
Agler ditarik ke dalam bola berukuran besar beracun tersebut. Di dalam, Agler merasakan nafasnya sesak seperti kesulitan untuk bernafas. Racun mulai menyebar mengelilingi Agler, dengan cekatan Agler menutup hidungnya sekaligus mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya. Di karenakan kalau sampai tak sengaja menghirup racun itu, Agler akan dalam hitungan detik segera mati.
Di sisi lain, Evilen tertawa kencang melihat Agler tidak bisa apa-apa, dengan begitu nikmatnya ia menonton keadaan Agler yang menutupi hidung beserta mulutnya di sebabkan racun yang menyebar mengelilingi Agler membuat Agler tak bisa melakukan apapun.
' Ugh aku tidak mungkin diam disini terus-menerus! Aku harus mencari cara agar aku bisa terbebas dari perangkap racun mematikan ini! Satu hal yang harus aku lakukan, memecahkan bola yang menjebak aku ! '
Agler mencari suatu taktik agar bola yang memerangkap ia pecah seketika. Agler melepaskan kedua telapak tangannya dari hidung dan mulutnya, selanjutnya ia tahan nafas lalu kedua tangan ia angkatkan ke atas. Kedua ia silangkan kedua tangannya yang ia angkat ke atas dan terakhir Agler merentangkan dua tangannya ke samping masing-masing, hal itu akhirnya Agler berhasil memecahkan bola bersifat racun tersebut dan ia pun terbebas dari kematian.
PYAAAAAARR !!!
"Hah?! Bagaimana mungkin kau-"
"Heh, kau ini mau meremehkan kelemahanku ya?" potong Agler yang sudah menginjak tanah kembali
"Kurang ajar! Beraninya kau menghancurkan bola racunku!!"
"Daripada aku menghancurkan diamond kau yang kau simpan bertahun-tahun itu? Hahaha kau pilih mana?"
"Sudah mulai sombong ya denganku!"
Agler tersenyum smirk menatap Evilen, tetapi di hatinya sangat remuk dan marah karena Evilen telah mengubah Mora menjadi patung batu. Siapa yang tak remuk hancur hatinya bahkan pun marah melihat Kakak kandungnya yang disayanginya di celakai secara jahat yaitu mengubahnya menjadi patung batu jika di dunia manusia biasa mesti orang yang mencelakai akan melakukan sebagai hal cara untuk kakaknya entah menjebaknya atau membuat penderitaan yang amat sangat fatal.
"Kau jangan banyak membantah deh denganku, kau akan mati sebentar lagi!"
"Aku tidak takut sama sekali dengan ancamanmu."
"Oh begitu? Sepertinya kau harus aku perlihatkan mantra kekuatan terakhirku supaya kau menjadi takut mundur dan enggan lagi melawan Penyihir terhebat ini."
"Baik, tunjukkan lah."
"Wah-wah, kau tak takut rupanya .. Hmm baiklah aku akan tunjukkan mantra kekuatan terakhirku untukmu Agler Avizeigler."
' Tidak apa jika nantinya aku terluka, yang penting pertarungan ini segera tuntas dan berakhir '
Evilen terlihat tengah memutarkan tongkat mantra saktinya dengan kedua tangan. Begitu sangat cepat ia putar, sampai menimbulkan suara pada tongkat saktinya. Tak seperti apa yang dibayangkan Agler, mantra terakhirnya Evilen adalah mantra yang sangat kuat dan amat sukar untuk di taklukan.
' I-itukan, mantra paling membahayakan yang di katakan Kakak pada masa lampau ! '
"Kenapa? Kaget? Takut? Kasihan, tenang saja serangan ini sangat menyakitkan kok .. Dan kau tahu, dengan serangan terakhirku ini akan membuatmu mati huahahahaha!!!"
' Sial, mantra apa lagi yang akan aku keluarkan?! Semua mantra sudah aku keluarkan! Jika aku mengeluarkan mantra yang pertama, sudah aku pastikan tidak akan mempan ! '
Agler berpikir keras mencari cara lagi untuk melenyapkan serangan mantra terakhir Evilen, sebelum mantra itu terbentuk dengan sempurna.
Akhirnya setelah berlama berpikir keras, ada suatu benak terbesit muncul di otak Agler. Mengingat kembali mantra yang di kasih tahu Mora dan yang di ajarkan Mora pada di saat umur ia masih 14 tahun.
Flashback On
"Agler, dik kau kenapa di luar istana?" tanya Mora yang duduk di samping Agler
"Agler hanya bosan kak."
"Kenapa Agler tidak ke istananya Aleggra? Agar kau tidak merasa bosan."
"Kenapa? Kau sedang marahan sama Aleggra?"
"Tidak kok kak, hubungan Agler dan Aleggra baik-baik saja .. Kita berdua juga tidak sedang bertengkar. Lagipula jarak Istana Avezamora dan Istana Allevard sangat jauh untuk di tempuh. Lebih baik Agler duduk diam disini."
"Oh yasudah kalau begitu." ucap Mora dengan mengusap kepala adiknya
"Oh iya kak, tadi sepertinya kakak terlihat sibuk dengan mantra kakak .. Ngomong-ngomong kalau Agler boleh tahu, mantra apa yang tadi kakak lakukan?"
"Itu mantra yang seharusnya di perkenankan dan digunakan oleh orang dewasa Agler."
"Orang dewasa? Berarti Agler tidak boleh menggunakan mantra kakak itu?"
"Tidak boleh Agler dan jangan sampai kau menggunakan mantra itu. Sebenarnya boleh tetapi kau jangan sampai mengatakan mantra Naveadaka Revadakana oke."
"Haaaahh ... Panjang sekali?!"
"Naveadaka Revadakana- eh aduh tidak sengaja!"
"Hahahaha, kalau cuma sekedar mengatakan tanpa melakukan gerak mantra nya, tidak masalah Agler."
"Kalau begitu, Agler mohon ajarkan gerakan mantra itu kak! Agler hanya berlatih gerakannya saja kok kak."
