
Usai kejadian yang di luar nalar ialah angin topan yang membawa mereka ke suatu tempat nang amat asing. Keadaan para kedelapan remaja tersebut tengah tergeletak tak sadarkan diri di tanah yang permukaannya cukup keras. Entah itu efek pusaran angin topan gaib atau karena mereka sama-sama terbentur di tanah yang membuat mereka semua kompak hilang kesadaran detik itu juga.
Tak berapa lama menit kemudian, seorang gadis yang tak lain adalah Ayara terbangun dari ketidaksadaran dirinya, bangkit posisi duduk seraya memegang kepalanya yang terasa sakit. Gadis itu mendesis kesakitan karena akibat benturan dari tanah permukaan keras itu membuat sekujur tubuhnya menjadi sakit-sakit.
“Tempat apa, ini? Kenapa kelihatannya angker banget- auw ssshh!” Ayara memejamkan matanya dikarenakan lengan tangannya sakit sebab terkilir. Namun pada akhirnya gadis cantik itu membuka matanya kembali dan mulai mengedarkan pandangannya.
Bertepatan bola mata manik indah perempuan remaja berusia 18 tahun tersebut, melihat sekeliling tempat ia berada, para sahabatnya dan sang kekasihnya yang keadaannya tengah pingsan, kini kesadaran mereka menaik. Sama hal dengan seperti Ayara, sahabat-sahabatnya menampilkan ekspresi raut wajah linglung serta kebingungan. Tempat apakah ini? Mengapa mereka layaknya sedang berada di suatu alam yang penuh mencekam dan menakutkan?
Alandrya sang gadis penakut, menggigit bibir bawahnya bersama muka pucat mendadaknya. Jelasnya, Alandrya takut sekali nuansa alam mengerikan seperti apa yang gadis itu lihat depan matanya. “K-kenapa kita semua ada di sini?! Aku takut!”
Rachael yang mengumpat jengkel karena seluruh tubuhnya menjadi sakit dikarenakan telah dilempar ke alam lain contohnya seperti alam ini. Rachael yang melihat Alandrya dilanda rasa ketakutan hebat, hingga raganya bergemetar, langsung ambil inisiatif untuk merangkak menghampiri sahabatnya.
“Sudah, Lan. Lo nggak perlu takut begini, ada kami bertujuh di sini bersama diri elo. Oke?”
Alandrya yang punggung mungilnya di elus-elus lembut oleh Rachael, menganggukkan kepalanya pelan dengan mata menatap mata sipit Rachael sementara gadis yang berambut pendek seleher itu tersenyum pada Alandrya Australa Aimee.
Keinze terbatuk-batuk kecil dengan memegang dadanya karena mendadak sesak akibat terkena salah satu batu ukuran sedangan. “Anying, anying! Dasar angin kampret! Sakit bener dada gua!”
Damien yang sedang sibuk membersihkan kotoran debu dari jaketnya, melihat Keinze yang tengah kesakitan seraya pejam mata dengan tak habisnya terus mengumpat kesal pada angin yang usai melemparkan dirinya bahkan ketujuh sahabatnya di macam alam baka. Damien segera mendatangi pemuda tersebut.
“Cuy! Lo nggak kenapa-napa, kan?! Jangan-jangan habis ini lo mau sekarat?!” panik Damien berbicara dengan ngawur.
Keinze membuka matanya cepat lalu menatap tajam sahabatnya yang suka asal bicara jika bersamanya. “Otak lu peyang! Lama-lama gue jahit mulut lo biar kayak setan yang ada di film horor Ouija!”
Damien menelan ludahnya. “Garang amat dah lo kayak preman pasar! Kan gue sebagai sahabat lo yang baik dan pengertian, hanya ingin menanyakan keadaan lo aja.”
“Nanya, sih nanya! Tapi dari pertanyaan lo udah pengen gue jitak pala lo pake puing-puing bangunan!”
“Bocah Iblis! Nanti kalau gue ngalamin perdarahan di kepala, gimana?!” tanya Damien dengan damprat.
“Palingan juga mati.”
“Kembaran Dajjal, lo!”
