Ayah Untuk Anakku Adalah Pria Depresi

Ayah Untuk Anakku Adalah Pria Depresi
Kebahagiaan angga


__ADS_3

Kayfa berontak dalam dekapan Yudis, ia masih belum terbiasa dengan sentuhan orang asing, meskipun Yudis berstatus suaminya namun Yudis adalah orang asing bagi Kayfa, terlebih trauma yang kembali membuatnya ketakutan.


"Jangan takut Fa aku tidak akan menyakitimu" bujuk Yudis demi merespon penolakan Kayfa. Dekapannya tak terlepas meskipun Kayfa terus berontak. "Percaya padaku Fa, aku tidak akan menyakitimu".


Kayfa terus memberontak hingga tenaganya habis dan mulai lemas, ia biarkan saja tubuhnya di dekap Yudis.


Yudis meregangkan pelukannya kini beralih mengatupkan kedua tangan besarnya di kedua pipi Kayfa, "Buka matamu Fa, lihat aku, aku Yudis suamimu, aku tidak akan menyakitimu percayalah padaku" dengan lembut Yudis meyakinkan Kayfa hingga mata yang tertutup erat itu perlahan membuka.


Senyuman Yudis menjadi pemandangan pertama saat Kayfa membuka mata. Kayfa menundukkan pandangannya.


"Hey, lihat aku" sedikit memaksa mengangkat wajah Kayfa agar Kayfa bisa melihatnya "Cinta memang belum ada diantara kita, tapi kamu mau kan memulainya dengan saling mengenal?" lembut namun penuh ketegasan, Kayfa mengangguk pelan, menciptakan senyuman yang semakin merekah di bibir yudis "Alhamdulillah" ucapnya penuh syukur.


"Besok kamu packing baju ya?" pinta Yudis.


"Packing baju buat apa?" panik Kayfa tanpa sadar menggenggam pergelangan tangan Yudis, hingga mata mereka saling terpaut. Sebagai penderita PTSD Yudis jelas tau bagaimana ketakutan Kayfa memulai kembali ikatan yang menyisakan kesakitan luarbiasa hingga kini.


Kayfa sangat takut jika Yudis membawanya keluar dari rumah ini, setidaknya jika tinggal di rumahnya Yudis tak akan berani menyakitinya seperti mantan suaminya dulu karna di rumah itu ada kakaknya yang akan selalu melindunginya.


"Kita akan liburan, bukankah kamu setuju untuk kita bisa saling mengenal?"


"Kita liburan? berdua?" tanya Kayfa penuh kewaspadaan menciptakan senyuman smirk di bibir yudis, istrinya itu sungguh menggemaskan sepertinya akan menyenangkan menjahili istrinya.


Menyadari posisinya yang tidak baik Kayfapun melepaskan tangannya, ia beringsut mundur Yudis yang sudah gemaspun menggeser duduknya merapat kepada sang istri yang sudah mentok di sandaran ranjang, mencondongkan kepalanya hingga tepat di telinga Kayfa, bahkan pipi mereka saling menyapa mengalirkan aliran listrik di sekujur tubuhnya.


"Apa kau ingin kita pergi berdua?" tanya Yudis menyemburkan rona merah di pipi Kayfa.


"Kalo Angga ikut tidak akan mengganggu kegiatan kita kan?" bisiknya lagi, bahkan kini nafas yudis yang hangat menyapa lehernya membuat Kayfa meremang.


Menggoda sang istri rupanya begitu menyenangkan bagi Yudis, ia memberi jarak setelah berbisik melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.

__ADS_1


Kayfa mengatur nafasnya yang terasa sesak ketika berdekatan dengan Yudis tanpa jarak, tangannya mengusap tepat dijantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya, "huuuh,, gila ini aku bisa sakit jantung kalo deket-dekat dia" ia menghembuskan nafasnya merasa terlepas dari bahaya.


Di dalam kamar mandi Yudispun merasakan jantungnya berdegup kencang, sakitnya penghianatan masih begitu terasa terlebih kehilangan putra tersayang karena perpisahan tersebut.


Kepalanya terasa sakit jika mengingat semua itu namun perkataan sang paman kembali menyadarkannya untuk bangkit dan tunjukan kalo ia masih bisa berdiri tegak tanpa wanita penghianat itu.


Air mulai mengguyur dari ujung kepala hingga kaki, mengalirkan kegundahan hatinya, ia sudah berjanji kepada pamannya untuk bangkit membangun kembali hidupnya, Kayfa wanita yang baik terlebih ada satu persamaan dirinya dan Kayfa yaitu korban penghianatan meskipun Yudis tidak merasakan penganiayaan seperti yang Kayfa alami namun kehilangan buah hatinya sudah mampu membuat dunianya turut runtuh seketika.