"Apa kau yakin Agler? Besok saja jika kau telah menanjak umur 18 tahun ya."
"Itu terlalu lama kakak, Agler maunya sekarang. Boleh ya kak, boleh??"
"Eeee hmmm bagaimana ya dik, padahal untukmu belum tentu bisa mempelajari gerakan itu."
"Tapi yasudah deh kalau Agler maunya sekarang, yuk ikut kakak ke belakang istana."
"Iya kak! Akhirnyaaa Kakak mau mengajari mantra itu ke Agler!!"
"Astaga sebegitu senangnya ya."
"Iya dong kak!"
Sang Kakak dan sang adik pun pergi kebelakang Istana yang sangat luas tempatnya. Disanalah Agler di latih bagaimana gerakan mantra yang seharusnya ia gunakan pada waktu ia sudah berumur 18 tahun. Agler menirukan gerakan yang diajarkan oleh Mora hingga ia hafal pada gerakan mantra tersebut. Agler sangat berterimakasih pada kakak tersayangnya yang telah mau dan tulus mengajarkan ilmu gerakan mantra yang ia latihkan pada Agler.
"Agler, ingat saran dan pesan kakak. Kau tidak boleh mengatakan kata mantra yang tadi kakak sebut dengan sekaligus menambahkan gerakan mantra yang kakak ajarkan. Kau boleh mengeluarkan kata mantra itu sekaligus gerakannya pada saat umurmu sudah 20 tahun, apakah Agler paham apa maksud saran dan pesan kakak?"
"Iya kak, Agler paham kok!"
"Terimakasih ya adikku sayang, maaf kakak sarankan ketat pada hal ini ... Karena jika kau benar-benar melanggar aturan dari kakak dan itu juga pesan dari ayah dan bunda, nyawa Agler akan menjadi bahaya sekali."
"Iya kak, Agler akan tetap mengingat pesan saran kakak dan juga ayah bunda."
Mora mendekap hangat tubuh Agler dibalasnya oleh Agler dengan mendekap tubuh kakak perempuannya.
Flashback Off
Mengingat masa-masa indah itu, sebuah linangan air mata menetes dari mata Agler. Agler begitu sangat merindukan kehangatan dari Mora. Agler menutup matanya untuk sementara dan membiarkan air matanya mengalir hingga ke pipi kulit putihnya.
Agler menutup matanya sambil mengingat gerakan mantra yang dulu diajarkan oleh Mora.
' Maafkan Agler kak Mora, Agler terpaksa melanggar pesan dari kakak dan ayah bunda ... Ini satu-satunya cara agar Agler menyelesaikan pertarungan ini. '
Agler pemuda yang masih berumur 18 tahun padahal gerakan mantra sekaligus kata-kata sebutan mantra tersebut, harus di gunakan pada saat ia besok umur 20 tahun. Semua terpaksa dan itu sudah keputusan mutlak Agler. Agler ingin kakaknya terlepas dari kutukannya, ingin mengembalikan hutan yang bersuasana mencekam menjadi indah nyaman tentram seperti sedia kala.
Agler menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia siap jika nyawanya adalah menjadi taruhannya. Keputusan yang di ambil Agler sudah bulat, ia akan tetap melakukan tekadnya tak peduli jika ia tidak baik-baik saja. Ini adalah salah satunya cara membuat Evilen kalah dalam pertarungan sengit tersebut. Agler hanya satu keinginan, Mora terlepas dan terbebas dari kutukannya dan seluruh hutan yang ia dan Mora miliki menjadi kembali indah, nyaman, tentram tanpa adanya mencekam dan mengerikan.
"Hei kau kenapa menutup mata? Kau tak sanggup ya melihat mantra terakhirku untukmu huahahaha!"
' Diamlah kau penyihir busuk keji! Kau akan kalah hari ini ! '
Agler menyeret kaki kanannya ke depan lalu ia seret pindahkan ke samping kanan juga begitu pula dengan kaki kirinya ia seret ke depan lalu beralih ia seret ke samping kiri. Mata ia masih ia pejamkan untuk tetap bisa mengingatnya apa yang diajarkan Mora dahulu kala. Lima jari di telapak tangan Agler ia rapatkan ke depan dan tangan satunya lagi pun begitu. Ia turunkan bersamaan kedua tangannya ke bawah lalu ia naikkan perlahan hingga ke atas kepala, baru itulah Agler membuka matanya. Tunggu, Agler merasakan ada masalah di sekujur tubuhnya di saat ia sudah menaikkan kedua tangannya ke atas kepala.
Kepala berdenyut nyeri yang di rasakan oleh Agler. Dada terasa sakit sesak begitupun wajahnya mulai terlihat bermulai memucat. Agler tak mengeluh apa yang ia rasakan sakitnya. Ia tetap melanjutkan materi gerakan mantra itu dan siap menyerangnya ke Evilen yang juga sudah siap siaga.
Krtakk !
Krtakk !
Krtakk !
Wuuuuuuhh !
Bola mantra yang terpasang di tongkat sakti Evilen tiba-tiba bergetar-getar dan asap warna hijau yang ada bola mantra Evilen keluar lantas itu melayang entah kemana. Sedangkan Agler menatap pergi jauh asap hijau tersebut walau pandangan mata Agler memburam, tubuhnya sedikit mulai sempoyongan.
' Tidak, aku harus tetap kuat ! '
POKK !
Agler menepukkan kedua telapak tangannya dengan keras hingga datanglah suatu sinar putih bercampuran biru muda yang sangat cerah dan menyilaukan Agler. Dadanya semakin sesak menyiksa Agler, tidak seharusnya ia menggunakan mantra tersebut pada berumur 18 tahun padahal harusnya 20 tahun.
"B-b-baiklah ... Ini s-s-s-saatnya!"
Agler dengan cepat kencang mendorong sekuat tenaga mantra sinar putih bercampur biru muda yang sangat amat bercahaya menderang itu. Wajah Agler semakin memucat tetapi ia tetap bersikeras melanjutkan dan akan menyerang Evilen.