Antares yang baru saja tersadar dari pingsannya, mulai mengajak tubuhnya untuk bangkit bangun. Kepalanya sungguh pening akibat membentur tanah yang permukaannya sangat keras, ditambah ada beberapa batu krikil di bawahnya pemuda tampan simpati tersebut. Lelaki yang umurnya kisaran 18 tahun itu dan memiliki mata sipit iris abu-abu, mengedarkan pandangannya usai buramnya menghilang.
Antares tetap terdiam apalagi melihat pemandangan alam hutan yang bernuansa gelap mencekam. ‘Dimana gue? Kenapa hutannya jauh lebih beda dibanding hutan sebelumnya?’
Saat kepalanya diisi oleh banyak pertanyaan-pertanyaan mengenai alam hutan asing ini, Antares mendengar suara rintihan lelaki yang ada di sebelahnya. Itu adalah Narthan, pemuda yang selalu tidak bisa menampilkan senyuman tersebut tengah sedang kesakitan saat kakinya tertusuk oleh sebuah benda kecil tajam di salah satu bawah ujung celana panjang jeansnya.
“Narthan!” Dengan rasa pedulinya terhadap sang sahabat, Antares bangkit berdiri untuk menghampiri Narthan yang sedang memegang kaki kirinya nang terluka berdarah.
__ADS_1
Antares berjongkok di hadapan Narthan lalu kepalanya menunduk menatap tusukan besi kecil yang menancap di atas mata kaki sahabatnya sampai darahnya merembes mengalir. Antares beralih menatap wajah Narthan yang berkeringat dengan wajah tampang ngilu.
“Lo tahan dulu, ya! Biar gue cabut tusukannya dari kaki lo!” Antares dengan ambil tindak, tangan kanannya menggenggam benda tajam panjang yang berukurannya kecil tersebut lalu bersiap untuk mencabutnya.
Cap !
“Akh!”
Antares membuang benda tajam itu yang telah berhasil menusuk di kaki Narthan ke sembarang arah. Melihatnya kaki sahabatnya berlubang disertakan darah segar di sana, Antares tangkas hendak melepaskan tas punggung besarnya. “Eh! Tas gue kemana?!”
Tatkala setelah itu, Antares ingat bahwa tas punggung besar navy miliknya ia letakkan di hutan terang yang sebelum dilempar oleh angin ke alam lain. Pemuda tampan tersebut pada akhirnya menepuk jidatnya dengan berdecak. “Astaga! Tasnya ada di sana, lagi! Gue mana bisa balik ke hutan itu!”
“No problem, kaki gue nggak terlalu parah lukanya.” Narthan mengucapkan itu sembari menutup luka kakinya dengan ujung bawah celana jeansnya.
“Tapi kalau kena udara, bisa infeksi! Lo yakin nggak apa-apa?” tanya Antares.
“Gak. Kalau gue tutupin, nggak akan bakal terkena infeksi sedikitpun. Lo nggak perlu khawatir.”
Antares tersenyum hambar. “Oke kalau memang begitu, ayo sini gue bantu elo berdiri.”
Antares kemudian dengan rasa persahabatan sejatinya, mulai merangkul tengkuk Narthan, sementara tangan satunya mengangkat badan Narthan perlahan tanpa terburu-buru. Di sisi lain, Ayara yang masih linglung dengan situasi mengerikan ini, gadis cantik tersebut didatangi oleh Eyndera yang mempunyai rambut pendek seperti Rachael hanya saja gaya modelnya kriting.
“Hei, Ay? Lo nggak apa-apa?” tanya Eyndera seraya kedua tangannya memegang dua bahu mungil Ayara.
“Syukurlah kalau lo nggak kenapa-napa. Eh, tapi kok tampang muka lo yang cantik kayak Barbie itu, kaget gitu?”
“Ya gimana gue nggak kaget, coba? Ngelihat hutan ini yang beda banget dari hutan yang kita berdelapan tadi datengin, jelas gue kaget. Apalagi peristiwa angin topan aneh yang membawa gue, elo dan lainnya ke hutan mistik begini.”
