Ayah Untuk Anakku Adalah Pria Depresi

Ayah Untuk Anakku Adalah Pria Depresi
Lamaran


__ADS_3

Gibran membawa Angga yang tengah terlelap dalam gendongan, melangkah mendekati pintu namun pintu sudah terbuka menampakan wajah cantik yang menatapnya tajam.


"Assalamu'alaikum.. Kamu udah pulang, Fa?" tanya Angga melengos menuju kamar sang adik untuk menidurkan Angga di kasurnya.


"Wa'alaikumsalam.. " Kayfa mengekori sang kakak setelah menutup pintu.


"Kamu kenapa?" Gibran merasa ada yang aneh dengan sikap adiknya.


"Kamu naenya? kamu bertanya-tanya?" kesal dengan kakaknya Kayfa menatap Gibran tajam seakan-akan hendak menerkamnya. "Gara-gara kamu bang! aku di pecat" sadar akan anaknya yang tengah tertidur Kayfa berusaha meredam emosinya.


"Loh, kenapa nyalahin aku?" tak ingin disalahkan gibranpun memberikan pembelaan. Melengos meninggalkan Kayfa yang masih berdiri seraya menatapnya tajam setajam silet.


"Terus aku harus nyalahin siapa bang?" kayfa mengekori Gibran keluar kamar, langsung pecah suaranya menggelegar di ruang tamu " Kamu biarin Angga sama orang asing bang, gimana aku ga kepikiran. sampe-sampe aku ga bisa fokus dan melakukan banyak kesalahan tadi di tempat kerja" pecahlah airmata Kayfa mengingat ia kini tak mempunyai pekerjaan tentu penghasilan pun tidak ada untuk beberapa waktu ke depan.


" Aku pamannya Angga, ga akan aku biarkan seseorang mencelakainya. Kamu aja yang terlalu parnoan, aku juga bukan orang bodoh kali Fa, membiarkan Angga berdua dengan orang asing." Gibran berusaha menenangkan adiknya, terbersit rasa bersalah dalam dadanya karna ulahnya sampai membuat Kayfa kehilangan satu-satunya mata pencahariannya. Gibran menarik Kayfa dalam pelukannya.


" Aku takut bang" Kayfa menangis dalam pelukan Gibran.


"Apa yang kamu takutkan? Kamu lihat Angga dia sangat membutuhkan sosok seorang ayah. meskipun ada aku pamannya tapi tentu saja semua itu berbeda. Terimalah lamaran tuan Brata" kayfa mendelik, sekuat tenaga mendorong dada sang kakak sehingga pelukannya terlepas.


Kayfa berlari menuju kamarnya, ia tak ingin membahas tentang pernikahan dengan siapapun. Sudah sejak awal perceraian Kayfa tegas menolak untuk menikah lagi namun sang kakak tak pernah bosan terus mendesaknya.


"Semua ini demi kamu dan Angga" Gibran membatin.


...****************...


"Fa, nanti tolong masak yang banyakan ya! Aku ada tamu sekitar lima atau enam orang" Titah Gibran seakan-akan tak pernah terjadi apapun semalam.


Kayfa mendelik, ia masih kesal dengan sang kakak namun tak urung iapun menuruti ucapan kakaknya. Kayfa tak ingin membuat kakaknya kehilangan muka di depan tamunya.


Setelah berbelanja Kayfa berkutat di dapur sementara Angga bermain dengan pamannya, sengaja Gibran membiarkan Kayfa fokus memasak karna di rumah itu tidak ada pembantu hanya pengasuh Angga yang datang pagi dan pulang saat Kayfa atau Gibran pulang kerja.


Hari ini pengasuh Angga tidak datang, Kayfa berencana selama ia belum mendapatkan pekerjaan lagi ia akan mengurus Angga sendiri tanpa pengasuh. Ia harus pandai-pandai mengatur keuangan agar dapat mencukupi kebutuhan Angga selama ia menjadi pengangguran.

__ADS_1


"Udah beres tuh bang" ketus Kayfa, ia menggendong Angga dan membawanya ke kamar.


"Kamu mandi dan siap-siap temenin aku menyambut tamu" ucap Gibran berhasil menghentikan langkah Kayfa menuju kamarnya.


"Kenapa aku?" menunjuk dirinya sendiri merasa bingung kenapa ia harus ikut menyambut tamu.


"Sebagai tuan rumah yang baik kita harus menyambut tamu dengan benar, apalagi tamu ini orang penting" ujar Gibran berjalan mendahului Kayfa untuk bersiap, ia sudah mandi hanya tinggal mengganti pakaian yang lebih formal.


"Menyebalkan, siapa sih tamunya kenapa ga ketemu di luar aja. restoran kan banyak" gerutu Kayfa, terpaksa ia bersiap dengan terlebih dahulu mendandani anaknya.


...****************...


Tamu yang datang tak banyak hanya 1 orang laki-laki paruh baya dan 2 orang laki-laki seumuran dengan kakaknya.


