
"O-om.." ucap Kayfa terbata, Kayfa masih sangat muda telinganyapun tidak pernah bermasalah, ia mendengar dengan jelas pria itu memanggil tuan Brata dengan sebutan om.
Kayfa menggendong Angga yang semula ia dudukan di samping Gibran saat isi menyambut Yudis tadi. Ia bermaksud melarikan diri dari tempat yang membuatnya terpojok oleh rasa malu karna kebodohannya sendiri.
"papa.." Angga meronta dari gendongan Kayfa namun Kayfa tak melepaskan Angga karna ia mengira Angga hanya tengah berceloteh saja.
"Tunggu" kini Yudis yang bersuara menghentikan langkah Kayfa yang sedikit kesusahan karna Angga memberontak dalam gendongannya.
Yudis melangkah mendekati Kayfa yang terlihat kesusahan membenarkan gendongannya agar Angga tidak terjatuh.
Posisinya yang membelakangi Yudis sehingga ia tak melihat uluran tangan Yudis yang hendak menggendong Angga namun saat Yudis berada tepat di sampingnya Kayfa mengalihkan Angga ke sisi lain menjauhkan Angga dari jangkauan yudis.
Angga adalah anaknya yang ia kandung dan lahirkan dengan penuh perjuangan, rasanya tidak rela ada seseorang yang berhasil merebut hatinya hanya dalam sekali pertemuan saja. Hatinya sakit, ia merasa tersisih oleh sosok laki-laki yang bahkan belum ia kenal sama sekali.
"Papa.." Angga kembali memanggil Yudis di sertai tangisan.
"Biarkan aku menggendongnya" Yudis berkata seraya menepuk bahu Kayfa pelan, jaraknya yang sangat dekat membuat penciumannya menangkap wangi yang menyeruak dari pria yang berdiri di sampingnya memohon belas kasihan dari Kayfa.
Kayfa memejamkan matanya, gendongannya melonggar sehingga Yudis dapat mengambil Angga dan membawa pria kecil itu dalam dekapannya di sertai kecupan di pucuk kepalanya.
"Ini papa nak, Angga jangan nangis ya, ini sudah papa gendong" tangis dua pria beda usia memenuhi ruang tamu rumah itu.
Yudis yang telah kehilangan sang anak begitu tersentuh dan langsung menyayangi Angga di pertemuan pertama mereka. Meskipun sebelumnya Yudis mengira kalo Angga adalah ghifa anaknya. Penjelasan dari tuan Brata telah menyadarkannya namun ia tak ingin kehilangan Angga seperti ia kehilangan ghifa.
__ADS_1
Itulah mengapa pertemuan hari ini di lakukan, karna kalo Yudis ingin memiliki Angga sebagai anaknya, Yudis harus mau menikahi Kayfa ibu dari Angga.
Tidak menjadi masalah untuk Yudis menikahi Kayfa karna saat ini ia tidak terikat pernikahan dengan siapapun. Ia hanya ingin memiliki Angga untuk mencurahkan segala kasih sayang yang seharusnya untuk anaknya yang entah dimana keberadaannya bahkan masih hidup atau sudah tiadapun ia tidak tahu.
"Fa" Gibran menyentuh bahu Kayfa yang bergetar, ia mengerti bagaimana perasaan Kayfa. Selama ini ia merawat Angga seorang diri bahkan ia harus mengorbankan masa mudanya demi Angga, ia melupakan kesenangannya, bekerja siang malam agar anaknya tidak merasa kekurangan.
Gibran membawa tubuh rapuh Ifa dalam dekapannya, rasanya ia salah mengambil langkah namun saat ini ia tak mungkin bisa mundur lagi.
"Maafkan Abang Fa, semua ini Abang lakukan untuk kebaikan kamu dan Angga. Jika kamu menikah dengan Yudis kamu tidak perlu bekerja, kamu hanya perlu merawat Angga di rumah, menjalankan rumah tangga sesuai syariat, Abang yakin Yudis dapat menjadi ayah yang baik untuk Angga dan juga suami serta imam yang baik untuk kamu."
kayfa tak punya pilihan ia dapat melihat dengan jelas bagaimana Angga mendambakan Yudis, bagaimana Angga bahagia bersama Yudis namun Ifa masih bingung bagaimana rumah tangganya nanti jika pernikahan itu benar-benar terjadi.
