Assassin'S Lover

Assassin'S Lover
9• With Tayler


__ADS_3


⚫⚫⚫


Pukul 02.30.


Napas Sucy berhembus teratur, hampir seminggu tinggal disini ia mulai bisa mengontrol sikap. Sedapat mungkin tidak memposisikan diri pada hal berbahaya, ada saatnya diam ada saatnya bicara. Seperti yang Mr.Varys bilang, selama mereka baik sudah sepatutnya ia tidak berontak.


Kamar di buka, langkah seseorang masuk terdengar nyata. Sucy menggigit bibir dalamnya, ia harus bisa untuk tidak memekik meski kini takut bukan main. Untuk pertama kali, Tayler datang di larut malam. Pikirannya jadi tak karuan menduga-duga apa yang ingin pria itu perbuat nanti.


Tayler menggerakkan tulang leher ke kiri dan ke kanan. Ia melepas jas hitam dari tubuh, menggantungnya di bahu sofa. Masih belum tertarik pada Sucy hingga ia bergabung di tepi ranjang, duduk melepas sepatu dan kaos kaki.


Kancing kemeja di bukanya perlahan hingga tersisa bagian lengan yang masih mengait. Sementara itu, Sucy berusaha keras memejamkan mata pada posisi membelakangi.


Cemasnya sedikit hilang kala Tayler berlalu menuju kamar mandi. Ada jeda untuk merasakan lega. Tadi itu nyaris sekali ia melompat dari ranjang.


15 menit kemudian harum maskulin menyeruak berbaur dengan aroma green tea mint yang sejuk. Tayler sudah kembali bergabung naik ke ranjang dengan bathrobe abu-abu yang masih melekat.


Di raihnya tab yang tergeletak di meja, dengan posisi ternyaman nya Tayler menyender pada bahu ranjang.


Satu pergerakan dari tangan Sucy yang menarik selimut tinggi menutup tubuh tertangkap ekor mata Tayler, bibirnya tersenyum meski tidak memalingkan wajah.


"Belum mengantuk? lekas tidur. Esok hari yang panjang untukmu."


Saliva Sucy menyangkut di kerongkongan, ia berharap posisi pria itu saat ini jauh darinya. Di liriknya lagi pisau buah di nakas sisi kanan.


Bisakah benda itu menolongnya?


Tayler tidak melakukan pergerakan, fokus pada tab di tangan. Menonton kejadian apa saja di mansion selama ia tinggal.


Jimmy menguasai bagian luar seluruh mansion, namun tidak sampai pada kamar Tayler. Hanya bisa melihat Sucy apabila turun dari atas, maka milik Tayler berbeda. Ia bisa melihat seluruh kamar penghuni yang lain. Bahkan apa yang di kerjakan Jimmy di lab. pribadinya, juga bagaimana Sucy telaten menjaga Jeon beberapa saat lalu.


Ia melega, semuanya terlihat baik-baik saja.


Kali ini pria itu memilih mengistirahatkan tubuh, di kembalikan nya tab pada meja lalu ikut berbaring. Ia menyempatkan diri memutar musik klasik.


Close to you - Carpenters, mengalun pada frekuensi ramah telinga di malam hari hingga seperti sebuah nyanyian tidur yang lembut.


"Aku suka lagu ini jika tengah kesulitan tidur." Tayler tersenyum menutup ucapan, ia ikut membelakangi. Kali ini sama memeluk guling pada posisi masing-masing. Ia berharap Suzy bisa terpejam tanpa perlu khawatir ia akan berbuat jahat.


Untuk pertama kali, mereka terlelap dalam wadah yang sama.


Sudut bibir Sucy tertarik, ia tahu lagu ini. Lagu pernikahan orang tuanya yang sering di putar saat merayakan anniversary juga bertepatan hari kelahirannya.


Malam ini, untuk pertama kali ia merasakan kenyamanan rumah meski terlelap di samping seorang pembunuh.


