Assassin'S Lover

Assassin'S Lover
6• New Day


__ADS_3


⚫⚫⚫


"Morning Nuna," Jeonathan sumringah bergabung di meja makan sementara Sucy sudah ada di sana 20 menit yang lalu, sendiri. Namun itu lebih membuatnya nyaman. Terkadang bola matanya bergulir teliti ke sekeliling, berharap tidak menemukan Christie yang tiba-tiba muncul membuatnya jantungan.


"Jimmy hyung sudah pergi?" ia bertanya pada Mr.Varys yang menuangkan segelas susu padanya. Mr.Varys tersenyum, "Tuan Jimmy berangkat pagi sekali, sepertinya dia ada keperluan."


Jeonathan mengunyah sepotong sandwich dengan lahap lalu meminum susu favoritnya dengan segera, sepertinya tak ada niatan untuk makan sambil duduk. Tentu saja, ini sudah hampir terlambat.


"Ayo Nuna, kau akan memulai harimu dengan baik. Tentu saja, karena aku di sampingmu." Jeonathan mengedipkan mata sambil berlalu lebih dulu menuju Ferrari kesayangan.


"Astaga, aku ingin menabrak mereka semua." umpatnya jengah menemukan pengawal yang kini bertambah 5 di depan gerbang. "Hehe, kau lihat mereka lucu sekali bukan? apa kita tabrak dulu beberapa untuk kesenangan pagi ini?"


Mata Sucy melotot, ia bergegas menahan lengan Jeonathan pada setir mobil. "J-jeon, jangan membuang waktumu untuk hal seperti itu, ayo kita pergi. Bukankah nanti akan terlambat jika kau bermain-main?"


Sucy menelan ludah kasar, entah dari mana Jeonathan memiliki ide seperti itu. Ia berharap tidak melayangkan nyawa orang lagi tapi sepertinya mustahil dan harus ekstra memeras otak untuk mengendalikan pemuda miring bersamanya ini.


"Kau benar Nuna. Kita lakukan nanti malam saja. Pasang seatbelt mu dengan kencang, aku akan ngebut."


•••


Universitas Of California


Perasaan luar biasa tak dapat ia sembunyikan. Tak pernah terbayang akan melanjutkan pendidikan di luar Korea lebih lagi di Universitas yang bergengsi. Rasanya dada Sucy membuncah takjub ia bisa berada disini, dalam keadaan baik, bernyawa dan sebut saja beruntung.


Manik indahnya menatapi kagum pada gedung Universitas yang tinggi. Berkas kelengkapan dengan jurusan kedokteran di tangan makin membuat Sucy nganga, sulit percaya meski semua yang terjadi padanya jelas bukan mimpi.


"Jangan buka mulutmu seperti itu, nanti lidahku penasaran ingin masuk ke dalam sana."


Jeonathan menekan kunci otomatis pada mobilnya yang terparkir sambil menggoda. Merasa lucu dan gemas pada ekspresi Sucy. Pemuda itu, bukan hanya tindakannya yang berantakan. Lidahnya juga gemar berucap frontal meski terkesan hgg - seksi.


Sucy harus berpijak lagi pada kenyataan, mesti mengendalikan diri. Hal terutama yang di ingat adalah siapa yang bersamanya. Nyawa adalah harga yang ia bayar jika tidak berhati-hati.


Mereka beriringan dengan Jeonathan selangkah di depan, ia terlihat sibuk mengutak-atik ponsel sambil melihat jalan. Terkadang Sucy harus sedikit berlari agar tidak tertinggal.


Puluhan mata awas memperhatikan, gadis-gadis gotik hingga kumpulan bermacam geng menatapi dengan bermacam dugaan.


Jeonathan is a Prince of University.


Ia dikenal tak tergapai dan sulit di dekati. Tidak pernah terlihat dengan wanita manapun usai semester awal dulunya, dimana sang wanita tewas meski ia dinyatakan tak bersalah.


Ia masih menjadi most wanted.


Not only woman, sungguh terlalu banyak yang menginginkannya. Proporsi badan Jeon amat menggiurkan dengan rupa manis tiada tara. Belum lagi gaya berpakaian hingga mobil yang di kendarai, He is totally hawt.

__ADS_1


Rumor ia menjadi gay berhembus secepat semilir angin di musim gugur. Jeon dikira kekasih dari donatur utama Universitas, Tayler yang terlihat sering diekorinya. Hingga kini bahkan para lelaki di kampus pun ikut berharap dilirik oleh Jeonathan yang dianggap omniseksual.


