Assassin'S Lover

Assassin'S Lover
5• I Owe You A Life


__ADS_3


⚫⚫⚫


Sudah lebih 20 menit Sucy duduk di sofa tanpa ada pergerakan. Takut barang beranjak sejengkal nyawanya bisa melayang. Bulir peluh sebesar biji jagung menetes di kening. Ia gugup bukan main, melirik ke sisi atas di hadapkan pada senjata mematikan. Berbagai koleksi bangkai kepala binatang yang di awetkan berada di sisi kiri dan kanan ruangan menambah kesan seram.


Bahkan sofa tempatnya duduk sangat mungkin terbuat dari bulu serigala asli yang telah di kuliti. Berharap tidak terjadi hal buruk padanya, namun pikiran takut telah berkuasa. Bagaimana jika ia akan di mutilasi?


Ia mematung hingga suara sesuatu terdengar mendekat, membuatnya terlonjak dari sofa. Hendak memekik kala menjumpai sosok Lolita slave toy. Hidup, merayap, amat cantik dengan rambut pirang juga mata hijau yang menawan.


Histeris Sucy tertahan hingga membuat suaranya tercekat serak tak percaya apa dihadapan.


Kalian tahu Lolita slave toy? ia adalah manusia, gadis remaja cantik yang berusia kisaran 12-14 tahun. Ia hidup meski tak lagi dapat bicara. Matanya begitu menawan kala berkelip. Mereka biasanya para gadis muda hasil perjual-belian atau di culik.


Namun, ada sesuatu yang tidak biasa padanya hingga membuat Sucy membelalak. Saat pembuatan, tangan dan kakinya di amputasi juga lidahnya di buat bisu. Ia berjalan seperti kura-kura menungging dengan sepasang kaki dan tangan yang sudah di potong sama panjang. Yang di anggap berharga hanyalah bagian kepala hingga paha, sisanya di amputasi dan di buang.


Dibuat demikian agar Lolita slave toy tidak bisa melawan tuannya. Seperti fungsinya, sang pemilik hanya bersenang-senang dengan alat vitalnya. Harga untuk memiliki pun luar biasa mahal, bahkan harus memesan khusus jika menginginkan mainan hidup tersebut. Hanya spesial dimiliki oleh orang-orang dengan kelainan **** yang bermandikan dollar.


Ia bergerak perlahan mendatangi Sucy. Slave toy itu mengenakan kaos singlet hitam, rambut pirangnya di ikat tinggi dengan poni tebal. Wajahnya tak ada ekspresi, namun luar biasa cantik. Persis seperti boneka yang bernyawa.


Sucy beringsut ke atas bahu sofa. Ia tahu makhluk itu sama sepertinya. Bukan robot atau boneka. Mereka sama bernapas, terlihat ia mengucapkan suku kata namun tak ada yang terdengar.


Pintu terbuka, membuat kedua gadis itu menoleh bersamaan.


"Cristie, kau disini rupanya. Ayo turun, Jimin mencari mu."


Seperti binatang berkaki empat yang merangkak ia menyusul sumringah ke depan pintu. Pria yang memberi perintah itu mengangkatnya serupa bayi dan membawanya berlalu dari ruangan. Sekali lagi, ia di tinggal sendiri dengan isi kepala makin di penuhi ketakutan.


Sucy bangkit, berjalan cepat menuju balkon samping. Bagaimana jika nasibnya akan naas seperti gadis itu? di amputasi hanya untuk mainan orang-orang gila, lebih baik ia mati saja.


Langit senja yang berwarna jingga mulai terusir oleh pekat hitam milik sang malam. Air matanya mulai menetes, takut sekali akan nasibnya. Di usapnya lagi basah di pipi. "Ayah, Ibu, Erik, maafkan aku." ia berniat terjun melompat.


Seseorang berhasil menahan tubuhnya, menarik nya segera kembali naik ke atas. Napas Sucy terburu bergetar. Jika ia jatuh tadi maka pagar besi runcing akan menyambutnya penuh kemenangan di bawah sana.


Ia kembali di tuntun masuk. Segera sang penghuni kamar menutup seluruh akses jendela dan pintu kaca. Tidak ingin gadis yang susah payah di dapatnya ini kembali bertindak bodoh.


