AZMORA NATURAL WORLD

AZMORA NATURAL WORLD
Menjadi Incaran


__ADS_3

Agler kembali datang masuk ke dalam kamar yang sekarang di tempati oleh Ares.


Agler sedikit tersontak kaget melihatnya Ares mengerjapkan kedua matanya.


Ayara yang mengetahui Agler ada di ambang pintu, langsung menoleh, "Agler Ares bangun!"


Agler langkahkan kaki pelan menuju kasur dengan senyum tipis.


"Engh! A..aku ada dimana?"


"Kau ada di kamar. Tepatnya di dalam Istana."


Pandangan Ares masih kabur buram, ia masih tak bisa melihat Agler dengan jelas. Ia mencoba beralih menatap pandangan sekitarnya.


Terlihat ia di kelilingi dan di tatap beberapa orang di sampingnya.


"Ares! Aku seneng kamu bangun, aku juga gak nyangka ini bisa terjadi ke kamuu!"


Suara Gadis yang masih terdengar samar-samar di kedua telinga Ares.


Ia terdengar kenal suara yang amat Familiar, "Ayara."


Pandangan Ares sekarang perlahan-lahan menjelas dan kini bisa di lihatnya Ayara, Rachel, Alanda, Andrea, Ken, Darren, Nathan yang menatap dia penuh tangisan haru.


Ares hanya tersenyum tipis menatap ketujuh Sahabatnya.


"Areeess!"


Ken memeluk Ares dengan sangat erat dan penuh bahagia melihat Sahabatnya telah bangun dari kutukannya.


Agler juga merasa sangat bahagia ia bisa membebaskan kutukan yang di Ares.


"Agler? Apakah kau yang menghilangkan kutukan di Ares??" tanya Nathan penuh penasaran


"Sebenarnya bukan kutukan."


"Tapi ini penyebab jiwa setengah Ares sebelumnya di ambil oleh Evilen."


"Tunggu sebentar, b..berarti Evilen sudah lenyap?!"


Kini Ken yang usai melepas pelukan di Ares, bertanya dengan sangat penasaran tidak percaya.


"Belum."


"Aku tadi ke ruanganku, mencoba agar Kakakku kembali sadar dari sihir Evilen. Dan aku rasa, ini berhasil, aku berhasil mengembalikan dan menghilangkan sihir yang ada di tubuh Kakakku."


"Tetapi aku ada Firasat tidak bagus."


Ares tidak memerhatikan Agler yang terus berceloteh kepada Sahabat-sahabatnya. Kepala Ares masih terasa sakit akibat kepalanya terbentur sangat keras saat melawan Evilen.


"Ares, apakah kau sudah baik-baik saja?"


"Luma-"


Mata Ares terbelalak sekaligus terkejut saat menoleh ke Pemuda yang sama mirip dengannya.


"A..aku sudah mati?!"


"Haha. Belum kok, aku memang wajah yang mirip denganmu."


"Kenalkan Aku Agler."


"Agler?"


Sedikit masih bisa mengingat di benak pikiran otak Ares "Agler" ia pernah mendengar nama Pemuda itu, akan tetapi ia sendiri lupa di mana ia mendengarnya.


"Aku pernah mendengar namamu. Tapi aku lupa dimana."


"Ya sudah jangan mengingatnya. Kau baru saja bangun dari pingsan."


"Pingsan? Aku pingsan?"


"Iya lo pingsan. Berjam-jam malahan." sambung Ken


"Berapa lama aku tadi pingsan?"


"Lah tadi kan udah gue jawab, elo pingsannya berjam-jam."


Ares menggaruk kepalanya pelan dengan nyengir, "oh iya hehe."


Darren memicingkan kedua matanya dengan berkacak pinggang, "kayaknya gara-gara kelamaan pingsannya, otak si Ares jadi dangkal dah ya. Biasanya juga mudah nanggap omongan."


"Nih anak lama-lama aku sihir jadi Anjing juga!" kesal Andrea


"Ealah rea, kok tega banget sih kamu, mau sihir aku jadi Anjing kenapa gak sekalian kamu sihir aku jadi burung Gagak."


