
"tita mau temana papa?" tanya Angga setelah mobil mulai bergerak.
"Hari ini kita akan ke kebun binatang" seru yudis.
"yeeey... anda cuta binatan papa" soraknya. Ini kali pertama Angga mengunjungi kebun binatang.
Kayfa hanya menjadi pendengar saja, sesekali ia mencuri pandang suami tampannya itu 'semoga kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir' gumamnya dalam hati.
"Angga suka binatang apa?" tanya Yudis.
"Anda cuta tucin papa" jawabnya.
"Di kebun binatang tidak ada kucing nak, tapi Nanti kita lihat kucing besar di kebun binatang, Angga takut ga sama binatang?"
"Anda belani papa, Tan anda tadoan" serunya.
Sampailah mereka di tempat tujuan, kebun binatang itu tampak tidak begitu ramai mungkin karna bukan waktunya liburan.
Angga antusias sekali berlari-lari kecil menarik tangan sang papa. "Papa lihat itu bulung melah" tunjuk angga.
"Oh iya, duuh anak papa pintar" mengusap kepala jagoannya kemudian meraih tubuh kecil itu dalam gendongannya "Ayo kita lihat ada binatang apa lagi ya!"
Yudis berjalan menyusuri deretan binatang yang di pertontonkan, ia memperkenalkan satu persatu binatang yang di lihatnya.
"Papa itu.." Angga menunjuk gajah tunggang, ia sebenarnya ingin naik tapi tak berani memintanya.
"Oh iya ada gajah, ayo kita naik gajah! Angga berani ga naik gajah?" Yudis menyadari tatapan Angga yang segan untuk meminta.
"yeeey.. belani papa" matanya berbinar saat sang ayah mengajaknya menaiki gajah.
"Mama mau ikut naik?" melirik sang istri yang menjadi pengamat sejak tadi.
"Tidak kalian saja, aku tunggu di situ ya" tunjuk Kayfa pada sebuah bangku tak jauh darinya.
"Baiklah papa sama Angga naik gajah dulu ya mama!" pamitnya seraya mencuri ciuman di pipi Kayfa, membuat Kayfa kaget sekaligus malu bagaimana bisa suaminya begitu berani menciumnya di tempat umum.
__ADS_1
Yudis berlari kecil bersama Angga, tampak keduanya sangat bahagia. Kayfa mengarahkan kamera ponselnya untuk mengabadikan moment itu.
Setelah menenangkan degup jantungnya karna ulah sang suami Kayfa beranjak dan menduduki bangku yang tadi di tunjuknya.
Kayfa membuka ponselnya, ia melihat hasil jepretannya hari ini, hari yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Begitu banyak gambar yang Kayfa ambil secara diam-diam, senyumnya terukir kebahagiaan itu akhirnya bisa ia rasakan meskipun rasa takutpun masih menyelimuti hatinya. Sepertinya Yudis harus lebih keras lagi untuk meyakinkannya.
"Coba lihat!" Kayfa tersentak, entah berapa lama ia melamun kini Yudis dan Angga sudah berada disisinya.
"Wah kamu seperti paparazi saja" cibirnya "pantesan dari tadi diem-diem Bae" mencubit hidung Kayfa pelan setelah mengamati hasil jepretan Kayfa di ponselnya.
"Mama mana poto anda nait dadah?" Kayfa tersentak ia tak mengambil gambar Angga saat naik gajah tadi.
"Maaf sayang, mama ga fotoin Angga waktu naik gajah" merasa bersalah karna terlalu sibuk dengan perasaannya.
"Yaah" Angga merengut ia tampak lesu, padahal ini pertama kalinya ia naik gajah tapi tak ada fotonya untuk di perlihatkan ke pamannya.
"Maafkan mama ya sayang" meraih tubuh kecil itu ke dalam pangkuannya, mengusap puncak kepalanya.
Angga langsung mengambil foto itu "Nanti atu tacih liat om ya ma" wajah yang tadi merenggut kembali ceria.
Kayfa melihat yudis, sorot matanya mengisyaratkan terima kasih, Yudis memahami maksud sang istri, yudis membelai pipi kayfa demi mengurangi rasa bersalahnya.
