menurut ibu kalian berdua sudah menjadi anak yg sukses"
__ADS_1
*Lily menangis terharu, tidak bisa berkata apa-apa*
"ah ibu.... aku sayang ibu"
*Ibu dan Lily berpelukan*
"udah ah, jangan nangis... tadi Kak Lea nangis, sekarang kamu yang nangis"
*HOAAAAM*
*ibu menguap*
"ibu udah ngantuk, dah ah ibu mau tidur, selamat malam bunga nya ibu"
Kata ibu sambil menuju keluar kamar.
Malam itu perasaan Lily begitu tenang, seolah beban yang ada di pikirannya hilang seketika.
[KE ESOKKAN HARINYA]
*Selesai sholat berjamaah*
"hari ini ibu mau kepasar, katanya bibi mau datang kerumah" Kata Ibu.
"mau ngapain sih bibi kesini"
tanya Lily dengan raut wajah yang kesal.
"bibi kan tau kabar kak Lea lolos audisi, mungkin bibi mau ngucapin selama buat kakak"
Dengan wajah kesal Lily menjawab
"bener mau ngucapin selamat? yang ada malah nyinyirin kak Lea"
"eh gaboleh buruk sangka gitu"
"bukan buruk sangka bu.. tapi fakta, keluarga ibu kan gaada yg suka sama kita"
Ibu mengehela nafas.
"mau gimanapun sikap mereka, mereka tetap keluarga kita"
"tapi kan..."
*ibu memotong pembicaraan Lily*
"udah udah, beresin mukena kalian, ibu mau ke pasar sekarang. Kakak sama Lily bagi bagi tugas seperti biasa ya, jangan sampai bibi keburu dateng tapi rumah masih berantakan"
*Lea dan Lily mengangguk*
*Ibu pun pergi ke pasar*
Lea dan Lily mulai berbagi tugas.
Di sela beres-beres rumah Lily memulai obrolan,
"menurut kaka kenapa ya keluarga ibu tuh jahat ke ibu?"
tanya Lily.
"jahat gimana maksud kamu?"
Jawab Lea kebingungan.
"ya jahat, suka komentar buruk ke ibu, suka ngehina ibu"
Kata Lily menggebu-gebu.
"hmmm, kalo kamu bilang jahat karna itu alasannya. Berarti semua orang di dunia ini jahat dong? karna berkomentar itu hak semua orang.
Menurut kaka sih gaada komentar buruk, yg ada cuma komentar yang ga kita setujui. Pemikiran orang itu beda beda, kita gaakan pernah bisa satu pikiran dengan semua orang, bisa jadi yg menurut kita buruk sebenernya menurut pandangan orang tsb pendapat mereka itu baik"
Jawab Lea dengan tenang.
"ah manusia itu sulit dimengerti ya"
jawab Lily sambil mengelap jendela.
"ya memang begitu, tapi kita ga harus mengerti semua orang. Cukup jalani hidup kita sendiri, hidup kita aja udah cukup memusingkan kan?"
Kata Lea sambil menatap Lily.
*merekapun saling bertatapan kemudian tertawa bersama*
[JAM 8 PAGI]
*Dari jendela Lily melihat ibu di luar*
"kak ibu udah pulang"
sambil menunjuk ke arah jendela.
Lea melihat ke jendela untuk memastikan.
"Lily buatin minum buat ibu ya, kaka mau bantu bawain belanjaan ibu"
"siap kak"
*Lea pun menuju ke luar dan membantu membawa belanjaan ibu*
Ibu duduk dan segera meminum teh yang dibuatkan Lily.
"makasih ya nak, alhamdulilah.. haus ibu ilang"
*ibu membuka belanjaan nya dan mengambil bunga lalu diberikannya kepada Lea dan Lily*
"Ini bunga azalea buat azaleanya ibu, ini bunga Lily buat Lilynya ibu"
Lea dan Lily tampak begitu bahagia, hingga tidak sengaja mereka bicara bersamaan.
"makasih bu"
*Menyadari bahwa mereka bicara bersamaan, lea dan lily pun saling berpandangan kemudian tertawa*
Lea memperhatikan bunganya itu kemudian bertanya.
"kenapa ibu kasih nama kita dengan nama bunga?"
Ibu tersenyum lalu berkata
"Bunga itu indah dengan keunikannya masing masing, seperti anak-anak ibu, kalian berdua indah dengan keunikan kalian masing-masing, jadi gaperlu ada iri satu sama lain.
Bunga Lily itu sebagai simbol cinta, pengabdian serta kemurnian. Kalo bunga Azalea itu sebagai simbol keanggunan dan kelembutan"
Lily memotong obrolan
"wahh ibu banyak tau tentang bunga ya hebat banget"
Ibu tertawa geli
"sebenernya ibu liat dari internet"
Mereka bertiga pun tertawa bersama.
"tadinya ibu mau kasih nama kakak mawar, karna menurut ibu mawar itu indah.. mempunyai duri, bukan untuk melukai tapi untuk melindungi diri. Ibu ingin anak anak ibu seperti bunga mawar itu"
"terus kenapa ibu gajadi kasih nama itu?"
