Ayah Untuk Anakku Adalah Pria Depresi

Ayah Untuk Anakku Adalah Pria Depresi
Berlibur


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Angga telah terbangun bahkan semalaman tidak tidur dengan benar, ia beberapa kali terbangun, sudah tidak sabar menanti hari esok dimana ia dan mama papanya akan pergi berlibur.


"Duh yang mau pergi, semangat bener pagi-pagi udah bangun" Gibran menghampiri Angga yang tengah duduk menanti mamanya bersiap sementara Yudis membuat kopi untuknya serta susu untuk Angga dan teh untuk Kayfa.


Gibran melihat Yudis membawa nampan berisi tiga gelas dengan berbeda isi "Buat aku mana?" tanya Gibran.


"Maaf bang aku ga tau Abang mau apa" Yudis sedikit malu karna ia mengobrak Abrik dapur untuk membuat minuman itu.


"Santai aja" ucap Gibran menepuk pundak Yudis seraya beranjak.


setelah menghabiskan minuman di gelas, ketiganya pergi ke bandara dengan diantar supir paman Brata.


Gibran awalnya berencana mengantar keluarga baru itu namun panggilan kerja harus ia prioritaskan terlebih paman Brata sudah mengirimkan supir untuk mengantarkan mereka ke bandara.


Sesampainya di bandara, waktu masih cukup lama, Yudis membawa istri dan anaknya ke sebuah kafe untuk mengisi perutnya karna tadi perut mereka hanya di isi minuman saja.


"Papa, tita nanti nait pecawat?" tanya Angga yang tak pernah lepas dari gendongan Yudis. Seperti mendapatkan jiwanya yang lama hilang Yudispun selalu memanjakan dan memenuhi setiap permintaan Angga.


"Iya sayang, nanti Angga, mama dan papa naik pesawat" jawab Yudis melirik Kayfa yang terlihat biasa saja.


"Jangan jauh-jauh sayang nanti kamu hilang" Yudis menarik pundak Kayfa dengan sebelah tangannya yang bebas.


"CK" Kayfa hanya mendelik ia malu mempertontonkan kemesraan di depan umum, terlebih panggilan 'sayang' yang baru saja Yudis ucapkan membuatnya semakin tidak nyaman.


Kayfa berusaha menepis, tangan Yudis yang bertengger indah di pundak Kayfa namun tangan itu tak juga mau lepas membuat Kayfa kesal dan membiarkannya saja membuat si empunya tangan bersorak dalam hati.


Perjalanan udara yang di tempuh selama 1 jam 50 menit itu berjalan lancar tanpa hambatan, dengan si balita yang justru tertidur pulas setelah pesawat lepas landas bahkan hingga mereka telah sampai di sebuah villa yang cukup asri dengan pemandangan pantai yang sangat indah.


"Dia sangat kelelahan, tidurnya pulas sekali" ucap Yudis setelah membaringkan Angga di kasurnya lalu mengecup puncak kepala Angga " Tidur yang nyenyak jagoan papa" kemudian beranjak.


"Terimakasih" ucap Kayfa, membuat Yudis mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Untuk?" tanya Yudis.


"untuuuk... semua yang kamu lakukan untuk Angga" jawab Kayfa tanpa melepaskan tatapan pada malaikat kecilnya yang tersenyum bahkan ketika dia tidur.


Yudis menarik pergelangan tangan Kayfa membawanya ke balkon kamar, dimana dari sana terlihat hamparan laut.


"Duduk dini!" ajaknya kemudian lebih dahulu mendudukan dirinya.


"Duduklah Fa, kita harus bicara" ucap Yudis kembali ketika Kayfa masih saja berdiri. Kayfapun duduk di kursi yang sama namun sedikit berjarak.


"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya yudis di angguki Kayfa.


"Menurut kamu siapa aku?" tanya Yudis menatap sang istri yang tengah duduk dengan menundukkan kepalanya.


"s- suami" ucapnya pelan hampir tak terdengar, Yudis menarik sudut bibirnya Kayfa tidak mengelak dengan status mereka.


