
Waktu menunjukkan pukul 8 pagi, cahaya matahari sudah mulai terasa, cahaya nya terasa hangat menyentuh tubuh Lea, seolah membangungkan Lea yang masih tertidur.
Perlahan Lea membuka matanya, kepalanya terasa sedikit pusing dan badannya terasa lemas.
Lea pun bangun, dengan posisi masih terduduk di tempat tidur, Lea diam sejenak untuk mengumpulkan tenaganya.
20 menit berlalu, Lea mulai berdiri dan langsung menuju kamar mandi.
Walaupun sebenarnya Lea ingin beristirahat saja di apart, tapi ia tidak bisa karna hari ini merupakan hari yang penting bagi dirinya. Dia akan mendengarkan keseluruhan lagu yang telah selesai di buatnya bersama Shaga.
*Selesai mandi*
Lea pun segera bersiap, dia melihat ke arah cermin dan menyadari jika wajahnya terlihat pucat.
Lea memakai masker untuk menutupi wajahnya itu, dia tidak mau Shaga tau kalo Lea sedang tidak enak badan.
*memakai masker*
"nah gini aja, kalo Shaga liat muka aku pucet pasti jadi bahan ledekannya dia"
..........
[DI RUANG REKAMAN]
Terlihat pintu ruangan yang tertutup, Lea mencoba membukanya tapi masih terkunci.
"Kebiasaan deh telat mulu"
Lea berjalan menuju tempat duduk yang ada di luar ruangan.
Sambil menunggu kedatangan Shaga, Lea pun mengeluarkan gitarnya untuk bernyanyi lagu kesukaanya.
Sampai pada akhir nyanyiannya Lea tidak menyadari jika Shaga telah berdiri di samping pintu mendengarkannya bernyanyi.
"galau?" Tanya Shaga.
Suara Shaga mengejutkannya, Lea langsung berdiri melihat Shaga sebentar kemudian menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang pucat. Tanpa berkata apapun Lea berlalu pergi masuk ke dalam ruangan.
Shaga mengikuti Lea masuk ke dalam, ruangan itu terlihat berantakan karna semalam Shaga berada disini dan belum sempat merapi kan nya kembali.
Lea hanya duduk di kursi, dia tidak bisa membantu Shaga yang sedang bersih-bersih itu karna badannya yang terasa semakin lemas.
Agar tidak ditanya oleh Shaga, Lea memainkan gitarnya kembali dengan maksud menyibukan diri.
Shaga merasa ada yang berbeda dari Lea, tidak se-ceria seperti biasanya, maka dari itu Shaga membiarkan Lea yang hanya duduk dan tidak membantunya, Shaga pikir mungkin Lea sedang tidak ingin di ganggu.
"AW!" Lea berteriak.
Shaga yang sedang memegang sapu itu langsung membuang sapunya dan langsung menghampiri Lea yang sedang memegangi jari tangannya yang terluka saat sedang memainkan gitar.
Tanpa pikir panjang Shaga memegang tangan Lea dan menghisap jari Lea yang terluka.
Mata mereka bertemu dan saling menatap satu sama lain, Lea melihat Shaga yang biasanya dingin itu kali ini menunjukkan kehangatannya.
Terasa darah sudah berhenti, Shaga pun menghentikan hisapannya. Shaga menyadari jika tangan Lea terasa hangat, kemudian Shaga menyentuh kening Lea untuk memastikan jika Lea baik-baik saja.
"badan kamu panas banget, kenapa kamu maksain kesini sih?" Kata Shaga sambil membantu Lea untuk berbaring.
"hari ini kan cuma dengerin hasil lagu kita aja, jadi aku pikir gaakan terlalu cape" kata Lea dengan suara yang lemah.
"iya, tapi kamu kesini jalan kaki kan? gimana kalo kamu pingsan di jalan"
Shaga kemudian berjalan ke arah meja nya kemudian mengambil ponsel hendak menelpon Romy memintanya untuk mampir ke toko obat membelikan obat penurun panas dan makanan untuk Lea.
Selesai menelpon, Shaga duduk di samping Lea memperhatikan Lea yang sedang terdiam itu.
Tidak lama kemudian terdengar langkah kaki Romy yang berada di depan pintu, Shaga yang melihat itu langsung menghampiri Romy dan membawa obat serta makanan hendak memberikannya kepada Lea.
Romy pun langsung menghampiri Lea yang sedang terbaring di sofa.
"kamu gapapa?" Tanya Romy kepada Lea.
"Gapapa, cuma kecapean aja kayanya" Jawab Lea.
