
Shaga mengambil buku catatan Lea, dia memperhatikan sampul buku tersebut yang bergambar bunga.
Shaga kemudian membuka buku catatan itu dan melihat-lihat tiap halaman yang berisi tulisan Lea.
Pandangan Shaga tertuju pada salah satu tulisan, kemudian dia membaca tulisan tersebut.
"Walau kau memilih pergi,
Dan tidak pernah kembali,
Aku tetap mencintai.
Walaupun kau banyak meninggalkan luka di hati,
Bagiku kau tetap alasanku berada disini.
Tak perlu merasa tak enak hati,
Biarkan aku jatuh cinta sendiri”
*setelah membaca tulisan itu, Shaga terdiam sejenak lalu menutup buku tersebut*
"wow, ternyata kamu bucin banget ya"
Lea yang mendengar itu kemudian menjawab.
"Bucin ke ayah, bagus kan?”
"Aku kira itu buat pacarmu" Jawab Shaga dengan nada terbata-bata.
"Aku selalu menuangkan perasaanku melalui tulisan, tapi aku gapernah nulis tentang cinta kecuali buat ibu dan ayah. Karna aku belum pernah ngerasain cinta selain dari mereka”
”kalo gitu kenapa kamu ga pulang ke rumah ayah mu, kamu masih punya ayah kan?”
“Andai aku tau ayah dimana, tanpa kamu suruh juga aku pasti akan pulang kesana”
Melihat raut wajah Lea yang tiba-tiba berubah, Shaga hanya terdiam, dia tidak mau obrolan ini berlanjut terlalu jauh, takut membuat Lea merasa sedih. Walaupun sebenarnya Shaga sangat ingin tau tentang latar belakang Lea yang menurutnya, dia belum terlalu mengenal Lea.
Di tengah keheningan itu, terdengar suara perut yang cukup keras, suara itu berhasil memecah keheningan.
Shaga yang merasa tidak terlalu lapar itu langsung mengetahui jika suara itu berasal dari Lea.
"kamu laper?" Tanya Shaga.
Lea hanya menunduk untuk menyembunyikan wajah nya karna merasa sangat malu.
Walaupun Lea tidak menjawab pertanyaanya, Shaga sangat yakin jika Lea memang sedang lapar.
"ayo makan di luar"
Lea masih terdiam, dia bingung bagaimana memberitahu Shaga jika dia tidak punya uang sama sekali.
Shaga memahami arti diamnya Lea.
"tenang aja, aku yang bayar" Kata Shaga sambil menarik tangannya menuju keluar.
Lea pun dengan pasrah mengikuti Shaga yang sudah terlanjur menariknya keluar.
Mereka menuju tempat makan yang tidak jauh dari apartment tersebut.
..........
[DI TEMPAT MAKAN]
Shaga langsung memberikan menu makanan kepada Lea.
Setelah memesan makanan, tidak lama makanan pun datang.
*merekapun makan bersama*
Sedang asik makan, Lea menyadari jika Shaga sedang memperhatikannya.
Lea mengangkat kepalanya kemudian menatap Shaga dan bertanya.
"apa?"
Ketahuan sedang memperhatikan Lea, Shaga pun menjadi salah tingkah.
"apa?" Shaga balik bertanya kepada Lea.
"dari tadi kamu liatin aku kan?" Kata Lea sambil menyuap makanan ke mulutnya.
"Eng, eng, engga.. jangan ke GR-an jadi cewe" Bantah Shaga sambil makan makanannya.
Padahal Lea yakin jika Shaga memang memperhatikannya, tapi dia tidak mau terlalu memikirkannya. Baginya yang penting saat ini adalah bagaimana dia bisa makan banyak agar bisa kenyang lebih lama.
"selesai makan, kita ke kantor management, aku mau ngenalin kamu sama Pak Bram pemilik management itu dan menjelaskan maksudku bawa kamu kesana"
Lea yang sudah selesai makan itu hanya merespon dengan anggukan, menyetujui ajakan Shaga.
Sekarang giliran Lea yang memperhatikan Shaga yang sedang makan.
