Ayah Untuk Anakku Adalah Pria Depresi

Ayah Untuk Anakku Adalah Pria Depresi
pertemuan


__ADS_3

Yudis menatap tubuh mungil yang tengah menepuk-nepuk kakinya dengan celotehnya yang lucu.


"pa..pa..cucu.." anak itu memberikan botol susu yang kosong.


"Ghifa, sini sayang" Yudis memeluk anak itu "Akhirnya kamu pulang, Ghifa kemana aja?" wajah murungnya


kembali ceria, sangat kontras dengan keadaannya beberapa waktu lalu.


Yudis terus menciumi wajah balita tersebut hingga suara tawanya menggema mengusik dua orang yang tengah berbincang serius.


Kebahagiaan yang dirasakan Yudis justru tidak di rasakan oleh Gibran, iya malah ketakutan terjadi hal buruk dengan keponakannya. Tangannya bergerak untuk meraih keponakannya namun tangannya hanya menggantung di udara karna di tahan oleh pak Arjuna.


"Biarkan keponakanmu bermain dengan Yudis" pinta pak Arjuna.


"Tapi.." Gibran ragu mengatakan keberatannya, Yudis adalah pria yang tengah depresi, bisa saja ia menyakiti keponakannya.


"Sebentar saja, tidak bisakah kamu lihat betapa Yudis bahagia bisa bermain dengan keponakanmu?" dengan cepat pak Arjuna momotong penolakan yang hendak Gibran layangkan tanpa mengalihkan pandangan dari Yudis "oh ya, siapa nama keponakanmu?" tanya pak Arjuna, mengalihkan pandangannya pada Gibran yang menampakan sorot mata penuh kekhawatiran seorang paman.


"Angga pak" jawab gibran tanpa mengalihkan pandangannya.


"jangan khawatir, Yudis ga akan menyakiti Angga" ucap pak arjuna menepuk pundak Gibran seolah tahu apa yang menjadi ketakutan gibran.


Pada akhirnya dua pria berbeda usia itu hanya menjadi penonton, mengawasi kalau-kalau Yudis menyakiti Angga namun sampai keduanya ketiduran karna kelelahan setelah bermain, kekhawatiran mereka tidak terjadi.


...****************...


kring kring kring


Terdengar dering ponsel menyala di tengah-tengah pembicaraan yang sempat terputus oleh peristiwa mengharu biru sepasang manusia yang saling merindu.


Gibran meminta izin untuk mengangkat telp dan sedikit menjauh dari pak Arjuna.

__ADS_1


"Abaaang" teriak seorang wanita melengking membuat Gibran menjauhkannya dari telinganya.


"Apaan sih Fa? Sakit telinga aku nih" sahut Gibran , ia pindahkan ponselnya ke telinga sebelahnya seraya mengusap telinga sebelahnya yang terasa panas akibat teriakan adiknya.


"Angga dimana bang?" tanya Kayfa, ia baru saja mendapatkan kabar dari pengasuhnya Angga kalo hari ini Angga di bawa Gibran.


"Ada disini sama Aku, udah kamu ga usah kuatir, udah kerja aja sana, aku tutup telpnya ya!" tak ingin berlama-lama meninggalkan atasannya gibranpun memutuskan panggilan.


"Tungguuu" lengkingan suara Kayfa kembali terdengar menghentikan jari Gibran yang hendak memutuskan panggilan.


"Apaan sih teriak-teriak terus, ga sakit tuh tenggorokan" gerutu Gibran mulai merasa kesal.


"Angga lagi apa bang, tolong fotokan!" pinta Kayfa khawatir karna jarang sekali Gibran mau membawa Angga apalagi untuk bekerja, biasanya Gibran hanya menunggu pengasuhnya datang barulah dia pergi bekerja.


Tidak adanya orangtua di rumah menambah kerepotan Kayfa dalam mengatur waktunya untuk bekerja dan mengasuh sang buah hati, keadaan mengharuskannya merangkap posisi menjadi ayah sekaligus ibu untuk Angga. Meskipun sangat kerepotan namun ia tak pernah mengeluh, ia hanya bisa pasrah dan berdamai dengan keadaan agar jiwanya tetap waras.


