Assassin'S Lover

Assassin'S Lover
4• Still With Jeon


__ADS_3


⚫⚫⚫


Jet pribadi berjenis Airbus A380 yang dibeli dari miliarder asal Timur tengah kini mengudara dengan aman di ketinggian 35.000 kaki. Interiornya serupa kamar hotel mewah dengan dominasi warna putih dan emas.


Mata Sucyy terbuka perlahan, ia berbaring pada springbed dalam keadaan sudah berganti pakaian. Luka gores di lehernya pun sudah di obati. 2 jam telah lewat dan tentu saja efek obat bius mulai habis.


"Eungh" Kepalanya berdengung hebat. Ia jetlag selama tertidur. Matanya samar mendapati ruangan asing lalu menoleh lambat pada seseorang yang duduk di single sofa tengah sibuk dengan ponsel di tangan.


"Kau sudah bangun ya?" tanya nya sambil melirik melalui ekor mata. Jeonathan kini bangkit mendekat, tilam disana bergoyang saat ia bergabung. "Hai cantik." sapanya manis.


Sucy familiar meski nampak agak berbeda, tidak ada penampilan urakan seperti sebelumnya. Kaos oblong di balut jaket denim serta celana ripped jeans sudah berganti dengan kemeja rapi juga tuxedo licin, terlihat berbeda 180°.


"Ini dimana?" Masih lemas mengumpulkan sisa tenaga Sucy memberanikan diri bertanya.


"Dimana ya, Mm- hanya hyung yang bisa memutuskan kau akan berada di surga atau neraka. Hahha." Jeonathan tertawa.


Sementara Sucy menatapnya tidak mengerti, kali ini ia berusaha bangkit namun di tahan. "Jangan bangun dulu, kau masih lemah!"


"A-aku baru saja membunuh orang, aku harus menyerahkan diri." Teringat kembali hal mengerikan yang telah ia perbuat


What?


Jeonathan membelalak dengan manik bulat yang indah. No, thats not good idea.


"Nuna mau apa? kita sedang di pesawat. Katakan saja aku menculik mu, mana bisa kau menyerahkan diri ke kantor polisi. Lagipula, polisi itu menyebalkan. Lupakan sajalah!"


Bibir Sucy tak dapat mengatup hingga akalnya pulih ia berteriak, "apa yang kau mau? kenapa membawaku? Tolong, turunkan aku. Aku harus pulang." Ia memberontak meski kembali terjatuh akibat lemas.


Jeonathan memeluknya erat. Ia tak pandai membujuk wanita. "maaf ya, tapi perjalanan kita masih beberapa jam lagi."


Mata Sucy sayu menutup, satu ampul cairan bius kembali di suntikan ke tubuh. Jeon memilih cara praktis, ia masih ingin melanjutkan game di ponsel yang tertunda.


"Aku butuh ke kamar kecil."


2 jam kembali terlewati, alis Jeonathan mengernyit. Ia ikut terlelap lalu terbangun usai mendengar rengek Sucy.


"Buang air kecil saja di situ!" ketusnya yang merasa terusik.


Baiklah, Sucy tersadar bahwa ia sedang bersama pemuda sedikit miring yang menyuruhnya buang air di tempat sambil berbaring. "aku butuh ke toilet, siapapun kau lepaskan borgol sialan ini dari tanganku!" umpatnya mendapati kondisi terikat sambil menarik-narik kedua lengan yang diborgol pada bahu ranjang.


"Jeonathan, itu nama siapapun yang kau suruh ini. Jangan membuatku marah. Disitu saja, aku bisa beli jet baru kalau yang ini kotor!"

__ADS_1


Jeon itu menyeramkan kalau sedang marah dan ia baru saja terganggu dari tidur. Akan tetapi,


"Hais," rutuknya, meski demikian ia bangkit dari sofa. Teringat kembali pesan bahwa harus memperlakukan gadis itu dengan baik. Di lepasnya borgol lalu menyangga Sucy, membantunya berjalan hingga tiba di depan kamar kecil.


"Aku bisa sendiri sekarang." tolak Sucy risih akan lengan Jeon yang mendekap pinggangnya posesif. Pemuda itu terkekeh, efek bius masih bersisa namun gadis disampingnya ini berusaha sekali memaksakan diri.


"Kenapa ikut masuk? aku tidak akan kabur, tunggu saja di luar."


"Kalau kau jatuh, lalu lecet lagi nanti aku di marahi."


"Kau mau menungguiku? gila saja, eugh keluar lah." Pusingnya menyerang hingga kembali jatuh bergegas Jeon menahannya.


"Mck, kau terlalu merepotkan!" Disingkap Jeon dress Sucy tinggi ke atas lalu mendudukkannya ke toilet. Sigap saja Sucy menurunkan lagi dress tersebut dengan wajah memerah.


"Tidak usah malu segala, kau pikir siapa yang mengganti pakaianmu? aku. Aku sudah melihat tubuhmu jadi santai saja. Aku suka, by the way." Jeon kini menatapnya sambil menggigit bibir bawah.


"Yyak!!"


Benda apapun yang tergapai di lempar Sucy ke arah Jeon. Nafasnya tak beraturan masih lemas, meski demikian ia tidak terima. Hasrat manusiawinya pupus di makan kesal. Tak jadi buang air kecil dan beralih marah. "Kenapa kau melakukan itu padaku?"