"AGLER! ADIKKU JANGAN GUNAKAN MANTRA ITU!!! BAHAYAAAAA!!!"
"NAVEADAKA REVADAKANAAAA!!!"
Sudah terlambat, Agler melancarkan mantra beserta ucapan mantra tersebut ke arah Evilen. Sebelum Agler mengucapkan mantra tersebut, itu adalah suara dari Mora yang telah kembali dan juga terlepas dari kutukannya.
"VARMAHADAKO ABIBARDALAYOOOORR!!!"
Mantra Evilen yang sangat kuat dan juga mantra Agler yang tak kalah kuat dari mantra Evilen, langsung dengan cepat saling berhantaman dengan amat kencang dahsyat.
DOAAAAAAARRR !!!
Usai dentuman bak ledakan kuat, Agler langsung terpelanting jauh ke belakang, sementara itu Evilen tak terpental melainkan setelah kekuatan sihir Evilen meledak akibat hantaman mantra Agler, mantra Agler menembus cepat dan mengenai Evilen. Sinar mantra Agler meledak setelah mengenai Evilen.
"HUAAAAAARRRRGGGHH!!!" teriak Evilen lalu ia menghilang
Evilen hilang entah kemana setelah meledaknya bersamaan mantra Agler. Dan Agler yang usai terpelanting jauh ke belakang, Agler jatuh ke tanah dengan sangat amat keras lalu di tambah lagi ia terguling-guling, kondisi tersebut tubuh Agler sudah tak bisa apa-apa terlalu lemas untuk di gerakan. Ayara yang telah sampai di suatu lapang luas tempatnya Agler bertarung bersama Evilen, kini akhirnya menemukan keberadaan Agler yang sekarang kondisi ia tengah terguling-guling jauh di sana.
' Astaga Agler ?! ' batin Ayara sambil menutup mulutnya dengan satu tangannya
Agler kini berhenti terguling-guling di saat ia terhantam pohon besar. Seluruh tubuh Agler serasa remuk imbas jatuh ke tanah di tambah terguling-guling kencang di tanah yang keras itu. Berikutnya derita Agler adalah ia terbatuk-batuk kuat hingga suatu cairan warna merah pekat keluar dari mulut Agler yang tengah batuk-batuk. Agler juga memegang dadanya yang sakitnya luar biasa.
"Huukk!! Uhuk uhuk uhuk uhuk!!!"
"AGLEEEEEEERRRR!!!"
Mora berteriak dan menghampiri Agler yang yang jauh dari sana terbatuk-batuk berdarah lemah. Mora berlari sekencang-kencangnya lalu berjongkok mengangkat kepala Agler ke pangkuannya setelah berada di Agler.
"Agler?! Agler?! Hei kau dengar suara kakak??!!"
"Uhuk k-k-kak ..."
"Iya Agler ini kakak, hiks kakak sudah kembali seperti dulu, kakak sudah terlepas dari sihirnya Evilen hiks!"
"A-a-a-akhirnya ... A-a-agler b-b-berhasil m-m-m-mengalahkan ... E-e-evilen y-y-ya-a"
"Tapi Agler, kenapa kau melanggar aturan yang seharusnya tidak boleh kau gunakan?! Kau sudah tahu kan mantra itu sangat bahaya pada umurmu yang masih 18 tahun!"
"K-k-kak ... I-i-inilah ... S-s-satunya c-c-cara ... A-a-agar ... E-e-e-evilen k-k-kalah" ucap lemah terbata-bata Agler yang menyentuh pipi lembut Mora yang berlumuran air mata
"H-h-hari ini uhuk a-a-agler b-b-bahagia ... L-l-lihat k-k-kak k-k-kembali uhuk"
"Kau bahagia tapi kakak tidak bahagia Agler! Melihat menatap dirimu yang lemah seperti ini!!"
"Lihatlah apa yang sedang terjadi denganmu Agler!"
Ayara, Rachel, Alanda, Andrea, Aleggra, Lilian, Ellie, Lucinda, Ares, Ken, Darren, Nathan, Wren, Galen, dan Lemuel terkejut melihat Agler yang bermulut penuh darah dan wajah pucatnya, tubuhnya lemah terbaring, kepala yang di atas kaki paha Mora di saat usai berlari mendatangi Mora.
"K-k-kakak t-t-tidak b-b-boleh nangis"
"Bagaimana kakak tidak menangis Agler?! Keadaanmu sekarang sudah seperti ini. Bertahanlah sedikit ya, kakak akan mencari sesuatu pertolongan untukmu."
"Tidak p-p-perlu k-k-kak"
Aleggra terduduk lemas berlutut di samping Agler, air mata mulai menetes melihat sahabat kecilnya lemah tak berdaya. Aleggra dengan gemetar menggenggam lengan Agler yang mendingin. Air mata menjadi tangisan terisak tersedu-sedu. Tak lagi bisa membendung air mata yang sudah terlanjur menetes berjatuhan di lengan Agler yang pakaian putih berlengan panjang. Lidahnya kelu tak bisa mengatakan apa yang ia katakan ke Agler, rasanya susah untuk mengeluarkan suara.
"Hukk! A-a-a-aleggra" Batuk Agler terud membuat cairan warna merah pekat semakin banyak keluar dari mulutnya.
"Hiks huhuhu!"
__ADS_1
"Hei j-j-jangan n-n-n-nangis"
"Maafkan aku Agler! Maafkan aku! Ini semua terlebih salahku, harusnya aku menjagamu hiks hiks hiks!"
"T-t-tidak ... B-b-b-bukan s-s-salahmu k-k-kok"
"T-t-tol-l-long ... J-j-janga-an k-k-ka-au s-s-s-salahkan d-d-d-dirimu ... S-s-semua b-b-b-bukan k-k-k-kesalahanmu ... S-s-sahabatku"
Setelah mengucapkan kata terakhir yaitu 'Sahabatku' Agler mengerang kesakitan, kepalanya sungguh amat sakit begitu pula dada yang seperti di tusuk beribuan jarum. Wajahnya dan bibirnya terlihat sekali pucatnya.