Tanya Lily penasaran.
"Ibu kan suka nonton berita investigasi di tv, terus mawar selalu dijadikan nama samaran. nah dari situ ibu gamau ngasih nama anak ibu mawar, takut jadi tersangka"
Jawab ibu sambil tertawa.
Lea dan Lily ikut tertawa mendengar jawaban tidak terduga dari ibu.
ibu menghentikan tawanya, kemudian bertanya.
"eh gimana, udah beres semua?"
"Udah dong bu"
"baguss, kalo gitu kalian sarapan dulu ini ibu udah beliin makanan. nanti kalo udah beres makan, bantuin ibu masak di dapur ya"
"ibu ga sarapan dulu?"
tanya Lea.
"ibu nanti makannya bareng sama bibi"
kata ibu sambil berlalu pergi menuju dapur.
*Lea dan Lily pun sarapan bersama*
*20 menit kemudian, sarapan pun selesai. Lea dan Lily menghampiri ibu di dapur*
"bibi datang jam berapa bu?"
tanya Lily.
"jam 10an katanya"
"oh bentar lagi dong bu"
"iyaa mangkannya cepetan bantuin ibu"
*Mereka bertigapun sibuk di dapur, hingga tidak terasa waktu menunjukkan pukul setengah 10*
Masakan sudah siap, kini tinggal menatanya di meja.
*Ibu Lily dan Lea beristirahat sebentar sambil menunggu kedatangan bibi*
[setengah jam berlalu, terdengar suara ketukan pintu. Lea pun bergegas membukakan pintu]
Ternyata bibi sudah datang, Lea menyalami nya dan mempersilahkan masuk.
Ibu dan Lily pun menyambut bibi dengan senang hati.
"naik apa kesini? macet ga dijalan?"
"ah biasa naik motor, jalan lancar sih cuma panas banget"
"oh kalo gitu ini minum dulu, kebetulan airnya dingin jadi seger banget"
bibi pun duduk kemudian meminumnya.
__ADS_1
Kami bertiga terdiam, bibi memulai obrolan
"Lea katanya kamu lolos audisi"
*menjawab dengan malu-malu*
"iya bi, alhamdulillah"
"ngapain sih kamu ikutan kaya gitu? tempat nya jauh, kamu harus tinggal di kota. terus belum tentu juga kamu bakal sukses. menurut bibi, mending kamu cari kerja yg pasti pasti aja biar waktu mu ga kebuang sia sia"
Seperti yang sudah Lily duga, jika bibi nya datang hanya untuk menghina kak Lea.
*Dengan perasaan kesal, Lily pergi menuju kamarnya*
Disisi lain ibu tersenyum mendengar perkataan bibi, sambil mengambilkan makanan ibu berkata,
"makasih loh kamu udah perhatian segitunya ke anakku, tapi semua orang berhak punya impian dan mewujudkannya. Anggap aja lolosnya Lea ini adalah jalan dari Allah buat memudahkan Lea menggapai mimpinya"
*Sambil makan bibi menjawab*
"mimpinya Lea tuh ga masuk akal, kaya mustahil aja menurutku"
Ibu menjawab.
"mustahil itu menurutmu, menurut Allah gaada yang mustahil"
Mendengar obrolan ibu dan bibi, Lea hanya bisa tersenyum memaklumi sifat bibinya itu yang sudah sangat dia kenal.
"kapan kamu berangkat ke kota?"
tanya bibi.
Lea menjawab,
"minggu depan bi"
"kamu punya ongkos darimana? jangan jangan kamu ngerepotin ibu mu ya, ibu mu itu hidupnya udah susah, kamu jangan nyusahin ibu kamu"
"Lea udah nabung dari lea masih sekolah bi, jadi lea pake uang lea sendiri ko ga minta sama ibu"
Bibi dan ibu melanjutkan makan, Lea hanya duduk memperhatikan ibu dan bibi yg sedang mengobrol.
Selesai makan bibi langsung pamit pulang
"saya gaakan lama disini, tadinya cuma mampir aja, sekalian nyampein pesen dari keluarga yg lain kalo mimpi Lea itu ketinggian katanya"
*sambil berjalan menuju pintu bibi berkata lagi*
"nanti kalo kamu gagal disana, kamu pulang aja kerja disini, bibi denger ada lowongan kerja buat jadi buruh cuci. menurut bibi itu cocok buat kamu"
Ibu menjawab
"makasih tawarannya"
bibi pun pamit dan pulang.
Ibu menutup pintu dan menghampiri Lea,
"kamu gapapa?"
Lea tersenyum dan mengangguk
"gapapa bu, bibi kan memang begitu"
*Ibu mengelus kepala Lea*
"ibu harap kamu tidak ada dendam ya nak, dendam itu merusak dirimu, bukan merusak orang yg menyakitimu. Ibu yakin kamu gaakan goyah hanya karna sebuah komentar bibi mu itu. Kita itu gabisa ngontrol orang mau ngomong apa tapi kita bisa ngontrol apa aja yang mau kita dengar. Komentar yg menyakiti hati anggap aja angin lewat"
Sambil tertawa Lea menjawab
"maksudnya anggap aja kentut bu?"