"Karna aku suami kamu, itu berarti Angga adalah anak aku kan Fa?" Kayfa semakin menunduk namun ia merespon setiap perkataan Yudis "Semua yang aku lakukan adalah kewajiban aku sebagai papanya Angga" ada rasa hangat menjalar di hatinya, sesuatu yang baru ia rasakan. Matanya sudah berkaca-kaca mengingat sejak dalam kandungan Angga sudah mendapatkan penolakan dari ayah kandungnya sendiri.


Airmata yang telah menggenang pun meluncur bebas seiring menutupnya kelopak mata Kayfa, Yudis selalu bicara dengan lembut namun sangat mengena di hatinya.


Yudis mendongakkan wajah Kayfa, menyeka airmatanya kemudian mendaratkan kecupan di kening kayfa lama.


Kayfa membuka matanya sangat lebar ketika sesuatu yang dingin menyapa keningnya. Airmatanya mengalir tak tertahankan, ia tak pernah di perlakukan seperti ini oleh suaminya dulu.


"Loh kok malah makin kenceng nangisnya?" ucap Yudis sedikit khawatir. "Apa aku nyakitin kamu?" ucapnya lagi.


Kayfa menggeleng kemudian menghambur dalam pelukan Yudis, membuat Yudis semakin di buat panik karna kayfa semakin terisak bahkan tangisnya terdengar sangat menyayat hati.


"Sudah jangan menangis lagi!" Yudis meraih tangan Kayfa hendak melepas pelukannya namun Kayfa memeluknya semakin erat, Yudis mengusap punggung sang istri membiarkannya menumpahkan segala emosinya yang selama ini terpendam.


Setelah beberapa menit Kayfa baru sadar posisinya yang memeluk Yudis dan semua itu membuatnya malu, wajahnya merah, ia melepaskan pelukannya dan beranjak namun tangan Yudis menahan dan sedikit menariknya agar Kayfa kembali duduk.

__ADS_1


"Duduk dulu sayang, Angga aja masih tidur, kita disini dulu nikmatin pemandangan yang indah ini. kamu suka ga?" ucap Yudis.


"Suka apa mas?" akhirnya suara indah itu dapat Yudis dengar, karna sedari tadi Kayfa hanya mengangguk-angguk saja.


"Suka tempat ini? suka aku juga boleh, boleh banget malah" Menaik turunkan alisnya.


"adoooh... kok di cubit sih sayang?" terasa panas pinggang yang sempat mendapatkan Capitan kepiting ala Kayfa.


"Kamu sih ngomongnya sembarangan" ucap Kayfa mulai berani mengekspresikan apa yang ia rasakan.


"Kok sembarangan? loh kan bener sayang, kamu boleh banget suka sama aku. kalo aku suka sama kamu boleh ga? boleh ya? boleh dong?" goda Yudis mencolek dagu Kayfa membuat perempuan itu salah tingkah dan memilih masuk ke dalam kamarnya.


Yudis menghembuskan nafasnya, setelah Kayfa masuk ke dalam kamar. Ia harus perlahan membuat Kayfa bisa terlepas dari rasa traumanya.


...****************...


Keluarga kecil itu makan siang di dalam villa, Kayfa dengan telaten menyuapi Angga.


"Fa, biarkan Angga makan sendiri" ucap Yudis.


"Tapi nanti berantakan mas" sanggah Kayfa.


"Tidak apa, nanti biar di bersihkan pelayan. Kita harus mengajarkan Angga mandiri" Kayfa menatap suaminya, ia pernah membaca artikel mengenai hal itu namun ada rasa tak tega melihat anaknya yang terlihat susah payah menggapai makanannya padahal Angga justru senang.


Setelah menyelesaikan makannya, Kayfa memandikan Angga, karna makannya yang berantakan membuat badannya ikut kotor.


"Jagoan papa sudah wangi, siap mau jalan-jalan boy?" tanya Yudis mensejajarkan tubuhnya dengan Angga.


"tiap papa!" teriak Angga memberikan gerakan menghormat kepada Yudis.


"Oke let's go! Ayo mama kita jalan-jalan" Yudis menggendong Angga kemudian merangkul bahu Kayfa.

__ADS_1


Nampak keluarga kecil itu sangat bahagia, melangkah bersama menuju mobil yang sudah Angga pesan sebelumnya untuk membawa keluarga kecilnya menjelajahi pulau itu.


__ADS_2