•••


Gorden ungu gelap dengan bahan satin terbuka, sinar matahari menerobos masuk pagi ini. Alis Sucy bertautan merasa terganggu, mentari tengah membangunkannya dengan lembut. Tidurnya semalam begitu nyaman. Musik klasik memang bagus untuk mengistirahatkan kinerja otak.


Ia bergegas bangkit, menatap tubuh yang masih terbalut pakaian lengkap dengan lega, namun teman tidurnya sudah tidak ada.


Dimana Tayler?


Tidak tahu diri memang ketika sebagian hati merasa ada yang hilang. Setidaknya perasaan takut sudah mengecil. Sucy cukup yakin orang itu tidak akan menyakitinya, semoga.


Ia masih berangkat kuliah seperti hari-hari sebelumnya. Masih sulit bertemu Jeonathan, sarapan sendiri dengan 2 maid serta Mr.Varys berdiri di samping.


"Dimana semua orang?"


Mr.Varys menahan maid yang akan menuangkan susu di gelas. Sucy tidak suka susu dan biasanya itu untuk Jeon.


"Jika yang Nona tanyakan Tuan Jeonathan, maka akan saya beritahu bahwa beberapa hari ke depan ia tidak akan ada di rumah. Tuan Jimmy seperti yang anda tahu, ia selalu berangkat lebih pagi. Christie ada di kamarnya, jika Nona ingin bertemu saya bisa memanggilnya."


Lekas Sucy menggeleng, ia belum siap. Bukan takut namun lebih pada perasaan kasihan kini mendominasi. Ia pernah menelusuri cerita seram di balik pembuatan Christie oleh Dokter yang memiliki obsesi tak lazim.


"Ng, T-tayler?" tanyanya hati-hati.


"Kalian akan sering bertemu nanti, Nona akan berangkat bersama pengawal seperti kemaren. Tapi hari ini, akan ada yang menjemput."


Dan benar saja, di parkiran Universitas siang ini para mahasiswa sibuk bergunjing. Lelaki dengan motor hitam besar tengah menyender santai terlihat menunggu seseorang.


"Bukankah itu Donatur kita?"


"Mr.Tayler, Kau yakin? dia terlihat sangat muda."


"Hm, sekarang kau yakin kan alasan mengapa Jeon Jungkook itu gay. Pasangannya saja se-menawan itu."

__ADS_1


"Kenapa dunia ini tidak adil, apa harus pria hot bersama pria hot juga. Uh, gay sialan. Membuat gadis cantik banyak menganggur saja."


"Sst, jangan keras-keras, nanti ia dengar."


Sulit sekali Sucy melalui lorong yang jejal seperti tengah kedatangan artis saja. Jam kuliahnya telah selesai, ia harus pulang sebelum membuat pengawalnya bermuka masam.


Namun, matanya makin membulat kala mendapati Tayler di tempat parkir. Tatapan mereka bertemu hingga pria itu berjalan ke arahnya. Raut wajah yang dingin namun justru membuatnya semakin tampan.


Tanpa aba-aba ia menarik Sucy dari kerumunan, membuat para gadis lain ternganga. Langkahnya mengikuti Tayler dari belakang dengan segera.


"Kau pernah naik motor?" Sucy menggeleng, faktanya memang belum pernah.


"Good, kita lakukan hal lain yang belum pernah kau lakukan dengan Jeon"


Helm di pasangkan kemudian. Beruntung Sucy hari ini mengenakan celana denim. "Peluk aku." perintah Tayler yang lambat Sucy mengerti. Ia hanya mengamit ujung jaket kulit hitam di pinggang pria itu.


Tersenyum dari balik helm, Sucy tidak melakukan perintahnya. Meski begitu, Tayler tak memaksa dan melajukan motor tersebut dengan kecepatan sedang. Mengitari jalanan LA entah kemana, Sucy jelas tak tahu tempat di sini. Masih begitu asing.


Ia di turunkan di tepi sebuah danau. Tayler menyender pada motor sambil mengeluarkan ponsel, menyerahkannya pada Sucy dalam diam. Ia hanya mengkode dengan gesture agar sang wanita menyambut segera, wajahnya cerah terbingkai kemudian mendapati siapa di seberang panggilan sana.