Ibu pun tidak kuat menahan tawa.
Mendengar suara tertawa ibu dan Lea, Lily pun keluar kamar.
"akhirnya udah pulang juga. Kalo ada bibi tuh seketika suasana rumah jadi panas"
Ibu mencubit pelan Lily
"eh gaboleh gitu"
Lea ikutan mencubit Lily tapi aga keras
"iya nih gaboleh gitu"
Lily yg kesakitan itupun mencoba membalas cubitan kakaknya itu, melihat Lily akan membalasnya Lea pun berlari menghindari Lily
Terjadilah kejar kejaran dalam rumah.
*Ibu hanya memperhatikan dari jauh kelakuan kedua anak kesayangannya itu*
"Aku pasti akan rindu melihat ini"
kata ibu dalam hati.
*Dengan setengah berteriak ibu berkata*
"kalo udah kejar kejarannya tolong beresin piring bekas makan ibu dan bibi ya"
Lea dan Lily masih sibuk kejar kejaran, tapi sudah pasti mereka mendengar perintah ibunya itu.
Sudah lelah mereka berlari, mereka pun duduk untuk beristriahat. Posisi mereka setengah terlentang dengan memandang langit-langit rumah.
"kamu kapan mau mulai melamar kerja ly?"
"kayanya seudah kaka pergi aja, aku mau abisin waktu dulu sama kaka"
"rencana mau kerja apa?"
"apa aja deh yang penting halal"
"iya sih, tapi kamu harus punya tujuan, jangan mau cuma mengalir begitu aja"
"maksudnya?"
"dalam hidup, kamu harus punya target pencapaian apa yg mau kamu capai. rencanakan masa depanmu, meskipun kita tau hidup kita dibawah kendali Allah. Tapi seengganya kita mau ikhtiar dulu"
"hmm... gitu ya, akusih masih gatau mau ngapain sebenernya"
"ah hidupmu terlalu santai"
*HOAMMM*
Lily menguap
"aku ngantuk, aku tidur dulu ya ka, nanti malem aku mau pikirin rencana yg tadi kaka bilang itu"
Lea memandang Lily dan mengangguk.
*Lily pun masuk menuju kamar nya*
Lea membereskan piring kotor bekas ibu dan bibi makan, kemudian Lea menghampiri ibu yang sedang menjahit baju.
*TOK TOK TOK*
"bu, Lea boleh masuk?"
*sambil terus menjahit*
"boleh nak"
Lea menghampiri ibu
"banyak pesenan jahitanya bu?"
"Alhamdulillah kak disyukuri saja"
Melihat ke arah Lea
"Lily mana?"
"Lily tidur bu, ngantuk katanya"
"kamu ga tidur juga?"
"iya ini mau bu, tapi mampir dulu liat ibu"
"yasudah ibu lanjut menjahit dulu ya, sana kamu tidur aja"
"oke bu, dahhh ibu"
"dahhh"
*Lea pun menuju kamarnya hendak tidur siang*
[Tidak terasa hari berlalu begitu cepat, tiba saatnya Lea pergi ke kota. Lea memeriksa kembali barang bawaanya dibantu ibu dan lily, tidak lupa lea membawa gitar kesayangannya]
"nak, selalu kabari ibu ya, telpon ibu dan lily biar kita ga terlalu kangen kamu"
"pastinya bu"
"udah beres packingnya, sekarang kita sarapan bareng dulu sebelum nanti ibu dan lily anterin Kamu ke bandara"
Lea dan Lily pun mengangguk tanda setuju, kemudian mereka menuju meja makan bersama-sama.
Sarapan hari ini sungguh berbeda rasanya, Lea berharap waktu bisa berjalan sedikit lebih lambat, agar Lea bisa menikmati sarapan terakhir bersama lebih lama.
Tidak ada obrolan saat sarapan, ibu lea dan lily fokus makan sambil sama sama menahan air mata.
setelah sarapan selesai, mereka semua segera bersiap untuk mengantarkan Lea ke bandara. Pagi itu mereka menuju bandara menggunakan taxi online.
Sampai bandara, mereka menunggu sebentar sampai waktu keberangkatan Lea tiba.
Sebelum Lea masuk pesawat, mereka bertiga berpelukan dan menangis bersama cukup lama.
"kamu hati hati ya nak, jaga diri disana, ingat pesan ibu, nanti kalo udah sampe langsung kabari ibu"
Lea mengangguk, dan perlahan melepaskan pelukan itu.
"Lea pamit ya bu, lily... kalian juga harus jaga diri baik-baik, kalo ada apa-apa kabari Lea ya"
Ibu dan lily mengangguk kemudian meninggalkan Lea sendirian.
Lea memasuki pesawat dan menatap ke arah jendela pesawat sambil terus menangis.
__ADS_1
Selamat tinggal, kota kelahiranku