
⚫⚫⚫
Ferrari merah tiba di sebuah gudang bangunan yang tak terpakai, jemari Jeon nampak di ketuk-ketukkan pada setir mobil. Ia tengah menimbang waktu yang pas. Sementara Sucy mencuri lirik dari kursi samping, berharap pemuda itu mengatakan tujuan mereka kemari.
Tapi tidak, Jeonathan terlalu sibuk pada ponsel.
Isi pesan dari Charlie ialah eksekusi untuk 5 orang musuh di dalam markas tersebut dan sisakan satu si pimpinan untuk Jimmy nantinya.
Usai kode perintah di terima, Ferrari tersebut ditabrakkan menerobos ke pintu masuk. Lecet pun Jeon tak risau, ia memang kebetulan ingin mengganti mobil yang baru.
Di dalam gudang, 3 orang pria dewasa tengah bermain catur menoleh terkejut juga 2 orang lain yang sibuk memindahkan buah jeruk dalam keranjang ikut menoleh. Belum bisa melihat siapa pelaku yang tersembunyi dari dalam mobil.
Gudang itu berada di belakang pasar, hanya jadi tempat penyimpanan buah sekaligus tempat bersembunyi gangster kecil yang menurut Charlie mengganggu. Ada baiknya ular di potong selagi masih kecil sebelum ia tumbuh besar dan berpotensi mengganggu bisnisnya.
Charlie tidak suka persaingan. Ia akan membabat habis hingga ke akar sekiranya wilayah LA ia yang menguasai.
Dashboard di buka, isinya di penuhi stock permen karet. Jeon mengambil beberapa, menawarkannya pada Sucy yang ragu meraih. "Rokokku habis, Nuna jangan keluar ya? lihat saja ke depan, watch me." Di koyaknya permen tersebut dan melahapnya cepat. Jeonathan mengunyah sambil menaikkan alis juga senyum tampan.
He always try to teases Sucy.
Lima pria yang sedari tadi siaga di buat mengernyit menemukan pemuda nekat menabrakkan mobil mahal demi merengsek masuk. Salah satu maju ingin bertanya, Jeon berjalan cepat sambil mengunyah permen karet. Jarak mereka kian mengecil hingga berhadapan. Jeonathan bukan lah tipikal basa-basi untuk satu ini, lebih lagi kooky lama belum terpakai.
Tidak ada yang menduga senyum manis yang ia pamerkan hanyalah pengalih perhatian, tangannya cekatan mengeluarkan belati.
Seperti sebuah balon berisi air yang tiba-tiba meledak, perut si pria bocor dengan cairan merah. Bunyi tusukan menembus lapisan-lapisan perut, Jeon menusuk dan memutar tangannya sekira belati lebih dalam tertancap. Senyum masih membingkai hingga tangannya bergerak naik memperlebar sayatan ke atas.
Teman-temannya di belakang saling menoleh bertanya apa yang terjadi, sementara manik Sucy membola. Raut memucat kematian menghadap padanya. Hingga tetesan darah kental menerpa lantai. Jatuh tercecer dari sedikit jadi sangat banyak, saat itulah ke empat temannya yang lain bereaksi.
Jeonathan suka ini, sesekali ia membiarkan tubuhnya di keroyok, pemanasan.
1 lawan 3.
Ia bangkit lagi saat di rasa darah memenuhi mulut akibat wajahnya yang sengaja ia biarkan terpukul.
Adrenalin nya sudah memanas, kali ini baku hantam serius tak terelakkan. Jeon amat tangguh dalam pertarungan jarak dekat saat ia berhenti bermain-main. Tubuhnya lincah menghindar dari hantaman dan kepalan tangannya begitu tangguh, kepalanya membentur kepala lawan bagai batu. Masih tersenyum tanpa rasa sakit sementara 3 lawannya tumbang dengan tulang rusuk patah. Ia bahkan memutar leher dan lengan lawan seperti mematahkan sayap burung, begitu mudah.
Menyisakan satu yang ia kira pimpinan, Jeon tidak memperhatikan siapa lawan selama baku hantam. Di matanya semua sama harus di lenyap kan.
