
⚫⚫⚫
Jimmy benci pada para gadis pencari perhatian. Meski begitu, demi membuat jati dirinya aman ia tetap bersikap baik dan ramah. Tidak sedikit para mahasiswi yang mendekatinya. Lagi dan lagi Jimmy harus menarik sudut bibir manis meski jengah.
Semua tidak lepas dari suatu kejadian di masa lalu, tentang wanitanya sebelum memiliki Christie.
Saat ini ia tengah berduaan dalam lab. bersama Sucy. Jas putih khas kedokteran dengan panjang menjuntai sepaha terpasang di tubuh juga sarung karet melekat di tangan keduanya. Wajah mereka sama tertutupi masker berwarna tosca. Keduanya terlihat sibuk membedah seekor katak yang di ambil dari wadah kaca khusus milik lab.
Di mata Jimmy, gadis yang sering berdalih meminta bantuannya tidak lain hanyalah ingin mencari kesempatan agar membuatnya jatuh hati bahkan beberapa berani bersikap agresif.
Mengapa yang satu ini tidak?
Sucy terlihat benar-benar fokus membongkar isi perut katak dengan pisau kecil seukuran telunjuk. Bahkan alisnya ikut mengerut, terlihat bersungguh menyayat lapisan kulit kiranya tugas molekul yang mereka teliti bisa ia catat sedetail mungkin.
Darah segar muncrat hampir mengenai mata, meninggalkan jejak merah di kelopak. Jimmy melirik Sucy yang nampak tidak terganggu dan jijik. Biasanya para gadis akan memekik takut sambil mencari celah bermanja padanya.
Namun gadis ini berbeda, bahkan tidak merasa risih menyeka darah di kening.
25 menit waktu berlalu dengan kerja sama yang terbilang apik. Sesekali Sucy meminta arahan Jimmy yang sabar mengajari. Terlihat seperti sepasang Dokter pembedah dan asisten yang kompeten di masa depan.
Air mengalir deras dari wastafel, Sucy tengah membersihkan tangan sambil berkaca. Perasaan ini, sudah sangat lama tidak ia temui. Meskipun jelas ada perbedaan antara aroma anyir dari cairan kental merah milik tubuh manusia dan hewan, tetap saja ia menyukainya.
Jimmy menghampiri sambil menggantung jas, "kau terlihat mahir." ia memujinya.
Membuat leher Sucy berputar mengarah pada Jimmy, Sucy tersenyum dengan binar cantik. "aku perawat sebelumnya."
"Benarkah, tapi sepertinya skill mu lebih dari itu."
Kali ini mereka berjalan sama langkah. "Aku masih perlu banyak belajar, kau juga membantu banyak. Ahya kita belum menyelesaikan rangkumannya. Bisa kau ijinkan aku saja yang meneruskan? jika sudah selesai kau bisa memeriksa hasil nya."
Jimny menoleh, kali ini dengan pandangan mengunci. "kenapa tidak kita selesaikan saja berdua lagi?" tawar Jimmy, "Kita bisa mengerjakannya di sebuah cafe, aku tahu tempat yang bagus." Kini pemuda itu ingin lebih mengenal Sucy.
Tentu saja sulit untuk Sucy meski ia juga butuh bantuan, sepertinya Jeonathan tidak akan mengijinkan ia keluar dari mansion selain dari jam kuliah.
Sucy terlihat lama berpikir, mencari alasan untuk menolak. "Thanks Mint. aku banyak tertinggal kau pasti akan repot mengajari nanti. Aku akan menyelesaikan rangkuman sendiri saja dan kau bisa cek kekurangannya nanti.
Kepala Jimmy menunduk sambil terkekeh, bahunya bahkan nampak berguncang. Penolakan pertama dari seorang mahasiswi dimana ketika yang lain justru berlomba membujuk ingin menghabiskan waktu dengannya.
"Okay, kalau mau seperti itu. Kau bisa mendatangiku jika kesulitan. Kau punya ponsel, kau bisa menghubungiku sewaktu perlu?"
Tentu tidak ada, ponsel milik Sucy entah berada di mana ia tak tahu lagi. Belum sempat Sucy menjawab seseorang sudah menarik pinggangnya secara posesif.
"Dia tidak punya ponsel, dia punya nya aku."
Siapa lagi jika bukan Jeonathan dengan dagu terangkat tinggi. Mereka tengah berdiri di lorong utama hingga pemandangan itu sukses menjadi santapan perhatian.
Mahasiswi baru yang di perebutkan kedua most wanted.
Tangan Jimmy masuk ke dalam saku celananya. Satu lagi membenarkan letak tas selempang hitam yang mengait dipundak. Tidak di mansion tidak di kampus keduanya sering bersinggungan. Meski Jeonathan lah yang sering cari gara-gara. Menurut Jeon itu bentuk perhatiannya pada Jimmy. Tapi Jimmy terlalu jengah akan kesemenaan yang tiada akhir.
