
2 JAM BERLALU.
Sesuai prediksi Romy jika mereka butuh waktu 2 jam untuk sampai di tempat yang sudah di janjikan Justin.
Mobil pun berhenti, pandangan Romy menyebar untuk melihat siapa saja yang sudah datang.
"ternyata udah pada kumpul semua" Ucap Romy dalam hati.
Romy kemudian memandang ke arah Lea yang masih tertidur pulas, dia merasa tidak enak membangunkannya, jadi Romy hanya memandang Lea dan tidak membangunkannya.
Di sisi lain Lea yang merasa mobil nya berhenti, perlahan mulai terbangun, dia membuka matanya kemudian memperhatikan sekitar dengan pandangan yang masih aga kabur.
"udah nyampe?" Tanya Lea.
"udah" Jawab Romy.
Lea kemudian menegakkan badannya kemudian melihat ke arah jam tangannya.
"ya ampun se tengah tujuh, aku belum sholat" Ucap Lea dengan panik, ia bergegas membuka sabuk pengaman kemudian keluar mobil dan berlari menghampiri Justin yang sedang menyiapkan makanan.
Belum sempat Justin bertanya, dengan terburu-buru Lea segera bertanya.
"aku mau sholat, dimana aku bisa sholat?" Tanya Lea.
Tanpa menjawab pertanyaan, Justin langsung membawa Lea ke dalam rumah.
Ternyata itu adalah rumah Justin, mereka berkumpul di halaman rumah Justin.
"kamu bisa sholat disini, kamu bawa alat sholatnya kan? soalnya gaada yang sholat disini" Ucap Justin.
Lea menunjukkan tas yang dibawa nya.
"bawa nih di tas, ohiya kamar mandinya dimana?"
Justin menunjukkan kamar mandi dengan tangannya.
Lea melihat ke arah tangan Justin.
"aku nunggu di taman ya" Ucap Justin.
Lea hanya mengangguk sambil berlalu pergi menuju kamar mandi.
Melihat Lea yang telah hilang dari pandangannya, Justin pun menuju ke taman menemui teman-temannya yang sedari tadi sibuk menyiapkan makanan.
"mana Lea?" Tanya Romy.
"di rumah lagi sholat" Jawab Justin.
Merekapun bersama-sama sibuk menyiapkan makanan supaya pas Lea datang semuanya sudah beres.
Disisi lain Lea telah selesai mengerjakan sholat, dia langsung melipat mukena serta sajadah nya kemudian memasukkan nya kembali kedalam tas.
Tiba-tiba terdengar ada suara langkah kaki yang masuk mendekati Lea.
"maaf kamu siapa?" Tanya orang yang berada di belakang Lea.
Lea membalikkan badannya untuk melihat siapa yang bertanya kepadanya. Lea melihat seorang perempuan sekitar usia 40 tahunan berdiri di hadapannya. Tanpa pikir panjang Lea langsung menyalami perempuan tersebut.
"saya Lea tante, temannya Justin" jawab Lea kemudian.
Perempuan itu memperhatikan Lea dari atas sampai bawah kemudian mengerutkan dahinya.
"saya mama nya Justin, kamu beneran temen nya? soalnya Justin gapernah bawa perempuan kerumah" Tanya mama Justin.
"Bener tante, saya temen nya Justin" Jawab Lea dengan suara yang terbata-bata karna merasa gugup.
Kemudian mama Justin merangkul Lea dengan senyuman.
"saya kira kamu pacarnya Justin, saya berharap banget loh Justin punya pacar" Ucap Mama Justin sambil mengantar Lea menuju taman.
Lea hanya bisa tersenyum karna tidak tau harus merespon apa.
Jimmy melihat kedatangan Lea yang di gandeng mama Justin itu membuat jiwa usil nya datang.
"aduhh tante akrab banget kayanya" Ledek Jimmy.
Mendengar ucapan Jimmy, Orang-orang yang semula tidak sadar dengan kedatangan Lea, secara bersamaan langsung melihat ke arah Lea dan mama nya Justin.
Mama Justin yang di ledek Jimmy itu menjawab dengan senyuman yang sumringah.
"tante kira ini pacarnya Justin, soalnya cantik banget cocok deh sama Justin" Ucapnya sambil mencolek pipi Lea.
Mendengar ucapan mama Justin, Shaga Romy dan Jimmy pun tertawa lepas, sedangkan Justin dan Lea merasa sangat malu.
"mama kebiasaan deh" Ucap Justin dengan nada yang manja.