Kayfa menyajikan minuman beserta kue yang di buatnya tadi " Silahkan, maaf disini hanya ada yang seperti ini" Kayfa bertutur ramah. Gibran tersenyum, adiknya itu memang penurut meskipun ia tengah kesal namun ia Takan menunjukan kekesalannya di depan orang lain.


"Terima kasih nak Ifa, pasti enak kue buatan nak Ifa" Kayfa mengerutkan dahinya bagaimana bisa orang tua itu tau kalo itu kue buatannya.


"Duduklah" Gibran membuka suaranya.


"Begini nak, seperti yang sudah saya bicarakan dengan kakakmu beberapa waktu lalu saya hari ini sengaja berkunjung untuk tujuan yang sama yaitu membawa lamaran untukmu"


Jeder


Bagai petir yang menyambar Kayfa mendengar penuturan yang di sampaikan Tuan Brata, Kayfa mendelik ia sangat ingin marah dengan kakaknya, yang sengaja menjebaknya hari ini.


"Sebelumnya saya minta maaf jika jawaban yang akan saya sampaikan membuat anda kecewa, saya sampai saat ini belum terpikirkan untuk menikah kembali, terlebih selisih usia kita terlampau jauh, anda lebih pantas menjadi ayah saya dari pada suami saya" tak ingin banyak berbasa-basi Kayfa mengutarakan isi hatinya dengan sangat gamblang.


"Fa!" Gibran merasa tidak enak dengan atasannya, sungguh ia malu mendengar perkataan Kayfa yang terlampau jujur.


"Loh kan bener bang, tuan Brata udah tu aa.." Kayfa tak melanjutkan ucapannya karena pelototan Gibran yang cukup menakutkan membuat Kayfa menjadi bungkam.


Tuan Brata tersenyum kecut tapi tak menampakan ekspresi kemarahan disana.

__ADS_1


"Saya memang sudah tua nak Ifa, tapi jiwa saya masih bisa bersaing dengan anak muda"


"Hah,, anda ga sadar diri, bersaing dengan anak muda bisa-bisa encoknya kambuh" Kayfa membantah setiap ucapan tuan Brata, ia sangat kesal di pertemukan dengan orang tua yang tak tau diri pikirnya.


"Ifa jaga bicara kamu!" Gibran sudah sangat malu dengan kelakuan adiknya. "Maafkan adik saya tuan" pada akhirnya hanya bisa meminta maaf dan tertunduk malu, Kayfa benar-benar mencoreng mukanya.


"Tapi.." ucapan Kayfa kembali terpotong karena pelototan Gibran.


"Bisa diam tidak? Dengar dulu orang kalo lagi ngomong, jangan langsung kamu bantah tanpa kamu cerna dengan baik. Kamu bukan anak kecil lagi Ifa" geram di buatnya kini Gibran mengeluarkan kekesalannya meskipun dengan nada yang tidak tinggi namun cukup mengena.


Kayfa tertekan, ia sangat tidak suka di paksa apalagi tentang perjodohan, sudah cukup sekali ia menerima perjodohan dan berakhir dengan perceraian. Ia tak ingin lagi merasakan sakitnya tidak di hargai.


"Begini nak,, saya melamarmu sebenarnya bukan untuk saya, tapi untuk anak saya, lebih tepatnya anak almarhum kakak saya, jangan khawatir dia masih muda kok, masih kuat" dengan seringai tuan Brata berucap.


"Assalamu'alaikum.." baru saja Kayfa membuka mulutnya hendak menjawab ucapan tuan Brata datang seseorang yang tidak asing baginya, Kayfa ternganga melihat wajah laki-laki yang kini berdiri di depan pintu.


"Wa'alaikumsalam,, mas sudah datang?" Kayfa menjawab salam dan menyambut tamu yang baru saja tiba seolah ia sangat mengenalnya.


Yudis yang mendapat sambutan seorang wanita cantik tak banyak bicara, ia hanya mengikuti tuan rumah menuju ruang tamu yang telah di tempati empat orang pria.


"Maaf tuan brata, perkenalkan ini calon suami saya. Jadi sekali lagi saya minta maaf, saya menolak lamaran anda"


Pernyataan Kayfa membuat seisi ruangan itu membulatkan mata sempurna, termasuk Yudis yang tidak tau menahupun di buatnya kaget luar biasa.


"Maksudnya apa ini?" Yudis tidak mengerti dengan ucapan wanita yang baru pertama kali dia lihat itu.


Kayfa menggaruk belakang kepalanya, mulutnya yang selalu berucap spontan membuat dia merencanakan tanpa kompromi terlebih dahulu. Ia bingung bagaimana menjelaskannya.


"Maksudnya gimana ini om?" kini Yudis beralih bertanya kepada sang paman yang tengah terduduk dengan mengulum senyum.


"O-om.." ucap Kayfa terbata,Kayfa masih sangat muda telinganyapun tidak pernah bermasalah, ia mendengar dengan jelas pria itu memanggil tuan Brata dengan sebutan om.


...****************...

__ADS_1


wkwk.. malu kan Fa🤭


__ADS_2