Hari ini adalah titik balik hidupnya dimulai, semoga kedepannya tidak terjadi lagi kepahitan itu, Yudis akan mempertahankan rumah tangganya, Yudis bertekad menumbuhkan cinta diantara ia dan istrinya hingga tidak akan ada celah untuk orang ketiga masuk kedalamnya, tentu dengan Angga yang menjadi pengikatnya.


Kayfa sudah selesai menanggalkan segala pernak pernik yang menempel di kepalanya, ia tengah mondar mandir ketika derit pintu terbuka, "Fa, tolong ambilkan handuk" teriak Yudis dari balik pintu dengan membuka pintu sedikit agar suaranya dapat terdengar oleh Kayfa.


Sebagai istri Kayfa menurut, ia sudah tau tentang hak dan kewajibannya, Kayfa memberikan handuk baru yang diambilnya dari dalam lemari, namun Yudis bukannya menarik handuknya, ia mengulurkan tangannya lebih jauh untuk mencapai lengan Kayfa, sengaja Yudis menyentuh tangan Kayfa sebelum ia menyambar handuk di tangan Kayfa.


CK.. Kayfa hanya bisa berdecik melihat tingkah suaminya yang di nilai mesum itu.


"Itu bajunya udah aku siapkan" ucap Kayfa seraya bergerak miring membelakangi Yudis, ia sangat malu melihat tubuh bagian atas Yudis yang terekspos meski bukan hal baru namun Yudis adalah orang baru tentu itu sangat membuatnya tidak nyaman.


Melihat pergerakan Kayfa yang lucu demi menghindari menatap tubuhnya membuat Yudis tersenyum "Lucu banget sih kamu Ga" gumamnya.


Setengah jam di perlukan Kayfa untuk memanjakan diri di dalam ruangan yang sempit itu. Guyuran air hangat mampu meluruhkan rasa lelahnya. Sesekali ia menghembuskan nafasnya, siap tidak siap, mau tidak mau semua harus di jalaninya.


Pintu di buka perlahan, kepala ia keluarkan demi mengintip keadaan kamarnya. Kayfa begitu senang karna kamarnya kosong, Yudis tidak ada disana.


Kayfa keluar dengan telah berpakaian lengkap karna ia membawa baju gantinya ke kamar mandi. Bergegas mengeringkan rambutnya hingga kering, menyisir dan membubuhkan perintilan untuk merawat muka dan tubuhnya.


Tak ada lagi yang bisa di lakukannya iapun bergegas keluar mencari Angga yang sedari akad nikah tadi belum sempat bertemu.


Dirasakan haus Kayfa berbelok ke dapur untuk membasahi kerongkongannya dengan segelas air putih dari dalam lemari es.

__ADS_1


"Mama" akhirnya yang di cari menghampirinya dalam gendongan Yudis.


Angga begitu bahagia mempunyai mama dan papa lengkap. Senyumnya selalu terukir di bibirnya, tak pernah Kayfa melihat binar bahagia di mata Angga seperti hari ini.


'Semoga keputusanku tidak salah semua demi Angga' Kayfa membatin.


"Mama,, anda mau nalan-nalan cama papa" ucapnya begitu semangat.


"Angga mau jalan-jalan kemana?" tanya Kayfa mengambil alih Angga dari gendongan Yudis seraya menciumi wajah Angga.


"Temana pa?" tanyanya menoleh pada Yudis dengan wajah lucunya.


Yudis hanya melirik Kayfa karna ucapan Angga yang belum jelas membuat Yudis sedikit kebingungan.


"Kemana pa?" Kayfa mengartikan ucapan Angga. Yudis tersenyum tipis mendengar panggilan Kayfa untuknya, padahal Kayfa hanya sedang mengartikan ucapan Angga yang Yudis tidak mengerti.


" Ke tempat yang Angga dan mama suka" jawab Yudis mengedipkan sebelah matanya menggoda sang istri.


"ooo" bibir kecilnya membentuk bulatan lucu dan menggemaskan "Anda cutana es tim papa"


"Angga sukanya es krim papa" Kayfa kembali memperjelas ucapan Angga.


"Oke bos" Yudis mengacungkan kedua jempolnya " Nanti kita beli es krim ya boy, kalo mama sukanya apa?" tembak Yudis membuat Kayfa gelagapan.


" Mama titana papa tu" ucap Angga menepuk pipi kayfa.


"Mama suka semua yang Angga suka" jawabnya mencari selamat, ia membawa Angga keruang keluarga namun Angga segera meraih leher Yudis dalam gendongan Kayfa membuat pertemuan tak sengaja itupun terjadi meskipun hanya sekilas saja.


Angga bertepuk tangan membuat Yudis reflek merengkuh pinggang Kayfa demi melindungi Angga agar tidak terjatuh.

__ADS_1


__ADS_2