"makasih banyak ya, maaf kalo aku banyak ngerepotin kamu padahal kita baru kenal"
"ini ga gratis, kamu harus bayar bantuan aku dengan kerja kerasmu nanti" Jawab Shaga sambil terus makan tanpa melihat ke arah Lea.
"siap bos" Jawab Lea sambil tersenyum.
"BTW lama banget makan nya, berarti bener kan tadi kamu sibuk merhatiin aku jadi makan nya lama" Kata Lea sambil tertawa bermaksud mengejek Shaga.
Shaga menyodorkan piring yang sudah kosong kepada Lea, kemudian bangun dari duduknya.
"Aku kalo makan emang lama, karna nikmatin makanan" kata Shaga sambil berlalu pergi menuju kasir meninggalkan Lea yang masih duduk.
Lea segera berdiri dan mengejar Shaga yang jalannya secepat kilat.
..........
Singkat Cerita.
[DI KANTOR MANAGEMENT]
"kamu tunggu dulu disini, aku mau ke atas ketemu Pak Bram"
Lea mengangguk lalu duduk di sofa ruang tamu sambil memperhatikan sekitar, Lea merasa takjub melihat kantor management yang begitu besar dan sangat modern baginya.
Tidak terasa 1 jam telah berlalu, barulah terlihat Shaga menghampirinya sembari berkata.
__ADS_1
"ikut aku ke atas"
Bergegas Lea mengikuti Shaga dari belakang.
Lea berjalan setengah berlari karna jalannya Shaga terlalu cepat baginya.
[DI RUANGAN PAK BRAM]
Pak Bram langsung mempersilahkan mereka duduk.
Tanpa basa-basi Pak Bram langsung saja menyampaikan maksudnya.
"Shaga sudah menjelaskan kepada saya, sekarang saya hanya ingin mendengar suaramu"
Lea mengangguk kemudian bangkit dari tempat duduk nya untuk mulai bernyanyi, meski tanpa iringan musik, Lea mampu menghipnotis setiap orang yang mendengar suaranya.
Selesai bernyanyi, Lea kemudian melihat ke arah Pak Bram untuk melihat responnya.
Pak Bram terdiam beberapa menit, kemudian mengedipkan matanya dan bertepuk tangan.
"bener apa yang Shaga bilang, suaramu itu indah sekali, kamu cocok untuk menjadi penyanyi solo, gimana? kamu setuju?"
Mendengar tawaran Pak Bram Lea jelas tidak menolak. Dengan penuh semangat Lea menerima tawaran itu.
"ya pak, saya mau banget"
"oke kalau gitu, untuk pembuatan lagu, kamu akan dibantu oleh Shaga"
"Shaga, tolong bantu Lea ya" ucap Pak Bram kepada Shaga.
"siap pak" jawab Shaga.
"kalau begitu saya dan Lea pamit ya pak terimakasih banyak"
*Pak Bram mengangguk*
Shaga dan Lea keluar dari ruangan Pak Bram menuju ke lantai bawah untuk pulang.
Sepanjang jalan Lea berlarian kecil, berputar dan meloncat-loncat seperti anak kecil.
Shaga yang sedari tadi memperhatikan Lea pun kemudian berkata.
"hati-hati, lantai nya licin, jangan sampe kamu jatoh terus ngerusak lantai itu"
Langkah Lea seketika berhenti, wajah Lea yang semula sumringah berubah menjadi datar.
Lea pun berkata kepada Shaga.
"kamu gabisa liat orang seneng ya?"
Shaga melewati Lea yang sedang berhenti itu sambil menjawab.
"lantai nya mahal, sayang banget kalo rusak"
Lea hanya memperhatikan Shaga yang berlalu meninggalkannya.
Setelah terasa sudah jauh Shaga pergi, barulah Lea berlari dengan cepat untuk menyusul Shaga.
Ketika berpapasan, Lea melewati Shaga begitu saja sambil mengejeknya.
"duluan yeee"
..........
[DI LANTAI BAWAH]
Ternyata di tempat Lea menunggu tadi sudah ada Justin, Romy dan Jimmy.