"nih kamu makan dulu" kata Shaga sambil memberikan makanan yang telah di bawa Romy tadi.
"sini biar aku yang suapin" kata Romy sambil membawa makanan itu.
Shaga pun memberikan makanan itu kepada Romy.
*tok tok tok*
Tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu.
"Shaga, ikut ke ruangan saya, ada yang mau saya sampaikan"
Kata Pak Bram kemudian berlalu pergi.
"Pak Bram? oke siap pak" Shaga pun keluar mengikuti pak Bram dari belakang.
"ada apa ya?" tanya Lea ke Romy.
"Gatau"
"udah mending sekarang kamu makan dulu"
Kata Romy sambil menyuapi Lea.
"Aku bisa sendiri" Kata Lea.
"biar cepet, buka mulutnya"
Walaupun Lea merasa sungkan, tapi akhirnya Lea mau di suapi oleh Romy.
15 menit berlalu Shaga belum juga kembali ke ruangan, Romy yang penasaran dengan apa yang di sampaikan Pak Bram itu kemudian berniat menyusul Shaga ke ruangan Pak Bram.
"kamu gapapa aku tinggal? aku mau nyusul Shaga" kata Romy kepada Lea.
"gapapa, aku mau tidur aja"
"yaudah aku tinggal dulu ya" kata Romy sambil berlalu pergi.
Tinggal Lea saja yang berada di ruangan, suasana di ruangan hening karna ruangan ini berada di pojok yang jarang di lalui orang. Shaga sengaja memilih posisi ruangan disini karna dia butuh tempat sepi agar memudahkan nya berkonsentrasi.
Suasana hening itu membuat Lea mengantuk tanpa Lea sadari dia pun mulai tertidur.
*20 menit berlalu*
Sayup-sayup terdengar langkah kaki menuju ke ruangan dimana Lea sedang tertidur, Lea yang mendengar langkah kaki itu menganggap itu adalah Romy atau Shaga jadi Lea mengabaikan siapa yang masuk ke ruangan tersebut.
__ADS_1
Masih dalam keadaan tertidur, perlahan Lea merasakan sakit di sekitar dadanya.
Lea mencoba mengubah posisi tidur nya yang semula menghadap ke atas menjadi menghadap ke samping.
Walaupun sudah mengubah posisi tidur, tapi tetap saja dadanya terasa sakit.
*Lea membuka matanya*
Setelah mata nya terbuka, Lea sangat terkejut karna di depan wajah nya ada lelaki menggunakan topi dan masker sedang duduk di lantai.
Namun yang membuat Lea merasa takut karna tangan lelaki misterius itu berada di payudara Lea.
Lea langsung menepis tangan lelaki itu dan berusaha bangun dari tidurnya.
"SIAPA KAMU?!!!" Tanya Lea dengan suara bergetar karna menahan tangis.
Lea berusaha pergi tetapi tangannya di pegang kuat oleh lelaki tersebut.
"kenapa kamu gapernah baca surat dan terima bunga dari aku?" Kata lelaki itu kepada Lea.
"HAH? TERNYATA KAMU! SATPAM GATAU DIRI"
"GATAU DIRI KATAMU? KAMU JANGAN SO JUAL MAHAL YA" Teriak lelaki tersebut sambil mendorong badan Lea hingga membuat Lea terbentur dinding cukup keras.
Benturan itu membuat keningnya berdarah, walau begitu Lea tetap berusaha sadar kemudian segera membalikkan badannya ke arah lelaki itu.
Lea melihat lelaki itu berjalan mendekatinya.
Tanpa pikir panjang Lea langsung menendang bagian *********** hingga lelaki itu tersungkur kesakitan.
Melihat kesempatan itu, Lea langsung berlari ke luar ruangan.
Dengan tergopoh-gopoh Lea berusaha mencari dimana Shaga dan Romy.
Sampai pada saat Lea hendak menggunakan Lift untuk turun ke bawah, saat lift itu terbuka ternyata ada Romy di dalam nya.
Lea langsung masuk ke dalam lift tanpa sadar Lea menjatuhkan badannya di badan Romy.
"tolong jangan bawa aku kembali ke ruangan itu" Kata Lea kepada Romy sebelum dirinya pingsan.
Romy terpaku sejenak, badannya seolah membeku, melihat kepala Lea yang berdarah dan pingsan itu.
Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di lihatnya, walau begitu Romy berusaha menggendong Lea dan membawanya ke Ruang dance karna di sana mereka berkumpul.
Karna di lantai bawah itu ramai orang tidak seperti lantai atas yang sepi, banyak orang yang melihat ke arah Romy yang sedang menggendong Lea.
