ANTHOPHILE

ANTHOPHILE
DIMANA RUMAHKU?


__ADS_3


[DI KAMAR]


*Lea membawa gitar menuju balkon*


Disana Lea bernyanyi hingga larut malam. Entah kenapa malam itu Lea tidak bisa tidur, pikirannya dipenuhi dengan ibu dan Lily.


Lea masih merasa aneh dengan Lily yang tidak membalas pesannya, seperti bukan kebiasaan Lily.


Perasaanya tidak enak, Lea mencoba menelpon Lily berkali-kali tapi tidak diangkat.


Lea mencoba menenangkan diri dan berfikir positif jika Lily sudah tidur, besok juga Lea akan kembali pulang jadi bisa bertemu ibu dan Lily.


Karna malam semakin larut, terlihat dari jendela Laura Vio dan Aster sudah tidur, Lea pun masuk ke kamar untuk tidur.


[PAGI HARINYA]


Lea bangun tidak begitu bersemangat, badannya terasa lemas. Lea pikir mungkin karna semalam dia tidur terlalu malam mangkannya badannya terasa lemas.


Meskipun begitu Lea harus segera bersiap karna hari ini rencananya Lea akan menemui Pak Felix untuk menyampaikan keputusannya.


*Lea menelpon Pak Felix*


"pagi pak, maaf mengganggu, ada yang mau saya bicarakan dengan bapak. apa bapak ada di ruangan?"


"pagi Lea, ya kemarilah"


Lea menutup telponnya dan bergegas menuju ruangan Pak Felix sendirian karna yang lain masih sibuk bersiap.


"aku mau ke ruang Pak Felix dulu ya"


kata Lea pamit.


"kamu gamau di anter?"


tanya Laura.


"Gapapa aku sendiri aja, dadah"


*Lea pergi menuju ruang Pak Felix*


[DI RUANG PAK FELIX]


*Lea mengetuk pintu*


seolah sudah tau siapa yang datang, Pak Felix pun langsung mempersilahkan Lea masuk.


"masuk Lea, silahkan duduk"


*Lea masuk dan langsung duduk*


"apa yang mau kamu sampaikan?"


Dengan gugup Lea berkata


"sebelumnya saya minta maaf kalo Pak Felix kecewa dengan keputusan saya, saya sudah memutuskan jika saya tidak akan lanjut di grup ini, saya tidak bisa mendisiplinkan waktu ibadah saya, daripada saya merugikan bapak, lebih baik saya mengundurkan diri"


mendengarkan apa yg di sampaikan Lea, terlihat raut wajah Pak Felix yang kecewa.


"Lea, kamu sangat berbakat, suaramu sangat indah, saya sudah suka dengan bakatmu dari awal saya melihat videomu. tapi menjadi penyanyi bukan saja menjual suara, tapi kita juga harus punya etitude, termasuk disiplin waktu. kalo masih latihan saja kamu sudah tidak bisa disiplin, saya khawatir kedepannya kamu tidak bisa profesional. Jangan berpikir jika saya tidak toleran ya, saya tidak masalah dengan apapun agama mu. saya melihat jika kamu kurang cocok di management ini, tapi saya tidak mau ambil keputusan sendiri, biar kamu yang menentukan pilihanmu sendiri"


Pak Felix berhenti sejenak, kemudian melanjutkan.


“saya sebenarnya sangat ingin kamu berada disini, tapi kamu pasti mengerti maksud saya. dengan berat hati saya meminta maaf karna tidak bisa memberimu sepeserpun karna kamu belum tampil menjadi penyanyi, terimakasih atas waktu yang telah kamu luangkan selama disini"


Mendengar penjelasan Pak Felix, Lea merasa lega karna dia mengerti jika sebenarnya Pak Felix tidak mau menganggu waktu ibadah nya.


“saya juga berterimakasih kepada bapak karna telah memberi saya kesempatan dan pengalaman baru. senang bertemu dengan bapak. kalo begitu saya izin pamit ya pak”


Kata Lea.


Pak Felix pun berdiri dan menjulurkan tangan kepada Lea, Lea pun menyalaminya kemudian pergi.


Hari itu langkah terasa berat, tapi disisi lain ada ketenangan yang dirasakan.


sambil berjalan menuju kamar, Lea berniat mengabari ibunya jika dia akan pulang.


Baru saja Lea mengambil ponselnya, tiba-tiba ada telpon masuk.