Dari ujung balik kabut tebal, dapat mereka tangkap suara langkah kaki sepatu kuda di kedua telinganya mereka masing-masing. Narthan yang berusaha menahan rasa sakitnya di kakinya, juga ikut mendengar suara langkah kaki sepatu kuda tersebut. Terdengar seperti tak hanya seekor satu kuda saja, namun lebih dari satu ekor binatang tersebut. Antares menyipitkan kedua matanya memandang kabut tebal tersebut yang jaraknya lumayan jauh dari ia dan ketujuh sahabatnya serta satu kekasihnya ialah Ayara Athaliya Arsyana.
“Suara itu, kayak langkah kakinya kuda, bukan sih Dar? Aneh bener kalau di hutan setan ini ada kuda,” celoteh Keinze dengan kening berkerut heran.
“Mungkin iya. Tapi jika gue ramal, kuda-kuda itu bakal menjadi binatang yang menyelamatkan delapan manusia seperti kita,” yakin Damien.
Alandrya yang masih diliputi rasa takut, menggenggam lengan tangan putih halus Eyndera dengan wajah waspada. Rachael yang ada di tepat sampingnya, memeluk sang sahabat jiwa penakutnya untuk menjadi lebih tenang. Sementara Ayara sang gadis jiwa pemberani itu, memicingkan kedua mata indahnya bersama menatap penuh serius.
“What are they going to do with us?” tanya Rachael penasaran dengan memakai bahasa Inggris.
“Kalau dari suaranya sih, kayak suara langkah kaki sepatu kuda. Dan gue harap mereka itu akan berbaik sama kita semua sesuai ramalannya Damien,” respon Ayara.
Rachael menoleh ke arah Ayara yang matanya masih kontak di kabut tebal tersebut. “Ayara? Ya mana ada, kuda jahat sama manusia? Dimana-mana tuh ya seekor binatang kayak kuda itu sifatnya jinak, gak liar dan buas seperti hewan-hewan yang ada di hutan Amazon negara Amerika Serikat.”
“Kayaknya lo salah sebut negara, deh. Yang benar itu, hutan Amazon terletak di negara Brazil, bukan negara Amerika Serikat,” ujar Ayara membenarkan kata Rachael tanpa menoleh ataupun melirik sahabatnya yang memiliki rambut pendek seleher dengan model lurus itu.
__ADS_1
Rachael menepuk jidatnya. “Nah, iya! Itu maksud gue.”
Kini mereka semua sudah tak lagi menebak-nebak siapa yang menghampiri kedelapan remaja tersebut yang disesatkan dalam hutan mencekam nuansa horor ini. Terdapat jelas, ada beberapa seekor binatang kuda yang tubuhnya transparan seperti kuda gaib di hutan gelap menyeramkan tersebut.
“Huwaaa! Ada kuda hantu, Rac!!” pekik Alandrya reflek memeluk erat Rachael dengan tubuh gemetar karena ketakutannya dipacu lagi.
Rachael yang tersentak kaget pada Alandrya yang mendekap erat tubuhnya, langsung membalasnya pelukan sahabatnya yang memiliki poni menyamping di keningnya. Ayara menatap intens delapan kuda transparan itu yang kini berhenti melangkah saat telah berada di dekat mereka meskipun beberapa sentimeter saja.
“Tujuan kalian datang di mari, apa?” tanya Ayara pada kedelapan hewan tersebut, dan memarginalkan mereka mengerti bahasa manusianya gadis dewasa cantik jelita tersebut.
“Sudah gila, ini anak satu. Emangnya mereka ngerti bahasanya?” gumam Eyndera menatap Ayara yang nyalinya terkumpul berani.
“Kami di sini ingin menolong kalian berdelapan untuk pergi dari hutan buatan seseorang ini.”
Mata kedelapan manusia itu terbelalak kaget sempurna bahkan bola matanya mengecil saat mereka mendengar dari salah satu kuda yang ada dibarisan tengah menjawab layaknya bersuara macam manusia pada umumnya, apalagi terdengar memakai nada Mezzo Sopran ialah suara nada perempuan dewasa.
Damien meneguk ludahnya dengan mengeluarkan keringat dingin yang merembes dari kening ke pelipis matanya. “S-sejak kapan Tuhan menciptakan kuda bisa ngomong kek manusia?! Mana bentuknya transparan, lagi!”