[DI RUANG DANCE]
*Romy berdiri di depan pintu*
Shaga, Justin, dan Jimmy yang melihat Romy sedang menggendong Lea langsung menghampiri dan membantu untuk membaringkan Lea di lantai.
Justin mencoba memberi alas agar Lea tidak ke dinginan dan mengobati luka yang ada di keningnya Lea sedangkan Jimmy berusaha menyadarkan Lea yang masih pingsan itu.
"kenapa ini?" tanya Shaga kepada Romy.
Romy pun menjelaskan bagaimana dia bertemu Lea di lift tadi.
Justin yang sedang mengobati Lea itu tiba-tiba terdiam ketika melihat baju bagian dada Lea terbuka.
Dia langsung memberi isyarat kepada Jimmy, Jimmy yang mengerti dengan isyarat Justin kemudian menutup dada Lea dengan jaket nya sambil menggelengkan kepalanya.
"siapa yang melecehkan Lea?" tanya Justin dengan mata yang memerah menahan tangis serta amarah.
Pertanyaan Justin jelas mengejutkan Shaga dan Romy.
"Kamu tau dari mana?" Tanya Shaga.
"Baju bagian dada nya terbuka" Jawab Justin.
Sontak Romy berteriak "ARGHHHH, harusnya tadi aku ga ninggalin dia sendirian"
"udah udah, ini bukan salah kamu" Kata Justin menenangkan.
..........
Tiba-tiba terdengar suara ramai dari luar ruangan, banyak orang berkumpul ingin mengetahui apa yang sedang terjadi kepada Lea.
Shaga yang merasa tidak nyaman itu kemudian keluar dan meminta kepada orang-orang untuk bubar dan tidak berisik karna Lea butuh istirahat.
Orang-orang pun membubarkan diri.
*Lea sadar dari pingsan nya*
Lea mencoba bangun sambil memegangi kepalanya, Jimmy yang sedari tadi berada di samping Lea membantunya untuk duduk.
Justin, Shaga dan Romy yang melihat Lea sudah sadar langsung saja menghampirinya.
Shaga membantu membenarkan jaket yang jatuh untuk menutupi dada nya Lea.
"orang itu udah pergi?" Tanya Lea.
"Siapa orang itu? Sebenernya ini ada apa?" Tanya Jimmy.
"Dia security di kantor management ku yang dulu"
"kenapa dia bisa kesini? Ngapain dia kesini" Tanya Romy.
*Lea menjelaskan dari awal siapa security itu dan kejadian apa yang terjadi kepadanya*
Selesai menjelaskan Lea kemudian menangis sambil memeluk lututnya.
Justin menenangkan Lea dengan mengelus punggungnya.
"tenang aja, kamu aman sama kita, mulai sekarang kamu gaboleh sendirian, harus ada yang nemenin kamu" Kata Justin.
"Maaf ya, kalo aja tadi aku ga ninggalin kamu" Kata Romy dengan penuh penyesalan.
"awas aja, bakal aku cari orang itu, dia ga bisa bebas gitu aja atas perbuatannya" kata Jimmy.
*Lea mulai berhenti menangis*
Tatapannya begitu kosong, dia begitu shock dengan kejadian yang di alami nya itu.
"kamu udah mulai tenang?" tanya Justin.
Lea tidak merespon pertanyaan Justin, dia hanya bisa terdiam.
Justin yang khawatir melihat keadaan Lea kemudian meminta Romy untuk mengantarnya pulang.
__ADS_1
"Romy anter Lea pulang ya, aku Shaga sama Jimmy masih ada urusan disini"
"okee" jawab Romy sambil membantu Lea bangun dari duduknya.
"ah sebentar aku mau benerin baju aku dulu" kata Lea.
*Shaga, Justin, Jimmy dan Romy pun membelakangi Lea*
"Udah" kata Lea.
"oke kalo gitu kita pamit pulang duluan ya" kata Romy berpamitan.
"hati-hati ya jaga Lea" Kata Justin.
*Merekapun berlalu pergi*
..........
"BRENGSEK!!!" ucap Justin dengan nada tinggi.
"tenang, tenang" kata Shaga menenangkan Justin.
"MANA BISA AKU TENANG, DARI TADI AKU UDAH TAHAN BIAR GA MARAH DI DEPAN LEA"
"emang kalo kamu marah bisa nyelesain masalah?" tanya Shaga.
Justin pun terduduk di lantai dengan perasaan yang masih bergejolak.
"yang di bilang Shaga itu bener, marah ga bikin masalah selesai, mending kita cari tau orang itu, dia harus masuk penjara" Kata Jimmy.