VC luar negeri,


"Ayah, Ibu, Erik!" Sucy berseru takjub. Ia menjauh beberapa meter.


Terlihat adiknya itu bicara tak sabaran. "Aku pikir kau tidak akan menghubungi kami. Nuna baik-baik saja di sana bukan?"


Mata Sucy berkaca-kaca, ia memang di berikan ponsel namun tidak bisa menyimpan nomor siapa pun untuk di hubungi. Hingga sambungan telpon saat ini sangat berharga untuknya. Meski tak berani menceritakan keadaan sesungguhnya, ia mengarang hal baik dengan banyak bumbu tambahan agar keluarganya tidak khawatir.


"Sucy, siapa yang di belakangmu?" Kamera tak sengaja menangkap posisi Tayler yang tengah menyender sambil merokok.


"Bu-bukan siapa-siapa Bu, hanya orang asing."


"Ah, Ibu kira. Kau memerlukan sesuatu sayang? Ayah ada sedikit tabungan, jika kau butuh sesuatu kau katakan saja ya. Ibu tahu tinggal di luar negeri pasti serba mahal."


"Tidak usah Bu, aku cukup disini. Segalanya berjalan baik."


Sucy melirik hati-hati ke arah Tayler, meski tidak menemukan wajah bosan setidaknya ia harus tahu diri. Ini sudah terbilang panggilan telpon yang lama. Ia mengakhirinya meski berat hati.


Tidak ingin lancang dengan banyak meminta ketika sudah di beri lebih. Ini saja sudah cukup, hari ulang tahunnya tak terlalu buruk berkat Tayler meskipun statusnya masih serupa tahanan.


"Sudah selesai?" Tayler menyambut ponsel yang di kembalikan Sucy, memasukkannya ke kantong. Gadis itu mengangguk senang berucap terima kasih.


Apa itu tadi? Sucy masih berdiri meski Tayler sudah menunggangi motor besarnya. "Apa maksudmu?" tanyanya tak mengerti akan perintah barusan.


Tayler menatap sinis, membuat Sucy harus sadar posisi. Kembali ucapan Mr.Varys melintas. Kali ini sigap naik dengan memegang bahu Tayler. Dia tidak ingin lelaki ini marah. Bergegas di peluknya tubuh Tayler dari belakang hingga tanpa sengaja telapak tangannya menyentuh benda di antara pinggang pria itu. Pistol.


Di erat kannya lagi pelukan kali ini, antara takut dan senang. Sulit menggambarkannya. Hanya berdoa semoga tak terjadi hal buruk kemudian.


Jarak perjalanan lebih dari 20 menit.


Sucy tak menduga mereka kini berada di bandara, apakah Tayler akan memulangkannya? ia berlari cepat menyusul langkah pria itu usai memarkirkan sepeda motor dan berjalan tergesa di antara lobi bandara.


"Apa kau akan mengantarku pulang?" tanyanya sumringah bukan main.


Tayler tersenyum dengan raut aneh, ia menghentikan langkah tiba-tiba. Membuat Sucy ikut terhenti. Dia mengurung Sucy pada dinding. Di tatapnya raut polos itu dengan tajam.


"Kau tidak akan pernah bisa kembali sebelum aku selesai denganmu. Kita akan ke Dubai, ada pesta kolega yang harus ku hadiri. Dan kau, akan jadi pasanganku."


Tangan besar Tayler meremas pohon leher Sucy. Ujung jarinya ada di tenggorokan, di tekannya pelan dan dalam hingga sukses membuat napas Suct tercekat. Ia bahkan terbatuk-batuk merasa tekanan di sana membuat tercekik.


Sadar akan posisi mereka di tempat ramai, Tayler melepaskan Sucy yang kini matanya memerah juga tenggorokan sakit.


"Bersikap normal lah sekarang, aku sudah berbaik hati padamu bukan?"


Dengan napas putus-putus Sucy mengangguk. Ia lupa dengan siapa berhadapan. Sudah sepatutnya ia tidak berharap keajaiban lebih. Ia bisa bernapas tanpa kehilangan salah satu anggota tubuh pun merupakan suatu keberuntungan.