"Uhuk uhuk uhuk uhuk!"
Deru nafas Agler naik turun cepat, dadanya menjadi terasa sesak, sulit untuk bernafas. Mantra itu bukan sembarang mantra yang tadi Agler gunakan, tapi mau bagaimana lagi itu satu-satunya cara Evilen kalah dalam pertarungan besar itu. Agler juga sudah tidak tahu Evilen entah pergi kemana, yang jelas ia telah menghilang bersama ledakan mantra yang Agler serang untuk Evilen.
Pada akhirnya walau hutan yang sebelumnya terasa kelam, mencekam sekarang menjadi indah nyaman dan sejuk dipandang, Agler lah yang menjadi taruhan nyawanya. Tubuhnya lemah merasa tak ada harapan untuk Agler bisa sembuh pada sakitnya. Meskipun keadaan Agler tengah sekarat, namun di hati Agler bahagia bisa mengembalikan kakaknya seperti ia kenal dulu dan terlepas bebas dari kutukan patung berwujud batu.
Agler sudah tak sanggup lagi untuk terus membuka matanya, pandangan juga telah berkunang-kunang kepala terasa pusing berputar-putar. Sakit dada yang ia rasakan tak kunjung reda. Perlahan mata sipit coklat hazel menawan Agler menutup tenang damai dan tangan yang menyentuh wajah halus sang Mora dengan lambat jatuh ke tanah, mulut yang tadinya sedikit terbuka juga membungkam nutup.
Sekarang kini, tak ada lagi pergerakan dari Agler membuat semua yang menatap getir bimbang Agler, membelalakkan kedua mata dan mulut terbuka kaget. Mora dengan segera menepuk-nepuk pipi dingin Agler beberapa kali sedangkan Aleggra yang berada di sisinya menggoyangkan pundaknya di sembari memanggil-manggil nama Agler dengan suara lengking seraknya.
"Hiks Agler! Kau dengar suara kakak kan?! Ayolah Agler jawab dan buka matamu huhuhu!"
"Kau jangan seperti ini, kakak mohon padamu Agleeeeerr!!!" Mora memeluk erat tubuh lemah Agler, menangis kencang sekencangnya. Ia tempelkan keningnya di kening Agler, hingga air mata yang membanjiri wajah cantik Mora berjatuhan ke wajah pucat adiknya.
"Huaaaa huhuhuhu! Bangunlah Agler bangunlaaaaaahh!!!" Aleggra mengguncangkan tubuh Agler meskipun Agler sudah tidak merespon lagi. Tangisan kencang Aleggra membuat sekitarnya yang melihatnya penuh rasa iba sedih, ekspresi sendu sedih telah ada di raut wajah mereka masing-masing termasuk Ares.
Ares melirik Ayara yang menutup mulutnya menggunakan tangannya. Wajah Ayara terkejut begitupun jantungnya berdebar berpacu cepat.
"Ra," panggil lirih Ares
Ayara menoleh ke Ares yang berada tepat di sampingnya, "res Agler gimana?!"
"Aku gak tau Ra."
"Detak jantung, nafas, denyut nadi!" Mora dengan gemetar mengecek detak jantung Agler dengan menempelkan telinganya di dada Agler.
"Walau masih berdetak, tapi kenapa detak jantung Agler terlalu lemah?!"
KRATAK !
KRATAK !
KRATAK !
KRATAK !
Suara langkah lari dari seekor kuda yang semakin mendekat dan mendekat. Suara itu menghilang lalu di belakang mereka ada sosok bayangan yang berjalan terlihat jelas di atas tanah, seorang yang berbadan tinggi, mengenakan jubah bak seorang Raja.
"Astaga! Ada apa dengan Ares?! Kenapa wajahnya sangat pucat begitu juga mulutnya berdarah-darah begitu?!"
Suara itu adalah suara dari pria paruh baya, ia mengenakan kostum Istana dan tentu Aleggra mengenalinya begitupun Mora.
"Hiks ayaaaaahh!!"
GREP !
Aleggra dengan tangis pecahnya berlari memeluk yang memanggilnya 'Ayah' . Dan itu adalah Steven ayah kandungnya Aleggra yang tinggal di Istana Allevard. Aleggra memeluk erat Steven. Steven mengelus-elus puncak kepala anak putrinya secara lembut.
"St st st hei ada apa anakku? Apa yang sebenarnya terjadi hmm?"
Aleggra melepaskan pelukannya dan menatap Steven dengan penuh air mata membanjiri wajah cantik putih Aleggra.
"Hiks ayah, Agler ayah! Agler!"
"Iya-iya, Agler kenapa? Coba Aleggra jelaskan perlahan ke ayah."
"A-agler tadi bertarung kepada Evilen Gramayalor.. Agler memenangkan pertarungan ini walau- hiks Agler menjadi korbannya hiks hiks!"
"N-nona Mora?! Kau kembali?!" kejut tak nyangka Steven
Mora menunduk menghapuskan air mata dan melepaskan syal putih bersihnya berguna untuk mengelap darah mulut Agler yang begitu banyak hingga mengalir mengenai lehernya. Mora membiarkan syal putihnya bernoda darah adiknya. Wajah tenang Agler dalam ketidaksadaran dirinya membuat Mora semakin cemas tak karuan.
"Bangunlah dik, kakak yakin kau kuat. Bertahanlah untuk kakak, kau lah keluarga kakak satu-satunya, ayah dan bunda sudah meninggal dan mereka telah tenang bahagia di atas sana. Apakah Agler mau menyusul bunda ayah?"
' Apa maksudnya? Bukannya Arwah ya, kok kak Mora bisa bilang kayak gitu?? ' Batin Ayara maksud lontaran Mora dengan penuh tanda tanya
Steven melangkah dan berjongkok di samping Agler terbaring lemah yang kepalanya masih di atas pangkuan Mora. Steven menatap Agler juga penuh iba, terlihat kondisi sekarang Agler begitu parah, dan sulit untuk di sembuhkan. Steven beralih menatap Mora yang sibuk mengusap membersihkan darah Agler.