"Oh beneran pengen jadi burung Gagak. Ok sini aku jadiin sekarang!"


Andrea melancarkan tongkat mantra-nya, segera mengubah Darren menjadi seekor burung Gagak.


"Eh enggaakk! Ampuunn!!"


"Hahahahaha!"


Rachel dan Alanda, Ken tertawa keras, sedangkan Ayara, Ares, dan Nathan tertawa kecil.


Darrren menatap Andrea dengan penuh tatapan memohon.


"Hm. Lagian siapa juga yang mau nyihir Sahabatnya sendiri." ketus Andrea


"Aaaahh..Mulia-nyaa hatimuu."


"Gak usah lebay! Daripada aku geplak pipimu!"


'His..Masih galak? Perasaan tadi gak makan cabai .'


"Heh! Aku bisa baca pikiran Orang!"


"Eh..Ah enggak kok..Rea"


"Hati-hati ya kalo batin-batin apalagi ngomongin aku! Akan aku robek mulutmu!"


"Hih! Psychopath Girl." lirih Darren


"Ahahaha..Andrea, udah dong marahnya kasihan tuh si Darren takut." senyum hambar Ayara


Ken melangkahkan kakinya ke Darren dan membisikinnya sesuatu.


"makannya sama Cewek itu ngalah. Toh lo yang kena batu-nya haha."


"Sialan lo Ken!" umpat Darren


Melihat kelakuan dua Sahabatnya itu, Ares menggeleng-gelengkan kepala pelan.


"Tongkat Mantraku pasti udah rusak."


"Em bukan rusak res, tapi udah kayak gini."


Ayara mengambil Tongkat Mantra Ares yang berada di nakas.


"Udah jadi batu gini-"


"Lho?!"


Ayara terkejut melihat Tongkat mantra Ares kembali seperti sedia kala. Di ujung bawah tongkat, permata yang tadinya menjadi batu, kini menjadi mengkilap berwarna putih transparan lagi.


"Hmm..Wah, aku tau ini."


"Setelah Ares bangun dari tidurnya berjam-jam ini, Tongkat mantra yang harusnya menjadi batu, kembali menjadi seperti semula."


Ares memiringkan kepalanya, "aku masih belum paham."


"Sudahlah kau istirahat saja. Begitu juga dengan yang lain ya, kalian jangan sampai keluar dari Istana ini."


"Karena sangat bahaya jika kalian keluar."


"Terus? Kau mau kemana?" tanya Ayara


"Aku ingin ke rumah-nya Evilen."


"Aku ingin menyelamatkan Kakakku."


"Tunggu sebentar. Kau mau pergi ke rumah Evilen? M..memangnya Evilen itu siapa?"


"Maaf, aku lupa mengasih tau ke kamu ya. Evilen itu adalah Seorang Penyihir yang telah menguasai dunia Hutan alam Azmora."


"Iya res, Evilen yang tadinya mengambil jiwa setengahmu." timpal Ayara


"Hah? Ngambil jiwa setengahku?"


"M..maksudmu apa ra?"


"Kalau aku jelaskan kau juga tidak akan paham Ares."


"Baiklah aku pergi dulu-"


"Agler! Apa kau yakin, ingin pergi ke rumah Evilen? Dia kan bahaya buatmu."


"Ken, seperti yang ku bilang tadi, aku mendapatkan Firasat buruk mengenai Kakakku."


"Aku takut jika terjadi sesuatu yang Fatal di Kakakku."


Agler menghembuskan nafasnya pelan dan pergi, "aku permisi."


Kedelapan Sahabat itu hanya bisa pasrah melihat kepergian Agler yang melenggang pergi dari Kamar. Delapan Remaja itu saling melempar tatapan bingung maksud dari Agler tadi.


...⚛⚛⚛...


Di rumah Evilen tepatnya di kamarnya ia sedang mengamuk hebat karena keberhasilannya telah gagal total.