*KRINGGG*


[telpon masuk dari paman]


Lea heran, karna tidak biasanya paman menelponya kalau tidak ada kepentingan. Segera Lea angkat telpon itu.


dengan nada panik tanpa basa basi, paman langsung mengabarkan kepada Lea jika ibu dan Lily telah meninggal.


“Lea!!! ibu dan Lily meninggal!!!”


Langkah Lea terhenti seketika, jantungnya berdegup kencang, seluruh tubuh nya bergetar, Lea shock berat. Kakinya terasa lemas, Lea pun ambruk saat itu juga.


Disaat yang bersamaan, ketiga teman Lea melihat Lea yg sedang tergeletak dilantai.


“Lea pingsan!” teriak Aster.


Merekapun berlari menghampiri Lea, dan meminta tolong kepada staff yang ada untuk membawa Lea ke kamar.


Lea dibawa oleh para staff menuju kamar, mereka membaringkan Lea di kasur. Laura berusaha menyadarkan Lea, Vio menelpon dokter sedangkan Aster terlalu panik hingga tidak bisa berbuat apa-apa.


Beberapa menit kemudian Lea sadar, Vio yang berada di dekat Lea langsung memberinya minum.


*Lea meminum air yang diberikan Vio*


Saat itu Lea hanya diam, tatapannya kosong, wajahnya pucat.


Melihat Lea yang sudah sadar, Aster pun menghampirinya.


“kamu gapapa?”


Mendengar pertanyaan Aster, Lea pun menangis sejadi-jadinya, mereka yang melihat itu men jadi panik dan bingung.


Di tengah kepanikan itu tiba-tiba dokter datang, Beliau membantu Lea agar bisa tenang. Setelah Lea tenang, dokter pun memeriksa Lea.


Tidak butuh waktu lama memeriksa Lea, Dokter tersebut keluar kamar.


Laura mengikuti dokter keluar kamar dengan maksud ingin bertanya keadaan Lea.


“dok, teman saya kenapa ya?” tanya Laura.


“dia sepertinya sedang shock berat, biarkan dia tenang dulu, jangan kalian tanya-tanya dulu” jawab dokter.


“baik dok, terimakasih banyak” kata Laura.


Laura pun kembali masuk ke dalam kamar, menghampiri Lea yang sedang terdiam itu.

__ADS_1


Laura berbisik kepada Aster dan Vio jika Lea jangan dulu di ganggu, biar dia tenang dulu.


Mereka pun mengerti, jadi mereka menyibukkan diri dengan membantu mengemasi barang-barang Lea kedalam tasnya.


Selang beberapa menit yang penuh dengan keheningan, tiba-tiba Lea mulai berbicara memecah keheningan itu.


“ibu dan adikku meninggal”


Kata Lea, seketika menganggetkan ketiga temannya itu.


Mereka yang sedang fokus mengemasi barang, seketika terdiam karna terkejut mendengar perkataan Lea.


Aster langsung memeluk Lea, disusul oleh Vio dan Laura.


Lea mulai menangis lagi, tapi tangisannya tidak sekuat sebelumnya. Tangisannya hanya sebentar, menyadari hal itu mereka perlahan melepas pelukannya dan melihat ke arah Lea.


“kamu gapapa?” tanya Laura


“aku  ga nyangka, ternyata telpon malam itu adalah telpon terakhir aku dengan ibu. dan foto yang dikirimkan Lily adalah foto terakhir mereka” jawab Lea.


“aku juga ga nyangka Lea, baru semalam kamu cerita tentang keluargamu sekarang sudah begini” kata Aster.


Dengan air mata yang mengalir Lea bertanya,


“sekarang, kemana aku harus pulang? aku udah ga punya tempat kembali”


Suasana Hening, mereka bertiga berusaha menahan tangis demi menguatkan Lea.


Lea melanjutkan.


“kalo aku pulang, aku hanya akan jadi bahan hinaan keluarga karna aku gagal menjadi penyanyi disini, mereka pasti senang karna mereka pikir ucapan mereka benar”


Lea membaringkan diri di tempat tidur, dia sudah lelah menangis, tanpa sadar Lea pun tertidur.


Aster yang melihat Lea tertidur langsung menyelimutinya.


Tanpa Lea tau, mereka bertiga menangis bersama.


“aku gabisa bayangin kalo aku jadi Lea” kata Vio.


“aku suka marah marah sama orangtuaku, tapi liat Lea sekarang, aku jadi kangen mereka” kata Laura.


“begitu berat menjadi Lea” kata Aster.


