
⚫⚫⚫
Tayler kini sibuk menghubungi Jeonathan, ia mengabaikan Sucy yang terlihat merasa bersalah. Pesan Charlie juga belum ia balas. Berjalan menjauh menuju balkon hotel sambil berbicara pada Jeon yang mulai tersambung, memberi pesan agar cepat pulang ke mansion untuk mencari tahu keadaan Mr.Varys.
Selanjutnya ia menghubungi Charlie, dada Tayler mengembang, ia harus mengisinya dengan udara ketenangan guna melepas risau. Tahu benar seorang Charlie, ancaman tersirat nya tak pernah main-main.
"Wa, akhirnya kau mencari ku?"
"Jangan bermain-main dengan orang ku."
"Well, kau butuh pelayan baru yang lebih muda. Aku akan mencarikan kepala pelayan yang terbaik sebagai gantinya."
"Tidak perlu, kau tahu benar dia sudah sangat lama bersamaku."
Charlie terkekeh di posisinya saat ini mendengar ucapan Tayler.
"Bukankah aku lebih lama denganmu?" Charlie menggodanya.
"Yongki! kau apakan dia hah?" nada Tayler naik satu oktaf.
Tidak ada jawaban.
Hanya senyap lama di sambungan telpon tersebut, Tayler tahu ia tak bisa memaksa Charlie. Pun sebaliknya Charlie tahu benar jika pria satu itu marah maka ia akan memanggilnya dengan nama asli yang mana hanya Tayler yang tahu.
Beberapa menit sambungan tanpa ada percakapan yang mau mengalah, Tayler menunggu dengan sabar sambil menahan emosi. Berharap Charlie berbaik hati padanya.
"Mck, aku memberikannya pada Jimin." Charlie berdecak.
TUUT-
Ponsel dimatikan usai mendapat jawaban, kembali ia masuk ke kamar hotel sambil mengetikkan pesan pada Jeonathan. Terlihat sangat tergesa mengambil pakaian asal, ia melempar handuk mandi ke sembarang arah hingga penampilannya ***** di hadapan Sucy yang lekas membuang muka.
"Bisa kau kemasi barang mu cepat, aku akan menunggu di bawah." Sucy langsung mengangguk, ia tak berani membantah. Tak ingin luapan marah di tumpahkan Tayler padanya.
Ia sedang terburu mengejar waktu. Mr.Varys sudah sangat lama mengurus nya dan Jeonathan. Cara Charlie bisa ia tebak akan seperti apa ketika bermain-main dengan seseorang.
Jeon mulai mengaktifkan ponsel usai turun dari pesawat. Ia baru pulang dari Nevada, berlibur sekaligus melaksanakan perintah Charlie di sana. Ia juga sudah mendapat mobil baru, Ferrari yang sama dengan jenis dan warna berbeda. Kali ini ia memilih hitam. Dilajukan nya Ferrari dalam kecepatan tertinggi menuju mansion setelah membaca pesan. Dan di belahan dunia lain Tayler tengah bersiap melakukan penerbangan pulang.
Sementara itu, di Lab. Jimmy. Ia sibuk memilih benda yang cocok, ada gergaji kecil dengan ujung runcing nan tajam, gunting besar mengkilat serupa alat pemotong kebun, juga berbagai jenis pisau dari ukuran kecil hingga sedang.
Wajahnya tertutupi masker serta kacamata bening. Ia menyeringai manis sementara Mr.Varys tampak lesu efek anestesi regional. Meski begitu, ia masih bisa tersadar sedang berada dimana.
Tempat paling menakutkan di mansion.
Satu jam yang lalu, orang penting berkunjung. Pria misterius yang kedatangannya bisa di bilang langka. Mungkin hanya sekali dua dalam setahun. Ia berbicara pada Jimmy, begitu congkak dengan pembawaan dingin.
Mr.Varys tahu dari rautnya terlihat kecewa tidak menjumpai Tayler. Tujuannya kemari hanyalah mencari pemuda itu.
"Mr.Varys, kau sudah lama bekerja melayani ketiga orang ku bukan?" Charlie tersenyum tipis sambil bicara. "aku punya keinginan supaya kau lebih menunjukkan dedikasi mu."
Kemudian Charlie beralih bicara pada Jimmy dengan satu tarikan senyum miring di sudut bibir. "J, kau bisa mengolahnya untukmu."
Di saat itulah Mr.Varys sadar hal buruk akan menimpanya usai kepergian Charlie.