__ADS_1


Evilen melihat dirinya di sebuah Cermin meja rias miliknya. Di lihatnya wajahnya sangat terpenuhi amarah yang sangat kuat rambut yang acak-acakan tidak rapi. Kedua tangan yang mengepal di gaun hitamnya yang ia kenakan.


"Aaaarrrgh! Semua gara-gara Mora wanita tak tau di untung itu! Kalau saja aku yang meletakkan Diamond berhargaku di ruangan itu, pasti tidak akan jatuh dan pecah hancur!"


Evilen dengan raut kecewa, melenggang pergi keluar dari kamar dia yang telah tercipta kapal pecah. Ia langkahkan kakinya keluar dan menuju ke ruang tengah.


Evilen mendatangi bola mantra yang terpasang di alat tertentu di sana. Ia ingin melihat kedelapan anak Remaja itu lewat bola mantra yang ia punya. Ia mengangkat tangannya ke atas dengan menggerakkannya agar bola mantra itu otomatis berfungsi.


Setelah bola mantra itu berfungsi, terlihat kedelapan anak remaja itu sedang bergelak tawa di suatu kamar yang sangat mewah di sana. Terutama anak Pemuda yang tadinya ia ambil jiwa setengahnya 'Ares'.


Wajah Evilen semakin beraut marah jengkel, tidak senang melihat kebahagian dari Kedelapan anak Remaja tersebut. Ia ingin mereka merasakan kesedihan yang sangat pedih. Tetapi sayangnya keberhasilan Evilen di rebut oleh sang Arwah pemuda yaitu Agler.


Agler lah yang telah mengembalikan semua ini. Ia sengaja membuat usaha Evilen gagal total, sengaja juga membuat Kakaknya yang telah di sihir semenjak 5 tahun lalu menjadi sedikit menghilang.


Evilen menatap memandang kebahagian kedelapan remaja itu dengan senyum licik, "hah kalian jangan bahagia dulu, kalian tidak tahu teman tersayang kalian Ares Altezza Alfareza sekarang menjadi incaranku!"


"Aku akan membuat kalian menjadi sengsara kembali! Aku tak sabar melihat kesedihan kalian yang amat-amat pedih dan sakit."


"Aku akan mencarimu Ares! Kau lah yang mempunyai jiwa yang kuat! Dengan jiwamu, aku akan menjadi penyihir yang terkuasa di alam hutan ini Wahahahahaha!!!"


Tanpa di sadari Penyihir itu, Agler menguping semua bicara Evilen yang berniat jahat untuk Ares di pintu yang tertutup rapat itu. Agler menjadi kaget sekaligus mendengus tak terima kalau Ares yang akan menjadi Incaran istimewa-nya Penyihir wanita jahat itu.


'Wanita tak punya hati! Awas saja jika kau berani melakukan itu, kau akan bertarung denganku! '


Tap..


Tap..


Tap..


Terdengar suara langkah sepatu Heels hak tinggi menghampiri pintu kayu itu.


'Haduh gawat! Aku harus pergi dulu! '


Dengan mantra tersendiri Agler, ia menghilang dengan sekejap. Dan bertepatan itu pintu di buka oleh Evilen yang hendak ingin pergi.


Cklek!


Swing!


Agler muncul di belakang pohon yang besar dan menjulang tinggi tersebut. Agler menyondong badannya ke samping mengamati Evilen yang hendak pergi entah kemana.


"Dia mau pergi kemana?" dengan lirih


Evilen telah pergi menghilang dari hadapan Agler, "kesempatanku!"


Karena jarak pohon dan rumah Evilen dekat, tanpa mantra Agler berlari menuju ke rumah si Evilen. Pintunya tertutup rapat itu segera Agler buka perlahan. Ia langkahkan kakinya masuk ke dalam rumah kayu Penyihir tersebut.


Agler mencari keberadaan Mora di dalam rumah yang kini menjadi sepi itu. Agler menyelonong masuk ke dalam kamar Evilen yang telah menjadi kapal pecah.