Gedung sayap kiri di lantai 2, Jeon menghentikan langkah. Mereka tiba di depan kelas untuk Sucy.


"Nuna, kau akan mengikuti kelas dari sini. Ahya, ingat selalu pada kooky hmm. Kalau kau berencana lari atau semacamnya, ku pastikan ujung tertajam akan menancap di dadamu itu dan aku akan bersenang-senang meski dengan mayat mu okay."


Sucy harus memproses cepat apapun yang keluar dari mulut Jeonathan. Ia terdengar mengatakannya dengan tawa meski jelas akan jadi kenyataan. Tidak, Sucy tidak ingin cepat mati.


Pucuk kepalanya diusak hingga rambutnya yang di ikat separuh sedikit berhambur.


"Kelasku ada di gedung sebelah, juga tidak perlu berteman dengan siapapun. Jika ada yang bertanya sebut saja aku kekasihmu, deal?"


Anggukan kepala Sucy terasa kaku, ia menatapi punggung Jeon yang perlahan mengecil hingga menghilang di tikungan.


Mulutnya berhembus napas lega, baru sekarang paru-parunya memiliki ruang lebih. Di banding bersama Tayler, sebenarnya Sucy lebih lama bersama Jeonathan. Namun tetap saja kesan ciut tak hilang. Pemuda itu sulit di tebak, ia bisa bersikap manis apabila sedang senang. Yang Sucy lakukan saat ini sebisa mungkin membuat pemuda itu tidak jengkel hingga hal yang tak ingin ia bayangkan akan kejadian.


Pintu di dorong, beberapa mahasiswa lain menoleh sisanya masih bersikap acuh.


Wajah khas Korea nya mengundang sedikit perhatian kala ditatap, bening dan menyegarkan hingga orang-orang yang acuh kini memutar leher demi bisa menelisik lebih dalam dengan sorot kagum.


"Excuse me," ia menyerahkan amplop yang di dapat saat keluar dari ruang administrasi bersama Jeon sebelum kemari.


Toleransi sedikit diberi, meski wajah datar sang Dosen masih membingkai. Ia di persilahkan memilih tempat duduk. Satu kursi kosong mencuri fokusnya. Di Sana, di samping pria yang sibuk pada catatan di buku.


Dua gadis yang memang sedari awal penasaran mendekat, berbisik saat Sucy duduk nyaman. "Kau yang tadi pagi berangkat dengan Jeonathan 'kan? apa kau kekasihnya?"


Satu gadis di belakangnya berseru senang, "Nah, that's true. That fucking cute boy is gay!"


Mereka mengundang seisi kelas menoleh, pun sang Dosen. "Ms. Zoya once again, you have to go out of my class."


Gadis dengan rambut serupa permen kapas kuning itu mengangguk minta maaf. Nancy, gadis yang di samping menertawakan temannya barusan. "nanti kita bicara lagi, okay." ia kembali berbisik pada Sucy sebelum kembali pada posisi semula.


Sucy balas tersenyum, kali ini fokus pada pembahasan Dosen hingga jam pelajaran selesai. Pembagian tugas kelompok sebagai penutup, ia celingukan mencari teman. Masing-masing sudah memiliki aliansi nya sendiri.


"Karena kau mahasiswa baru, ku sarankan kau mengajak Mint untuk satu kelompok." kata Zoya yang kini sudah satu kelompok dengan Nancy. "Mint?" Alis Sucy terangkat satu. Namanya terdengar unik.


"Second most wanted, yang paling baik dan ramah. Kalau ada polling lelaki idaman, aku akan memilih Mint daripada Jeon yang gay itu." tambah Zoya lagi.


Amat mustahil perbincangan tersebut tidak sampai di kuping Mint yang hanya berjarak 3 kursi meski ia terlihat tak perduli.


Dengan hati-hati Sucy mendekatinya, "Hai, apa kau sudah memilih pasangan tugas?"


Lelaki yang diajaknya bicara menoleh sambil merapikan isi tas. Ia tersenyum ramah, benar sekali apa yang Zoya katakan "belum." ucapnya dengan nada bersahabat.


"Hg, bisa kau membantuku? maksudku satu kelompok denganku. Ahya, aku Bianca Sucy."

__ADS_1


Disambut Mint uluran tangan Sucy tanpa sungkan. "Jimmy, itu namaku. Kau bisa memanggil ku Mint saja. Baiklah, Ayo kita ke lab. Lebih cepat kita selesaikan itu lebih bagus."


Dan tentu saja Sucy senang bukan main. Mint terasa sangat ramah. Ia bahkan terus berbicara secara sopan menjelaskan hal yang perlu Sucy ketahui mengenai Universitas. Berada di satu jurusan dengan ketertarikan yang sama membuat keduanya merasa cocok.