Lea pun menghampiri mereka di ikuti oleh Shaga yang berjalan di belakang nya.
Romy yang melihat kedatangan Lea dan Shaga langsung bertanya kepada Shaga.
"kamu bener- bener serius mau bantu dia?"
Tanya Romy sambil menepuk pundak Shaga
*Shaga mengangguk*
"dia emang layak dibantu karna dia punya bakat"
"Pak Bram setuju?" tanya Justin.
"Pak Bram menyambut Lea dengan baik" Jawab Shaga.
*Jimmy menghampiri Lea sambil mengulurkan tangannya hendak bersalaman*
"wahhh selamat ya, welcome to the club"
Lea menyalami tangan Jimmy dan menyalami tangan yang lainnya juga sambil sedikit membukukan badan sebagai bentuk terimakasih.
Obrolan mereka tidak begitu lama, karna Lea yang pamit ingin segera pulang.
"kalo gitu aku mau pamit pulang ya" kata Lea sambil melangkah menuju pintu keluar.
Baru beberapa langkah Lea hendak menuju pintu keluar, langkah Lea terhenti karna Shaga memegang pundaknya.
"stop, kamu kan dateng sama aku. pulang juga sama aku lah" kata Shaga.
Lea terdiam kemudian melepaskan tangan Shaga yang masih berada di pundak nya.
"maaf aku mau pulang sendiri"
Mendengar Lea yang menolak ajakannya, Shaga tidak memaksa dan menanyakan alasannya.
Shaga kemudian mengeluarkan uang yang ada di dalam saku celana nya, lalu memberikannya kepada Lea.
"kamu boleh pulang sendiri asal kamu ambil uang ini lagi"
Justin yang melihat itu langsung bertanya.
"wahh apa apaan ini?"
*Shaga pun menceritakan semuanya kepada Justin*
Justin mendengarkan cerita Shaga, kemudian memberikan penjelasan kepada Lea.
"apartment itu milik kita, disitu dulu kita tinggal bareng, tapi karna kita udah punya rumah sendiri. jadi apartment itu ga ada yang nempatin. Dengan kamu tinggal disana, itu udah cukup bantu kita, kamu tinggal rawat apartment itu dengan baik, karna disana banyak kenangannya. Kalo kita lagi kangen, kita juga suka kumpul disana. jadi kamu ga perlu bayar sewa"
__ADS_1
Mendengar penjelasan itu, Lea pun menjawab.
"ohh begitu ya, tapi Shaga ga ngejelasin itu tadi pagi"
*sambil mengambil kembali uang itu kemudian memasukkannya ke dalam sakunya*
"Shaga orangnya males ngomong" jawab Romy.
Jimmy yang sedari tadi diam mulai menimpali.
"Shaga itu so cool kalo di depan cewe"
Tidak terima dengan apa yang di sampaikan Jimmy, Shaga pun mendorong nya perlahan sambil berkata.
"heh, aku emang gini kali mau itu ke cewe atau cowo"
Lea yang sudah sangat ingin pulang itu tanpa basa-basi dia langsung berlari ke luar sambil melambaikan tangannya.
Justin, Romy, Shaga dan Jimmy pun hanya bisa melihat Lea dari kejauhan, mereka tidak sempat menghentikan Lea.
..........
Hari ini berjalan seperti mimpi, siapa sangka impian Lea yang dia anggap sudah tidak ada harapan ternyata menemukan jalannya sendiri.
Lea tidak bisa mengungkapkan kebahagiaan itu dengan kata kata, Lea hanya bisa berlarian kecil sesekali melompat lompat dan memutari tiang yang ada dijalan.
Tanpa Lea sadari, Lea sedang diperhatikan oleh 4 lelaki yang masih berdiri di dalam gedung management itu.
Justin tersenyum kecil melihat tingkah Lea sambil berkata.
"manusia unik"
Mereka berempat pun membubarkan diri menuju rumah masing-masing.
Sesampainya di rumah, Shaga segera mengeluarkan ponselnya memasang headset kemudian memutar rekaman suara Lea yang sedang bernyanyi.