"hmmm... aku tutup ya, assalamu'alaikum" Gibran segera menutup panggilannya sebelum terdengar intrupsi lagi dari sebrang sana, sudah pasti Kayfa menggerutu karna panggilannya di putus sepihak.


Gibran kembali menduduki tempat semula, ia melirik kembali sang keponakan yang masih terlelap tidur. Ruang kantong yang sengaja pak Arjuna modifikasi semenjak Yudis terpuruk saat kehilangan belahan jiwanya.


Pak Arjuna tak ingin meninggalkan Yudis tanpa pengawasan sehingga memberi penyekat kamar dan ruang kerja berupa kaca sehingga ia bisa bekerja sambil mengawasi keponakannya.


Pak Arjuna mengerti apa yang di rasakan Yudis karna iapun pernah berada di posisi itu dimana anak dan istrinya meninggal karna kecelakaan, namun saat itu keluarganya selalu menguatkannya sehingga kini ia bisa tetap tegar menerima takdirnya.


...****************...


Kayfa memaku, matanya membulat, rahangnya mengeras.


"Apa-apaan ini?" iya dapat melihat dengan jelas suara tawa Angga dan lelaki yang tidak di kenalnya.


Kayfa mematikan video kemudian melakukan panggilan dengan kakaknya, namun panggilan sama sekali tidak tersambung.

__ADS_1


"kok ga aktif, Abang kemana sih? siapa orang itu? kenapa Abang membiarkan Angga bermain dengan orang asing? kalo ga bisa jagain Angga kenapa malah di bawa?" kayfa terus menggerutu, rasanya ia ingin berlari pulang mengambil anaknya yang tengah bersama pria asing.


Sejak melihat foto dan video tersebut Kayfa tidak bisa fokus bekerja, ia bahkan beberapa kali salah memberikan pesanan, fikirannya selalu tertuju pada anaknya. Tak jarang ia melihat jam yang terasa lama 'Jamnya rusak kali ya, kenapa lama banget sih? biasanya juga ga kerasa aja udah mau pulang? Ini kenapa masih aja jam segini sih?' Kayfa terus menggerutu, sampai tak memperhatikan kalo sejak tadi ada yang mengawasi setiap gerak-geriknya.


"Fa, di panggil pak Herman" teman kerja Kayfa bernama Indri menyampaikan pesan dari sang atasan.


"Hah,, ada apa pa Herman manggil aku, dri?" tanya Kayfa tak biasanya manager memanggilnya, biasanya manager hanya akan memanggil supervisor, bukan memanggil langsung karyawan yang bersangkutan ke kantornya.


"Mana aku tau, udah buruan sana jangan kelamaan ntar pak bos marah tau rasa Lo" indri mendorong Kayfa untuk bergegas menghadap manager mereka.


"Temenin dri" rengek Kayfa tiba-tiba merasa takut untuk menghadap atasannya.


"idiih,, ogah aku masih banyak kerjaan Fa." Indri mengangkat nampan berisi pesanan pelanggan yang harus segera di antarkan ke meja.


Kayfa berjalan gontai menuju ke kantor manager, jantungnya berdetak dengan kencang.


Tok. tok. tok.


Kayfa masuk setelah di persilahkan oleh pak Herman.


"Bapak memanggil saya?" tanya Kayfa berdiri di depan meja pak Herman yang masih fokus pada laptopnya.


Pak Herman menggeser amplop coklat ke hadapan Kayfa " Mulai besok kamu tidak perlu datang lagi kesini" ucapnya.


" Maaf pak, maksudnya gimana ya? saya tidak mengerti" jawab Kayfa sebenarnya ia sudah tau maksud dari perkataan managernya namun ia ingin memastikan maksud dari perkataan managernya barusan.


" Perusahaan tidak membutuhkan karyawan yang tidak becus dalam bekerja. Kamu saya pecat, itu surat pemecatan kamu beserta pesangon dan gaji terakhir kamu bulan ini"


"Maaf pak, saya salah apa?" kayfa penasaran apa kesalahannya sehingga surat pemecatan itu melayang ke arahnya.


"Jangan membuang waktuku, Kamu baca saja surat pemecatan kamu, disana sudah tertera kesalahan demi kesalahan yang kamu lakukan hari ini dan hari-hari sebelumnya."

__ADS_1


__ADS_2