Keduanya memiliki ear phone micro yang terpasang di telinga senantiasa.
"Stop! Jimmy, u have a job."
Jimmy menatap Jeon dengan smirk sebal meski terlihat ambigu dengan wajah nan ramah.
__ADS_1
Sucy menatapi bingung satu persatu wajah tampan yang berada di sisi kiri dan kanannya. Belum lagi tatapan penuh antisipasi para mahasiswa lain yang melihat, berharap terjadi baku hantam yang seru. Pasti jadi gosip hangat seminggu.
"J-jeon, ayo kita pulang." bujuk Sucy.
Tidak, Jeonathan masih bertahan pada posisi. Menunggu Jimmy bereaksi itu pasti menyenangkan.
Jimmy menahan senyum, "Sucy, sampai jumpa lagi." Ia pamit pada gadis itu, berlalu santai membuat Jeon kecewa tak di tanggapi. "Haisss-" rutuk nya.
"Jangan mengganggunya."
"Tapi dia mendekati Sucy."
Mendengar namanya disebut, Sucy yang tadinya menatapi punggung Jimmy menjauh kini beralih pada Jeonathan.
"Kau bicara dengan siapa?"
"Nothing, ikuti aku! aku ada pertandingan football dan kau harus menontonnya."
•••
American Football terbilang olahraga bergengsi dan cuma di mainkan di wilayah tertentu. Sama kerasnya dengan sepak bola, namun para pemain mengandalkan kekuatan tubuh bagian atas. Mereka mengadu otot lengan sambil berlari membawa bola lonjong serupa buah coklat. Tiap pemain wajib mengenakan helm pelindung wajah, dada, siku hingga lutut.
Sorak ramai di lapangan begitu berisik, cheerleaders seksi berbaris di sudut utama meramaikan pertandingan sebelum bermula.
Sucy mengambil tempat duduk seperti yang di perintahkan Jeonathan, di sisi dimana penggemarnya berkumpul. Kebetulan Nancy ada di sampingnya. "Sucy, sini. Kau tahu? sepupumu itu bintang nya loh."
"Benarkah?" Tentu saja ia tidak tahu, menurutnya Jeonathan hanyalah kriminal kejam yang bertopeng dewa manis.
Riuh sorak makin berisik kala tim Jeonathan memasuki lapangan, ia begitu di elu-elukan. "Never lose" Itulah semboyan nya.
"Kau menyukai permainan tadi ya?" Sucy mencoba mengajak Jeonathan mengobrol sesuatu yang normal. Kali ini mereka sudah berada dalam Ferrari dan tentu sangat wajib Sucy mengekor Jeon selama di kampus, menunggunya selesai bertanding dan pulang bersama.
"Tidak, aku lebih suka bersenang-senang dengan kooky. Ah, sudah dua hari ia tak terpakai." Jeonathan memukul setir seperti merajuk, ia aneh sekaligus lucu.
Sepertinya Sucy harus berpikir ulang sebelum berniat mengakrabkan diri.
Pemuda ini gila.
Dimundurkan nya mobil dari parkiran dengan cepat tanpa melihat ke belakang hingga beberapa mahasiswa pejalan kaki terlonjak kaget. Untung tidak tertabrak, Jeon nampak sedikit terkekeh.
"Kita mau kemana lagi?"
"Hyung bilang kau butuh ponsel. Jadi kita akan mencari yang bagus dan mahal."
Senyum di bibir Sucy merekah, Tayler seperhatian itukah?
"Dia ingin meletakkan GPS di ponselmu, jadi dimana pun kau berada ia bisa selalu memantau."
Wajah Sucy datar kemudian, senyumnya hilang. "Kalian memberiku pendidikan bagus bahkan tempat tinggal yang mewah, namun membatasi semua pergerakan ku. Kalian membuatku seperti hewan peliharaan."
"Jangan berkata seperti itu, kau wanita pertama yang di bawa Hyung ke rumah. Artinya kau berharga untuknya. Dan, kau tahu, ia selalu berbagi denganku."
Ujung kalimat itu membuat Sucy melongo melihat kerlingan nakal Jeon. Lebih baik Sucy diam sebelum ia frustasi pada setiap perkataan pemuda ini serta tingkahnya yang terkadang minta di tampar.
Mereka sudah tiba di pusat perbelanjaan LA.
"Pilihlah yang kau mau Nuna." Jeonathan menyender pada sebuah etalase toko besar sambil menyalakan rokok, bahkan teguran dari sang pemilik toko ia acuhkan. Di hisapnya dalam-dalam hingga asap pembakaran berhembus banyak. Demi menghindari pertengkaran dengan pemilik toko Sucy bergegas memilih satu ponsel secara acak sebelum etalase itu Jeonathan hancurkan jika ia jengkel.