Shaga duduk sambil memandang keluar jendela, dia tersenyum kecil mendengar rekaman suara Lea yang menurutnya sangat indah itu.
..........
*Singkat cerita*
[HARI PUN BERGANTI]
Hari itu begitu cerah se cerah suasana hati Lea yang sudah bersiap untuk segera pergi menuju kantor. Lea berniat berangkat 1 jam lebih awal karna Lea berangkat dengan berjalan kaki yang memakan waktu 1 jam perjalanan.
Saat akan membawa tas, mata Lea tertuju pada bunga yang sudah layu. Lea baru ingat bahwa dia pernah membeli bunga, Lea mengambilnya dan hendak membuang bunga yang sudah layu itu.
*Lea membuka pintu*
Tanpa sepengetahuannya ternyata di depan pintu sudah ada Justin sedang tersenyum kepadanya.
Lea yang terkejut itu sontak langsung bertanya.
"eh Justin, ngapain kamu disini?"
"emangnya gaboleh?" Justin balik bertanya.
"ya.. ya boleh sih tapi mau apa?"
"mau ngajak kamu ke kantor bareng, nanti sekalian sarapan bareng"
"kan kemarin aku udah bilang gamau negerepotin siapapun"
Kata Lea sambil membuang bunga ke tempat sampah.
"itu kan menurut kamu, menurut aku ini ga ngerepotin"
"terserah deh"
"udah siap kan? ayo berangkat, kita sarapan dulu ya"
"iya ayo"
Akhirnya Lea mengiyakan ajakan Justin karna Lea merasa tidak enak jika menolaknya.
[DI TEMPAT MAKAN]
Justin mulai makan duluan, sedangkan Lea terdiam memperhatikan Justin yang sedang makan.
"kenapasih kalian mau nolong aku?" tanya Lea.
Mendengar pertanyaan Lea, Justin pun menghentikan makan nya.
Justin mencondongkan badannya ke Lea hingga wajah nya cukup dekat dengan wajah Lea.
Justin menatap mata Lea dalam dalam kemudian berkata.
"kita itu pernah hidup susah, sama kaya kamu. Tapi bedanya saat terpuruk kita masih punya teman satu sama lain,
masih punya keluarga untuk pulang. Sedangkan kamu kan engga, mana kamu tinggal di kota ini sendirian"
Justin diam sejenak, kemudian melanjutkan perkataanya.
"Sebenernya aku ga nyangka bisa ketemu kamu, tapi aku ngerasa pertemuan kita ini bukan kebetulan, tapi emang rencana tuhan ngebantu kamu lewat perantara kita"
*Lea hanya terdiam, tidak terasa air matanya mengalir*
Justin yang melihat air mata Lea, langsung bergegas mencari tissue untuknya.
Air mata jatuh mengenai tangan Lea, tetesan air mata itu menyadarkan Lea yang sedari tadi terdiam.
Belum sempat Justin memberikan tissue kepada Lea, Lea telah lebih dulu menghapus air matanya. Justin pun mengurungkan niatnya memberikan tissue kepadanya.
"ibu dan adikku adalah sumber semangatku, setelah kepergian mereka, aku kira duniaku telah berhenti, tapi ternyata Allah memberiku sumber semangat baru"
Justin hanya tersenyum sambil mengelus kepala Lea dengan penuh kelembutan.
Kemudian mereka melanjutkan makan yang sempat tertunda.
..........
Tanpa di sadari, ternyata Shaga ada di tempat makan yang sama dan telah memperhatikan Lea dan Justin dari tadi.
Selesai sarapan Lea dan Justin pun menuju kantor. disusul dengan Shaga yang tanpa mereka sadari berada dibelakang mereka.
Dimulai hari ini dan hari hari berikutnya Lea di sibukkan dengan aktivitas membuat lagu bersama Shaga.
__ADS_1
Lea dan ke 4 lelaki itupun semakin dekat. Lea menganggap mereka sudah seperti kakaknya sendiri, dan mereka ber 4 menganggap Lea sudah seperti adiknya sendiri.
Lea sangat bahagia, dia akhirnya menemukan kehidupan barunya yang sangat menyenangkan.