Kepalan tangan iblis nya masih menuntut tumbal dan belatinya selalu siap siaga menumbangkan lawan.
Hingga ludahnya tertelan kasar, mata Jeonathan membulat lebar saat sadar siapa lawan di hadapan yang tersisa.
Guru olahraga, pelatih tim football, Mr.Effan.
"Jadi kau kaki tangan Charlie? Jeon?" tanya Mr.Effan sama tak menduga meski ia sudah dapat peringatan bahwa Charlie akan menyambanginya.
Sedikit bujukan malaikat dengan mantra rasa iba berbisik, namun Jeonathan sudah terikat kontrak dengan setan. Pelatih itu bertanya dengan nada ramah, mereka begitu dekat selama di Universitas.
Langkahnya bergerak membabat rasa kasihan, ujung belatinya menusuk sana sini. Berkali Mr.Effan dapat menghindar namun tidak pada tusukan di ulu hati, menusuk dalam hingga perlawanan Mr.Effan berakhir.
__ADS_1
Pelatih itu tersungkur, matanya berair nampak sekarat. Jeonathan ikut menunduk. "Maafkan aku." ucapnya. Satu tusukan di jantung mengakhiri sekarat sakit yang di derita. Mata Jeon merah berair, percayalah belati yang menikam di jantung tersebut adalah sebentuk rasa kasihan dari nya.
Ia tak akan tega membiarkan anak buah Charlie yang lain menyeret Mr.Effan pada Jimmy. Lebih mudah ia yang mengakhirinya, kematian cepat tanpa rasa sakit lebih baik dari pada berbaring di meja lab. Jimmy dengan potongan tubuh dikuliti perlahan-lahan, dijadikan bahan uji coba dengan berbagai alat mengerikan.
Jeon pernah melihat betapa mengerikannya Jimmy mengambil organ tubuh seseorang saat ia masih hidup.
Dan ia tak mau melihat Mr.Effan menderita perlahan namun hasil akhirnya tetap saja kematian. Ia bangkit menyeka keringat, sungguh batinnya meraung.
"Biarkan yang lain mengurus, Jimmy ingin mengambilnya."
Kali ini Jungkook menyahut, "Dia sudah mati, aku lepas kontrol." Di lemparnya ear phone tersebut dengan marah hingga rusak ia injak. Pintu mobil di tutup nyaring, Sucy tidak berani bergerak barang sejengkal. Terlalu shock pada apa yang ia lihat.
•••
Ada yang berbeda, mansion menjadi sunyi, tidak ada Jeon yang gemar menggoda. Sucy bahkan harus berangkat kuliah selama 2 hari ini di antar pengawal.
Meski setidaknya ia dan Mint memiliki waktu bersama dan semakin dekat selama di Universitas. Namun tetap saja, ia merasa ada yang hilang. Hari ketiga Jeonathan pun masih belum terlihat muncul.
Ini ketenangan yang aneh, Christie juga tak lagi Sucy jumpai. Hanya ada Mr.Varys yang terkadang muncul di jam tertentu. Sucy tak pernah bertemu Jimmy di mansion lantai dua. Ia tak berniat berkenalan atau mencari tahu, selalu menurunkan lift pada lantai dasar.
Sedikit berharap Jeonathan ada meski kesan seram masih melekat. Bagaimana pemuda itu mengeksekusi target tak kenal ampun, itu amat mengerikan untuk di ingat.
Hari ketiga para mahasiswa berkumpul di aula, isak tangis terdengar serentak mengetahui kabar kematian pelatih football Mr.Effan. Semua anak didik beliau berkumpul di sana, tapi tidak ada Jeonathan. Sementara itu penyebab kematian masih di selidiki. Mr.Effan di temukan tewas di tempat pembuangan sampah usai membusuk selama 2 hari.
Bulu kuduk Sucy merinding, ia ingat wajah itu. Salah satu orang yang tempo hari Jeon eksekusi. Ia bergegas pulang, ini benar-benar mengerikan.