Pria itu sangat tampan, hidung bangir nya menjadi fokus utama. Tegak berdiri dengan sempurna juga matanya besar, lebih tajam dari elang. Bulat dan tegas. Bahkan alis tebalnya memperjelas bahwa wajahnya lebih nyata dari pada manniquen. Rahangnya persegi rupawan dengan bibir tebal yang seksi.


Sucy dibawa kembali menuju sofa, pria itu menjauh sejenak. Ia meraih teko emas bertangkai tinggi di atas meja. Menuangkan isinya pada gelas dan berjalan mendatangi Sucy. "Minumlah, ini hanya air putih."


Gelas terlempar dari tangan, isinya tumpah mengenai lantai. Sucy menolak, ia bangkit mundur. "jangan mendekat, jangan mendekatiku! kau mau apa? hiks, tolong jangan sakiti aku."


Pria misterius ikut bangkit dengan smirk menawan. Mendekat penuh intimidasi hingga Sucy menciut kaku dan tertahan pada dinding tidak bisa mundur lagi.


Masih dengan senyum yang sulit di artikan, lengan besar si pria memerangkap. Saklar lampu yang berada di samping ia matikan hingga ruangan seketika remang menjurus gelap.


Ditekannya bibir bawah Sucy dengan Ibu jari, lalu mengusapnya dengan lembut.


"Ini, kau ingat ini? disini, kau memberiku hidup baru."

__ADS_1


Bola mata Sucy bergulir naik mencari jawaban atas teka teki. Pandangan mereka akhirnya bertemu pada lini yang sama. Dalam kegelapan seperti ini, juga aroma feromon yang mulai masuk dalam ingatan. Bibirnya masih di tekan lembut, memberi sepercik kode kunci untuk ditebak.


That night.


Di dorongnya kencang tubuh si pria hingga terjatuh ke lantai. Sama persis seperti malam itu, hingga Sucy berhasil menemukan jawaban. Ia berlari menuju pintu, berusaha keras membuka namun sayang tidak bisa. Si pria tertawa kecil, masih sama seperti malam itu dimana ia kembali di dorong.


Layar LCD besar berukuran 80 inci menyala tiba-tiba, seketika Sucy menoleh sadar betul siapa yang ada di dalam layar.


"Sucy, halo sayang." Terlihat 3 orang duduk di sofa sambil mengangkat kue tart. "selamat ya atas beasiswa Kedokteran mu. Ibu bisa memaklumi kalau kau sibuk hingga tak sempat memberi kabar. Tapi orang penting yang di kirim dari rumah sakit sudah menjelaskan semuanya pada kami. Juga, ia menitipkan uang atas kerja kerasmu. Selamat ya sayang akhirnya kau bisa melanjutkan kuliah lagi. Ibu doakan agar kau selalu sehat dan berhasil, jangan lupa beri kami kabar nanti."


TV di matikan kemudian, pria itu berjalan menyalakan lampu hingga mereka saling memandang. Sucy mendekat perlahan, ia tidak mengerti namun butuh jawaban.


Keluarganya tidak di ancam, juga terlihat bahagia. Untuk apa?


Pria misterius dengan kode nama V itu menyender santai pada meja. Mengeluarkan kotak rokok menthol dari kantong, mengambil sebilah yang di tempatkan nya pada bibir. Pemantik melahap ujung rokok dengan api hingga menyala menghasilkan bara pembakaran nikotin. Ia menghirupnya secara dalam, mengendap di paru sebelum asapnya kembali keluar. Semoga saja ia tak terkena kanker paru kelak.


Yang di dalam layar tadi adalah keluarga Sucy, Ayah, Ibu juga Erik adiknya yang duduk di tingkat akhir SMA.


"Untuk apa? apa maksud semua ini?" Sucy bertanya meminta penjelasan.


V fokus menghisap rokoknya hingga tersisa separuh, di tekannya ujung bara pada asbak bermotif penyu. Kini langkahnya menyambangi Sucy yang kembali mundur takut.


Pinggang Sucy dicengkram, V mengamatinya penuh hasrat. Berbisik di telinga seperti tengah menggoda.


"I owe you a life, aku ingin membayarnya padamu." Suara husky miliknya benar-benar dalam. Namun Suzy tidak terpesona atau mungkin belum untuk saat ini.


