
Kayfa bercengkrama dengan Angga di kamarnya, dandanan yang sederhana tanpa riasan pengantin pada umumnya, sanggul yang di buat dari gulungan rambut panjangnya dengan beberapa jepitan membuatnya tampak anggun namun tetap leluasa untuk bergerak.
Setengah jam telah lewat dari waktu yang seharusnya namun rombongan calon pengantin belum tiba, membuat kasak kusuk terjadi di ruangan tempat akan berlangsungnya akad nikah.
Gibran mulai gelisah, Pak Brata yang sangat menghargai waktu kini melar dari jadwal yang seharusnya, terlebih ponselnya juga tidak dapat di hubungi.
Ada perasaan yang entah terselip, apakah ia tengah di permainkan? Gibran menggelengkan kepalanya untuk menghalau fikiran buruk merasuki kepalanya.
Tak berapa lama deru mesin mobil memasuki pekarangan membuat Gibran menghembuskan nafas panjangnya penuh kelegaan.
"Assalamu'alaikum.. maaf kami terlambat, ada sedikit insiden tadi di perjalanan" ucap pak Brata seraya menyatukan kedua tangannya di dada.
"Wa'alaikumsalam.. insiden apa pak? kalian semua baik-baik saja kan?"
"Tidak apa-apa, hanya pecah ban saja" pak Brata menjelaskan seraya mengusap bahu Gibran menyiratkan kalo ia tak perlu khawatir.
"Alhamdulillah kalo kalian semua baik-baik saja, oh ya silahkan masuk semuanya" Gibran mempersilahkan rombongan yang hanya terdiri dari 7 orang untuk menempati tempat yang telah di sediakan.
Penghulu yang telah hadir sedari tadi mulai menyapa rombongan dan mempertanyakan identitas mempelai pria untuk memperbarui apabila ada kesalahan dalam penulisan atau ada hal yang harus di perbaiki.
Gibran kini telah duduk di hadapan Yudis, di sebelahnya penghulu yang akan membimbing ijabnya dan Qabulnya Yudis terhadap Kayfa, adik kandung Gibran.
Dengan mahar yang Kayfa tidak tahu Yudis mempersunting Kayfa, memang sebelumnya Kayfa tidak meminta mahar apapun namun Yudis mempersiapkan mahar yang pantas untuk Kayfa berupa seperangkat alat sholat, perhiasan seberat 20gram, sebuah rumah dan deposito sebesar 100juta rupiah.
Kayfa memejamkan matanya, kini statusnya telah berubah menjadi seorang istri seiring sahutan kata sah terdengar di rungunya. Ia berdoa dalam hati semoga pernikahannya kali ini di penuhi keberkahan dan keridoan sang pemilik alam.
__ADS_1
Setelah akad selesai, Gibran menjemput sang adik untuk bertemu dengan suaminya, " Fa, ayo suamimu sudah menunggumu" mengulurkan tangan membantu adiknya berdiri " Kamu sudah menjadi seorang istri, aku sendiri yang menyerahkanmu pada Yudis tapi sampai kapanpun kamu akan menjadi bagian dari tanggung jawab abang fa. Jadilah istri yang baik, terimalah pernikahan ini dengan ikhlas, insya Allah sakinah mawadah warahmah" dengan berkaca-kaca Gibran berucap, satu kecupan mendarat di kening Kayfa.
"Terima kasih Abang, Abang adalah pengganti ayah dan ibu yang sangat baik untuk Ifa, maafkan Ifa kalo selama ini Ifa selalu menyusahkan Abang. Insyaallah Ifa ikhlas menerima pernikahan ini, do'akan Ifa selalu ya bang agar Ifa dapat menjadi istri yang Solehah seperti yang pernah di contohkan ibu"
Suasana haru kedua kakak beradik ini harus terjeda dengan lengkingan tangis bocah berusia 2 tahun.
huaaaa... huaaaa
Gibran menggendong keponakannya, "Angga kenapa nangis?" tanya Gibran mencium pipi Angga gemas.
"Om cama mama nanis, aga jadi cedih" Angga melingkarkan tangannya di leher sang paman dengan terisak, Gibran mengusap punggung keponakannya dengan sayang.
Gibran melengkungkan bibirnya, "Om udah ga nangis lihat om senyumkan" bujuknya untuk meredakan tangis Angga. Angga yang melihat senyum gibranpun menganggukan kepalanya, kemudian beralih menoleh pada sang ibu yang juga tersenyum, Angga kembali melingkarkan tangannya di leher Gibran menjadikan bahu Gibran sebagai tumpuan kepalanya. Gibran merengkuh sang adik dalam pelukannya, Kayfa memeluk pinggang sang kakak dan menjatuhkan kepalanya di pundak sang kakak yang kosong mereka berpelukan penuh haru.
