Ayah Untuk Anakku Adalah Pria Depresi

Ayah Untuk Anakku Adalah Pria Depresi
Dansa bertiga


__ADS_3

Makan malam sedikit terlambat di karenakan Angga yang tertidur karena kelelahan setelah kunjungannya ke kebun binatang sore hari tadi. Makan malampun hanya di lakukan di kamar saja, Yudis tak ingin Angga sakit terkena angin malam yang sedikit lebih kencang dari biasanya.


"papa anda mau danca" celetuk Angga ketika keluarga kecil itu tengah bersantai sambil menonton tv setelah menyelesaikan makan malam.


"Eh Angga tau dansa darimana?" ucap Kayfa merasa tidak pernah mengajarinya hal-hal yang aneh.


"Anda liat Minion danca mama, nali-nali ditu. anda da puna putli dadi anda mau nalina cama papa" jawab Angga malu-malu.


"Kok papa? kenapa Angga ga dansa sama mama?" tanya Yudis gemes dengan tingkah Angga.


"Mama da bica danca papa" sahut Angga melirik sang mama yang membulatkan matanya, membuat Angga sedikit takut dan memeluk Yudis meminta perlindungan.


"Ya sudah ayo kita dansa" Yudis berdiri dengan menggendong Angga, menyalakan musik dari ponselnya yang di hubungkan ke mini compo di ruang tv.


Yudis mendudukan Angga di sofa kemudian menggeser sofa dan meja agar bisa leluasa bergerak saat berdansa nanti, setelah selesai Yudis kembali menggendong Angga.


"Eeh.." Kayfa tak bisa berkata-kata saat Yudis menggenggam jemarinya, menempatkan tangan kanannya di bahu yudis dan tangan kirinya bertumpuk dengan tangan kanan Yudis yang menggendong Angga, sedikit membenarkan posisi Angga agar tak terjatuh saat berdansa nanti.


Perlakuan Yudis tak pernah luput dari pengamatan Kayfa, setiap perbuatan Yudis selalu mampu menghangatkan hatinya yang telah lama membeku.


Lamunan Kayfa seketika buyar ketika tangan kiri Yudis menarik pinggang Kayfa agar lebih merapat dengannya, membuat semburat merah tercipta di lengkungan pipi kayfa, bagaimana tidak kini dadanya menempel sempurna pada perut kotak-kotak Yudis sementara Angga berada di sisi kanannya.


Jadilah mereka berdansa bertiga, Yudis mengajari Kayfa berdansa meski di awal beberapa kali kaki Yudis terinjak namun Kayfa cepat memahami bagaimana mengatur langkahnya.


Lengkungan bibir ketiga orang yang tengah bergerak pelan di iringi lantunan musik klasik terukir begitu nyata ketiganya berharap malam itu tidak pernah berakhir dimana kebahagiaan itu terasa begitu nyata.


Malam kian merambat dengan berat hati Yudis mengakhiri kegiatan yang sangat mengasyikan tersebut mengingat Angga sudah merasakan kantuknya kembali tidak memungkinkan untuk memaksakan pria kecil itu terus berada dalam gendongannya.

__ADS_1


Yudis membaringkan Angga di kasur dengan posisinya berada di tengah menjadi pembatas dirinya dan Kayfa. Entah kenapa setiap kali bersentuhan dengan sang istri Yudis merasakan gelenyar halus seperti yang pernah ia rasakan, namun ia tak mungkin menyergap sang istri sebelum mendapatkan hatinya terlebih dahulu.


Ia ingin Kayfa melayaninya dengan kerelaan hati bukan hanya sekedar melakukan kewajiban, ia ingin menyertakan cinta di dalamnya sehingga menciptakan bahagia setelahnya bukan penyesalan.


Malam merangkak menjemput pagi, fajar menyingsing menghadirkan semburat jingga yang indah.


Kayfa yang telah terbangun sengaja ingin menyaksikan matahari terbit dari balkon villa tempatnya saat ini. Dengan menyambut hari baru ia melambungkan harapan semoga Yudis benar adalah malaikat yang di kirim Tuhan untuk mengangkatnya dari kubangan hitam yang selama ini membelenggunya.


"Kenapa tidak membangunkan ku?" tanya Yudis menghampiri Kayfa.


Saat terbangun ia tidak menemukan istrinya di tempat tidur, pintu kamar mandi juga terbuka menandakan tidak ada orang disana, kemudian pandangannya tertuju pada tirai gorden yang bergerak teriup angin sudah pasti pintu balkon itu terbuka hingga ia menemukan sang istri tengah menikmati fajar seorang diri.