[2 jam berlalu]


*KRINGGG*


Suara ponsel membangunkan Lea yang sedang tertidur.


Lea segera memeriksa siapa yang meneleponnya.


Ternyata itu telpon dari bibi.


“hallo bibi”


“aduh Lea, siapa yang bakal ngurus pemakaman ibu dan adikkmu? ga ada yang punya uang disini buat bantu proses pemakaman itu, keluarga kamu itu mau masih hidup atau udah meninggalpun tetep bisa nya nyusahin keluarga”


Mendengar perkataan bibi, Lea langsung menutup telponnya.


Kemudian Lea membuka tas dan mencari dompetnya, Lea memeriksa sisa uang di dompetnya.


Lea bingung, uang nya hanya ada untuk ongkos pulang, tapi kalau Lea pulang tanpa membawa uang juga untuk apa? yang mereka butuhkan kan uang untuk biaya pemakaman ibu dan Lily, tapi jika Lea menetap disini juga mau apa? tinggal dimana? Lea tidak ada uang lagi.


“kenapa?” Tanya Aster.


Lea terkejut, pertanyaan Aster membuyarkan lamunan Lea.


“ah ini tadi bibi ku telpon”


Lea terdiam tidak melanjutkan obrolannya.


*Laura dan Vio menghampirinya*


“gausah sungkan cerita sama kita” Kata Vio.


“ah ini bibi telpon katanya perlu uang buat biaya pemakaman ibu dan Lily, tapi uangku tinggal segini”


*Lea menunjukkan isi dompetnya*


Vio Laura dan Aster yang mengerti keadaan Lea segera mengambil dompetnya masing masing dan mengambil uang yang mereka punya untuk diberikan kepada Lea.


“ini ada sedikit uang dari ku, semoga bisa membantumu”


kata Vio,


“ini dariku”


“ini juga dariku”


Lea menatap ketiga temannya itu, dia merasa terharu atas kebaikan teman-temannya.


“sebenarnya aku ga mau nerima ini, tapi sekarang posisiku sedang terdesak, aku butuh banget uang ini"


Aster menyelipkan uangnya ke tangan Lea


“ambil aja gausah sungkan sama kita, kita ini sodara kamu”


disusul Vio dan Laura yang meletakkan uang mereka di tangan Lea.


“terimakasih banyak, suatu saat nanti aku akan ganti uang kalian” kata Lea.


*Laura memegang bahu Lea*


“udah gausah”


Lea meresponnya dengan senyuman, kemudian Lea segera memeriksa barang-barangnya takut ada yang tertinggal.


"Makasih ya kalian udah bantu beresin barang-barang aku"


Kata Lea.


Vio mendekati Lea, berusaha untuk berbicara dari hati ke hati.


belum lagi vio berbicara, Lea seakan sudah tau apa yang akan Vio tanyakan.


"tolong jangan bertanya tentang bagaimana ibu dan adikku meninggal, itu terlalu menyakitkan bagiku"


Vio terkejut sebentar, gelagapan salah tingkah karna memang itu yang hendak ditanyakan oleh nya.


Kemudian Vio mengganti pertanyaan nya.


“Lea, kamu baik-baik aja kan?”


Lea terdiam sejenak, kemudian menatap Vio dalam dalam.

__ADS_1


“aku tidak baik-baik saja Vio, tapi apa yang bisa aku lakukan? hidupku masih terus berjalan kan? walaupun aku tidak tau arah jalan ini akan membawaku kemana”


Lea pun membelakangi Vio dan kembali memeriksa barang bawaanya.


*BUKKK*


*Vio memeluk Lea dari belakang, disusul oleh Laura dan Aster, airmata pun tidak bisa ditahan. Mereka semua menangis bersama*


Lea menangis sebentar, kemudian mengelap airmatanya. Lea bangkit sambil membawa tas nya.


“udah jangan nangis ah, aku harus pergi sekarang”


“kamu mau pergi kemana?” tanya Aster khawatir.


“aku akan menetap di kota ini, mencari sewa rumah yang murah kemudian bernyanyi dari cafe ke cafe untuk bertahan hidup. Aku akan menunggu kabar kalian tampil sebagai penyanyi sukses, dan menjadi fans pertama kalian,  Berjanjilah, kalian harus serius dan terus berkerja keras”


Laura Aster Vio mengangguk sambil tersenyum, walau sebenarnya mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Lea.


kemudian Lea pamit, dan mereka berpisah.