"Dia habis ngamuk." katanya sambil senyum miring


"Tapi Kakak ada di mana?"


Agler sesekali celingak-celinguk di setiap ruangan yang ada. Tetapi Mora tak ada berada di situ. Rumah Evilen terlihat sederhana dan sempit. Harusnya Agler bisa menemukan Mora dengan singkat.


Agler melihat pintu yang setengah terbuka di suatu ruangan tersebut. Dengan langkah kaki pelan, Agler menuju ke arah situ. Ia membuka pintu itu agar terbuka lebar. Banyak barang-barang berserakan kemana-mana begitu juga suatu diamond yang telah pecah hancur.


Di ujung ruangan, Agler melihat Wanita berbentuk batu dengan gaya berlutut memohon, mulut yang sedikit terbuka. Agler yang mengira itu patung Gadis biasa menjadi tersontak kaget.


"K-kak M-mora?!"


Agler dengan raut syok, berlari mendatangi Mora yang telah menjadi patung batu. Agler berjongkok dengan menangkup wajah Kakak yang ia sayangi. Agler menggertakkan giginya kuat dan menangis deras di hadapan Kakaknya yang telah menjadi patung batu.


"K-kak! Hiks! Kakaaakk!"


"Kakak kenapa bisa menjadi seperti ini!!!"


Agler memeluk Kakaknya yang keras itu dengan sangat erat. Tangisan Agler tak bisa di hentikan olehnya sendiri. Hatinya seperti di cabik-cabik melihat Kakaknya yang sudah menjadi patung batu.


"Kak Mora, bisa mendengar Agler kan?!"


"KAKAK JAWAAABB!!"


"KAKAK, AGLER MOHOONN!!!"


"JAWABLAAAHHH!!!"


Tangisan Agler menjadi terhisak-hisak, tak menyangka ini terjadi dengan Kakak yang ia sayangi dan ia lindungi.


Air mata Agler jatuh membasahi punggung batu Mora. Ingin rasanya Agler menghempaskan Evilen bagaikan karang di hempas oleh ombak pantai.


"AKU TAK AKAN MEMBIARKAN KAKAKKU SEPERTI INI!"


...⚛⚛⚛...


Di Istana Allevard, Arwah gadis yang sangat cantik bernama Aleggra, tengah sibuk dengan komputer canggihnya. Tugas Aleggra adalah meneliti seluruh hutan ini melalui Komputer Canggihnya dia itu.


Namun pandangan Aleggra terpusat oleh Wanita bergelamor dengan Gaun hitam yang sepertinya menuju ke Istana. Aleggra nge-Zoom layar tersebut dengan menyipitkan kedua mata biar terlihat jelas siapa Wanita bergaun hitam itu.


"Kayak kenal siapa Wanita bergaun hitam itu-tunggu! Itu kan Penyihir Evilen yang di bilang Ayah!"


Aleggra beranjak berdiri dari kursi Komputer Canggih dan berlari membuka pintu keluar kamar serba krem itu. Dengan langkah cepat Aleggra menghampiri Ayahnya yang berada di perpustakaan umum Istana.


Drap!


Drap!


Drap!


Cklek!


"Ayaaaahh!"


Ayah Aleggra yang bernama Steven membalikkan badannya saat membuka-buka lembar buku yang ia pegang.


"Kenapa Sayang? Kok teriak-teriak?"


"Ayah hosh..Hosh.."


"Hey, pelan-pelan jangan terburu-buru."


Aleggra mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal akibat ia lari kencang terburu-buru tadi.


"Ayah, ini sangat gawat dan bahaya!"


"Iya-iya gawat bahaya kenapa nak?!"


"Penyihir Evilen sedang menuju ke Istana ini Ayah! Tolong lakukan sesuatu Ayah!"


"Tenang sayang."


"Ayah akan membuat Istana Allevard ini tak terlihat olehnya, Aleggra tenanglah."


"Baiklah Ayah."


Steven berjalan menuju tongkat mantra saktinya di atas meja keemasan itu. Ia kemudian mengambil dan mulai mengangkat tongkat mantra saktinya ke atas.