Gibran mengiring Kayfa kembali duduk di kursi yang semula ditempatinya, airmatanya belum berhenti mengalir, suaranya bahkan tidak dapat keluar tercekat di tenggorokan.
Sudah dua orang yang menjelaskan bahwa orang yang akan menikahi Kayfa adalah Yudis bukanlah tuan Brata, namun Kayfa belum bisa mencerna ucapan siapapun, pikirannya buntu bagaimana orang asing berhasil menggeser posisinya di hati Angga.
"Mama" Kayfa mengangkat wajahnya mendengar suara kecil itu memanggilnya. Angga berpindah dari pangkuan Yudis ke pangkuan Kayfa. Tangan kecilnya mengusap pipi dan airmata Kayfa "Mama nanan nanis" Kayfa tak kuasa lagi menahan rasa sesak di dadanya, ia mendekap sang putra erat bahkan sangat erat.
"Mama atit" keluh Angga merasa kesakitan karna pelukan ibunya yang terlalu kencang.
"Ifa lepas, kamu membuat Angga kesakitan" tepukan di bahu Kayfa menyadarkannya, tanpa sadar mendekap anaknya terlalu kuat. Rasa takut kehilangan membuatnya berbuat seperti itu.
"Jangan ambil anakku" tangisnya pecah ia tak sanggup lagi menahannya, Kayfa memohon belas kasihan dari orang-orang di hadapannya.
__ADS_1
"Tidak ada yang akan mengambil anakmu karna aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang anak Ifa. Tolong berilah aku kesempatan untuk dapat menyayangi Angga seperti kamu menyayanginya. Menikahlah denganku kita rawat Angga sama-sama, Kita besarkan Angga sama-sama. Meskipun saat ini tidak ada cinta diantara kita, kita bisa meminta kepada tuhan agar menumbuhkan cinta diantara kita demi Angga"
Tanpa ikatan darah Yudis dapat menyayangi Angga, bahkan sangat menyayanginya. Tapi kenapa laki-laki brengsek itu yang notabene ayah kandung Angga justru membenci darah dagingnya sendiri, Ifa membatin.
...****************...
Satu Minggu berlalu, pernikahan akan di gelar hari ini secara sederhana. Pada akhirnya Kayfa menerima lamaran Yudis dengan syarat ia tak ingin ada publikasi pernikahan hanya akan di hadiri keluarga dan orang dekat saja, tidak lebih dari 20 orang.
Selama satu Minggu ini Kayfa menjalani harinya dengan gamang, ia bimbang dengan keputusannya menerima lamaran Yudis. Kayfa tidak mengenal Yudis, meskipun beberapa hari ini kerap di pertemukan untuk urusan pernikahan namun tak ada obrolan yang menunjukkan kedekatan keduanya, baik Kayfa juga Yudis sama-sama membentengi diri.
Pernikahan yang akan mereka jalani bukan karna cinta namun berlandaskan kompromi dan hubungan saling menguntungkan walau disini Kayfa sendiri yang akan di rugikan, hanya demi Angga Kayfa mau mengikuti semua perjanjian ini.
Kayfa mematut dirinya di depan cermin, riasan pengantin telah melekat di tubuhnya, dengan balutan kebaya sederhana berbahan brukat, di padukan dengan kain batik menambah ke anggunannya
Di kediamannya, Yudispun tengah bersiap meski bukan hal pertama namun tetap terasa kesakralannya dan tentu dengan ketegangannya.
"Calon manten kok wajahnya kuyu?" pak Brata berkata untuk mencairkan suasana.
Sangat kentara kalo Yudis tengah gugup, sesekali ia menyeka keringat yang selalu saja keluar di area wajahnya.
"Udah jangan di usap terus nanti makeup nya luntur" ledek pa Brata, Yudis hanya mendelik mendengar ucapan sang paman.
"Lucu deh kamu, ini kan bukan pertama kali ijab Qabul, Dis. Masih aja gugup, kalo keringetan terus malah nanti mukanya berminyak" lagi-lagi pak Brata mengeluarkan ocehannya membuat Yudis sedikit kesal dengan sang paman. Namun ia sangat berterima kasih pada sang paman yang telah merawatnya dengan sangat baik, satu-satunya keluarga yang tersisa saat ini.
__ADS_1
"Terima kasih paman, " Yudis tak kuasa melanjutkan perkataannya, kedua paman dan keponakan kini melebur dalam pelukan penuh keharuan.