Rasa sepi dan angker mulai mendominasi, sadar bahwa ia hidup bersama para pembunuh berdarah dingin ketika melihat langsung salah satu dari mereka beraksi.
Namun bukankah Sucy juga sama sepertinya? ia menggeleng keras. Pembunuhan yang Sucy lakukan hanyalah bentuk pertahanan diri, dalihnya.
Pemandangan ini sangat jauh berbeda dari tanah kelahirannya. Rasa rindu pulang mulai melingkupi, matanya berair tanpa sadar. Sucy menyekanya dengan telapak tangan. Ekor matanya menatap ke bawah, di kolam renang itu terlihat sosok pria mengapung.
"Jeon!" Ia berseru.
Sucy menunggu hampir 5 menit lebih dan tidak ada pergerakan, apa pria itu pingsan?
Rasanya tidak mungkin.
Namun jelas ia mengambang lama. Sucy bergegas turun dari kamar. Tidak, entah mengapa ia tak ingin terjadi hal buruk pada Jeon.
Setibanya di pinggir kolam tanpa memperdulikan bajunya yang basah ia berenang menyambangi Jeonathan, membalik tubuh dan menariknya ke tepi. Mr.Varys yang baru melihat kini ikut berlari dan membantu.
Jeon di pindahkan ke kamar, melalui CCTV Mr.Varys mendapati bahwa ia terlalu mabuk hingga tanpa sadar tercebur ke kolam. Beruntung Sucy menolongnya segera.
Berkat kepiawaian-nya, Sucy merawat Jeon telaten hingga tidak perlu memanggil Dokter. Sementara itu Mr.Varys tengah mengabari Tayler. Sucy setia menunggui hingga 3 jam lamanya di kamar pemuda itu.
Mata Jeon terbuka perlahan. Pemandangan pertama yang di dapat ialah wajah cantik Sucy yang terlelap menelungkup di sisi ranjang. Tangan nya terulur ingin merapikan anakan rambut, gadis ini pasti yang menolongnya.
Namun niat itu segera ia urungkan. Wajah Mr.Effan yang tewas di tangannya masih membekas.
Mata Jeonathan nanar menatap langit-langit kamar. Bukankah jelas tidak boleh melibatkan perasaan dalam bertugas?
__ADS_1
Bahwasanya mereka di larang terikat dengan orang lain. Terlarang memiliki belas kasih yang mana bisa saja target adalah orang terdekat.
Jeonathan dulunya ialah anak kecil korban penculikan yang terdampar di negara asing. Hidupnya begitu sulit terlebih saat itu ia mengalami keterbatasan berbahasa. Perjumpaannya dengan Tayler seakan membawa harapan baru meski membuatnya tumbuh menjadi sosok pembunuh.
Sama seperti Tayler, mereka di latih Charlie siang dan malam untuk menjadi bagian Assassin. Kemampuan mereka luar biasa. Segalanya sempurna, mereka bermandikan emas, dapat memiliki apa saja dengan menuruti perintah Charlie. Hingga kegiatan menghilangkan nyawa orang lain adalah makanan sehari-hari.
Ia teringat lagi akan sosok Mr.Effan. Setahun yang lalu, Dosen olahraga itu menghampirinya tanpa sungkan. Begitu ramah menawarkan kedekatan. Sosoknya yang hangat membuat hubungan mereka mengalir alami.
Mr.Effan sudah menganggap Jeon seperti anak kebanggaannya sendiri. Anak didik yang berprestasi di segala bidang. Dalam setahun tim football mereka berkarir sempurna. Dan Jungkook lengah, membiarkan dirinya ikut membaur dalam perasaan kasih sayang yang mana dalam kontrak jelas terlarang.
Hari ini untuk pertama kali dalam bertugas mengeksekusi ia menyisakan rasa bersalah.
Sucy bangkit, punggungnya sakit selama beberapa waktu dalam posisi tidur yang tak nyaman. Jeon tidak ada di ranjang, infus nya bahkan tergeletak begitu saja di atas bantal.