"Nona Mora-"
"Mohon jangan memanggil aku dengan sebutan 'nona' tuan Steven, karena tuan lebih tua dariku." ucap Mora tanpa melihat sedikitpun selintas pun ke Steven
"Baik kalau begitu Mora."
"Mora, akan lebih baik Agler di bawa ke Istana .. Keadaannya sungguh menghawatirkan Mora. Sepertinya Agler menghabiskan terlalu banyak tenaga yang dia keluarkan hingga ia terluka seperti ini."
"Tapi tuan, Istana Mora sangat jauh dan terpencil dari sini."
"Tidak Mora, biarkan Agler dibawa ke Istana Allevard .. Jaraknya tak terlalu jauh dari sini."
"Baik, kalau begitu tuan."
Steven perlahan mengangkat tubuh Agler dan berdiri menuju ke kudanya. Steven melayang ke kudanya dan mulai menduduki punggung kuda kesayangannya dengan membawa Agler. Kini kuda miliknya berlalu berlari kencang menjauh dari mereka semua dan segera menuju ke Istana Allevard.
Mora dengan kedua kaki lemas, perlahan bangkit berdiri dari duduknya di tanah.
"Kita ke Istana Allevard bersama-sama" tutur lemah Mora di setujui remaja-remaja tersebut
Mora menyibakkan syal putihnya yang telah bernoda darah Agler sambil memutarkan badannya. Setelah itu muncul cahaya yang akan membawa mereka secara teleportasi cepat sampai ke Istana Allevard Aleggra.
POV Agler
Sesampainya di Istana Allevard, kini Agler sudah dibaringkan di atas kasur empuk yang sebelumnya di mana Ares terbaring di kasur kamar silver tersebut. Steven merasakan tubuh Agler mendingin, wajahnya memucat sedikit demi sedikit, mata masih menutup dengan tenang hela nafas juga semakin melemah. Saat ini belum ada suatu kesembuhan untuk memulihkan kesadaran Agler sekarang.
Steven menarik selimut tebal silver untuk menutupi kaki hingga ke dada Agler. Dalam selintas penglihatan Steven, tadi ada seseorang lelaki yang sangat mirip dengan Agler, hanya saja mata lelaki yang selintas ia lihat tidak berwarna coklat hazel melainkan mata biasa manusia pada umumnya. Steven mengusap lembut pucak kepala Agler dengan wajah pilunya.
Cklek !
Suara pintu di buka oleh seseorang yang masuk ke dalam kamar. Nampak rupanya itu adalah Mora beserta anak remaja lainnya termasuk Ayara. Mora berlari kecil lalu duduk di pinggir kasur. Mora menatap adiknya yang terlihat tidur damai. Mora menggenggam tangan Agler yang sudah dingin.
"Dingin sekali tanganmu Agler, apakah luka kau terlalu parah?"
"Setelah tuan cek, Agler mengalami luka dalam. Artinya luka ini sangat sulit untuk disembuhkan, Mora. Bahkan pun juga untuk Agler sadar sangat kecil, kita tidak tahu Agler kapan bangunnya."
Selain pemilik Istana Allevard, Steven juga seorang semacam dokter yang mengetahui segala pengobatan, mulai dari kutukan, luka, dan terakhir penyakit dalam. Seluruh wilayah alam Azmora sudah mesti tahu siapa Steven.
"Mora yang sekarang pemilik alam Azmora, tidak tahu segala pengobatan. Hanya ayah bunda yang tahu semua, tapi beruntung deh, tuan Steven tahu semuanya dan segalanya."
"Tuan, apakah ada suatu obat yang bisa menyembuhkan Agler, misalnya ramuan atau apalah itu?" Ares mengangkat pembicaraan pertanyaan kepada Steven lalu segera di jawab olehnya
"Itu, sebenarnya ada. Hanya saja tapi kalau untuk luka dalam Agler yang begitu parah ini, tuan tidak tahu harus menggunakan obat apa untuk memulihkan luka dan kesadaran Agler."
"Obat?! Iya aku harus cari bukunya!!"
Aleggra berbalik badan dan berlari terburu-buru membuka pintu lalu pergi menuju ke perpustakaan Istana.
"A-aleggra tunggu!"
Ayara menyusul Aleggra dengan langkah lari membuka pintu dilanjut sekarang berlari mengejar Aleggra yang sebenarnya Ayara tak tahu Aleggra mau pergi menuju kemana. Rachel dan Lilian saling menatap lalu dengan bersamaan mereka mengangguk lalu berlari juga mengejar Ayara dan Aleggra.
' Bjir, mereka semua pada mau kemana dah? Pergi kok gak ngajak-ngajak. ' batin Andrea melongo menatap kepergian mereka berempat
POV Aleggra
Aleggra berlari kencang hingga kemudian membuka kencang pintu dua daun lebar-lebar, selanjutnya Aleggra berlari ke sebuah rak-rak besar untuk mencari buku yang mau ia cari tentunya buku tentang penyembuhan luka dalam.
Aleggra berlari ke satu rak besar banyaknya buku-buku yang ada di situ, kemudian dengan tergesa-gesa, Aleggra mengambil satu buku lalu membuka beberapa lembar halaman buku buat mencari tentang penyembuhan luka dalam. Tetapi Aleggra tak menjumpai buku tentang yang ia cari. Dengan nafas yang ngos-ngosan ia mengobrak-abrik buku-buku yang ada di rak hingga berjatuhan di lantai. Dalam mencari buku tersebut, air mata Aleggra terus saja mengalir sampai ke dagu.
"Aaaaaahh dimana sih buku tentang penyembuhan luka dalam! Mengapa di rak ini tidak adaaa!!"
Aleggra frustasi depresi, karena ia belum mendapatkan buku tentang penyembuhan luka dalam yang ia cari-cari, ia duduk dengan kedua lutut menyentuh lantai lalu Aleggra membuka beberapa buku yang telah ia jatuhkan satu persatu. Hingga pada akhirnya Ayara, Rachel, Lilian yang mengejar Aleggra datang ke perpustakaan besar mewah Istana.