"Dengan menculik ku huh?" nada bicara Sucy kini berani meninggi.


"Aku sudah mendengar kehebatan mu semalam. Gadis impulsif yang sepertinya sudah membuat rekanku jatuh hati. Sebaiknya jangan kau ulangi, akan repot jika ia benar-benar menginginkanmu nanti." tutur V sambil menyunggingkan senyum.


"Aku tidak pandai bermain tebak kalimat, aku juga tidak mengenalmu. Kalau kau merasa berhutang nyawa padaku, sekarang bisakah kau pulangkan saja aku dan kita anggap lunas apapun yang ingin kau rencanakan."


"Tck-tck-tck," Jari telunjuk V bergoyang tanda menolak. "tidak seperti itu cara kerjanya, sayang." Kali ini ia melepaskan Sucy, kembali duduk di sofa dengan aura mendominasi.


"Malam itu kau menyelamatkan nyawaku, jadi aku akan membayarnya penuh. Kau akan disini, seperti yang kau dengar di layar tadi. Itu yang akan kau lakukan. Pulang? setelah kau terlibat pembunuhan, kau pikir kau bisa pulang dengan tenang?" V menunduk menyembunyikan perasaan lucunya. Gadis di hadapannya amat polos, membuatnya kian gemas.


"A-aku akan menyerahkan diri pada polisi." jawab Sucy tidak yakin.


"Lalu keluargamu? ku dengar ayahmu sudah 2 kali gagal jantung. Apa ia bisa bertahan jika tahu putri kebanggaannya menjadi pelaku pembunuhan?"


Sucy meremas ujung dress nya, itu benar. Jika pulang bukan hanya ia yang menderita juga seluruh keluarganya di Gwangju. Membayangkan berita pembunuhan sadis yang dilakukan mantan perawat pada Dokter atasannya pasti membuat heboh semenanjung Korea.


V melirik pergelangan tangan kirinya dimana terdapat jam tangan dari bahan emas putih. Ia bangkit, berdiri membenarkan kancing jas.


"Aku ada pekerjaan penting dan kau beristirahatlah, aku tidak akan mengganggumu malam ini. Ahya, Mr.Varys akan datang memenuhi kebutuhanmu. Jangan tidur larut, besok hari penting untuk Mahasiswa baru. Selamat malam, Bianca Sucy."


V melangkah keluar, meninggalkan Sucy yang kini terduduk lemas di lantai. Ia baru bisa bernapas normal sekarang. Ia bahkan belum makan sejak kemarin, belum lagi obat bius mengambil banyak nutrisi tubuhnya. Rasanya terlalu sulit memaksa otak berpikir keras mengerti di saat tubuh tiada asupan.


Kali ini pintu terbuka, pria setengah baya dengan usia kisaran 45 tahun muncul beserta dua maid berseragam hitam menyusul sambil mendorong troli berisikan banyak menu makanan.

__ADS_1


"Selamat malam Nona, saya Mr.Varys kepala pelayan di rumah ini. Ini makan malam anda juga ada beberapa pakaian yang bisa anda kenakan. Apa anda ingin mandi dulu? saya akan menyiapkan air panas kalau anda mau."


Sucy menggeleng, "Aku lapar."


Mr.Varys tersenyum. Menitah lewat kode pada maid agar menyiapkan pemandian sementara maid yang satunya memindahkan makanan ke meja. Menu Italy tersaji, usai siap semua maid keluar terkecuali Mr. Varys.


"Saya sarankan anda tidak perlu memberontak jika ingin hidup tenang. Tuan Tayler adalah pria baik selama hatinya senang."


"Tayler?" Sucy mengulanginya, jadi nama pria itu Tayler.


Mr.Varys mengangguk. Ia menuangkan red wine di cangkir panjang untuk Sucy yang kini sibuk mengunyah makanan. Ia lapar sekali hingga menyingkirkan rasa ego dan malu, pemuda yang membawanya kemari semalam tidak sempat memberi makan.


