Assassin'S Lover

Assassin'S Lover
2. That Night


__ADS_3


⚫⚫⚫


Malam itu Sucy pulang terlambat, tepat pukul 02.00 KST. Swalayan tempatnya bekerja tengah mengadakan pengecekan stock opname dan ia tertinggal sendiri usai menyelesaikan pembukuan.


"Mau ku antar saja? Ini sudah sangat larut." tawar Brian, salah satu karyawan yang melanjutkan shift malam.


"Tidak perlu, tinggal jalan sebentar ke depan sepertinya masih ada taksi kok." tolak Sucy halus, tidak ingin merepotkan.


Ia merapatkan kardigan berwarna gading ke tubuh paska mendorong pintu kaca. Udara malam yang dingin segera menyapa. Kedua telapak tangan di gosokkan guna menimbulkan rasa hangat, Sucy melanjutkan langkah menyusuri jalan sunyi.


Sial sekali ternyata tak ada taksi yang lewat, sesal selalu di akhiran andai tadi ia menerima tawaran Brian. Kini Sucy terpaksa pulang ke rumah berjalan seorang diri. Kakinya mengayuh cepat menyusuri trotoar, berharap tidak bertemu para penjahat jalanan namun malah kejadian.


Berjarak 100 meter dari tempatnya berdiri, Sucy membelalak kala mendapati sekumpulan pria berjas hitam membawa beberapa tongkat dan senapan keluar dari sebuah gang.


Tak pelak ia menghindar dan memasuki gang lain tak ingin berpapasan. Mungkin saja itu suruhan atasan di rumah sakit ia bekerja dulu yang masih dendam akibat kesaksiannya tempo hari.


Setengah berlari ia menyusuri gang lain hingga tembok beton menjadi ujung jalan buntu. Ingin berbalik namun nampaknya kumpulan lelaki tersebut sudah tiba di depan gang yang Sucy masuki.


"Cari disana!"


Tubuh Sucy gemetar dengan napas memburu mendengar ada yang berteriak, ia hanya reflek berlari dan tak tahu harus apa lagi.


Tangannya tiba-tiba diseret menepi ke lorong, seseorang membekap mulutnya agar diam. "Ssst", bisik orang itu dengan penuh penekanan.


Sucy berusaha berontak dalam pelukan hingga suara langkah banyak pria berpatroli makin mendekat membuat ia terdiam.


"Shit, mereka gigih sekali ternyata." Bisa Sucy dengar orang yang membekapnya ini mengumpat dengan suara husky pelan.


Detik kemudian, tubuh Sucy di putar perlahan hingga mereka saling berhadapan. Tingginya 10 senti ke atas hingga ia harus mendongak guna melihat seperti apa rupanya. Meski gelap dan samar, bayangan wajahnya terlihat tampan.


"Kau mau membantuku?" bisik si pria sambil bertanya.

__ADS_1


Mata Sucy mengerjap bingung. Mendengar tidak ada penolakan membuat si pria misterius nekat melakukannya tanpa aba-aba.


Mendaratkan ciuman.


Memaksa bilah bibir Sucy terbuka agar bisa ia *****. Sementara tangannya sudah memeluk tubuh Sucy erat. Tas selempang Suzy jatuh dari pundak efek terkejut.


Cita rasa besi mendominasi, anyir ini sangat Sucy hapal dan ia sukai. Rupanya sudut bibir si pria tengah berdarah hingga bercampur dengan saliva mereka yang saling bertukar.


Aroma darah yang menguar, penerangan cahaya hanya semburat malu dari rembulan di atas sana membuat keduanya makin tertarik layaknya magnet.


"Disana! aku mendengar sesuatu." 2 orang pria berjas hitam dengan tongkat baseball di tangan berjalan mendekat.


Namun, yang mereka dapati ialah sepasang anak muda tengah bermesraan.


Ekor mata Sucy melirik takut merasa dua orang itu akan menghampiri, bergegas ia meremas kemeja hitam si pria dengan kencang. Satu tangannya bahkan kini mengalung di leher si pria misterius.


Seolah-olah mereka sepasang kekasih tak bermodal hingga bercumbu di gang sepi yang tengah larut dalam intimitas.


"Cih, dasar tak tahu tempat!" gumam pria yang memegang tongkat, "Kita cari di tempat lain." ajak temannya menjauh.


Usai yakin mereka aman, si pria misterius melepaskan pagutan hingga jalinan saliva menyisa. Degup jantung bertalu kencang meski jelas itu milik Sucy yang tidak karuan. Sementara si pria misterius masih amat tenang mengendalikan diri.