5 orang pengawal menyeretnya mengikuti langkah Jimmy menuju mansion di lantai dua. Tubuh Mr.Varys di baringkan paksa dan di ikat, Jimmy tidak suka ada orang asing menemaninya. Usai anestesi bekerja, ia menyuruh keluar semua pengawal agar bisa melakukan praktek dengan tenang.
Kali ini Jimmy memilih gergaji tajam sambil tersenyum menatap Mr.Varys yang gemetar. Suhu AC ruangan begitu dingin serupa berada di kamar mayat.
Jimmy sudah bersiap dengan alatnya. Terlebih dulu ia mendatangi Christie yang meringkuk di atas ranjang bertingkat dua di sudut ruangan. Di belainya dengan lembut pucuk kepala gadis cantik tersebut.
"Kau suka tangan Mr.Varys? ia begitu cekatan bekerja bukan?" Jimmy tersenyum pada Christie, "aku akan memotong dan memasangkannya di tanganmu. Kau pasti suka, tunggu dulu ya."
Mata Christie berkaca-kaca. Ia tidak bisa mengucapkan apa-apa. Hanya melihat langkah Jimmy mendekati meja lab. besar dengan raut sedih.
__ADS_1
Jimmy memotong pergelangan tangan Mr.Varys penuh semangat. Darah segar menetes di lantai keramik putih, baunya begitu anyir. Gergaji tajamnya bergerak maju-mundur hingga terhenti pada tulang keras, ia mengganti alat, kali ini pisau dan sebuah palu. Dengan tiga ketukan barulah tangkai tulang pergelangan tangan itu patah dan jatuh ke lantai.
"Ups!" Jimmy berseru, ia lupa mengambil wadah untung menampungnya. Untung saja tidak hancur saat jatuh.
Wajah Mr.Varys memucat, saat ini ia memang tidak merasakan apa-apa. Namun setelah obat anestesi hilang, hanya ia yang tahu betapa menyakitkannya itu.
Jimmy mengangkat pergelangan tangan Mr.Varys yang sudah ia letakkan di nampan stainless. "Christie, ini untukmu sayang." Mata Christie berkedip-kedip, kelenjar air matanya sudah terlalu kering. Ia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya pasrah dengan rencana Jimmy yang ingin memasang tangan Mr.Varys di tangannya yang sudah lebih dulu di amputasi oleh pembuatnya.
Jimmy bukanlah pembuat Christie, ia mendapatkannya dari Tayler.
Saat itu, Tayler tengah bertugas di negara Eropa. Ia mengeksekusi salah satu pejabat negara di sana. Ketika hendak kembali, ada gadis kecil merangkak di kakinya. Seperti kucing yang minta dibawa pulang.
Melihat kondisi Christie yang memprihatinkan dengan luka lebam di seluruh wajah dan tubuh yang telanjang, ia sedikit kasihan. Pemilik Christie yang baru saja Tayler tembak sepertinya penderita kelainan seksual yang brutal.
Tayler menggendongnya, membawa pulang untuk Jimmy yang baru saja depresi usai di tinggal wanitanya kala itu.
Setidaknya Christie mendapat perlakuan baik dari Jimmy, meski menurutnya Jimmy sama saja dengan dokter gila yang telah menjadikannya seperti ini. Mereka sudah setahun bersama dan ia menyayangi Christie.
"Kau ingin kaki untuk berjalan? ah, tapi sepertinya kaki Mr.Varys tidak cocok untukmu. Kita ambil tangan saja dulu hm."
Ingin sekali Christie berkata tidak perlu, ia tak menginginkannya. Hanya saja lidah Christie memang tidak ada sehingga ia hanya menatapi kegiatan Jimmy dengan raut datar.
Satu pergelangan tangan lain siap di eksekusi.
BRAK!
Pintu lab. Di tendang Jeonathan yang baru tiba dengan napas tersengal.
"Hosh-hosh, hyung. Berhenti! Tayler melarang mu menyentuhnya."
Jimmy menoleh heran, "Aku hanya memenuhi perintah Charlie," Ia mengabaikan Jeon.
Terlihat Jimmy ingin melanjutkan lagi kegiatan hingga Jeonathan berjalan cepat menarik pundak nya, merampas gergaji itu dan membuangnya ke lantai. Jimmy jelas tidak akan bisa melawan Jeon jika bertarung, tubuh kecilnya tidak di desain untuk itu.
"Hentikan, biar Tayler dan Charlie menyelesaikan urusan mereka."