“Antarkan aku pulaaaaang!! Aku nggak mau di sini, huhuhu!” teriak Alandrya menangis dengan masih memeluk tubuh Rachael tanpa berniat melepaskannya, bahkan ketakutannya belum lenyap.
“Maafkan kami, kami tidak bisa mengantarkan kau untuk pulang atau kembali ke tempatmu sebelum kau semua dilemparkan ke sini karena kutukan dari buku itu,” jawab kuda itu tadi dengan nada sendu.
Alandrya berhenti meraung-raung menangis dan menoleh ke arah kuda transparan itu akan ucapannya barusan. Eyndera yang tadi masih berjongkok posisi kedua lutut kaki menyentuh tanah, sekarang beranjak berdiri menatap kuda tersebut.
“Hanya karena buku kutukan yang sahabat gue baca tanpa tahu akan bakal seperti ini, kami gak bisa kembali?! Yang bener aja dong!” murka Eyndera.
Ayara mengusap-usap bahu Eyndera untuk meredakan murkanya pada kuda transparan itu. “Lo nggak seharusnya marahin dia.” Ayara kemudian menatap kuda tersebut yang mampu bicara layaknya seperti manusia pada umumnya. “Kenapa kami nggak bisa kembali ke tempat yang kami datangi sebelumnya? Apakah gue sudah melakukan kesilapan yang fatal hingga kalian semudah itu tidak bisa memulangkan kami berdelapan dari hutan ini?”
Kuda lainnya menghembuskan napasnya dari mulut dengan menggelengkan kepalanya sambil menutup matanya. “Kau jangan menuduh kami kalau kami lah yang menggunakan mantra kutukan itu. Semuanya itu adalah dari perbuatannya sang penyihir yang berada di sekitar wilayah hutan ini.”
“Lah! Yang itu juga bisa ngomong?!” heboh Damien menuding satu kuda transparan tersebut yang suaranya berbeda dari kuda yang tadi.
“Biasa aja kali, Dar! Norak bener lo cuman denger kuda bisa ngomong!” tegur Keinze.
Antares menautkan kedua alisnya dengan menatap tajam kuda kedua yang berujar secara detail namun terdengar membingungkan. “Penyihir apa yang lo maksud? Di hutan ini ada seorang penyihir?”
Kuda yang membicarakan soal penyihir itu, menganggukkan kepalanya. “Benar sekali. Lebih baik kita bahas bersama nanti saja, sekarang kalian ikutlah dengan kami. Kami akan mengantarkan kalian ke tempat yang lebih aman.”
Bertepatan kedelapan kuda transparan itu mengeluarkan sinar cahaya yang amat benderang hingga mampu menyinari para mata kedelapan orang dewasa yang berumur 18 tahun tersebut, mereka saking tak ingin matanya terkena radiasi cahaya, langsung melindunginya dengan satu lengan tangannya masing-masing.
Setelah sinaran cahaya kuning mencolok itu telah menghilang, kedelapan orang dewasa itu dengan bersamaan, menyingkirkan lengannya dari pandangan matanya. Jantung mereka yang aman itu layaknya seakan disambar oleh halilintar, melihat para binatang kuda transparan tersebut menjadi sosok wujud manusia yang kembar seperti Ayara, Antares, Rachael, Keinze, Alandrya, Damien, Eyndera, dan Narthan. Cuma bedanya mereka yang berubah menjadi sosok manusia macam mereka berdelapan, mengenakan pakaian serba putih bersih.
Mereka berdelapan melongo tak percaya apa yang mereka lihat di depan mata ini. Sungguh tidak menyangka kuda yang berubah menjadi sosok rupa manusia itu, sangatlah mirip dengan rupa wajah mereka sekaligus postur tubuh idealnya. Mereka yang telah dilemparkan ke nuansa alam menggentarkan serta gelap ini dikarenakan kesalahan satu Ayara, ialah membacakan tulisan-tulisan secara lisan dari buku silver yang rupanya adalah sebuah kutukan, berharap apa yang mereka lihat tersebut adalah halusinasi atau hanyalah mimpi saja.
__ADS_1
ANW To be Continued »