
⚫⚫⚫
Tidak ada yang aneh terlihat dari luar padanya, ia di kenal murah senyum. Wajahnya manis dan polos, hanya saja ia memiliki banyak tatto di pergelangan tangan. Mungkin terkesan seperti pemuda yang tengah mencari jati diri.
He lives in Los Angeles Fyi. Tatto is not a big thing.
Di kampus pun ia juga tidak banyak tingkah, sibuk dengan game pada ponsel juga tak gemar mengejar para gadis cantik bahkan tergolong mahasiswa berprestasi.
It's kinda weird.
Wajah setampan itu di anggap sia-sia dengan sifatnya yang terkesan anti wanita.
Ia mendapat lebel pemuda yang baik.
Meski jelas kamuflase semata.
Namanya Jeonathan 21 tahun. Pernah sekali ia mengencani wanita di kampus yang mana keesokan paginya wanita itu ditemukan tak bernyawa lagi dengan sabuk celana terikat kencang di leher juga lebam di sekujur tubuh.
Dan Jeonathan terlalu malas berurusan dengan kepolisian. Ia berhenti membalas perhatian pada lawan jenis di kampus. Memilih sendiri sambil menunggui tugas exclusive yang lebih membuatnya bersemangat.
Saat ini Jeon diberi tugas membawa seorang wanita tanpa membuatnya lecet, ia jadi gemas sendiri dengan syarat begitu.
Langkahnya mendekat senyap sambil bersembunyi di rak snack, berencana menyuntikkan obat bius pada target sebelum pintu masuk terbuka.
Brian tiba tepat waktu, "Maaf terlambat ya Cy, aku kehujanan di jalan."
Bergegas jarum itu kembali masuk dalam hoodie, Jeon bersiul memalingkan wajah.
Langkah Sucy merapat pada Brian. "Ternyata pengatur cuaca di ponselku kali ini benar. Ah, untunglah aku membawa payung dan jas hujan." Ia terlihat sumringah.
"Kau terlihat senang, apa ada kabar baik?" tanya Brian sambil mengambil alih kunci mesin kasir. Sucy mengangguk, ia memamerkan kartu tanda pengenalnya yang sudah ketemu.
"Aku harus bergegas sekarang. Brian, doakan aku ya. Aku ada interview di rumah sakit swasta nanti malam." Langkahnya cepat menghilang dalam ruang karyawan bersiap pulang tidak mengindahkan balasan Brian.
Menyisakan Brian bergumam keheranan, memangnya ada interview kerja malam hari?
Aneh.
Juga, Jeonathan yang menguping.
Tidak boleh, ia harus membawa target itu tepat waktu. Jika tidak, hyung-nya yang lain akan mengejeknya nanti.
•••
Mobil jeep hitam milik Jeon terparkir di samping rumah sakit swasta berlantai dua yang nampak baru selesai pembangunan.
Masih menunggui target yang sudah masuk setengah jam lalu namun tak kunjung keluar.
Terlalu bosan menanti juga rokoknya sudah habis satu kotak, ia keluar dari mobil. Ingin menyusul Sucy, tidak mungkin gadis itu lepas dari mata awas nya yang siaga. Ia tidak mungkin melewatkannya pulang.
Lift di tekan menuju lantai teratas. Rumah sakit tersebut masih sepi, belum ada penghuni hanya karyawan jaga di lobi yang bisa ia kelabui dengan mudah. Sepertinya belum melakukan pembukaan resmi.
__ADS_1
Juga, ini terasa aneh mengingat omongan teman kerja Sucy sore tadi.
Memangnya ada interview malam hari?
Ketika lift terbuka, Jeon berlari cepat menyusuri koridor dan mengabsen satu persatu ruangan. Sebagai orang yang gemar melakukan tindak kejahatan, mengapa ia bisa lengah?
Sudah pasti gadis itu sedang masuk umpan jebakan dan kini dalam bahaya.
Tiba di gudang terpojok dengan lampu menyala juga suara tangis meraung, ia mendobrak kasar pintu tersebut. Benar saja, gadis itu meringkuk di bawah triplek dengan pakaian sobek-sobek.
Dua orang lelaki dewasa tengah menertawakannya yang memohon tak ingin di sentuh.
Kedua pria tersebut menoleh, yang berbadan besar mengambil alih. "Bos, serahkan dia padaku." Si pria berkacamata satunya menyeringai. "Wah-wah, ada pahlawan kemaleman nih."
Lidah Jeonathan terlihat menyapu bibir bawahnya, ia menggemeretakkan tulang leher dengan jantan. Akhirnya ada kesenangan yang bisa ia dapat. Apa tadi, pahlawan? baru kali ini ada yang mengatakan itu padanya.
Badan Jeon tak kalah besar dengan lawannya, tentu saja ia amat rajin melatih tubuh. Perkelahian berlangsung singkat hingga lawan yang sombong itu jatuh tersungkur dengan kaki Jeon menginjak kepalanya, membenamkan ke lantai seolah keset yang kotor.
Too easy.
Pria yang berkacamata tercengang, ia beralih menarik Sucy sambil menodongkan pisau lipat ke leher. Isakan gadis itu terdengar bergetar hebat, membuat Jeon makin sebal melihat pisau disana menggores leher hingga mengeluarkan darah.
"Jangan mendekat atau pisau ini akan memotong lehernya!"
Jeonathan berkacak pinggang, wajah songong nya mendominasi. Lawan yang tak selevel ini berani membuat pekerjaannya terganggu. Secepat kilat, belati lipat kesayangan Jeon yang menyelip di pinggang terlempar tepat di tangan si pria berkacamata.