"Jeon?" Pandangan Sucy beredar ke sekeliling, ia mencari pemuda itu. Ini sudah pukul 2 malam. Mansion terasa memiliki aura angkernya sendiri. Maid sudah kembali pulang, Mr.Varys pun ada di ruang belakang.
Sucy merapatkan jaket ke tubuh, udara malam begitu dingin terlebih mansion mereka terletak di ujung tebing laut. Ia melangkah menuju kolam renang. Benar saja, selalu di sana. Jeon berdiri di sekitaran kolam sambil menatapi debur ombak laut.
"Kau akan semakin sakit kalau berdiri di luar, ayo masuk." bujuk Sucy pada Jeon yang masih mematung.
Matanya kosong, Sucy tahu jenis sorot itu. Sorot kehilangan yang begitu perih. Ia sering jumpai dulunya ketika pihak keluarga pasien mendapat kabar orang yang di cintai mereka tidak dapat tertolong.
Meskipun tidak ada penjelasan, juga Sucy tak tahu fakta sesungguhnya. Rasa takut akan tindakan kejam yang di lakukan Jeonathan menguar, ia seperti tengah menyesali perbuatan dan bersikeras membangun benteng ketidakpedulian.
Lengan Jeon ditarik, Sucy menyenderkan punggung Jeon ke bahu kecilnya. Jeonathan tidak menolak, ia memang butuh sebuah tempat meluapkan rasa sedih. Kini lengannya mengait erat di pinggang. Bisa Sucy rasakan napas pemuda ini tercekat, tidak ada air mata yang keluar namun dadanya bergemuruh hebat seperti ada angin topan yang mengobrak-abrik.
Mr.Effan sudah seperti ayah untuk nya. Pemuda itu tak mudah di dekati, ia hanya mengekor Tayler serupa induk ayam. Mengikuti apapun yang Tayler lakukan. Tayler adalah sosok yang berharga dalam hidupnya.
Setahun terakhir Tayler mulai sibuk, ia merambah dunia bisnis dan membangun perusahaan. Bahkan kini sudah terbilang sukses hingga menjadi donatur utama Universitas, meski tetap saja panggilan Charlie tak bisa Tayler abaikan.
Di saat Tayler jarang sekali pulang, Mr.Effan lah yang mengisi kekosongan Jeon yang butuh orang dekat.
Dan ia malah membunuhnya.
Sucy mengusap punggung pemuda itu pelan dan teratur. Berharap sedikit pelukan ini membuat nya baikan.
Bunyi ketukan langkah sepatu terdengar mendekat dari belakang. Pemilik mansion, Tayler tiba. Kedua tangannya di masukkan dalam celana. Ia menyipit mendapati pemandangan tersebut. Jarak makin terkikis membuat Jeon mendongak tersadar, dilepasnya pelukan Sucy secara spontan.
"Hyung!"
Tayler menunduk melihat ujung sepatunya, Mr.Varys sudah menceritakan apa saja yang terjadi.
Satu tarikan senyum Tayler membuat Jeon merasa lega. "Kau akan sakit jika di luar jam segini, masuklah. Udara laut sangat kencang."
Sucy hampir melupakan eksistensi pria satu itu selama beberapa hari yang berlalu.
Jeonathan berjalan menyusul Tayler di belakang agar bisa sejajar. Ia senang bukan main melihat Tayler pulang hingga tak perduli lagi pada Sucy. Menyisakan Sucy yang tak tahu akan kemana, tidak mungkin ia mengikuti tujuan kedua lelaki itu. ia melangkah masuk dan naik lift ke atas.
Jika Tayler kembali bukankah artinya ia akan berbagi ruang kamar yang sama?
Sucy berusaha mengusir pikiran takut tersebut. Ini sudah amat larut, sepertinya ia harus berjaga hingga pagi agar tahu jika lelaki itu datang ke kamar dan ia bisa berhati-hati. Meski begitu, senyum melega terpancar. Setidaknya Sucy tahu bahkan Jeonathan yang bengis, urakan dan sadis sekalipun memiliki sisi hati yang lemah dan rapuh.
__ADS_1
⚫TBC⚫