ANTHOPHILE

ANTHOPHILE
SIAPA KAMU?


__ADS_3


Hawa dingin mulai menyebar ke seluruh badan Lea,


rasa dingin itu yang akhirnya membangunkan Lea yang sedang tertidur dengan posisi terduduk


Lea terbangun dan melihat jam yang menunjukkan waktu subuh.


"ah pantes aja dingin banget, ternyata udah subuh"


Lea beranjak dari posisi duduknya untuk kemudian menuju ke kamar mandi karna akan bersiap melaksanakan sholat.


30 menit berlalu, Lea telah selesai melaksanakan sholat.


Kemudian Lea berbaring di atas sajadah nya,


pikirannya kosong, Lea tidak tau apa yang akan dia lakukan hari ini.


*KRUBUK*


Terdengar begitu keras suara perut Lea, dia baru mulai merasakan lapar dan menyadari jika kemarin dia belum cukup makan.


Segera Lea membereskan mukena nya kemudian menuju warung Bunel.


*Lea duduk di warung tersebut dan langsung mengambil roti yang ada di dekatnya*


Bunel memperhatikan Lea yang sedang makan roti itu, kemudian bertanya.


“kamu ini asal darimana?”


“dari luar kota bu, jauh banget pokoknya"


“kenapa kamu bisa sampai sini nak? ngapain kamu disini?”


*kemudian Lea menceritakan semuanya kepada Bunel*


Mendengar cerita Lea, bunel lanjut bertanya.


“kenapa kamu ga pulang aja?”


Lea pun terdiam, pertanyaan itu membuat Lea teringat ibu dan Lily. Seketika Lea menangis.


Bunel yang kebingungan melihat Lea menangis itupun langsung menghampirinya kemudian memeluknya.


“Maaf kalo pertanyaan ibu salah”


Pelukan Bunel membuatnya merasa lebih tenang,


“gapapa Bu, aku cuma keinget ibu sama adikku aja”


Kemudian Lea menceritakan panjang lebar tentang ibu dan Lily.


Bunel tidak kuasa menahan air matanya, sambil memeluk Lea bunel berkata.


“mulai hari ini, anggap ibu sebagai ibumu ya nak”


Lea mengangguk dengan senyuman.


Hari ini, tidak banyak yang Lea lakukan, dia hanya diam dirumah sambil menulis lagu untuk menghibur dirinya sendiri.


Sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan agar mendapatkan uang.


Tiba-tiba pandangan Lea tertuju pada gitar kesayangannya.


*Lea berkata dalam hati*


"sepertinya aku harus benar-benar bernyanyi di cafe"


Kemudian Lea bersiap dan berangkat mencari cafe terdekat yang bisa menerimanya.


Tidak terasa sudah cukup Jauh Lea berjalan.


Lea hampir kehilangan semangat karna merasa sangat lelah,


dia pun diam sejenak sambil memperhatikan bangunan yang ada di sekitarnya.


Pandangan Lea tertuju pada cafe yang berada di ujung jalan,


dengan segera Lea mengunjungi cafe tersebut.


Ternyata tidak terlalu sulit meminta izin agar bisa bernyanyi di cafe itu, akhirnya seharian Lea bernyanyi disana. Lea merasa sangat bersyukur, baginya itu adalah pengalaman yang sangat menyenangkan, karna bernyanyi adalah hobinya.


Saat sedang bernyanyi di cafe, Lea tidak sengaja melihat poster yang selalu terpajang di cafe tersebut, poster yang menyita perhatian Lea.


Poster itu memajang foto 4 orang lelaki.


..........


Kini Lea menjalani kehidupan barunya sebagai penyanyi cafe, tidak terasa sudah hampir satu bulan Lea tinggal di kota itu.


Sudah saatnya Lea membayar sewa perpanjangan tempat tinggalnya. Tapi Lea kebingungan karna ternyata uang simpanannya tidak cukup untuk membayar sewa, meskipun Lea sudah berusaha menghemat porsi makan nya  tetap saja tidak bisa mencukupi untuk membayar sewa karna penghasilan di cafe itu tidak terlalu besar.


Malam itu, Lea hanya terduduk sambil memikirkan bagaimana dia bisa membayar sewa.


*KRING*


Suara telpon membuyarkan lamunan Lea,


Lea memeriksa ponselnya untuk melihat siapa yang menelponnya.


''paman?'


Sambil keheranan Lea mengangkat telpon itu


"hallo paman, ada apa?"


"aduh Lea, kamu kok jadi anak tega banget"


Lea tidak mengerti maksud pamannya itu.


"hah? Lea tega apa paman?"


"kamu udah ga datang ke pemakaman ibu dan Lily, terus kamu juga cuma kirim uang buat biaya pemakaman aja, sampai tidak ada acara do'a bersama buat ibumu dan Lily"


Dengan penuh kekesalan, paman melanjutkan.