Tersadar apa yang terjadi, di dorongnya dengan kencang tubuh si pria menjauh hingga terjatuh. Ia terlihat meringis.


"Brengsek!" umpat Suzy nyaring, ia berlari cepat sambil membenarkan tas di bahu. Tidak perduli kondisi orang yang ia dorong. Itu ciuman pertamanya yang baru saja dicuri.


Menyisakan si pria yang jatuh di aspal terkekeh sambil menyeka darah di bibir. Ia meringis lagi teringat 2 butir peluru masih bersarang di perut. Matanya menyipit kemudian mendapati kartu tanda pengenal milik si gadis yang terjatuh di hadapannya.


"Bianca Sucy, i got u."


Malam itu, Sucy tidak dapat tidur nyenyak. Darah banyak menempel di kardigan yang semula di kenakan. Rupanya lelaki itu terluka parah hingga banyak mengeluarkan darah.


Ia menyentuh lagi bibirnya mengingat jejak yang tertinggal. Kontaminasi dari rasa besi anyir dan nikotin manis yang melekat pada bibir si pria sangat unik rasanya.

__ADS_1


"Astaga, aku pasti gila memikirkan begitu. Damn it, itu ciuman pertamaku yang di curi. Argh!" Di tutupnya wajah yang memerah dengan bantal. Sucy berusaha melupakan kejadian sejam yang lalu, meski nampak sulit dengan rasa sedikit bersalah mengingat ia meninggalkannya dalam keadaan terluka.


•••


Beberapa hari kemudian.


Sore itu cuaca nampak mendung, Sucy bersiap pulang sambil menunggu kedatangan Brian demi bertukar shift. Seorang pelanggan masuk, Ia terlihat mengenakan hoodie hitam kebesaran dengan penutup kupluk di kepala.


Wajahnya seperti remaja polos manis meski banyak pearching di telinga. Salah satunya bahkan menjuntai panjang. Tatto di tangan terlihat menjalar usai ia menyingsingkan lengan, ia mengeluarkan sesuatu dari balik saku hoodie.


"Apa ini milikmu?" Ia melirik lagi tanda pengenal tersebut usai yakin fotonya serupa dan menyipit memperhatikan tahun kelahiran si gadis. 3 tahun di atasnya, "Nuuna ya?" tanya nya memastikan.


Sucy membelalak, tanda pengenal itu benar miliknya yang hilang. Reflek mengangguk dan tersenyum riang. "Ahya benar itu milikku. Terima kasih, aku kehilangannya beberapa hari yang lalu."


Pemuda itu menyerahkannya, tersenyum dengan bibir menawan juga gigi kelinci yang manis. Ia tak melanjutkan perbincangan, berlalu menuju lorong barang sambil berpura akan belanja.


Sementara Sucy tersenyum lega, akhirnya pemilik Swalayan tidak lagi memarahinya akibat tak memakai tanda pengenal karyawan.


Toko tengah sepi saat ini, hanya ada ia dan si pemuda manis yang sibuk memilih barang.


Sucy menjauh sejenak dari mesin kasir, meletakkan 2 barang belanjaan pembeli yang batal transaksi. Hendak kembali namun ponsel di sakunya yang bergetar menahan langkah. Ada sebuah pesan yang membuatnya sibuk membaca hingga lengah.


Mendapat kesempatan, pemuda itu mendekat diam-diam dari belakang. Bersiap mengeluarkan jarum suntik dari saku hoodie. Berisikan cairan obat bius berkadar tinggi.


"Hyung bilang aku harus membawamu tanpa lecet." gumamnya pelan.


Ia menyeringai lagi, sangat berbeda dari wajahnya yang manis. Pemuda itu sangat bengis dan berbahaya.


Di banding dengan kedua rekannya, ia cenderung penyuka kekerasan. Hingga tugas kali ini di rasa berat tanpa melibatkan otot.


Tipikal pelaksana yang lebih suka melenyapkan target usai memberi hantaman, lalu menarik penuh nafsu usus keluar dari perut disertai darah segar dengan kondisi target yang masih setengah hidup.


Pemuda ini amat menipu, wajahnya tampan dan begitu polos namun tidak pada otaknya. Ia psycho urakan yang mengerikan. Yang tengah di beri tugas membawa Sucy pada hyung-nya dengan aman.

__ADS_1



⚫TBC⚫


__ADS_2