Ayara menengok kesana sana mencari keberadaan Aleggra. Ayara seperti mendengar suara hisakan tangis dari seseorang. Ayara beserta yang lain mencari sumber suara hisakan tersebut yang asalnya ada di pojok salah satu rak buku.
Ayara terkejut melihat Aleggra melempar-lempar beberapa buku dengan jengkel. Langsung lah Ayara berlari dan berjongkok menahan tangan Aleggra yang akan melempari buku-buku lainnya.
"Hei Aleggra stop stop stop!"
"Kau ini kenapa?! Kenapa buku-bukunya kau lempar??!!" tanya marah Lilian
"Jangan kalian ganggu aku! Aku lagi mencari buku penyembuhan luka dalam untuk Agler! Lebih baik kalian pergi dari hadapanku!"
"Aleggra, hei .. Aku mohon kau jangan seperti ini, aku tahu kau khawatir betul pada Agler, tapi tidak begini juga Aleggra."
"Itu betul Aleggra, tak harusnya kau panik seperti ini. Kita yakin Agler tidak apa-apa-"
"Tidak apa-apa kau bilang Rachel! Hei luka dalam Agler begitu parah, dan sulit untu di sembuhkan! Apa kau paham hah!!"
"AKU MINTA KALIAN PERGI DARI HADAPANKU!!!"
"PERLU BEBERAPA KALI YANG HARUS AKU UCAPKAN?! 100 KALI? IYA??!!"
DEG !
Mereka bertiga yang mencoba menenangkan Aleggra kandas, Aleggra telah meluapkan emosinya. Ayara, Rachel, dan Lilian kehabisan kata dan pemberi tenang untuk Aleggra, yang harus mereka lakukan adalah meninggalkan Aleggra untuk membiarkan Aleggra sendirian sementara waktu.
Mereka bertiga pergi dengan perasaan gelisah, menutup pintu perpustakaan itu tanpa keras sedikitpun dan melangkah menaiki tangga Istana dengan langkah lunglai.
Tibanya di kamar, mereka bertiga di tatap bingung kepada Mora, Steven, Ares, Ken, Darren, Nathan, Wren, Galen, Lemuel, Alanda, Andrea, Ellie, dan terakhir Lucinda.
"Kok wajah kalian seperti itu? Ada apa?" tanya Steven
"Aleggra tadi marah-marah ke kita bertiga, dia menyuruh kita untuk pergi dari hadapannya" jawab Ayara lirih sedih menundukkan kepala
"Sudah tidak usah sedih, mungkin Aleggra butuh penenangan diri" tutur Lucinda
"Sepertinya begitu,"
Mora tersenyum ramah lembut melangkah lalu mengusap kepala Ayara.
"Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan Aleggra. Oh iya apakah di antara kalian sudah makan?"
"Belum kak! Laper banget nih Darren! Ada makanan lezat tidak kak hehehe."
"Anak ini gak sopan banget sih!" umpat Nathan mendelik ke Darren
"Haha kau lapar? Yasudah kalau begitu kita ke bawah yuk, pasti kalian semua sudah lapar" ajak halus Mora
...⚛⚛⚛...
Usai meninggalkan Agler di kamar dan menuruni tangga Istana, mereka semua kini tengah duduk di meja makan yang begitu panjang layaknya meja makan seorang pemilik Istana. Meja tersebut terlihat mewah menawan dengan warna keemasan begitu pula kursi meja makan yang sama berwarna keemasan, tempat duduknya sangat nyaman untuk diduduki.
Delapan manusia yang baru pertama kali melihat isi meja makan ada banyak begitu aneka jenis makanan yang menggiurkan dan terlihat sangat lezat, aroma makanan tersebut menggugah selera makan mereka. Semua makanan yang ada di atas meja masih hangat seperti habis dimasak. Darren menjilat bibir atasnya dan memegang sendok dan garpu berposisi dua alat makan itu ia tegakkan, ingin siap menyantap semua makanan tersebut.
Di atas meja terdapat jenis makanan pertama ada Frittata, country fried steak, bermacam-macam aneka rasa kue, kue pai, nasi goreng, dan segala makanan lezat yang ada di atas meja.
"Silahkan dan ambilah sesuka hati kalian mana makanan kesukaan kalian."
"Terimakasih banyak tuan Steven!" ucap serempak Ayara dan para sahabatnya
Ken mengambil satu hamburger isi beef, sayuran, telur mata sapi, dan keju mozzarella di dalamnya. Dengan perlahan ia memakan roti hamburger tersebut. Ayara memotong daging steak lalu menusuk daging steak itu dengan garpu emas, kemudian ia memasukkan satu potongan daging steak ke dalam mulut Ayara, tekstur dagingnya sangat lembut saat di kunyah. Selera makan Ayara menjadi bertambah memotong daging steak itu lagi lalu memakannya cukup perlahan tidak tergesa-gesa agar tidak tersedak.
Darren yang seperti harimau kelaparan, mengambil gesit dua ayam goreng krispy lalu melahapnya dengan durasi cepat hingga sisa-sisa krispy ayam tersebut menempel di luar mulut Darren. Andrea yang menyeduh nikmat sup kentang ayam bening, keki melihat tingkah makan darren.
__ADS_1
' Untung sahabat gue lo. Coba aja kalo kagak, daritadi udah gue guyur sup punya gue ke muka lo ! '
Alanda dengan lembutnya seperti Ayara, melahap nasi goreng gurihnya ke dalam mulut. Alanda juga menggigit tomat yang sudah teriris, rasa tomatnya sangat segar saat di makan. Rachel menjaga kesopanannya walau ia anak perempuan tomboy, melahap kue pai blueberry nya dengan lembut tak seperti kalau di rumahnya makan seperti gaya makan laki-laki.