"Maksudmu apasih? kamu ngandelin keluarga disini buat urus dan ngebiayain semuanya? kamu pikir kita orang yang banyak uang apa?!!!"


Lea sangat terkejut dan hanya bisa terdiam mendengarkan pamannya yang terus terusan memarahinya.


Karna Lea malas berdebat, Lea pun hanya mampu meminta maaf agar masalah ini tidak berkepanjangan.


"maaf paman, Lea memang hanya punya uang segitu karna disini Lea belum tampil menyanyi mangkannya Lea belum punya penghasilan"


Paman masih terus memaki Lea.


"halah mimpi mu itu ketinggian, sudah besar bukannya membantu malam merepotkan"


*Telpon pun mati, paman mematikan telponnya*


Lea menangis sejadi-jadinya, dia merasa sangat kecewa dengan sifat bibinya, padahal sudah jelas Lea menitipkan uang cukup banyak kepada bibinya.


Yang harusnya sudah sangat cukup untuk memenuhi segala biaya yang dibutuhkan.


Dengan posisi duduk memeluk lutut, Lea terus menangis karna hanya itu yang bisa dia lakukan.


Tidak lama kemudian Lea menghentikan tangisannya.


Dengan perasaan yang tidak stabil, Lea mengemasi semua barangnya.


Dipikirannya dia hanya ingin berjalan jauh tanpa tau arah tujuan akan kemana.


Mulailah Lea berjalan dibawah gelapnya langit malam, menatap sekitar sambil sesekali menatap langit.

__ADS_1


Pikirannya kosong, ia merasa sangat merindukan ibu dan Lily.


Tanpa sengaja matanya tertuju pada toko ponsel, tanpa pikir panjang Lea berjalan menuju toko tersebut berniat untuk menjual ponselnya.


Singkat cerita terjualah ponsel miliknya, kemudian Lea melanjutkan kembali perjalananya. Lea harap masih ada toko bunga yang buka pada malam itu


Lea ingin membeli bunga untuk mengobati kerinduannya kepada ibu dan adiknya.


Tidak lama kemudian Lea menemukan ada toko bunga yang masih buka pada malam itu, segeralah Lea menuju toko tersebut dan membeli bunga Azalea serta bunga Lily.


Sambil melanjutkan perjalanannya Lea meperhatikan bunga itu, dia teringat kenangan bersama ibunya.


Lea berbicara dalam hati.


"bu... Lea selalu ingat nasihat dari ibu agar Lea tidak pernah membenci keluarga ibu. Sama sekali Lea tidak pernah membenci mereka bu, tapi saat ini Lea mengambil keputusan untuk berhenti berhubungan dengan mereka, bukan karna Lea membenci mereka, tapi karna Lea merasa inilah cara Lea untuk bisa bertahan tanpa ibu, Lea ingin hidup tenang bu, Lea tidak salah mengambil keputusan kan bu?"


Sudah jauh Lea berjalan, kemudian Lea berhenti di jembatan dan menatap ke arah air yang sedang mengalir deras"


Sambil memutar-mutar tangkai bunga Lily, Lea berbicara dalam hati.


"Ly... disana enak kan? Kamu ga perlu susah payah berjuang lagi, hidup kamu udah tenang disana.


Kamu inget ga kakak pernah bilang kalau hidup itu harus punya tujuan, jangan biarkan hidup ngalir gitu aja.


Kamu pasti lagi ngetawain kakak, sekarang kakak yang gatau tujuan hidup, bahkan kakak ga tau mau pergi kemana malam ini.


Hidup itu lucu ya Ly, anehnya meskipun lucu tapi kakak tidak bisa tertawa”


Lea menangis sejadi-jadinya di pinggir jembatan itu.


Di tengah tangisannya itu, tiba-tiba Lea di kejutkan oleh seseorang yang memeluknya dari belakang.


*BUKKK*


Ternyata orang itu tidak hanya memeluk Lea, tapi orang tersebut membawa Lea dengan paksa masuk ke dalam mobil.


Lea yang masih dalam posisi terkejut tidak bisa melawan karna tenaga orang yang membawanya lebih besar dari tenaganya, ia sudah menyangka jika yang membawa nya itu pasti seorang lelaki.


Tapi, siapa?


Lea terus berusaha melepaskan pelukan tersebut, setelah dipaksa masuk mobil, baru kemudian orang tersebut melepaskannya.


[DI DALAM MOBIL]


Lea sadar jika orang tersebut telah melepaskan genggamannya, mendapat kesempatan itu Lea langsung saja berteriak berusaha menyelamatkan diri.


"TOLONG"


Teriakkan itu terhenti karna orang disampingnya menutup mulut Lea hingga membuatnya sulit bicara.