"aku setuju, selama orang itu masih bebas, posisi Lea jadi ga aman" Kata Shaga.
"biar aku sewa detektif buat cari tau orang itu" kata Justin.
"setuju" kata Jimmy.
"sekarang gimana caranya aku sampein ke Lea yang di jelaskan Pak Bram tadi, sedangkan kondisinya lagi drop kaya gitu" Kata Shaga.
"jangan sampein apa-apa ke Lea" Kata Justin.
"hah? Terus gimana?" Tanya Jimmy.
"Mau gimana pun Lea harus tetap jadi penyanyi walaupun ga lewat management ini, aku bisa keluarin modal buat Lea rilis lagunya. Pokoknya jangan sampai Lea tau tentang ini" Kata Justin menjelaskan.
"Oke kalo gitu aku juga mau ikut keluarin modal" Kata Shaga.
"aku juga" kata Jimmy menambahkan.
"berarti kita sepakat buat ga ngasih tau hal ini ke Lea"
Shaga dan Jimmy pun mengangguk tanda setuju.
[DI DALAM MOBIL]
Sepanjang perjalanan Lea hanya terdiam memperhatikan jalan dari balik jendela mobil.
Romy yang bingung harus apa, tidak sengaja matanya tertuju pada toko bunga, Romy berniat membeli bunga untuk Lea.
*Mobil berhenti dan Romy keluar mobil*
melihat Romy keluar, Lea tidak bertanya apa apa.
*tidak lama, Romy sudah kembali ke mobil sambil membawa bunga azalea yang langsung diberikan kepada Lea"
"aku beli bunga ini karna inget waktu pertamakali kita ketemu, kamu lagi pegang bunga ini, jadi aku pikir ini adalah bunga kesukaan kamu, semoga bunga ini bisa bikin kamu jadi lebih tenang"
*Lea mengambil bunga itu tanpa berkata apapun*
[DI APARTMENT]
*Lea masuk di ikuti oleh Romy*
Lea berjalan menuju cermin besar yang ada di kamarnya, Lea memandang ke arah cermin cukup lama.
Romy duduk sambil memperhatikan Lea yang masih terdiam itu.
"aku ga nyangka hidup aku bakal kaya gini, aku ga pernah ngebayangin ada di posisi ini. Banyak hal yang di luar kendaliku, kadang aku mikir aku ini salah apa?"
Kata Lea mulai membuka pembicaraan.
Romy mendekati Lea dan menatapnya dalam-dalam.
"hidup itu seperti Roller Coaster, semua orang di dunia ini pasti pernah merasakan naik turunnya kehidupan. Tapi kitalah yang punya kendali untuk menyikapinya, kita mau menangis menjerit ketakutan atau mau menikmati setiap perjalanan. Yang jelas akhirnya akan tetap sampai tujuan kan?"
"bukan perkara kamu punya salah apa, tapi memang hidup berjalan seperti itu. kita hanya perlu melewatinya saja, mau ga mau kita pasti melewatinya, bukankah hari akan terus berganti?"
*Romy memegang pundak Lea dan mengarahkannya ke arah cermin*
"Lea yang cantik, jangan pernah ngerasa sendirian ya, ada aku Shaga Justin sama Jimmy yang bakal selalu ada buat kamu"
Lea pun tersenyum, kemudian mengambil kertas note dan menulis kalimat "Life goes on" lalu menempelkan note itu di cermin.
"kenapa kamu tulis ini?" Tanya Romy.
"itu kan kesimpulan dari apa yang kamu sampaikan tadi" Jawab Lea.
"Tiap aku bangun tidur, yang pertama aku liat adalah cermin, mangkannya aku tempel note disini biar tiap bangun aku baca ini"
"kalimat positif selalu dapat memberikan energi yang positif juga"
"makasih ya, kalian semua emang baik banget, pantes aja banyak fans yang sayang sama kalian"
Kata Lea.
*Romy kembali duduk di sofa*
"kayanya semenjak kamu disini, kamu gapernah main ke tempat tempat bagus disini ya? gimana kalo besok kita jalan-jalan biar kamu ga bosen di apart terus"
*Mendengar itu, Lea sangat senang, karna memang dia tidak pernah kemana-mana selama ada disana*
"aku mau, besok jam berapa?"
"jam 8 aku jemput ya"
*Romy berjalan menuju pintu keluar*
"sekarang kamu istirahat aja dulu, besok kita jalan-jalan"
Terlihat raut wajah bahagia dari Lea, Lea pun hanya bisa tersenyum. Tidak sabar menunggu hari esok.
__ADS_1