"Mama, anda lapal!" Kayfa kembali melirik Yudis, membuat Yudis tersenyum, ia merasa di butuhkan oleh sepasang ibu dan anak ini.
"Ayo kita cari makan boy" Angga menolak di gendong Yudis ia memilih berjalan menggandeng tangan mama papanya di sebelah kiri dan kanannya.
Sesekali tangan kecil itu di angkat hingga Angga melayang membuatnya senang bukan main.
"Hahaha.. Anda cuta, cetalan anda bica tantunan taya Ical" serunya kegirangan.
Yudis tak mengerti dengan ucapan Angga, ia melirik istrinya. "Angga sering melihat temannya Rizal di ayunkan mama papanya seperti ini" rupanya Kayfa mengerti arti tatapan Yudis namun ada rasa sesak yang Yudis rasakan, bahkan hal sederhana seperti inipun Angga baru merasakannya.
Yudis semakin di buat penasaran bagaimana kehidupan rumah tangga Kayfa dulu, namun ia tak sampai hati membuat sang istri harus mengorek luka lamanya. 'Aku akan mencari tau sendiri bagaimana hidupmu dulu, agar aku bisa memberikan apa yang belum kamu dapatkan untuk menggantikan kenangan pahitmu di masa lalu' janji Yudis dalam hati.
__ADS_1
Keluarga kecil itu kini sudah berada di sebuah restoran yang masih berada dalam area tempat wisata tersebut. Angga duduk sendiri bersebelahan dengan yudis, sementara Kayfa duduk di depan Yudis.
"Angga mau makan apa?"
"Anda boleh matan titen pa?" jawab Angga ragu-ragu.
"Boleh dong, apapun yang Angga mau papa kasih" sahut Yudis.
Tiba-tiba Angga menangis membuat Kayfa dan Yudis kebingungan. " loh nak, kenapa nangis sayang" Angga yang di tanya tak menjawab ia hanya menangis meraung-raung.
Yudis mengangkat tubuh mungil itu mendudukan di pangkuannya, tangan mungil itu melingkar di leher Yudis. Tangan kiri Yudis menyangga bokong Angga sedangkan tangan kanannya mengusap-usap punggung Angga untuk meredakan tangisnya.
Tak ada yang bicara, hanya tangis Angga yang terdengar mencuri atensi pengunjung restoran. Kayfa malu menjadi pusat perhatian "Mas, kita pindah saja makannya jangan disini" ucap Kayfa karna tak nyaman menjadi sorotan orang-orang di sekelilingnya.
"Kenapa?" tanya Yudis
"Aku malu" cicitnya
"Ngga usah malu, kita tetap disini, lagi pula Angga mau makan chicken iya kan nak?" Yudis dengan sabar menunggu tangis Angga reda.
"Anda da natal tan pa?" gumam Angga menunduk.
"Engga Angga ga nakal, Angga baik kok" jawab Yudis namun bingung mengapa Angga menanyakan hal itu.
"Papa Nanan tindalin anda, anda tanti da atan natal"
tangis Angga sudah reda namun ia masih sesegukan di pundak Yudis.
"Loh siapa yang bilang kalo Angga nakal?" Angga menggelengkan kepalanya, Yudis mendongakkan kepala Angga, matanya sangat jernih namun menyimpan banyak luka, Yudis kembali mendekapnya ada rasa sesak melasak dalam dadanya.
"Ya sudah makan yuk, tuh chikennya sudah datang" tunjuk Yudis ke atas meja yang sudah tersaji beberapa menu makanan, mengusap sisa airmata pria kecil ini sebelum memindahkannya kembali ke tempat duduknya semula.
'Ternyata bukan cuma mamamu yang mengalami trauma, bahkan sekecil ini kamupun banyak menyimpan luka. Tapi jangan khawatir nak, sekarang ada papa, papa akan melindungi kamu dan mamamu, menggantikan lukamu dengan kebahagiaan. itu janji papa' gumam Yudis dalam hati.
"Makan yang banyak ya!" setelah mengusap kepala Angga kini tatapannya beralih pada bidadari di depannya. Tugas dan tanggung jawabnya kini bertambah, ada anak dan istri yang harus ia prioritaskan saat ini.
__ADS_1