"kamu harus inget sama umur kamu Justin" Ucap mama
"mulai deh ah, mama mending istirahat aja, mama baru pulang kan?" tanya Justin sambil menggandeng mama nya kembali menuju rumah.
Lea yang sedari tadi berdiri diam, kemudian berjalan menuju kursi untuk duduk disana.
Romy kemudian menghampiri Lea dan memberikan ponsel yang telah di beli di Mall tadi sore.
"Ini hp kamu" Ucap Romy sambil menyodorkannya ke Lea.
Lea menerima ponsel itu kemudian segera memasangkan sim card dan memory card nya.
"Makasih banyak ya" Ucap Lea kepada Romy.
"wihh hp baru nih, jangan lupa save nomor kita ya" Celetuk Jimmy sambil asik memanggang daging.
"pacar kamu mana? tumben ga ikut" Tanya Shaga ke Jimmy.
"biasa lah" Jawab Jimmy singkat.
"kamu punya pacar bukannya seneng malah di bikin pusing terus" Ucap Romy dengan nada bercanda.
Jimmy tidak menanggapi candaan Romy itu, dia hanya sibuk dengan makanannya.
Lea yang sedari tadi berusaha memasangkan sim cardnya akhirnya berhasil dia pun mulai menyalakan ponsel nya.
__ADS_1
*TRING*
*TRING*
*TRING*
Lea di kejutkan dengan ponsel nya yang terus berdering itu, langsung saja Lea mengecek ponsel nya yang ternyata ada banyak pesan dan panggilan masuk dari paman dan bibinya.
*Ada satu pesan yang terbaca olehnya*
"heh kemana aja kamu? dasar ya anak ga tau diri! ibu mu mati bukannya pulang malah ngilang! saya jamin kamu ga akan sukses disana, kamu gaakan bisa jadi apa apa!"
Reflek tanpa sadar Lea melempar ponsel itu.
Justin yang telah kembali dari mengantar mama nya, melihat Lea yang melemparkan ponselnya sontak saja menangkap ponsel itu dengan perasaan bingung.
"kenapa kamu lempar?" Tanya Justin.
Pertanyaan Justin membuat semua yang ada di sana mengalihkan pandangannya kepada Lea yang sedang terduduk.
Lea hanya terdiam berusaha menahan air matanya.
*TRING*
*TRING*
*TRING*
Ponsel yang di pegang Justin terus berdering, karna penasaran akhirnya Justin membaca pesan masuk satu persatu.
"hah? siapa ini?" Ucap Justin.
Ponsel yang berada di tangan Justin kemudian di rebut oleh Romy yang penasaran juga dengan isi pesan yang masuk.
*Mereka semua membaca pesan masuk satu persatu*
Justin mendekati Lea yang sedang tertunduk diam.
Kemudian Justin berlutut di hadapan Lea, memegang dagunya sambil perlahan berusaha mengangkat kepala Lea yang sedang tertunduk.
Lea menyingkirkan tangan Justin dari dagunya, dia tidak ingin mengangkat kepalanya.
Kemudian Lea menutup wajah dengan tangannya dan mulai menangis.
"kasar banget omongannya, siapa sih ini" Tanya Romy dengan penuh ke kesalan.
Justin segera meminta Romy diam dengan isyarat jarinya karna Lea sedang menangis.
Shaga, Romy, Jimmy mendekati Lea dan mereka duduk di bawah Lea dengan posisi Lea yang berada di atas kursi.
Justin mencoba menenangkan Lea dengan mengelus-ngelus kepalanya.
Tidak lama kemudian tangisan Lea berangsur-angsur berhenti.
Dengan suara yang sangat lembut Justin bertanya.
"kamu kenapa?"
*Lea mulai mengangkat kepalanya*
"kalo gamau cerita juga gapapa, kita ga akan maksa kamu karna mungkin itu bagian dari privasi kamu" Ucap Shaga.
Lea menarik nafas untuk menenangkan diri.
"itu bibi sama paman aku, mereka emang gasuka sama keluarga aku"
"kenapa?" tanya Justin.