"Ifa ga enak mau bangunin mas, kelihatannya mas lelah sekali" sahut kayfa tanpa mengalihkan pemandangan yang mungkin tidak akan bisa ia lihat lagi ketika kembali ke kota asalnya.


"Cantiknya" celetuk Yudis.


"hmm.. cantik sekali" sahut kayfa tanpa mengalihkan pandangan, ia mengira suaminya tengah mengagumi keindahan alam di depan matanya, nyatanya yudis tengah menatapnya dengan intens tentu saja Kayfa tidak tau hal itu.


Tangan Yudis bergerak menyentuh pipi kayfa, ibu jarinya mengusap lembut kulit Kayfa.


Perlakuan Yudis membuat Kayfa salah tingkah, suasana pagi yang syahdu berhasil menyatukan kedua insan yang tengah menata hati, sebuah kecupan Yudis berikan pagi itu, menyudahinya sebelum naga tidur berontak di tempatnya, tak ingin terburu-buru yang justru akan memicu trauma Kayfa kembali bangkit.


"Ayo masuk" Yudis menarik tangan Kayfa, barulah ia sadar jemarinya Tengah dalam genggaman tangan besar Yudis.


Seperti di cocok hidung Kayfa mengikuti Yudis, ia masih belum sepenuhnya sadar, seolah separuh raganya melayang saat kecupan itu menyambangi bibirnya.


"Kenapa Fa? Mau lagi?" bisik Yudis menarik kesadaran Kayfa sepenuhnya.

__ADS_1


"Ih apaan sih" Kayfa mendorong dada Yudis hingga genggamannya terlepas kemudian berlari ke kamar mandi untuk menyelamatkan diri dari rasa malu.


Kayfa berdiri di depan cermin, menyentuh wajahnya yang memerah lalu bergerak menyusuri bibir kemudian menyentuh dadanya, debaran jantungnya seperti ingin melompat keluar dari rongga dadanya.


Kayfa menyelesaikan mandinya, membiarkan air menguyur tubuhnya dari ujung kepala sampai kaki berharap bisa meredakan debaran jantungnya dan membuat fikiran kotor turut lenyap terbawa arus air.


Sentuhan kecil itu mampu membangkitkan ingatan masalalu ketika sentuhan itu ia rasakan dulu, rasanya sama meski itu sudah berlalu sangat lama.


Acara mandinya telah selesai, Kayfa membalut tubuhnya dengan bathrobe dan keluar perlahan meneliti ruang kamar, dirasa aman ia segera membuka koper dan mencari baju untuk ia kenakan hari ini, membawanya kembali ke kamar mandi dan memakainya.


"Sudah selesai Fa?" tanya Yudis mendekati Kayfa yang tengah menyisir rambut setengah basahnya.


"Kamu keramas ya?" menarik ujung rambut Kayfa ke Indra penciuman dan menyesapnya seraya memejamkan matanya. "wangi" ucapnya lagi.


"Udah mas sana mandi" Kayfa mendorong Yudis ke kamar mandi membuat Yudis terbahak melihat Kayfa yang salah tingkah.


Suara tawa Yudis mengganggu membuat Angga terbangun "mama tenapa dolong papa?" suara parau itu menghentikan aksi kedua pasutri itu.


"Papa ga mau mandi nak, jadi mama dorong" jawab Kayfa duduk di tepi ranjang.


"Mama mandiin papa aja, anda talo da mau mandi Mama mandiin" celetuk Angga semakin membuat Kayfa malu.


"Papa sudah besar harus mandi sendiri, Angga kan masih kecil jadi Mama mandiin tapi Angga juga harus belajar mandi sendiri ya"


"Angga mau mandi sama papa?" ajak Yudis yang langsung di iyakan angga.


"mauuu" Angga bersorak.

__ADS_1


"Hati-hati sayang" teriak Kayfa karna Angga langsung melompat dan berlari menghampiri yudis


Ayah dan anak itu menghabiskan paginya dengan mandi berdua dalam waktu yang cukup lama, kegiatan ini mampu menguapkan segala beban dan rasa penat Yudis serta keterpurukannya selama ini, kini Yudis bagai terlahir kembali dengan semangat baru yang ia yakini hari-hari kedepannya akan lebih indah bersama anak dan istrinya.


__ADS_2