Rangkaian demi rangkaian acara telah terlewati kini cincin pernikahan telah tersemat indah di jari manis Kayfa begitupun dengan Yudis, para tamupun sudah meninggalkan tempat berlangsungnya akad nikah siang itu.
...****************...
Kayfa duduk manis di depan cermin, melepaskan riasan yang sedari pagi buta bertengger di kepalanya, kepalanya terasa sedikit pening karna terlalu lama rambutnya terikat kencang.
Ia menatap gambaran dirinya di dalam cermin, nafas berat berkali-kali di hembuskan seakan beban di pundaknya kian terasa berat dengan status baru yang di sandangnya.
Pintu yang terbuka tak mengalihkan lamunan Kayfa, ia masih anteng dengan segala beban dalam benaknya.
"Fa" panggil Yudis tepat di belakang Kayfa, ia heran karena Kayfa tak menyadari keberadaannya padahal jaraknya hanya beberapa inchi saja.
__ADS_1
Kayfa menjatuhkan jepitan di tangannya sedikit terhentak menangkap suara yang tak asing menyambangi rungunya. "Astagfirullah.." ucap Kayfa memegang dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang.
"Maaf, aku ngagetin kamu ya?" Yudis mengusap bahu Kayfa pelan membuat Kayfa membatu dengan perlakuan Yudis "Bisa kita bicara?" ucap Yudis kembali karena tak ada respon dari sang istri.
"Hah.." Kayfa tidak mengerti ucapan Yudis karna fikirannya sibuk dengan tangan Yudis yang berada di bahu Kayfa yang sedikit terbuka.
Yudis tersenyum melihat istrinya salah tingkah dengan perlakuannya, toh tidak ada yang salah dengan tangannya ia bisa menyentuh apapun yang bisa di sentuhnya karna kayfa sudah halal untuknya.
"Sini" ajak Yudis menggapai lengan Kayfa untuk berpindah duduk di tepi ranjang, Kayfa hanya mengikuti apa yang Yudis inginkan ia bagai di cocok hidung atau Yudis bisa menghipnotis kali yaðŸ¤.
"Fa" Yudis kembali memanggil Kayfa karna kayfa masih belum merespon apapun, Yudis kembali menyentuh bahu Kayfa demi membangunkan lamunan Kayfa yang sudah terlalu jauh melayang.
"Eh.." Kayfa akhirnya tersadar dan beringsut memberi jarak duduknya dengan Yudis, membuat senyum Yudis memudar.
"Kita harus bicara, Fa" ulang Yudis ia ingin hubungannya dengan Kayfa yang mendadak ini jelas.
"Mau bicara apa mas?" sahut Kayfa tak berani menatap lawan bicaranya.
"Aku tau, pernikahan ini terlalu mendadak. Kamu tidak mengenal karakterku begitupun aku. Tapi ikrar yang aku ucapkan di depan walimu juga disaksikan malaikat itu tidak main-main. Kita mulai hubungan ini dengan saling mengenal satu sama lain, dengan ikatan pernikahan ini kita mulai semuanya dari nol ya?" ucapnya udah seperti pegawai SPBU saja.
Sepanjang penjelasan Yudis Kayfa memejamkan matanya, ia tengah berperang dengan batinnya. Pernikahannya dulu memberi trauma untuk Kayfa, menikah karna perjodohan hingga berakhir dengan perpisahan, perselingkuhan dan juga kdrt yang sempat Kayfa terima dari mantan suaminya terus berputar-putar dalam kepalanya.
"Fa?" Yudis kembali menyentuh bahu Kayfa yang memejamkan matanya dengan kerutan di keningnya dan cucuran keringat "Fa, kamu baik-baik saja kan?" tanya Yudis mengusap keringat dengan tisu yang tersedia di meja rias.
Yudis yang sudah mengetahui pernikahan terdahulu Kayfa dari sang kakak ipar mengerti dengan reaksi Kayfa saat ini. Ia menarik Kayfa dalam dekapannya, saat ini Kayfa adalah tanggung jawabnya sebagai suami meski tidak ada cinta disana atau mungkin belum seperti kata pepatah Jawa "witing tresno jalaran Soko kulino" cinta hadir karna terbiasa.
__ADS_1