ANTHOPHILE

ANTHOPHILE
GAGAL


__ADS_3


[KE ESOKKAN PAGINYA]


Seperti biasa, mereka sudah bangun dan sibuk bersiap untuk melakukan rekaman hari ini.


Setelah selesai bersiap, merekapun menuju ke lantai bawah untuk sarapan lebih dulu.


*Lea membuka pintu*


Terasa kakinya menginjak sesuatu, Lea melihat kebawah untuk memeriksa apa yang dia injak.


Terlihat ada setangkai bunga dan surat yang di tujukan untuknya.


*untuk Lea*


Lea mengambil bunga dan surat itu kemudian melihatnya sebentar, tidak mau ambil pusing Lea langsung membuangnya ke tempat sampah.


"eh kamu buang apa?"


Tanya Vio.


"Bukan apa apa"


Jawab Lea.


*Aster keluar kamar*


"kenapa diem disini? ayo kebawah"


Kata Aster sambil berlalu pergi.


[Mereka ber-empat menuju lantai 1 untuk sarapan]


Lea mulai merasa sangat tidak nyaman, dia sangat yakin yang memberinya bunga dan surat itu pasti security yang kemarin berusaha memberinya bunga. Security itu sudah mulai mengetahui namanya, Lea takut security itu akan melakukan hal yang nekat kepadanya.


*Laura memperhatikan Lea yang daritadi melamun*


"Lea?"


kata Laura berusaha menyadarkan Lea.


Lea tersentak dan tersadar dari lamunannya.


"Ah apa?"


"ko makanan kamu masih utuh?"


Tanya Laura.


*Lea langsung memakan makanannya tanpa menjawab pertanyaan Laura*


Melihat gelagat aneh dari Lea, Aster pun bertanya.


"kamu kenapa? tingkahmu aneh ga kaya biasanya"


Lea pun akhirnya mengungkapkan kegelisahannya itu.


"tadi di depan pintu ada bunga dan surat buat aku. aku yakin pasti security itu yang ngasih, dia udah mulai tau namaku. aku takut dia bakal ngelakuin hal yang nekat. aku bingung harus gimana"


*Aster yang sangat mengerti kegelisahan Lea itu mencoba menenangkan Lea*


"tenang aja, kita kan kemana mana selalu bareng, jadi kamu aman kok"


*Lea mengangguk kemudian melanjutkan makannya*


Sarapan selesai, mereka menuju ruang rekaman.


Hari itu berjalan seperti biasanya, mereka sibuk dengan proses rekamannya.


Hingga tidak terasa rekaman pun selesai, sudah waktunya mereka kembali ke kamar untuk beristirahat.


Diperjalanan menuju kamar, mereka berpapasan lagi dengan security kemarin.


Aster yang sudah mulai muak dengan kelakuan security itupun mulai buka suara.


"mau apa lagi? mau gangguin Lea lagi?"


Kata Aster dengan nada suara yang meninggi.


Security itu tidak menjawab pertanyaan Aster, pandangannya hanya tertuju kepada Lea yang sedang ketakutan.


"aku suka sama kamu, kamu mau jadi pacar aku kan?"


Kata security itu tanpa basa-basi.


Lea tidak merespon, dia menunduk ketakutan.


Vio pun maju mendekati security itu.


"kamu gila ya! mana mau Lea sama kamu! udah pergi sana!, lagian kamu disini kerja bukan malah buang-buang waktu kaya gini, aku laporin Pak Felix biar kamu dipecat karna udah ganggu Lea"


Laura dan Aster memegangi Lea untuk melindunginya, kemudian mereka beranjak pergi meninggalkan security itu.


[DI KAMAR]


Vio masih merasa sangat kesal kepada security itu.


"apaan sih security itu ganggu Lea terus, aku bakal laporin ke Pak Felix"


*Vio mengambil ponsel untuk menelpon Pak Felix*


Lea menahan Vio agar tidak gegabah mengambil keputusan.


"eh jangan, kasian kalo dia sampe dipecat"


"Tapi kalo dia disini terus kamu kan yang ga nyaman"


kata Laura mendukung keputusan Vio.


"udah gapapa Vio telepon Pak Felix, karna emang itu kesalahan security nya, bukannya kerja malah sibuk gangguin kamu. kamu gaperlu ngerasa bersalah Lea, kalo dia di pecat itu karna kesalahannya sendiri"


Kata Aster menjelaskan.


Lea pun tidak bisa berbuat apa-apa, dia menyetujui pendapat Aster.


*Vio menelepon Pak Felix dan menjelaskan semuanya*


Sementara yang lain sedang beristirahat.


Lea menuju balkon untuk menelepon ibunya, karna sudah beberapa hari Lea belum sempat menelepon ibunya.