Nathan dan Ares mengangkat gelas berisi air putih lalu meneguknya perlahan kemudian siap menikmati steak daging ayamnya yang ada di hadapannya masing-masing. Ares yang usai memotong kecil daging steak nya, melihat Aleggra yang berjalan keluar dari perpustakaan lalu menaiki tangga Istana. Ares yang mau melahap steak daging terhenti menatap Aleggra dengan lemas naik ke tangga Istana.
Ares terus menatap Aleggra yang naik tangga dan menuju ke kamar serba warna silver. Karena terlalu fokus menatap kepergian Aleggra, Ares sampai tidak mendengar ucapan Ayara.
"Ares, kamu liat apaan sih? Kok ngeliat ke atas tangga?"
Ares langsung terbuyar dari pandangannya lalu menoleh ke arah Ayara, "itu aku barusan liat Aleggra masuk ke dalem kamar tadi."
"Terus Res?"
"Bentar ya aku mau ke Aleggra dulu."
"Hah? Kamu yakin? Nanti kalo di amuk sama Aleggra gimana?"
"Aku cuma mau ajak dia makan bareng kita-kita Ra, kasian loh dia daritadi belom makan."
"Hmmm perhatian sekali kau dengan Aleggra, seperti Agler." celetuk Mora tiba-tiba
"Eh tidak begitu kok kak, cuma mau ajak Aleggra makan saja takut nanti dia bisa sakit."
"Yasudah kalau begitu, ajaklah Aleggra makan bersama kita- eh tetapi ngomong-ngomong, kau mirip sekali dengan Agler ya. Astaga kakak baru menyadarinya loh. Pasti Aleggra mau dengan ajakan mu, karena dari suara, sifat, dan rupa sama-sama seiras dengan Agler."
"Ehehe baik kak."
Ares beranjak dari kursinya lalu berjalan menaiki anak tangga Istana. Ares sesekali menghembuskan nafasnya meyakinkan dirinya bahwa ia bisa mengajaknya Aleggra untuk makan.
Ares telah tiba di kamar setelah menaiki tangga Istana tersebut. Ares melangkah perlahan dan di situ terlihat Aleggra menemani Agler dengan menggenggam lengannya meminta Agler untuk bangun dari ketidaksadaran dirinya.
Ares duduk di samping Aleggra menunggu Aleggra tersadar akan kedatangan Ares. Karena Aleggra merasa ada seseorang di sampingnya, ia menoleh ke arahnya. Aleggra sedikit kaget menatap Ares.
Ares tersenyum lebar, "hai."
Aleggra tentu tahu itu bukanlah Agler, melainkan Ares yang duduk di sampingnya persis dan menyapanya lembut. Suara sapaan itu sangat familiar sama dengan suara Agler yang di dengar oleh telinga Aleggra.
"A-ares? Kau kenapa datang kemari?"
"Aku kesini ingin mengajakmu untuk makan bersama, apakah kau mau ikut denganku?"
"Tidak, terimakasih."
' Gila ketus banget kayak Ayara yang lagi ngambek sama gua ! '
"Maksudku ikut denganku itu, ikut makan bersama hehe."
"Aku juga tahu apa maksudmu, tapi aku tidak mau!"
' Sabar dah sabar, ngadepi kembaran Ayara '
"Tapi Aleggra, jika kau tak makan, nanti perut kau menjadi sakit loh. Nanti juga siapa yang repot? Siapa juga yang cemas?"
"Ayolah makan, makan sedikit saja deh asalkan kau mau makan hari ini. Atau mau aku bawakan makanan untukmu kesini?"
"Tidak usah, tidak perlu. Merepotkan saja yang ada."
' Tapi kenapa dari sifat lontaran Ares, sama dengan rayuan Agler di waktu saat aku sedang sakit demam ? '
Flashback On
"Nah kan demam juga kau Aleggra, hei sudah aku bilang berapa kali sih buatmu? Kalau hujan segeralah masuk ke dalam Istana, eh kau malah main hujan-hujanan."
"Sudah protesnya?"
"Aku seperti ini karena aku juga khawatir denganmu, kau ini juga perempuan yang ngeyel kalau di nasehatin. Kau itu sahabatku yang tidak bisa tahan dengan dingin Aleggra, apalagi kemarin hujannya lebat sekali dan di sertai angin kencang."
"Iya aku tahu kalau itu."
"Kalau tahu, kenapa masih dilakukan?!"
"Ih kau ini kenapa sih? Aku lagi sakit bukannya di kasih hibur malah marah-marah seperti penyihir kerasukan monster dalam gua!"
"Oh terus maksudmu aku penyihir, begitu?"
"Iya, puas kau!"
"Sudah deh kau yang marah aku yang stress" ucap Agler mengalah
"Kalau stress pulang saja sana."
"Eh tidak-tidak! Tujuan aku kesini kan menjenguk kau yang lagi sakit."
"Oke deh, sekarang kau makan ya, agar cepat sembuh dan demam kau turun."
"Tidak mau."
"Astaga Aleggra Haizeleeggraaa ... Jika kau tak makan, nanti kau menjadi tambah sakit bahkan sakitnya parah loh."
"Jika kau tak makan, nanti perut kau menjadi sakit loh. Nanti juga siapa yang repot? Siapa juga yang cemas?"
"Pokoknya aku tidak mau makan! Badanku lagi tidak enak tahu!"
"Tahu atau tahun?"
"Tahu lah! Apa telinga kau bermasalah?"
"Tidak juga. Tapi aku mohon makan ya hari ini, agar kau cepat sembuh. Makan sedikit saja deh asalkan kau mau makan."
"Nih coba kau lihat aku bawa apa? Nampan berisi bubur hangat untukmu dan segelas air putih, oh iya ini juga ada obat penurun demam."
"Kau ambil dimana?"
"Ambil di gua hewan buas, cantik. Ya ambil di bawah dong, kau kira aku ambil dimana."
"Kau ini banyak repot deh. Padahal aku bisa ambil sendiri."
"Halah apa kau yakin bisa mengambil sendiri? Jalan saja sudah seperti orang yang tengah mabuk."