"jangan teriak, kita ini bukan penjahat atau penculik"


Melihat 4 orang lelaki itu, Lea merasa pernah melihat mereka.


Tapi dimana? Lea sudah lupa.


Karna Lea sudah tidak memberontak, lelaki tersebut melepaskan tangannya yang menutupi mulut Lea.


"kayanya aku pernah liat kalian deh, tapi dimana ya"


*Lea berusaha mengingat wajah mereka*


Salah seorang dari lelaki itu bilang.


"ya pasti kenal kita lah, kita kan artis"


Seketika Lea teringat poster yang dia lihat di cafe tempatnya bernyanyi.


"ohh iya aku inget pernah liat poster kalian, aku baru tau kalau kalian artis"


"Terus, maksud kalian bawa aku apa?" Tanya Lea.


Lelaki disamping Lea menjawab


"kita mau nolong kamu, kamu mau bundir kan?"


"ya ampun kamu mau bundir gara gara putus sama pacar?"


Lea kebingungan mendengar pertanyaan mereka, Lea hanya terdiam sambil mencerna semuanya.


Lelaki yang sedang menyetir mobil mencoba menjelaskan maksud mereka.


"malem-malem gini kita liat kamu diem di pinggir jembatan sambil nangis. apa lagi kalo ga mau bundir kan?"


Kini Lea mengerti maksud dari penjelasan mereka.


"ya ampun....."


"niat kalian bagus sih, tapi kalian salah paham"


"aku ga mau bundir, aku cuma pengen liat air aja"


*salah satu lelaki itu memotong pembicaraan Lea*


"sambil nangis? ngapain sih gajelas banget"


Mendengar respon tersebut, Lea pun merasa tidak sakit hati.


"ih apaansi? aku ga minta kalian nolong aku"


"terus kenapa lagi ini mobil jalan terus, udah stop"


*mobil pun berhenti*


Salah satu lelaki itupun mencoba menenangkan Lea.


"oke oke maaf kalo omongan Jimmy bikin kamu tersinggung. Dia kalo ngomong emang gasuka di pikir dulu"


"tapi ini udah malem banget, kamu ini perempuan ga aman kalo kamu dijalan sendirian"


"sebagai permintaan maaf kita, gimana kalo kita anter kamu pulang ya"


Lea merasakan perbedaan watak yang sangat menonjol dari ke empat lelaki ini. Akhirnya Lea dapat memaklumi mereka, karena bagaimanapun niat mereka dari awal adalah ingin menolong.


"aku udah maafin kalian, jadi kalian gaperlu anter aku pulang"


*Lea membuka pintu mobil hendak keluar dari mobil tersebut*


*namun mereka menahan Lea agar tidak pulang sendiri*


"please biar kita anter kamu pulang ya"


Lea yang mendengar mereka sangat ingin mengantarnya pulang pun merasa aneh dan mencurigai mereka, jika mereka ada maksud jahat padanya.


"kalian kan gakenal aku, kenapa kalian pengen banget nganter aku? jangan jangan...."


Belum selesai Lea berbicara, salah satu lelaki itu memotong pembicaraan Lea.


"jangan jangan apa? kita ini artis, kita gaakan ngelakuin hal yang bisa ngerugiin karir kita"


"udah gausah mikir aneh-aneh, kita ini cuma ga tega liat perempuan malem-malem pulang sendiri"


*menarik tangan Lea untuk duduk kembali di mobil, mobil pun melaju kembali*


"jadi rumah kamu dimana?"


Tanya lelaki yang sedang menyetir.


Lea menghela nafas.


"aku gapunya rumah"


*Mendengar jawaban Lea, semua lelaki yang ada di dalam mobil itupun terkejut*

__ADS_1


*Lelaki yang disamping Lea memegang kepala Lea untuk memastikan Lea sehat*


"kamu sehat? jangan jangan kamu sakit"


*dengan cepat Lea menepis tangan lelaki itu*


"heh jangan pegang pegang ya"


kata Lea dengan ketus.


"idih apaan sih GR banget"


Lea kemudian menjelaskan bagaimana dia bisa sampai di kota ini.


Mereka mendengarkan penjelasan Lea dengan sangat serius.


Setelah mendengarkan cerita Lea, lelaki yang duduk di depan Lea berkata.


"sebelum kamu cerita, aku udah bisa nebak kamu penyanyi, soalnya kamu bawa gitar"


Lelaki yang sedang menyetir berkata.


"karna ini udah malem banget, gimana kalo kamu sementara tinggal di apartment kita? kebetulan kita ada apartment kosong"


Mendengar penawaran itu, Lea bukan senang justru malah merasa takut. Takut jika mereka sebenarnya berniat jahat kepadanya.


"gimana aku bisa percaya sama kalian?"


"kamu masih ragu sama kita?"