Tayler tidak berucap sepatah katapun sejak perjalanan pulang mereka. Rautnya datar bagai patung harimau dan Sucy tidak berani mengajak bicara duluan. Takut jika patung harimau itu hidup dan merasa terganggu lalu melahapnya mentah-mentah.
Pintu lab. Jimmy yang sudah di dobrak membuat Tayler menduga macam-macam. Benar saja, terbaring di sana Mr.Varys yang gemetar memucat. Jimmy menolak memberikan perawatan. Ia sudah membawa potongan tangan dan Christie kembali ke kamar lalu menguncinya rapat-rapat.
Jimmy tidak mau Charlie menganggapnya melawan perintah. Ia tak bisa berdiri untuk Tayler atau Charlie sebab sudah jelas kontrak seperti apa.
Sucy menatap tak percaya ruang lab. itu. Semua peralatan medis elit dan berbagai alat mengerikan memenuhi ruangan. Di setiap dinding menempel botol-botol kaca berisi berbagai organ dalam manusia. Bola-bola mata, ginjal, usus, lidah, potongan hati bahkan jantung. Seandainya Sucy orang awam, niscaya ia muntah melihat semua itu.
"Hyung," Jeon bangkit melihat kedatangan Tayler. Ia tak tahu harus bagaimana. Hanya membalut pergelangan tangan Mr.Varys yang sudah terpotong dengan perban yang kembali di penuhi warna merah darah.
"Kau bisa mengurusnya?" Tayler bertanya pada Sucy yang semula nganga memperhatikan ruangan. Ia berjalan mendekati tempat Mr.Varys berbaring. Di sentuhnya kening Mr.Varys, badannya demam tinggi. Sucy menggulung asal rambutnya ke atas. Berjalan menuju westafel dan mencuci tangan sebelum menyentuh luka Mr.Varys. Ia membuka perban tersebut gesit namun amat telaten. Ia tahu, anestesi sudah tidak bekerja.
Urat-urat yang putus terlihat serupa serabut. Tak henti mengalirkan darah segar. "Bisa kalian tunggu di luar, aku akan berusaha menghentikan pendarahannya lebih dulu. Juga, tolong pintunya di rapatkan agar tak terjadi infeksi dari udara luar."
Tayler mengangguk, di susul Jeon membenarkan pintu hasil tendangannya sesaat lalu.
Satu jam berlalu, Sucy berusaha keras menolong keadaan Mr.Varys yang banyak kehilangan darah. Beruntung lab. Jimmy begitu lengkap bahkan dengan stock berbagai jenis golongan darah. Entah bagaimana ia bisa mendapatkan semua itu. Setidaknya mempermudah pengobatan.
Kali ini ia turun langsung praktek dengan pertaruhan penting. Sucy sadar, kecemasan Tayler selama di perjalanan tadi amat beralasan. Sepertinya ia begitu dekat dengan Mr.Varys.
Dan Sucy akan berusaha keras menyelamatkan orang terdekat Tayler. Meski belum tahu apa yang sesungguhnya terjadi.
Pintu lab. terbuka.
Sucy melepaskan masker tosca di wajah. Terlihat mukanya begitu berminyak dan berpeluh, Tayler sontak berdiri. Entah bagaimana yang ia tangkap malah wanita itu terlihat seksi dengan penampilan yang messy.
"Nuna, how?" Itu Jeon yang bertanya duluan, membuat Tayler tersadar. Hampir lupa pada keadaan Mr.Varys.
"Masa kritisnya sudah berlalu, aku tidak terlalu yakin mengenai tangannya. Tapi aku sudah mengusahakan yang terbaik." Binar wajah Tayler melega mendengar perkataan Sucy barusan.
__ADS_1
"Jeon, apa yang terjadi padamu? kau kemana saja?" Sucy beralih pada Jeonathan.
Pemuda itu terasa sudah lama tak ia jumpai. Namun entah bagaimana ia terlihat baik-baik saja sekarang dari pada saat terakhir Sucy ingat.
"Aku liburan sambil bekerja. Nuna, lehermu kenapa?" Tangan Sucy bergerak cepat menutupi leher, ia melirik Tayler yang sudah membuang muka. Pelaku yang tak mau disalahkan.
"I-ni, ah aku lapar. Kau sudah makan malam Jeon?" ia mencoba mengalihkan pembicaraan.
Jeonathan menggeleng dengan wajah puppy. Sucy tersenyum di buatnya. Sudah sangat lama tidak melihat wajah manis pemuda ini. Entah bagaimana ia tak takut lagi pada Jeon.