•••


Hotel terindah di Dubai menjadi tempat acara pesta ulang tahun salah satu kolega bisnis Tayler di adakan. Semenjak memutuskan menjadi pengusaha, ia banyak memiliki mitra dari berbagai pengusaha terkenal.


Tayler tampil menawan dengan tuxedo hitam mengkilat, bagian lehernya di hias kain beludru maroon licin. Rambutnya sedikit naik hingga wajah tampannya mencuri fokus.


Terlebih gandengannya malam ini membuat banyak pasang mata iri. Gadis yang mengaitkan tangan di lengan Tayler sama mengenakan gaun berwarna hitam. Belahan dadanya begitu rendah dengan kulit punggung terbuka banyak.


Mulanya Tayler tak risih hingga banyak tamu pria tidak bisa melepaskan pandangan terperangah pada Sucy.


Ia mulai menghitung berapa jumlah peluru pada pistol yang bersembunyi di sisi tubuh. Kiranya cukup akan ia sarangkan pada masing-masing bola mata nakal yang menatapi Sucy.

__ADS_1


"Oh, Mr.Tayler akhirnya kau datang. Aku sangat tersentuh akan kesediaan mu kemari padahal kau itu pasti sangat sibuk."


Tayler tersenyum berwibawa, "Tentu aku kemari, mana mungkin menolak undangan rekan baru yang menyenangkan."


"Wah, apakah gadis ini kekasihmu? dia sangat menawan."


"Bianca Sucy, aku tahu. Dia memang begitu." Tayler melirik dengan senyum bangga pada gadis di sampingnya. Sucy menyambut uluran tangan rekan Tayler dengan sopan.


Haruskah Sucy tersentuh? tentu tidak, wacana sudah tertulis jelas bahwa ia berperan sebagai kekasih dengan apik malam ini.


"Ahya, hotel baruku sudah di buka seminggu yang lalu. Mr.Tayler, kau akan menjadi tamu spesial pertama. Berkunjung lah, ajak wanita mu berlibur. Aku memberikan ruang VVIP sebagai hadiah kedatangan mu."


Kembali Tayler merapatkan rangkulannya pada pinggang Sucy. Gaun dengan kain tipis itu rasanya bisa tertembus telapak tangan Tayler yang hangat. Sucy sedikit meliuk gelisah merasa pegangan di area tersebut terlalu intim.


"Aku menerimanya, thank you Mr. Edmurd."


Kali ini bartender yang membawa nampan berhenti di tempat mereka berdiri. Pemilik acara meminta minuman terbaik untuk sepasang tamu spesialnya malam ini.


Hotel elit milik Mr. Edmurd berada di tempat strategis. Pemandangan indah downtown Dubai tersaji menakjubkan.


Sucy berusaha mengerti, ia di culik namun di perlakukan bak putri. Ia mendapat pelayanan baik hingga bisa menjelajah belahan dunia lain. Seandainya ia masih di Korea mungkin tempatnya berada hanyalah ruang sempit sel tahanan yang dingin di balik jeruji besi.


Sudah tentu ia beruntung meski yang menahannya adalah para lelaki mengerikan, namun sejauh ini ia baik-baik saja bukan?


Tubuhnya memberat, seseorang ikut bergabung di belakang. Mendempet nya hingga tertekan pada pagar balkon hotel. "kau tidak kedinginan?" suara husky yang dalam berbisik di belakang telinga Sucy. Hangat sekali, bahkan kini sebuah tangan ikut melingkar di perut ratanya.


"Tayler?"


Satu tangan Tayler yang lain mengusap lengan telanjang Sucy dengan pelan hingga bulu-bulu halusnya berdiri.


Di singkirkan Tayler rambut panjang yang mengganggunya ke depan hingga pohon leher jenjang yang ia incar terlihat jelas. Putih dan bersih, di kecup nya pelan selembut bulu angsa yang mendarat. Kali ini Tayler melakukannya dengan hati-hati, tak ingin hal yang ia lakukan di bandara kemaren membuat Sucy trauma.