[Perlahan Lea berjalan menuju keluar gedung, tiap langkah dan tiap ruangan Lea perhatikan baik-baik. Seolah-olah Lea sedang mengucapkan selamat tinggal kepada impiannya itu]


*Setelah keluar dari gedung, terlebih dulu Lea singgah ke ATM berniat untuk mengirimkan uang kepada bibinya*


*transfer berhasil*


Lea kemudian mengirimkan pesan kepada bibinya.


“bi... Lea sudah mengirimkan uang untuk keperluan biaya pemakaman ibu dan Lily. Uang itu sudah cukup sampai pengajian ke 40 hari ibu dan Lily, Lea titip ya bi, maaf Lea gabisa pulang”


*TRING*


Balasan dari bibi


“iya Lea, biar bibi yang urus semuanya”


Membaca pesan dari bibinya, Lea merasa sedikit lega. Lea melanjutkan perjalannya mencari rumah sewa untuknya.


Sudah sangat jauh Lea berjalan, akhirnya Lea singgah ke warung untuk beristirahat sambil makan sedikit karna dia merasa sangat lapar.


“bu beli roti dan air mineral 1”


penjaga toko pun memberikan roti dan air minum kepada Lea.


Penjaga toko itu seperti keheranan melihat Lea


“Kamu bukan orang sini ya?”


sambil mengunyah roti Lea menjawab


“ko ibu tau”


“wajahmu ituloh, seperti bukan orang sini. cantik sekali nak”


Lea merasa malu


“ah ibu bisa aja”


“mau kemana nak?”


tanya penjaga toko lagi


“aku mau cari rumah sewa yang murah bu, kira kira disekitar sini ada rumah sewa ga bu?”


“hmmm seingat ibu ada nak, tuh di ujung jalan sana, tapi tempatnya kumuh, maklum lah rumah murah”


Lea pun berhenti mengunyah roti


“bisa ibu antarkan saya kesana?”


“Ohiya boleh nak, ayo ibu antar, tapi ibu kunci pintu dulu ya”


“ iya bu silahkan, sebelumnya maaf kalo saya ngerepotin ya bu”


“ah ga ngerepotin nak, jaraknya juga deket ko”


Lea dan penjaga toko pun berjalan menuju rumah yang dimaksud.


“nah ini nak rumahnya”


Lea memperhatikan rumah tersebut, menurutnya tidak terlalu kumuh, Lea merasa cocok dengan rumah itu.


“nah ini rumah yang punya nya”


*kata penjaga toko sambil menunjuk salah satu rumah*


“kalo kamu mau, kamu bisa langsung kerumah yang punya nya”


Lea pun mengangguk, kemudian mengambil uang untuk membayar roti dan air mineral serta memberi sedikit tanda terimakasih untuk ibu penjaga toko.


“aduh bu maaf aku lupa belum bayar roti dan airnya, ini bu uang nya”


Melihat uang yg diberikan Lea, ibu tersebut merasa kaget


“ini kebanyakan nak, ibu ambil segini aja ya soalnya harga roti dan airnya cuma segini”


“ambil aja bu gapapa ini sebagai tanda terimakasih aku bu, ibunya udah baik mau anter aku kesini”


“eh udah gapapa, ibu gamau ambil”


karna ibu terus menolak, Lea pun memasukkan kembali uangnya.


“makasih banyak ya bu aku jadi gaenak”


“kita belum kenalan nak, nama kamu siapa?”


“Azalea bu, biasa dipanggil Lea”


“wah nama yang indah, kalo nama saya nela, orang sini biasa panggil bunel, biar cepet aja maksudnya”


Lea dan bunel pun tertawa.


“udah dulu ya nak, ibu tinggal.. takut ada yg beli ke toko”


“ohiya bu silahkan, sekali lagi makasih ya bu”


Bunel mengacungkan jempol sambil berlalu pergi.


Kemudian Lea mengunjungi pemilik rumah sewa.


Singkat cerita, akhirnya Lea menyewa rumah itu untuk satu bulan kedepan, karna uangnya hanya cukup untuk sewa satu bulan saja.


Lea duduk di lantai rumah itu, meraba lantai yang terasa dingin. Menatap ke segala arah dirumah itu. Rumah nya kecil, hanya 1 kamar dan 1 kamar mandi. Sudah cukup untuk Lea yang tinggal sendiri.


Waktu menunjukkan jam 7 malam. Tanpa sadar Lea tertidur hingga ke esokkan harinya.

__ADS_1


__ADS_2