Steven memejamkan mata dan mulailah keluar sebuah cahaya yang menyoroti ke seluruh Istana Allevard.


Aleggra hanya diam sambil melihat Cahaya yang sudah menyoroti ke seluruh dalam Istananya. Aleggra yang penasaran di mana sekarang Evilen, Aleggra berlari dan kembali menuju ke kamarnya.


...⚛⚛⚛...


Cahaya yang layaknya mantra menyoroti memenuhi juga di seluruh kamar Agler. Kedelapan Remaja menatap sorotan itu dengan penuh rasa bimbang.


"Ada apa ini?!" bimbang Ayara


"Tunggu bentar, aku melihat seorang wanita bergaun hitam, berambut putih, memakai sepatu heels dan juga tongkat mantra yang terlihat sangat sakti. Dia siapa ya?" gumam Rachel menatap jendela kaca


Rachel terus melihat gerak-gerik wanita asing yang menurut dia begitu.


"Maksudmu Wanita bergaun hitam?"


"Ah ini Ra, coba kamu sini.. Ada yang mau dateng ke istana ini lho."


Ares yang penasaran segera turun dari kasur, akan tetapi badan Ares di tahan dengan Ken.


"Lo mau kemana? Udah istirahat aja lo."


Ares mencondongkan badannya kesamping untuk melihat jendela yang berkaca tembus luar tersebut. Karena jarak kasur dan jarak jendela dekat, Ares bisa melihat siapa wanita itu yang di maksud Rachel tadi.


Ares memicingkan kedua matanya melihat dengan sungguh-sungguh, hingga kedua mata Ares membelalak lebar dengan mulut menganga.


"Hah?!"


Ken yang melihat ekspresi Ares saat tengah melihat jendela pun memiringkan kepala, "Lo napa dah Res?"


Ares menuding wanita itu lewat jendela dengan rada gemetaran, "I-i-itu..K-k-kan..W-w-wanita Yang mau menyakiti Ayara!"


"Hah siapa dia?!" tanya Ken terkejut


"Gue lupa siapa namanya sial!"


"Ares, dia itu Penyihir Evilen yang tadi mengambil jiwa setengah milik kamu."


"Hah yang bener Ra?! Dia yang mengambil jiwa setengah milikku?!"


"T-tapi aku masih belum bisa paham yang di maksud jiwa setengah itu yang gimana."


"Gue gak bisa jelasin juga nih buat elo. Gimana dong???"


"Ya Allah Ken, lo kan orang bego sedunia akhirat."


Ken memberikan tatapan sangar ke arah Darren, "gue tendang lo ke dunia Australi mampoz lo!"


"Anjir garang beh!"


"Ck udah!" lerai Nathan

__ADS_1


Andrea sedari tadi memejamkan mata-nya tenang seperti sedang merenungkan sesuatu dengan posisi punggung yang ia sandarkan di tembok dan tangan yang melipat di dada.


"Andrea? Kamu kenapa deh, kok daritadi mejam mata terus?"


"Bentar Nda, aku lagi membaca pikiran orang."


"Wanita itu, dalam hati bilang begini, 'aku akan mengincar nyawamu Ares' . Hmmm...Kek-nya yang perlu kita jaga adalah Ares deh, bisa bahaya kalo dia berhasil lagi mengambil jiwa setengah Ares."


Ares membulatkan matanya, "A-aku?!"


Andrea membuka matanya dan menoleh ke arah Ares yang terkejut setengah mati. Andrea menghela nafasnya dan mengeluarkan nada lirihnya.


"Iya. Maaf Res, emang begitu dia ucap batin-nya. Aku yang bisa membaca pikiran orang apalagi wanita yang belum sama sekali aku lihat apalagi ku temui."


Tap..


Tap..


Tap..


Cklek!


"Hello semua!"


Sapa Seorang pemuda berbadan tinggi, berkulit putih langsat dan mengenakan pakaian serba putih bersihnya seperti Agler. Pemuda itu melambaikan tangan-nya menyapa ramah mereka semua yang ada di dalam kamar.