"hallo bu"


"anak ibu... kenapa baru telpon nak? pasti kamu sibuk banget ya"


"ibu kenapasih ga telpon Lea? ibu ga kangen Lea ya"


"ibu mau nelpon kamu takutnya kamu lagi sibuk, mangkannya biar ibu nunggu kamu yang nelpon duluan aja, kalo kamu yang nelpon udah pasti kamu lagi ga sibuk kan?"


"iyasih bu"


"kenapa nak? ko kayanya kamu ga semangat gitu? kamu sakit?"


"em.. engga bu, Lea sehat disini. cuma akhir-akhir ini ada security yang suka gangguin Lea bu bikin Lea ga nyaman"


"ko sama kaya Lily, dia bilang ada lelaki yang suka gangguin juga akhir-akhir ini"


"hah? Lily juga ada yang gangguin bu? terus sekarang gimana?"


"Lily sekarang gamau kerja karna takut, terakhir itu orang nya berani sampe ngikutin Lily kerumah"


Ibu berhenti sejenak, suara ibu terdengar berbeda tidak seperti biasanya, suara ibu terdengar seperti bergetar menahan amarah.


"anak-anak ibu jarang keluar rumah, kalo pun keluar rumah langsung lelaki pada ngejar. Ibu bukannya seneng, ibu malah takut kalian kenapa-napa. Kamu harus bisa jaga diri disana ya nak, kalo kemana-mana minta anter temenmu, jangan pergi-pergian sendiri"

__ADS_1


"ya ampun lelaki jaman sekarang pada nekat gitu ya bu"


kata Lea.


"iya mangkannya kamu harus jaga diri selama disana ya nak"


"iya bu Lea bakal jaga diri ko"


Tiba-tiba Vio memanggil dari dalam kamar


"Lea"


Lea yang mendengar panggilan Vio itupun kemudian menengok ke arah dalam kamar dan mengakhiri telpon nya.


"bu maaf temen Lea manggil, udah dulu ya bu telpon nya dahhh"


Lea langsung mematikan telpon nya itu kemudian bergegas masuk ke dalam kamar menemui Vio.


"aku udah bilang ke Pak Felix, katanya dia bakal pecat security itu, mulai besok security itu gaakan kerja disini" Kata Vio menjelaskan.


Mendengar kabar itu ada perasaan lega sekaligus rasa bersalah karna Lea pikir dia telah membuat seseorang kehilangan pekerjaanya.


*Vio merangkul Lea berusaha menenangkannya*


"udah.. kamu gaperlu merasa bersalah, yang penting kamu udah ga ngerasa takut lagi kan? kamu jadi bisa fokus sama kegiatanmu disini"


*Lea tersenyum memandang Vio dan teman-temannya*


"makasih ya, kalian semua udah mau bantu aku"


"sama-sama, lagian bukan kamu aja yang takut, kita juga sebenernya takut"


Kata Laura.


"udah udah, mending sekarang tidur aja yuk ngantuk nih"


kata Vio.


*Mereka pun beranjak menuju tempat tidur masing-masing*


[Tidak terasa sudah dua minggu berlalu Lea berada disana,


Lea mulai terbiasa dan merasa nyaman dengan lingkungan baru nya itu]


Hari ini sedikit berbeda, karna rekaman hari ini akan di lihat langsung oleh Pak Felix.


Ada rasa gugup yang mereka rasakan, takut hasil rekaman mereka tidak sesuai ekpetasi Pak Felix.


[DI RUANG REKAMAN]


"duh aku deg degan banget" kata Vio.


"sama, aku juga deg degan banget" kata Laura.


"semoga aja Pak Felix suka sama usaha kita" Kata Lea.


Tidak lama kemudian Pak Felix datang bersama Kak Alex.


Rekaman pun dimulai, satu persatu bernyanyi di hadapan Pak Felix.


Dari raut wajahnya, terlihat Pak Felix menyukai hasil rekaman mereka ber-empat.


Di sela waktu rekaman, Lea seperti biasa meminta izin untuk melaksanakan sholat.


Pak Felix pun mengizinkannya.


[25 menit berlalu]


Lea baru kembali ke ruang rekaman, Lea melihat wajah Pak Felix tidak seperti biasanya. Perasaan Lea mulai tidak enak.


Tiba-tiba Pak Felix menghentikan proses rekaman tersebut.