"Melakukan apa? mengganti bajumu? melihat tubuhmu? tidak usah berlebihan, seperti masih virgin saja."


Sunyi kemudian, tentu. She's a virgin. Sucy memalingkan wajah. Mata Jeon berbinar cerah usai kepalanya mendapati fakta bagus lain. "Wow, jadi kau belum pernah ya?"


Mood Jeon itu mudah berubah-ubah, 3 menit lalu ia bisa saja melempar Sucy lewat jendela pesawat jika kesalnya bertambah. Sekarang sepertinya ia kembali bersikap baik dan menggemaskan.


⚫⚫



Ferrari seri 458 keluaran Italy yang berwarna merah terang sedang melaju di jalan tol Los Angeles, Jeon mengendarainya dengan kecepatan tinggi seperti pembalap.


"Kenapa? aku keren ya, seperti di film-film. Percayalah, aktor di layar itu hanya memakai figuran. Mereka amatir, kau aman berkendara denganku."


Kali ini tikungan tajam di hadapan, Jeon melakukan aksi drifting cantik yang berbahaya dengan apik. Sementara Sucy hampir jantungan gemetar berpegang pada gagang mobil di bagian atas.


Si pengemudi terkekeh, "wajahmu lucu sekali kalau ketakutan begitu."


Wajah kesal Sucy tak dapat disembunyikan lagi, ia melirik Jeon dengan sinis. Entah kesialan apa hingga harus terseret dengan pemuda setengah waras yang hobi bermain-main dengan nyawa ini.


25 menit perjalanan, Ferrari kini tiba memasuki mansion mewah berlantai 4 dengan parkiran khusus di bawah tanah. Hunian khas gaya hidup warga LA yang hedonis.


Jeonathan turun lebih dulu, sedikit berlari ia mengitari mobil mendatangi Sucy. "jangan berpikir untuk kabur, kau lihat belati di pinggangku?" Jeon mengangkat sedikit pakaian atas, memamerkan benda kesayangan tersebut. "namanya kooky, ia bisa terbang melesat tepat mengenai sasaran yang ku mau." ancam nya pelan.

__ADS_1


Sejak turun dari pesawat jet, tidak sepatah katapun keluar dari mulut Sucy. Terlalu terkejut dengan segala yang di alami mulai dari kejadian semalam.


Di sekitaran mansion ada 15 orang berjaga mengenakan setelan jas rapi. Serupa pengawal khusus mereka semua menunduk, memberi hormat atas ketibaan Jeonathan.


"Acuhkan saja Nuna, mereka tidak berguna. Ikuti aku." Lengan Sucy diseret guna menyusul langkah besarnya.


Sebenarnya Jeon tidak suka ide menambah keamanan, membuat privasinya terusik. Tapi (Charlie's) yang menginginkan. Ia begitu perhatian terhadap penghuni mansion di lantai atas, yang beberapa minggu lalu mengalami serangan.


Lift di tengah ruang menjadi tujuan utama, terlalu lelah jika mengitari tangga. Untuk apa lift di ciptakan jika tidak di pakai pikirnya. Mereka naik ke atas dalam kediaman.


Mansion di lantai dua adalah milik J dan yang teratas di huni oleh V, sniper handal yang meminta K membawa Sucy padanya.


K adalah kode nama milik Jeonathan.


Pintu masuk berwarna hitam dengan gagang besar berwarna emas menghadang. Menatap pintunya saja sudah dapat merasakan aura seram penghuni di dalam sana, hitam pekat seperti kepribadiannya.


Jeon masih belum melepaskan borgol di tangan, ia mendorong lembut pinggang Sucy agar masuk lebih dulu.


Benar saja, warna hitam masih mendominasi perabotan di dalam. Amat luas dengan 3 pintu hitam lain yang mengarah pada kamar tidur, kamar mandi serta satu kamar khusus ruang senjata.


Sucy di dudukan pada sofa hitam panjang dengan bulu wolf gelap. Jeon bergabung di sampingnya, menatap dengan senyum manis sambil melepas borgol.


"Santai saja, hyung akan datang sebentar lagi." Ia berdiri, akan pergi namun menahan langkah, "ahya, kalau hyung kasar padamu. Kau lari ke bawah saja minta tolong padaku, aku ada di lantai dasar. Tapi, aku ragu kau mampu berlari sebelum anak-anaknya bersarang di kepalamu hehhe." Jeon terkekeh sendiri.


Anak apa?


Sucy dibuat merinding, mungkin lebih aman bersama pemuda miring ini ketimbang lelaki misterius yang mendengar ceritanya saja sudah membuat ia takut.


"Dan Nuna, jangan menyentuh anak-anaknya. Dia tidak suka miliknya disentuh."


Jeonathan menatap ke atas, membuat Suzy ikut mendongak.


Ratusan senjata laras panjang, pistol api hingga jenis lainnya berada di langit-langit kamar. Tersusun rapi dengan kaca bening sebagai penyangga.


"Sampai jumpa." Jeon mengedipkan mata sebelum menghilang sepenuhnya.


Pintu kamar di tutup. Sucy dibiarkan sendiri dalam ruangan asing dengan kondisi takut dan penuh tanya. Ruangan terasa angker jika melihat banyaknya benda mematikan menjadi barang koleksi.


Siapa mereka ini?


Orang-orang ini serupa kriminal International.


Dan, mengapa ia menginginkan Sucy?

__ADS_1



⚫TBC⚫


__ADS_2