"mereka benci sama ibuku semenjak ibu milih pisah sama ayah. Menurut mereka ibu itu bodoh ninggalin ayah yang punya harta banyak. Ibu menikah karna di jodohkan keluarganya, kecuali nenek.. dia satu satunya orang yang ga setuju sama perjodohan itu, tapi nenek bisa apa? suara nenek ga di denger nenek malah dihina, ibu ga sanggup liat nenek di hina mangkannya ibu setuju sama perjodohan itu"
"setelah 8 tahun bersama, akhirnya ibu ga tahan sama ayah. Kejadian yang paling bikin ibu syok waktu itu ayah kepergok lagi ngelecehin temen main aku. Dia megang area sensitif temen aku, yang akhirnya terjadilah pertengkaran ibu dan ayah. Pertengkaran itu membuat ibu memilih pergi dari rumah membawa aku dan adikku"
"sepanjang jalan ibu cerita kalo ayah emang suka selingkuh, tapi kejadian tadi bener-bener bikin ibu takut, karna ibu punya 2 anak perempuan, ibu takut aku dan Lily jadi korban ayah"
"semenjak saat itu kita hidup bertiga aja, tinggal di rumah kontrakan, keluarga ga ada yang bantu ibu yang ada ibu malah di hina. Hal itu yang menjadi alasan yang membawa aku kota ini, aku ingin membuat ibu bangga memberikan yang terbaik sebagai bentuk terimakasih ku kepadanya"
"tapi takdir ga selalu indah, tiba-tiba aku dapet kabar kalo ibu dan Lily meninggal. Dan yang sangat membuat aku tidak bisa menerima kepergian ibu adalah mereka meninggal karna di bunuh, pelaku nya adalah orang yang suka sama Lily, dia ngikutin Lily terus sampe kerumah. Padahal Lily udah sampe berhenti kerja buat ngehindar dari orang itu. Sampe hari buruk pun terjadi, Lily yang waktu itu sendirian di rumah karna ibu sedang ke pasar, tiba-tiba lelaki itu masuk kerumah dan berusaha melecehkan Lily. Untungnya ibu keburu pulang dan melihat semuanya, tapi tanpa ibu dan Lily tau ternyata orang itu bawa pistol dan dengan cepat menembak ibu dan Lily yang sedang berpelukan"
Cerita terhenti, Lea tidak sanggup meneruskan ceritanya lagi.
Lea menarik nafas berusaha menenangkan diri.
Justin yang duduk di hadapan Lea kemudian berpindah duduk di samping Lea. Justin memeluk Lea dari samping.
"maaf harusnya kita ga tanya ini ke kamu" Ucap Romy.
"gapapa, selama ini kan kalian ga tau latar belakang aku, hari ini mungkin emang waktu yang tepat buat aku cerita semuanya" Ucap Lea.
*Lea mengambil ponsel yang ada ditangan Romy*
"nih, ini ibu dan Lily" Ucap Lea sambil menunjukkan foto yang ada di ponselnya.
"cantik banget Lily" Ucap Jimmy.
"halah kamu tiap liat yang cantik selalu gitu" Ucap Romy sambil menyenggol Jimmy.
"lah emang cantik terus aku harus bilang apa coba?" Tanya Jimmy.
"Ah udah udah, aku laper nih, pengen coba masakan kalian"
Kata Lea sambil berdiri menuju meja yang penuh dengan makanan.
Langkah Lea disusul oleh Romy yang langsung menarik kursi dan mempersilahkan Lea untuk duduk.
"Silahkan tuan putri" Canda Romy.
Melihat tingkah Romy Lea tertawa terbahak-bahak sambil duduk di kursi yang sudah di sediakan.
Sebenarnya hal itu tidak terlalu lucu bagi Lea, tapi Lea sadar jika Romy berusaha mencairkan suasana yang semula terasa dingin karna ceritanya.
Mereka semua pun duduk di kursi masing-masing dan mulai menyantap makanan yang berada di meja sambil ngobrol dan tertawa bersama.
__ADS_1
"aku mau kasih tau kalian, interaksi sama aku sebatas pegangan tangan aja ya, pokonya kalo sama aku sebisa mungkin kalian hindari kontak fisik" Ucap Lea yang mengejutkan mereka.
"maaf ya tadi aku gatau" kata Justin yang merasa bersalah karna telah memeluknya.
"gapapa" Jawab Lea singkat dengan tersenyum kemudian melanjutkan makan nya.
Selesai makan bersama mereka melanjutkan dengan bernyanyi-nyanyi. Terlihat Jimmy sedang menuangkan alkohol ke dalam gelas kemudian membagikannya kepada yang lain.
Jimmy pun memberikan gelas berisi alkohol itu kepada Lea, tapi dengan sopan Lea menolaknya.
"aku ga minum ini" Ucap Lea kepada Jimmy.
"kenapa? Emang umur kamu berapa?" tanya Jimmy dengan polosnya.