Tubuhnya gemetar, meski jelas perasaan ini bukan perasaan takut. Berbeda, seolah ia butter yang tengah di cairkan pada wajan dengan api panas. Perlakuan Tayler membuatnya meleleh.


"Aku akan menghangatkan mu," bisiknya lagi dengan sensual.


Kali ini Tayler bermain di telinga kiri Sucy, lidah lembab nya berani menjelajah menggoda. Tidak ada penolakan membuatnya semakin berani. Tubuh Sucy diputar perlahan seakan magis seksualitas melingkupi mereka.


"Katakan yang kau inginkan, selain pulang aku akan memenuhinya. You are my master now."


Ibu jari Tayler menekan bibir merah di hadapannya, gadis itu terlalu blank dengan segala afeksi yang di berikan pada tubuh. Napasnya tersengal menerpa bibir basah Tayler, terbesit rasa penasaran ingin mencicipi lagi nikotin manis di sana.


"This, i want this one." Senyum Tayler melebar, ia mendekatkan wajah. Menyambar bibir Sucy setelah bersabar menunggu entah berapa lama. ******* lambat namun mendekap erat kiranya seluruh tubuh mereka melekat. Ciuman kedua mereka kali ini lebih lama dan bergairah.


Keduanya sedikit terganggu dengan ponsel di saku yang terus bergetar membuat Tayler kesal. Ia menggigit bibir Sucy hingga gadis itu meremas jas di tubuh Tayler. Mata Sucy sayu mendapati bibirnya sedikit lecet meski itu justru memberi candu menakjubkan.


3 hari di sana membuat keduanya serasa menjadi pasangan kekasih normal yang tengah berbulan madu.


Sucy di buat takjub mendapati lehernya membekas banyak bercak keunguan. Rupanya hanya sampai situ keberanian Tayler. Ia merasa lucu dengan pikirannya sendiri.


Mungkin jika ia terus membuat Tayler senang suatu saat pria itu berkenan mengajaknya pulang menemui keluarga. Juga, Tayler yang tidak memaksanya menginginkan lebih. Ada rasa lega luar biasa.


Sucy menoleh mendapati meja kayu kembali bergetar. Ponsel pria itu telah terabai 3 hari ini hingga membuat penasaran. Ia mendekat ragu, apa mungkin Jeonathan yang menghubungi dan Tayler mengacuhkan pikirnya.


Ah, Sucy jadi teringat Jeon. Bolehkan ia menghubunginya?


Tayler sedang di kamar mandi, mungkin masih akan lama sehingga ia memberanikan diri membuka ponsel di sana.


30 panggilan dari Charlie dengan 2 pesan yang belum terbaca.


Who's Charlie?


Apakah ia wanita pikir Sucy, entah bagaimana ia menjadi sedikit cemburu meski jelas itu bukan haknya.


"Kau membuka pesanku?"


Hampir saja ponsel di tangan Sucy terjatuh akibat teguran Taeyler yang mengejutkan. Ia menjadi kikuk dengan perasaan bersalah sebab sudah lancang berani mencampuri urusan orang lain.


"I-itu, ia tak berhenti bergetar. Sepertinya sangat penting. Kau belum menyentuh ponselmu sejak 3 hari yang lalu."


Mood Tayler menjadi buruk. Padahal ia sengaja tak ingin mengurusi ponsel. Di raihnya dari tangan Sucy dengan malas. Chat tersebut sudah terbuka meski Sucy belum sempat membacanya. Namun tetap saja si pengirim pasti tahu jika pesan telah di terima.


Charlie ; Aku berkunjung ke mansion, hanya Jimmy yang menyambut ku juga pelayanmu yang sudah tua. Sepertinya kau butuh pelayan baru. Aku akan mengurusnya dengan baik, sayang sekali.


Tayler mengusap wajahnya dengan kalut. Ia tidak mungkin bisa menyusul cepat, di hubungi nya Jeonathan dengan segera.


Mr.Varys, ia sedang dalam bahaya.

__ADS_1



TBC


__ADS_2