"Aku bisa memasak sesuatu untuk kita semua. Setelah itu kita bisa menjaga Mr.Varys bersama. Saat ini ia sedang tertidur. Bagaimana?"
Mata bulat Jeon berkilauan, Tayler pun setuju. Merasakan masakan Sucy sepertinya itu hal yang baru sekali. Jeon mengekor layaknya anak kecil bahagia menggandeng lengan Sucy. Tayler menyusul dari belakang dengan perasaan lega.
Namun, ponselnya kembali bergetar.
Charlie's Message ; Meet me, Now.
Tayler menimbang keputusan cepat, "Ada yang harus ku urus." Ia berbalik arah tanpa berpamitan.
Sucy ingin menahan Tayler, namun Jeon tahu hyung nya itu akan kemana. Di dorongnya pundak Sucy dengan sigap. "Ayo Nuna, aku lapar. Kau janji membuat makanan yang enak 'kan?"
•••
Tempat tinggal Charlie amat mewah. Puluhan pengawal berjaga di sana-sini. Orang tua angkatnya mewariskan banyak aset kekayaan yang terlihat melimpah dari luar namun nyatanya hanyalah hutang piutang segunung dengan rentenir serupa malaikat pencabut nyawa mengikuti tak kenal lelah.
Charlie belajar banyak pengalaman dari situ, pembunuhan pertama kali ia lakukan saat remaja. Rentenir menyebalkan itu ia habisi dengan keji. Charlie tidak menduga ada kesenangan mengikat dalam proses melenyapkan nyawa orang-orang. Ia memiliki candu sendiri.
Hingga pertemuannya dengan Tayler sukses menjadi mitra mengagumkan. Dulunya, Tayler ialah atlet remaja cabang tembak skala International. Ia di kirim untuk pertandingan di LA.
Namun, nasib naas terjadi. Ia menjadi sasaran penyingkiran dan hampir terbunuh, Charlie lah yang menolongnya. Tayler merasa berhutang nyawa pada Charlie.
Semenjak saat itu mereka tinggal bersama. Sepanjang hidup ia terus melakukan apa yang Charlie inginkan untuk menyenangkan sahabatnya tersebut. Pekerjaan kotor menjadi makanan sehari-hari. Tipikal orang yang akan menyerahkan hidupnya demi balas budi.
Pintu di ketuk, Taeyler masuk kemudian. 2 pengawal yang berjaga di depan pintu emas tersebut berlalu. Mereka tahu, tamu Charlie merupakan orang penting dan dapat di percaya.
Terlihat di sana kaki Charlie naik ke atas meja kerja. Ia tengah menikmati musik hasil karyanya di depan layar komputer. Satu laptop lain menyala khusus untuk bekerja, memilah permintaan klien juga mencari data target.
Salah satu keahlian Charlie yang lain ialah serupa agent penguasa dunia maya. Ia merancang alat pelacak sendiri agar bisa tahu informasi para target dengan mudah.
"Masih hidup rupanya," Charlie tahu jika Tayler datang dengan keadaan tenang berarti Jimmy tidak menyelesaikan pekerjaan yang ia berikan.
"Dia kehilangan satu tangannya."
"Cih, cuma satu."
"Cuma satu kau bilang? kau tahu dia bekerja padaku bertahun-tahun!"
"Kau peduli pada hal sepele seperti itu?"
"Yoongki! orang-orang yang ada di rumahku adalah milikku, kau tidak boleh menyakiti mereka. Kau bisa memintaku membunuh siapapun tapi tidak orang yang tinggal bersamaku!"
Charlie bangkit dari kursinya, tidak terpengaruh pada teriakan Tayler. Ia berjalan mendekat, menyender pada meja dengan tangan bersidekap.
"Lalu, apa yang kau lakukan 3 hari ini? kau mengabaikan panggilanku hm."
Tayler diam, ia tahu yang di lakukan Charlie adalah peringatan atas sikapnya yang sudah berani mengabaikan panggilan.
"Tayler, you are only mine. Remember always, i'm your master."
Kini Charlie berlalu menuju ranjang, membuka pelan semua kancing kemeja hingga tubuh atasnya yang putih pucat terlihat bersinar terang. Merebah santai di sana menghadap Tayler, smirk Charlie yang mengandung magis membuat siapapun tunduk.
"Kali ini aku memaafkan mu. Come, ride me."
Tayler menatap Charlie dengan senyum tampan, ia melepas sabuk celana begitu seksi lalu ikut bergabung naik ke ranjang.
__ADS_1
⚫TBC⚫