"sudah cukup rekaman hari ini, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada kalian"


"vokal kalian sudah sempurna, cocok sekali ketika di gabungkan, warna suara yang berbeda tidak membuat kalian terlalu menonjol dari yang lain, kalian mampu menyeimbangkan suara kalian hingga enak di dengar"


“untuk Lea, saya tidak melarang jika kamu mau beribadah. Tapi bagi saya waktu adalah uang, waktu 25 menit itu bisa kamu gunakan untuk latihan dengan maksimal. saya tanya Alex ternyata kamu bisa sampai 2x izin. Kalo kamu bisa mendisiplinkan waktumu, peluang kamu buat maju di grup ini sangat besar. tapi kalo kamu masih begini terus, saya tidak yakin bisa mempertahankan kamu disini. saya bicara ini agar kamu bisa mengambil keputusan mumpung kamu belum terlalu lama disini"


Mendengar itu Lea sangat terkejut, dia sama sekali tidak menyangka jika Pak Felix akan mempermasalahkan hal itu. Lea hanya bisa terdiam menahan air matanya.


*Kemudian Pak Felix pergi, di ikuti oleh mereka berempat yang juga keluar dari ruangan*


Sepanjang jalan Lea hanya terdiam sambil digandeng oleh Aster, mereka bertiga sangat mengerti perasaan Lea.


Sesampainya di kamar, Lea pun tidak kuasa menahan air matanya. Lea menangis sejadi-jadinya, Laura Vio dan Aster pun hanya bisa ikut menangis, karna kedekatan mereka sudah seperti keluarga.


[1 jam berlalu]


berangsur-angsur Lea berhenti menangis, di ikuti juga oleh yang lainnya.


Sambil sesegukan Lea berkata.


“aku bingung, mana yang harus aku pilih, impianku atau Tuhanku”


Aster menjawab


“kalo aku diposisi kamu, aku juga pasti bingung. coba kamu telpon orangtuamu minta pendapatnya”


Lea pun menyetujui saran dari Aster, segera Lea membawa ponsel nya berjalan menuju balkon untuk menelpon ibunya.


“Hallo bu”


“Hallo nak, ah kamu baru telpon ibu”


mendengar suara ibu, Lea malah ingin menangis lagi, Lea tidak sanggup berkata apa-apa.


“nak? ko gaada suaranya”


“kamu lagi apa? kalo lagi sibuk jangan dulu telpon ibu”


*terdengar suara isak tangis Lea*


“Ya Allah nak… kamu nangis, tenangin diri dulu baru cerita sama ibu”


*setelah beberapa menit menangis, Lea pun mulai berbicara*


“bu, Lea bingung. Pak felix gasuka Lea selalu izin buat sholat, menurutnya itu sangat mengganggu dan membuang waktunya”


Ibu terdiam sejenak.


“nak… wajar kalo Pak Felix begitu karna kamu hidup di kota yang berbeda, mungkin menurut Pak Felix cukup aneh melihat kebiasaan ibadah kita”


“terus Lea harus apa bu? mengundurkan diri? inikan impian Lea, Lea udah nabung bertahun-tahun agar bisa sampai di kota ini buat mewujudkan mimpi Lea”


ibu berusaha menenangkan Lea.


“yang tau jawabannya hanya kamu nak, ibu cuma bisa mengingatkan kalo yg mewujudkan impian manusia itu bukan manusia tapi Allah, jangan sampai kamu bergantung sama manusia. Liat aja sekarang, kamu bergantung sama manusia belum apa-apa udah kecewa. Terserah kamu mau lanjut atau engga, kamu kan udah besar harusnya udah bisa menentukan keputusan apa yang menurutmu paling benar”


Mendengar nasihat dari ibunya Lea pun berhenti menangis, seketika jiwa nya tenang.


“makasih masukannya bu, Lea bakal pikirin dulu jawabannya”


“saran ibu, kalo kamu mau mengundurkan diri jangan lama lama ya nak, biar Pak Felix ada waktu buat nyari pengganti kamu”


“iya bu”


Lea pun mengalihkan pembicaraan.


“bu gimana Lily sekarang? orang itu masih ngikutin Lily?"


“Lily udah pindah kerjaan nak, orang itu keliatannya udah ga ngikutin Lily, semoga aja bener-bener udah ga ngejar Lily"


"sekarang Lily kerja dimana bu?"


"di Mall dia jadi BA kosmetik"

__ADS_1


“wahh pasti sekarang Lily udah jago dandan ya bu"


“udah jago banget nak, ibu aja suka di dandanin sama Lily”


“ah masa bu, kirim foto ibu sama Lily pas lagi dandan dong”


“iya nanti ibu kirimkan ya nak, sekarang kamu istirahat dulu sana"


“bu tolong bilangin ke Lily maaf Lea gabisa nelpon Lily soalnya waktu Lea terbatas, Lea cuma bisa telpon ibu"


"iya nanti ibu sampaikan ke Lily"


"Yaudah bu Lea mau istirahat dulu ya bu"


*Lea mematikan telponnya*


Kemudian masuk kedalam kamar.