__ADS_1
Di buangnya puntung rokok ke lantai, menginjak bara apinya sembarangan. Lagi, ia terlihat bicara sendiri.
"Hyung, aku mau juga yang terbaru."
"Bukankah kau sudah punya 7?"
"Hais, aku bosan."
Seseorang di seberang sana berdecak, "Ambil lah, dan segera pulang."
"Kau memang yang terbaik."
Jeonathan kini beralih mendatangi pemilik toko yang tengah memasang wajah murka padanya. "Heh Pak tua, aku ambil 5 keluaran terbaru yang paling bagus." Sambil menyerahkan black card, membuat mata si pemilik toko berbinar cerah. Senyum lebar di bibirnya merekah, lekas ia sambut kartu pembayaran unlimited tersebut.
Uang memang merupakan tahta tertinggi.
5 mini paper bag ada di tangan Sucy. Jeon terlalu acuh menawarkan bantuan. Ia sibuk pada ponsel dengan pengirim nomor asing memberinya kode sebuah tugas. Sudut bibirnya tertarik asimetris, sudah sebulan ia tidak bersenang-senang.
Perintah eksekusi selalu turun langsung dari Charlie, pun Tayler yang kini sibuk entah berada di belahan dunia mana bertugas. Ketiganya mematuhi peraturan Charlie serupa religion yang wajib di penuhi.
Dulunya, Taeyler adalah anggota pertama yang bergabung di susul Jeonathan kemudian. Sementara Jimmy adalah yang terakhir memutuskan terikat kontrak pada Charlie. Kontrak lingkaran setan yang bermandikan darah dan uang. Membunuh adalah kewajiban utama. Tiada terikat keluarga ataupun perasaan, semua wajib di eksekusi tanpa ampun.
Harus seperti itu, namun di antara mereka akan melanggarnya hingga kelak berakhir mengerikan.
"Nuna, kau mau melihat permainan yang paling ku sukai?" tawar Jeonathan. Ia ingin Sucy tahu apa yang benar-benar ia sukai.
•••
Hawai-
V sibuk memutar alat pemotong kaca membentuk lingkaran berdiameter 7 senti agar ujung senapan bisa masuk. Kali ini ia menggunakan Ruger M77 yang mampu menembus kaca tebal. Usai memastikan senapan ada di posisi sempurna, matanya menyipit mencari target.
Di sana, gedung hotel seberang tepat di lantai 45. Tengah mengadakan pesta perayaan dan mengundang banyak para wanita seksi serta tamu penting untuk bersenang-senang.
V dapat melihat klien tengah di apit 2 wanita cantik dengan pakaian kekurangan bahan, tentu ia tak akan gagal fokus. Mata elangnya hanya tertuju pada target hingga jarinya menarik pelatuk dengan bidikan tepat bersarang di kepala si target yang asik berbincang.
Ia membeku, mati berdiri dengan darah bocor di kepala. Histeris orang-orang memekik nyaring dalam pesta itu menyadari tokoh utama pesta tewas.
Target ini di pilih berdasarkan permintaan klien, sesama pengusaha yang kalah memperebutkan tender hingga mencari cara pintas licik dengan menghubungi Charlie yang sudah terkenal di dunia kotor. Uang penuh di transfer dengan jumlah tidak sedikit, selebihnya Charlie yang memutuskan siapa yang cocok bertugas.
Ini adalah tahun ke sepuluh Tayler bergabung, yang artinya ia berkecimpung sudah sejak remaja.
Dan malam dimana ia bertugas di Korea adalah kedua kalinya ia berhutang nyawa pada seseorang selain Charlie, hingga ia nekat membawa gadis itu ke dunianya.
Bagi Tayler, Sucy memberinya perasaan hidup yang baru. Tidak hanya sekedar membenamkan anak peluru mematikan pada musuh, lewat bibir itu ia berhutang nyawa pada gadis asing yang rupawan.
"I have done, can i go home?" Ia berbicara dengan ear phone di sambungan nomor satu sambil membereskan senapan. Memasukkannya ke dalam tas gitar panjang sebagai penyamaran.
Di tempat lain, Charlie meneguk birnya santai di kursi kerja yang berputar. "mau menemui gadis tahanan mu? kau sudah merindukannya? "
V tidak menyahut kali ini, ia mengelak jika di katakan rindu. Hanya khawatir bagaimana nasibnya di tinggal bersama kedua rekan yang sedikit gila.
"Tayler, you are only mine. Remember always, i'm your master."
*⚫*TBC⚫
__ADS_1