"mau umur berapapun aku gaakan minum itu, agama aku yang melarang nya" Jawab Lea dengan tersenyum.
Shaga yang mendengar percakapan itu kemudian menghampiri Jimmy untuk mengambil gelas kemudian meminumnya.
"sorry" ucap Jimmy sambil berlalu pergi.
Shaga yang semula berdiri kemudian duduk di samping Lea.
"kamu ga mabuk?" Tanya Lea kepada Shaga.
"engga, aku kuat minum jadi ga gampang mabuk" Jawab Shaga.
"ohh baguslah, kalo semua mabuk nanti siapa yang anter aku pulang" Kata Lea sambil menyuapkan snack ke mulutnya.
"ternyata ada ya orang yang ga minum" Kata Shaga.
"ternyata ada ya orang yang minum di tempat terbuka kaya gini" Kata Lea menimpali.
"emang kamu gapernah liat?"
"di tempatku minum itu hal yang asing, orang kalo mau minum ya dateng ke tempat tempat khusus gitu buat minum, tapi aku gatau nama tempatnya" Jawab Lea sambil terus ngemil snack.
"kamu itu polos banget, bahaya kalo tinggal sendirian di kota kaya gini"
"ya terus aku mau tinggal sama siapa?"
Pertanyaan Lea membuat Shaga terdiam.
"Kamu juga gatau kan?" Kata Lea sambil tertawa.
Karna merasa malu, Shaga kemudian mengambil snack yang ada di tangan Lea lalu memakan nya.
Tidak terasa malam semakin larut, Lea yang mulai mengantuk itu kemudian berkata kepada Shaga.
"Aku mau pulang" Ucap Lea.
"yaudah aku anter ya" Ucap Shaga sambil berjalan menghapiri Jimmy, Justin, dan Romy yang masih asik bernyanyi sambil tertawa bersama.
"Lea mau pulang, biar aku yang anter. Romy aku pinjem mobil ya"
"bawa aja" Ucap Romy.
"kamu ga mabuk kan? Aman kalo nyetir" tanya Justin
"aman, aku sadar ko" jawab Shaga sambil berlalu pergi menghampiri Lea.
Lea kemudian berdiri untuk berpamitan kepada yang lain.
"aku pulang ya" Ucap Lea.
"hati-hati ya" Jawab Justin, Romy dan Jimmy secara bersamaan.
Lea dan Shaga pun berjalan menuju mobil.
*mereka sudah berada di dalam mobil*
"semakin terang cahayanya, semakin gelap bayangannya" Ucap Shaga tiba-tiba.
Lea yang sedang memasang sabuk itu seketika menghentikan aktifitasnya.
"hah? Maksud kamu?" Tanya Lea tidak mengerti.
"aku pernah denger itu, katanya kalo yang keliatan selalu ceria malah yang paling banyak menyimpan luka. Kaya kamu" Ucap Shaga sambil melajukan mobilnya.
"semua orang itu pasti punya luka, cuma ga semua orang bisa bicara, karna menemukan seseorang yang bisa di percaya itu langka" Ucap Lea menanggapi Shaga.
"kamu percaya sama kita?" tanya Shaga.
*hening*
Tidak terdengar jawaban dari Lea.
Shaga kemudian melihat ke arah Lea yang ternyata sudah tertidur.
"cepet banget tidurnya" gumam Shaga.
Shaga melajukan mobilnya dengan cepat agar Lea dapat segera tidur di apart.
...........
Singkat cerita mereka pun telah sampai di apart.
Shaga menatap Lea yang masih tertidur pulas, dengan lembut Shaga mengelus tangan Lea bermaksud untuk membangunkannya.
Tidak butuh waktu lama, Lea terbangun hanya dengan elusan tangan Shaga.
"ah udah nyampe" Tanya Lea.
Shaga hanya mengangguk kemudian keluar dari mobil, di ikuti oleh Lea.
"Eh bentar, tadi siang aku kan beli alat lukis" Ucap Lea sambil membuka pintu mobil belakang untuk membawa alat lukisnya.
Shaga membantu menutup kembali pintu mobilnya.
"makasih ya udah nganterin, aku langsung masuk ya udah ngantuk banget"
Baru beberapa langkah, Lea kemudian berhenti dan menoleh ke arah Shaga yang masih berdiri memperhatikannya.
__ADS_1
"kamu hati hati ya" Ucap Lea sambil tersenyum.
Shaga tidak merespon apa-apa, dia hanya menunduk untuk menyembunyikan senyumannya.