Pisau yang mengancam leher Sucy terlepas, pemiliknya tersungkur memekik sakit menangisi telapak tangannya yang berdarah akibat tertancap belati. Jeonathan mendekat, kakinya menendang kencang perut pria berkacamata tersebut hingga membentur tembok dengan darah segar muncrat dari mulut.
Di lepasnya jaket denim dan memasangkannya pada Sucy. Ia tersenyum. "Kau sudah aman, tenanglah." bujuknya, Jeon jadi geli mendengar ucapannya sendiri.
Tangannya kini memeluk bahu Sucy, bisa ia rasakan tubuh gadis itu tremor. Jeonathan menggandengnya penuh perhatian.
Langkahnya terhenti kemudian, hampir lupa mengambil belati kesayangan. "Oh tunggu sebentar ya." Ia berbalik mendatangi pria berkacamata, mencabut belati yang menancap di telapak tangan. Lagi-lagi menyeringai sambil berjongkok. Sayang sekali ia melewatkan kesenangan begini.
"Ayo Nuna!" ajaknya mengalah sambil membersihkan belati berdarah pada baju kaos putihnya.
Kali ini Sucy bergeming, matanya memancarkan kilatan amarah ingin menuntut balas.
Ia amat membenci pria itu, yang menjebaknya datang kemari, yang barusan hampir saja memperkosanya.
Emosi berkuasa, ia merampas belati dari tangan Jeonathan dan berjalan mendatangi pria berkacamata yang masih meringis meratapi telapak tangan.
Ia benci tangan itu, yang berani menyentuhnya dan gemar meraba tubuh para pasien wanita.
Sucy memotong pergelangan tangan itu dengan kasar hingga pekikan nyaring terdengar.
Ia juga benci mata itu, yang liar jelalatan terhadap wanita. Yang selalu menatapnya dengan pandangan kotor. Yang menatapnya penuh nafsu setengah jam lalu bersama temannya dengan niatan menodai. Di buangnya kasar kacamata bening sialan tersebut.
Dua, tiga, hingga empat kali terdengar bunyi tusukan pada benda lunak, tancapan belati tepat mengenai kedua bola mata mantan atasan rumah sakitnya itu bergilir hingga darah segar muncrat banyak. Kali ini jeritan terdengar begitu menyakitkan. Bola matanya hancur tercerai berai dengan berbagai cairan. Sucy mengakhiri kemarahannya melalui satu tikaman tepat di jantung.
Dan dari belakang, Jeonathan menatapi terkagum. "Nuna, i like you." ia bergumam sambil memuji.
Jeon terpesona detik itu, sudut bibirnya membentuk senyum simetris hingga wajahnya makin terlihat manis.
__ADS_1
Sementara telapak tangan Sucy gemetaran dengan bersimbah darah. Aroma anyir kini begitu kental tercium. Logikanya mulai mengambil alih.
Apa yang ia perbuat?
Ia baru saja membunuh orang.
Kepalanya menggeleng, ia tidak mau menjadi kriminal. Bagaimana bisa kecintaannya merawat dan menolong kini malah berbalik melukai bahkan membunuh?
Tidak-tidak, ia berdiri cepat hendak keluar dari ruangan.
"Hei, kau mau kemana?" Ia di tahan Jeonathan.
"Ka-kan-tor polisi, a-aku a-kan menyerahkan diri." tutur Sucy gagap.
Tentu saja Jeon sangat tidak setuju ide itu. Ia mendekat, mengecoh dalam memeluk berpura menenangkan. Diam-diam jarum suntik berisi obat bius sudah masuk ke tubuh Sucy yang tak berapa lama lunglai dalam dekapan.
"Sepertinya aku tahu kenapa hyung menginginkanmu." Jeonathan terkekeh, "kau menarik, hehhe.."
Tubuh Sucy yang pingsan di bawa keluar dari ruangan, Jeonathan menumpahkan dirigen solar yang di temukan nya di belakang pintu berikut pemantik api berlogo kelinci miliknya dari dalam saku jaket. Ia melemparkannya dalam kondisi menyala, seketika itu juga kobaran api melahap.
Jeonathan nampak puas sambil membawa Sucy dalam gendongan melalui pintu darurat.
*Ch**at grup* ;
Jeonhandsome ; Maaf Hyung, sedikit lecet. Kalau kau tak suka lagi biar untukku saja😍
Ia mengirim pesan tersebut pada grup chat yang hanya berisikan 3 orang penghuni.
Meski demikian, yang di panggilnya hyung tetap pada permintaannya.
CuteJhim ; Bodoh! percuma obat berhargaku.
Jeonhandsome ; Masih berguna, 😢 jangan memarahiku. Aku mencintaimu Jimmy hyung. Oh sepertinya tidak lagi kekekk.
CuteJhim ; Kau gila.
Jeonhandsome ; Kau lebih gila, kita semua gila 😍
Vcool ; Aku ingin dia hidup dan berhentilah membuat notifikasi.
CuteJhim ; Sniper always busy.
JeonHandsome ; Waa, Hyung main tembak-tembakan lagi. Seri apa kali ini?
Tidak ada balasan membuat Jeonathan merajuk, meski tahu hyung nya di sana jelas mematikan ponsel, berfokus pada benda kesayangannya membidik target.
Di usapnya dagu yang mulai di tumbuhi rambut halus. Sirine mobil pemadam kebakaran tiba, dengan bahagia Jeonathan melajukan Jeep nya usai membereskan tempat kejadian juga CCTV yang sudah di sabotase.
Malam ini, ia akan membawa Suzy terbang ke Los Angeles. Tempat dimana ia dan kedua Hyung nya bermukim.
⚫TBC⚫
__ADS_1