
"Jadi ini yang kamu bilang lembur mas?" Kayfa yang semula berniat membeli susu untuk anaknya justru mendapati suaminya yang tengah bermesraan di sebuah kafe tepat bersebelahan dengan minimarket.
"Ifa? Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Haikal sang suami dengan nada tinggi.
Kayfa menampilkan senyum getir, bagaimana bisa suaminya yang sangat di cintainya menghancurkan kepercayaannya.
Tak tahan dengan bentakan dari sang suami air mata yang ia tahan sedari tadi meluncur bebas di kedua pipinya. Tanpa menjawab pertanyaan suaminya Kayfapun berlalu meninggalkan kafe tersebut.
Peristiwa yang menyebabkan hancurnya rumah tangga impiannya dan berakhir dengan perceraian selalu menyisakan penyesalan dan berakhir dengan sesak di dada mengingat nasibnya yang butuk.
"Aaaaaa... ma.. ma.. ma..."tangis seorang anak balita membuyarkan lamunan Kayfa, peristiwa satu tahun lalu masih terus terbayang seolah peristiwa tersebut baru saja terjadi, bagaimana rasa sakitnya atas penghianatan sang suami bahkan menolak mengakui Angga sebagai anaknya.
"Mama disini sayang" Kayfa menggendong Angga untuk menenangkan balita tersebut namun tangisnya tak berhenti malah semakin menggema di ruangan berukuran 4 x 3m.
"Angga kenapa Fa?" tanya Gibran menatap iba sang keponakan yang tengah nangis jejeritan.
"Ga tau bang, tiba-tiba aja nangis" jawab Kayfa "mana aku harus kerja, gimana aku bisa tenang ninggalin Angga kalo lagi rewel gini" lanjutnya.
Semenjak bercerai Kayfa bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan Angga, apalagi mantan suaminya tidak memberinya tunjangan sedikitpun.
"Makanya nurut apa kata orang tua, semuanya kan demi kebaikan kamu dan juga Angga" Gibran berujar seraya melengos meninggalkan kamar Kayfa.
"iya orang tua" Kayfa tersenyum smirk.
__ADS_1
"Udah terima aja pinangan tuan Arjuna. Kamu ga perlu kerja cukup ngurusin Angga sama suami, buat kebutuhan udah di tanggung suami kamu" Gibran memberi sedikit tekanan buat Kayfa yang keras kepala dan sedikit ngeyelan.
"Apaan sih bang, kenapa jadi bahas itu" ujar Kayfa kesal sang kakak mengingatkan permintaan kakaknya untuk menikah lagi agar Kayfa dapat fokus merawat anaknya.
...****************...
Berbeda dengan kamar Kayfa yang riuh dengan suara tangisan bayi, di sudut rumah mewah bergaya modern tampak sangat sunyi.
Di dalam kamar rumah mewah tersebut terduduk seorang lelaki dengan pandangan kosong, setiap hari hanya mengamati pemandangan di luar kamarnya melalui jendela yang selalu tertutup.
Tok tok tok
Pintu terbuka menampakan seorang pria paru baya, menatap nanar seorang yang setahun lalu tampak sangat gagah, seorang pengusaha muda yang sukses mengembangkan usahanya di bidang property. semenjak penghianatan istrinya, hingga berakhir dengan perceraian dan membawa pergi buah hati yang sangat di sayanginya.
"Dis " panggil pria paruh baya bernama Arjuna yang merupakan paman dari Yudis pengusaha muda yang kesehariannya kini hanya termenung di dekat jendela dengan tatapan kosong.
"Paman, gimana Ghifa udah ketemu ya?" matanya berbinar melihat sang paman.
"Dis, kamu harus bangkit jangan seperti ini terus, kamu harus sehat agar dapat menemukan Ghifa" ucap Arjuna.
" Aku ga sakit paman" sanggahnya kembali menatap jendela "Ghifa dimana kamu sayang" jiwanya terguncang saat usahanya selalu gagal menemukan sang buah hati.
Paman Arjuna merogoh saku celananya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Tam, kesini sekarang ya!" paman meminta seseorang untuk datang.
"Maaf pak, saya harus menjaga keponakan saya dulu, pengasuhnya blm datang." jawabnya
"Bawa aja kesini, ada yang harus aku bicarakan sama kamu penting" tak ingin dapat penolakan memanggil karyawannya di luar jam kerja.
"Baik pak, saya langsung berangkat"
...****************...
Sebuah motor memasuki pelataran rumah mewah, pria muda dengan menggendong seorang balita menghentikan motor yang di kendarainya.
"Selamat siang pak, saya ada janji dengan pa Arjuna. Apa beliau ada?" sapa Gibran ramah, pria itu adalah Gibran ia mendapatkan mandat untuk menjaga Angga sampai pengasuhnya datang, sementara Kayfa harus segera pergi karna Kafe kedapatan tamu penting.
"Ada pak, silahkan masuk" jawab satpam.
"Baik terima kasih pak" Gibran melangkah menuju pintu dengan menggendong Angga di depan, iya memang sudah terbiasa membantu Kayfa mengurus Angga.
Di depan pintu kepala pelayan sudah menyambut kedatangan Gibran, iya meminta Gibran meninggalkan Angga bersama dengan seorang pelayan wanita agar Gibran dan tuannya bisa tenang.
"Angga sama Tante dulu ya, om mau kerja sebentar." pamit Gibran pada Angga.
"Titip ya mbak, ini tasnya" Gibran memberikan tas ke pelayan perampuan itu "susu dan semua keperluan Angga ada di dalam tas"
__ADS_1
"Baik tuan, saya akan jaga tuan muda dengan baik" jawab pelayan tersebut, Gibran tersenyum tipis kemudian meninggalkan Angga menuju ruang kerja pak Arjuna.