Meski sedikit terbesit rasa janggal, Jimmy? bukankah ia baru mendengar nama itu kemaren? bahkan pagi ini di meja makan. Sucy menipisnya, mungkin hanya kebetulan. Tidak mungkin ini Jimmy yang sama.


Jimmy yang lebih akrab di sapa Mint ini jauh dari kata aneh, ia ramah bahkan terkesan di hormati melihat banyaknya yang menegur ketika Sucy dan Jimmy berpapasan dengan mahasiswa lain.


Ia jelas berbeda dengan bayangan Sucy mengenai penghuni mansion di lantai dua tempatnya bermalam. Jimmy yang itu pasti juga seram seperti kedua rekannya.


Terlebih, Tayler dan Jeonathan itu benar-benar berpenampilan kriminal menurut Sucy. Ia pernah melihat tubuh mereka di penuhi rajah tatto bermacam-macam. Sudah pasti Jimmy yang di mansion itu juga memiliki banyak tatto.


Tapi Jimmy yang ini tidak memiliki tatto, ia begitu bersih, penampilannya rapi dan kasual. Sucy menelisik teliti ketika kemeja putihnya tersingsing hingga siku, benar saja tidak ada tatto apapun.


Pasti hanya nama yang sama.


Sucy tidak tahu, Jimmy yang di mansion dan di sampingnya ialah orang yang sama. Hanya saja, ia tengah berkamuflase.


Jimmy tidak ikut-ikutan merajah tubuh dengan tatto yang menurutnya kotor, juga statusnya di jurusan kedokteran mengharuskannya bersih dari hal tersebut.


"Apa lab selalu kosong?" tanya Sucy usai Jimmy dengan manner mendorong pintu kaca dan memberinya akses masuk lebih dulu.


"Hm, hanya di jam tertentu. Biasanya ramai kalau sudah deadline tugas di kumpul baru mereka sibuk disini. Kau bukan tipe seperti itu bukan? maksudku.."


Sucy bergegas memotong ucapan Mint, "Tentu, ah maksudku selama bisa di lakukan segera, kenapa mesti menunda? aku senang satu kelompok denganmu. Sepertinya kita sedikit memiliki kesamaan."


Mata Jimmy menyipit lucu, ia sumringah tersenyum sampai-sampai sudut matanya mengerucut membentuk bulan sabit. Disibak nya rambut ke atas dengan gagah. Mint memang menawan, kemeja putih bersihnya di masukkan rapi ke dalam juga celana kainnya nampak licin.


Mereka satu kelompok di hari pertama, dan percayalah bukan tanpa alasan Jeonathan menyebutnya Professor gila. Meski saat ini ia memegang jabatan Asisten dosen kedokteran di Universitas.


Namun, ia memiliki lab. sendiri di mansion. Laboratorium tempatnya melakukan banyak percobaan di luar akal.


Jimmy ialah pencipta berbagai obat terlarang juga berbagai serum mematikan, obsesinya terbilang menyeramkan.


Jika korban Tayler dan Jeonathan tak mati, maka Jimmy akan memintanya guna bahan untuk malpraktek. Sebagai gantinya, Jimmy menciptakan pil-pil bagus dengan harga mahal yang diberikan pada Charlie's mereka, pengedar obat terlarang sekaligus Ketua Assassin yang membawahi dua pengeksekusi sadis.


Tayler, sniper handal yang khusus menangani pelenyapan orang-orang penting seperti pejabat gedung putih. Mereka di kawal ketat sehingga Taeyler sering di operasikan untuk klien seperti itu, ia ahli menembak jarak jauh.


Jeonathan lebih serupa hit man, ia bertugas mengamankan Tayler ataupun berada di garis terdepan kala beraksi. Jika memerlukan pembunuhan head to head, Jeon adalah ahlinya, juga sedikit unik dengan hobinya yang gemar menguliti korban.


Tidak jarang ia bentrok dengan Jimmy, pemuda yang ia panggil hyung itu sering mengomel jika korban sudah di rusak Jeon duluan sebelum bisa ia jadikan bahan praktek. Tayler lah yang turun tangan menjadi penengah.


Dan Sucy baru 2 hari bersama mereka, ia belum mengenal siapapun di sekelilingnya.


Akankah ia terpengaruh hingga ikut terlibat dalam lingkaran hitam yang sama, atau justru menjadi pengubah jalan hidup ketiganya?

__ADS_1



⚫TBC⚫


__ADS_2