Melihat Lea yang sudah selesai menelpon, Laura Vio dan Aster pun langsung menghampiri Lea.


"sudah lebih tenang?"


tanya Vio.


Lea tersenyum.


"aku masih perlu waktu untuk berpikir"


*Aster merangkul Lea*


"ini pasti keputusan yang sangat berat buat kamu, tapi aku harap kamu bisa mempertimbangkannya dengan matang. Apapun keputusan kamu, aku harap kita tetap berteman baik"


Mereka berempat pun berpelukkan.


*KRUBUK KRUBUK*


Serentak mereka semua melepaskan pelukan dan tertawa.


"maaf aku laper banget, kita belum sempet makan dari siang"


kata Laura.


Sambil tertawa kegelian Aster berkata.


"oh jadi itu suara perut kamu, ayo ayo kita kebawah makan dulu"


seperti biasa mereka menuju tempat makan di lantai bawah.


sambil makan, mereka mengobrol tentang banyak hal.


"kita padahal baru kenal 2 minggu tapi aku ngerasa kaya udah temenan lama, udah nyaman, ga canggung sama sekali" kata Laura.


"sama, aku kira kita bener-bener bakal tampil bareng, ga nyangka Pak Felix bakal ngomong gitu"


jawab Vio sambil sibuk makan.


mendengar perkataan Vio, Laura dan Aster langsung bertatapan dan bersama menatap Vio seolah memberi kode agar tidak berbicara sembarangan.


Vio yang sadar sedang di tatap oleh dua orang, langsung berhenti makan dan terdiam sejenak.


"aduh maaf Lea, maaf kalo kata kata aku salah"


Lea tersenyum


"emang kenapa? kata kata kamu gaada yang salah ko"


*TRING*


Ponsel Lea berbunyi, ternyata ada pesan masuk dari Lily.


Lea membuka pesan itu dan melihat foto yang dikirimkan Lily. foto Lily dan ibu yang sedang berdandan.


Lea pun membalas pesan tersebut


"duh cantik banget, aku mau dong di dandanin juga"


Lily membalas


"sini pulang kalo mau di dandanin"


Lea membalas


"kayanya besok aku bakal pulang"


Setelah membalas pesan itu, Lily tidak membalas pesannya lagi, Lea pikir Lily sudah tidur, walaupun baginya aga aneh Lily tidur secepat ini tapi Lea tidak terlalu memikirkan itu.


Melihat Lea yang tersenyum memandangi foto ibu dan Lily, Aster pun bertanya.


"itu siapa?'


*Lea menunjukkan foto*


"ini ibu dan adikku"


kemudian mereka melihat foto tersebut, setelah melihat foto itu, dengan polos nya Vio bertanya.


"bapak kamu mana?"


Lea menjawab.


"orangtua aku udah pisah, aku juga gatau bapakku dimana"


mendengar jawaban Lea, Vio menjadi salah tingkah.


"ma..maaf, aku gatau"


"ya gapapa, aku udah biasa ditanya kaya gitu"


Laura yang sejak tadi diam, mulai berbicara.


"jadi kamu cuma tinggal bertiga? keluarga yang lain kemana?"


Lea menjawab.


"kita tinggal bertiga, meskipun ada keluarga dari ibu, tapi kita ga terlalu deket"


Lea mengigit sosis, kemudian meanjutkan pembicaraanya.


"tujuan aku kesini pengen ngejar mimpi, dan nunjukkin ke keluarga ibu kalo aku bisa sukses"


Aster menjawab.


"ahh ternyata kamu serius banget ada disini, kalo aku kesini cuma karna aku bosen aja dirumah, aku pengen nyari tantangan aja"


Laura dan Vio pun mengangguk tanda tujuan mereka sama.


"aku bahkan nabung uang dari aku smp untuk bisa datang ke kota ini" kata Lea.


Aster bertanya.


"terus kamu bakal lanjut disini?"


Lea terdiam sejenak lalu menghela nafas panjang.


"keputusanku sudah bulat, aku akan mengundurkan diri"


*Aster langsung memeluk Lea*


"pasti keputusanmu ini berat banget bagi kamu ya, tapi tenang aja.. kamu emang punya bakat nyanyi yang luar biasa, aku yakin kamu bisa sukses dengan caramu sendiri"


tidak terasa air mata Lea mengalir, dan semuanya berpelukan sambil menangis bersama.


"terimakasih sudah mau nerima aku dengan baik disini, ini bener-bener pengalaman terbaik dalam hidup aku"


*Tangisan berangsur berhenti*

__ADS_1


Mereka menghabiskan makanan mereka kemudian kembali menuju kamar untuk beristirahat.


__ADS_2