"Anda akan berangkat bersama Tuan Jeon besok pagi. Ia tidak suka menunggu, jika terlambat lebih baik anda yang menunggunya. Saya sudah menyiapkan berkas penting yang anda perlu bawa besok pagi juga--"


Penjelasan Mr.Varys terhenti, Sucy memegangi lengannya. "apa jika aku berontak maka nasibku akan seperti wanita kecil itu?" Raut takut dan sedih memucat di wajahnya kala teringat slave toy. Berharap jawaban yang ia dengar tidak buruk.


Mr. Varys tersenyum, "rupanya anda sudah berkenalan dengan Cristhie. Ia milik Tuan Jimmy penghuni mansion di lantai dua. Tuan Tayler membawa Christie pulang untuk hadiah pada Tuan Jimmy yang baru saja kehilangan wanitanya. Saya tidak ingin menutupi apapun, tapi wanita yang kabur dari sini nasibnya terlalu tragis untuk di ceritakan. Jadi saya harap Nona dapat bijak bersikap selama mereka memperlakukan anda dengan baik."


Mr.Varys menjauh, Sucy kenyang mendengar hal tersebut. Mr.Varys membuka kembali gorden hingga sinar purnama bulan mencari celah masuk ruangan.


"Pemandian anda sudah siap, jika Nona memerlukan hal lain Nona bisa memanggil saya melalui sambungan telpon di nomor 2 maka saya akan segera kemari." Mr.Varys berlalu pergi sambil mengunci pintu dari luar sesuai perintah.


Menyisakan Sucy yang kini bisa berpikir normal usai perutnya terisi nutrisi. Ia menjauh dari meja, ini menguntungkan sekaligus sangat berbahaya jika di timbang. Tangannya terlihat berhitung mengingat kembali siapa saja yang di sebut Tuan oleh Mr.Varys, semua ada tiga dan sudah ia temui dua di antaranya.


Sucy cukup cerdas untuk membedakan kepribadian keduanya usai pertemuan singkat mereka. Ia harus bertahan hidup disini jika ingin bisa pulang kembali pada keluarga.


Ia memilih menghirup udara segar berjalan keluar veranda, tangannya membentang di pagar pembatas balkon. Tidak pernah menduga malam dimana ciuman pertamanya di curi itu menghantarkannya pada dunia berbeda yang begitu penuh hal mengerikan.


Sucy melamun lama hingga tersadar paska menoleh ke bawah. Di lantai dasar sisi kirinya berdiri ada kolam renang besar yang berbatasan dengan tebing laut.


Di bawah situ, pemuda tampan dengan proporsi badan sempurna yang hanya mengenakan celana hitam tengah berenang.


Mata mereka bertemu hingga si pria menyender pada sisi kolam. Menatap balik Sucy penuh arti, lalu ia melemparkan senyum berbahaya yang sepertinya tak bagus jika dibalas. Bergegas Sucy membuang muka, kembali masuk dan menutup pintu.


Si pria tertawa sambil bergumam sendiri, "Nuna, turun saja kalau kau bosan di sana. Aku bisa mengajakmu bermain banyak hal menyenangkan."


Menurutnya penghuni lantai atas itu membosankan meski sangat ia hormati. Jeonathan akan bersedia dengan senang hati membuat Sucy nyaman bermain jika bersedia mendatanginya.


Jeon melakukan satu putaran renang lagi sebelum naik tangga kolam. Ia terkaget kemudian dan hampir tercebur kala mendapati Christie yang merangkak di hadapannya.


"Shit, beraninya kau muncul di hadapanku!" Jeon yang kesal hendak menendang Christie seperti kucing jika saja Jimmy tidak tiba tepat waktu. "A-a-a, berani menyentuhnya maka aku akan menyuntikkan obat penghancur di otakmu itu."


Jeonathan berjalan menjauh guna mengambil handuk, tidak jadi menendang Christie.


"Dasar Profesor gila !" ia mengumpat pelan. "Ah-Hyung, kau sudah melihat gadis yang ku bawa untuk Tayler?"


Tentu saja iya, Jimmy melihat kedatangan mereka sejak awal melalui CCTV. "tidak tertarik." acuh jawabannya sambil membawa Christie pergi. Tak ingin di cederai oleh Jeonathan yang gemar melakukan kekerasan fisik.


"Hyung, jangan mendekatinya ya. Nanti kau juga suka. Aku peringatkan sebelum kau menemuinya langsung."

__ADS_1



⚫TBC⚫


__ADS_2