"Aku tidak minum mengandung alkohol kok!"
"Siapa tahu saja kau menyembunyikan itu dariku."
"Ih astagaaa kau yaaaa!!"
"Sini kau aku lempar bantal agar otakmu segar!"
"Eh ampun astaga jangan Aleggra! Aku itu hanya menghiburmu loh, tapi kau malah marah-marah. Sungguh usaha ku sia-sia saja untukmu."
"Apakah kau lagi sedang datang bulan?"
"Tidak usah di pertanyakan! Aku malas menjawab!"
"Yaudah, ini dimakan dulu lalu habis itu minum obat ya."
"Kau ini cerewet, kau lagi dirasuki apa sih? Sampai kau bisa cerewet? Bukannya kau itu orangnya pendiam ya dan tidak suka banyak bicara?"
"Yang penting aku peduli denganmu."
"Ayo buka mulutmu dan katakan Aaaa"
"Kau mau menyuapi diriku?!"
"Karena kau tidak mau makan, yaudah aku menyuapimu saja."
"Tidak! Aku makan sendiri saja, berikan buburnya padaku."
"Nah begitu dong, ini makanlah yang kenyang lalu segeralah minum obat. Jika kau sudah pulih kita bisa jalan-jalan keliling hutan dengan menunggang kuda lagi hehe."
"Iya deh iya, aku menurutimu."
"Wah terimakasih sudah mau menurutiku Aleggra cantik, nah sekarang ayo makan dan minum obat, aku akan menemanimu disini sambil bermain gitar."
Agler mengambil gitar warna krem milik Aleggra. Dengan suara indah merdunya Agler ia iringi dengan melodi gitar Aleggra, jari yang lentik itu ia petik senar gitar dan terus bernyanyi dengan lagu penenang hati.
Flashback Off
"Halooo ... Aleggra Haizeleeggra?"
"Hei kok kau melamun sih? Kau kenapa??"
"Ah tidak, aku tidak melamun kok."
"Hmmm yaudah deh. Yuk kebawah."
"Nanti kalau sudah selesai makan, kau bisa datang kesini lagi menemani Agler." Nada Ares terdengar lembut seperti suara Agler membuat Aleggra tersenyum dan mengangguk mau ajakan dari Ares yang hatinya tulus mulus.
POV Steven
Steven yang usai makan, menunggu anak putrinya turun tak kunjung nampak batang hidungnya, kini melihat Aleggra beserta Ares turun tangga. Semua berwajah ekspresi senang bahagia melihat Ares yang berhasil mengajak Aleggra. Aleggra dan Ares menuju ke meja makan bersama lalu duduk di kursi masing-masing.
"Sudah tidak marah-marah dan murung lagi?" ledek Lilian yang mencomot Frittata nya
"Diamlah kau Lilian."
Mereka semua yang sudah menunggu Aleggra di jangka waktu jam yang lama, akhirnya mereka melanjutkan kegiatan makannya dan Aleggra mengambil roti dan mengolesinya dengan selai stroberi kemudian memakannya perlahan.
Berkat ajakan Ares yang sempat tadi di tolak ketus dengan Aleggra, akhirnya Aleggra mau makan meskipun hanya porsi sedikit. Steven juga lega akhirnya anak putri kesayangannya mau mengisi perutnya.
...⚛⚛⚛...
Usai menghabiskan kegiatan makan bersama, mereka semua kembali ke kamar tempat Agler terbaring di sana. Rasa gundah ada di mereka. Aleggra juga belum mendapatkan buku penyembuhan luka dalam sama sekali. Aleggra yang duduk di samping Mora menggenggam kembali telapak dingin lemas Agler.
"Agler, kira-kira obat apa yang akan bisa menyembuhkan luka dalammu ya?"
Aleggra menempelkan telapak tangan Agler di wajah Aleggra, "bangun dong Agler kau jangan tidur di jangka waktu lama, aku menunggumu loh."
"Aku takut. Aku takut kau lebih dari kenapa-napa Agler, tangan kau sangat dingin, wajah dan bibirmu pucat sekali. Aku takut kau pergi meninggalkanku."
Mora duduk diam dan melepas syal putihnya dari lehernya lalu mengusap darah Agler yang telah mengering menempel di syal putih Mora. Sebegitu sayangnya pada Agler, ia rela syal putihnya di buat sebagai pembersih darah Agler.
Aleggra mengelus-elus telapak Agler sambil terus mengajak bicara walau Agler tidak akan menjawabnya.
"Aku mau minta satu permintaan padamu Agler, tolong jangan pergi ya."
Delapan persahabatan remaja tersebut yang mendengar perkataan Aleggra, tersontak kaget merasa mustahil Aleggra berbicara seperti itu. Ayara memulai angkat bicara dan bertanya pada Aleggra.
"Kenapa kau berbicara seperti itu? 'Tolong jangan pergi' seolah-olah Agler itu manusia seperti kami berdelapan. Bukannya Agler dan kalian semua adalah Arwah ya?"
Andrea mengerutkan dahinya menatap intens pada Aleggra yang menunduk tak berani menatap Andrea, karena tatapan mata Andrea terlihat seram seperti sahabatnya ialah Ellie. Andrea membuka mulutnya dan mulai menduganya.
"Kalian semua telah membohongi kami ya kan?"
•••
...Halo Readers ini adalah Chapter 10, menurut aku jalan cerita ini makin gaje, ngawur dan ruwet deh. Tapi gak tau kalo kalian sih. jika ada kesalahan atau saran kalian tinggal kasih comment ya di bawah ini hehehe....
...Aku berharap kalian happy reading di Chapter ini yaaa ☺️...
...Jangan lupa tinggalkan Vomentnya dan like nya yah kaum" readers dan tag ke temen" kalian bagi ada yang menyukai novel cerita horor ini makacih! 🤗🤗🤗...
...Perhatian! Stay berhati hatilah kaum readers, typo banyak bertebaran dimana mana!! 😂😂...
__ADS_1
...Love You All ✿♡✿...
...TBC...