"kalian lelaki ber-empat, aku perempuan sendiri, ya wajarlah kalo aku takut"


kata Lea.


"yaudah terserah kamu, kita ga maksa, kalo kamu mau ayo kalo gamau kamu bisa turun di depan sana"


Mendengar perkataan itu, Lea pun bingung karna malam sudah semakin larut tidak ada pilihan lain selain menerima penawaran itu.


''yaudah aku ikut kalian" Kata Lea.


*Mobilpun melaju dengan tenang menuju apartment*


[DI APARTMENT]


"ini kamar kamu, ini kartu aksesnya"


*memberikan kartu kepada Lea*


"bisa ga pakenya?"


"bisa, bisa" jawab Lea.


Mereka pun pamit kepada Lea.


"semoga kamu nyaman disini, kita pamit pulang dulu ya"


"eh kita belum kenalan loh, aku Lea"


"namaku Justin, ini Shaga Jimmy dan Romy"


{ohh jadi yang dari tadi sikapnya dewasa itu justin}


*kata Lea dalam hati*


"makasih banyak ya kalian udah mau bantu aku, maaf kalo aku ngerepotin kalian"


Justin tersenyum sambil berkata.


"udah istirahat sana"


*Mereka pun berlalu pergi"


Lea masuk ke dalam kamar itu, menyimpan barangnya kemudian Lea membaringkan badannya diatas kasur.


"ah apalagi ini ya Allah, kenapa tiba tiba aku dipertemukan dengan mereka, semoga aja mereka beneran orang baik"


Tidak terasa Lea pun tertidur karna saking lelahnya telah berjalan jauh malam ini.


..........


Silau cahaya matahari membangunkan Lea yang sedang tertidur,


tidak biasa nya pagi ini Lea bangun kesiangan.


*Jam menunjukkan pukul 8 pagi*


Lea merasa kurang bersemangat, karna dia tidak tau mau melakukan apa hari ini, ditambah Lea sedang halangan semakin membuatnya tidak ada semangat.


Kemudian Lea mandi, setelah mandi niatnya Lea akan keluar mencari sarapan.


*selesai mandi*


Baru membuka pintu, Lea di kagetkan karna ada seorang lelaki sedang berdiri pas sekali di depan pintu.


Lelaki itu membelakangi Lea,


sadar jika Lea telah membuka pintu, lelaki itupun membalikkan badannya. Barulah Lea tau jika lelaki itu adalah Shaga.


"perempuan kok bangunnya siang. aku nunggu disini lama banget" kata Shaga.


Lea menjawab.


"biasanya aku bangun pagi, tapi karna hari ini gatau mau ngapain yaudah bangunya aga siang"


"alesan" kata Shaga sambil masuk ke dalam apartment.


*Lea mengikuti Shaga masuk*


Karna kedatangan Shaga yang tiba tiba itu, Lea menyangka jika Shaga kesini untuk meminta uang sewa apartment.


Lea pun mengambil uang yang ada didalam tas nya, uang sisa menjual ponsel malam tadi.


"nih... kamu kesini karena mau nagih uang sewa kan? aku cuma punya segini, kira kira uang segini bisa buat sewa berapa hari disini?"


*Shaga mengambil uang tersebut*


"sebenernya aku kesini bukan buat ini, tapi kalo kamu mau bayar ya aku ambil aja"


Kata Shaga sambil duduk di sofa.


Kemudian Shaga mulai menyampaikan maksudnya mendatangi Lea.


"aku biasa bikin lagu dan musik, denger ceritamu semalem, aku pengen ajak kamu masuk management yang sama kaya aku. management kamu dulu itu adalah management yang cukup besar, udah pasti mereka ga akan nerima orang yang biasa aja"


*Shaga bangun dari tempak duduknya dan berdiri bersandar ketembok*


"aku pengen denger suara kamu"


Lea masih terdiam, seakan tidak percaya dengan apa yang telah disampaikan Shaga. Karena tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Lea segera membawa gitarnya dan mulai bernyanyi di depan Shaga.


Dengan wajah datar nya, Shaga fokus mendengarkan Lea bernyanyi.


*Tanpa Lea sadari, saat dia bernyanyi Shaga telah merekam suaranya dengan ponselnya*


Selesai bernyanyi, Shaga pun bertepuk tangan kemudian memuji suara indah Lea.


"Udah aku duga suara kamu pasti bagus, karna orang yang bisa di terima di management itu gamungkin orang yang biasa aja”


"itu tadi lagu siapa?" Tanya Shaga.


Dengan malu-malu Lea menjawab.


"lagu aku"

__ADS_1


"oh kamu bisa buat lagu? boleh aku liat lagu kamu yang lain?"


*Lea mengangguk kemudian memberikan buku catatannya kepada Shaga*


__ADS_2