Ken mengucak-ucak matanya berharap ia sedang tidak halusinasi. Masih tidak percaya apa yang ia lihat yang melambaikan tangan-nya.


"What?! Eh gue gak halu kan?! Gue bisa lihat diri gue sendiri di ambang pintu!"


Tentu saja Ken tersontak amat kaget. Ia melihat seorang pemuda yang sangat mirip dengannya. Mulai dari Wajah, postur tubuh, warna kulit, terakhir adalah tinggi badan.


"Wuah aku mirip denganmu?!"


"Ngomong-ngomong, kenalkan namaku adalah Wren hehehe."


"Darren! Cepet lo tampar pipi gue!"


"Eh buat apaan Ken?!"


"Buat bukti bae, kalo gue di alam bawah sadar!"


"Ok, tapi kalo kekencengan jangan nangis ye."


Darren melancarkan telapak tangannya ke Ken dengan sangat kencang.


PLAK!


"Auw!" pekik Ken dengan mengusap-usap pipinya yang memerah


"Sakit dongo!"


"Lah gimana seh? Katanya tampar, ya udah gue tampar. Lah kok elo yang protes ke gue geblek!"


"Gue kira bakal nangis kejer, eh nyatanya malah protes kayak emak-emak tetangga!"


"Berarti...Gue lagi gak mimpi dong?!"


"Hahaha...Ken, kau sangat lucu. Kau lagi tidak bermimpi kok." ujar Wren dengan menyengir


Sebenarnya tidak hanya Ken saja yang terkejut, tetapi di kesemua Sahabatnya juga begitu sama dengan kagetnya Ken.


Drap!


Drap!


Drap!


Suara langkah lari dan munculah seorang gadis cantik yang berambut coklat bergelombang. Gadis itu menjewer telinga Wren dengan greget.


"Akh! Auw...Hey lepasin! Sakit Lilian!"


"Suruh siapa hah! Kau kabur dari pekerjaanmu?! Kau belum selesai membersihkan lantai di bawah!"


"Aduh! Itu kan tugas wanita! Kenapa jadi aku sih?! Lepasin ah!"


Rachel cekatan berlari ke punggung Ken yang masih mematung berdiri.


"K-ken itu orang kok kayak kita sih?!"


"I don't know!" umpat Ken


"Lilian jangan tarik telinga aku..Nanti kalau telingaku menjadi panjang bagaimana? Apakah kau mau bertanggung jawab Lilian??!!"


"Mulutku sudah banyak kata untuk kau membersihkan lantai di bawah ya! 1000 kali aku bilang, kenapa kau masih saja begitu!"


"Kau tega kah denganku?!"


"Tidak tega kok! Tapi kau jauh lebih tega menarik telingaku seperti ini!!


"Aku tidak peduli!!"


"Hadeduh kau ini perempuan, bisa tidak jangan marah terus kepadaku!"


"Mau aku tambahkan lagi?!"


Lilian semakin menarik telinga Wren dengan sangat greget.


"I-iya eh t-tidak..Agh ampuni akuu!!"


Lilian dengan mata mencuat melepaskan tangannya dari telinga Wren.


"Sungguh menjengkelkan! Apa kau Ibuku yang menyuruhku dan mengaturku!"


"Sungguh tak berperikearwahan! Lihat ini sangat panas telingaku aku pegang! Kuat sekali tanganmu!" sembari terus mengusap telinganya yang memerah itu


"Hey walau aku bukan seorang Ibu! Tapi aku ini Sahabatmu yang membawa jalan kebaikan, kau ini lelaki yang sangat pemalas!"


"Bagus ... Ayo bilang lagi kalau aku ini lelaki pemalas!


"Pemalas, Puaskan!"


"Terserah kau saja aku mengiyakan!"


Ayara berbalik ke belakang melihat Evilen dari jendela kaca itu. Namun Ayara sudah tak melihat lagi Evilen di sana. Evilen celingak-celinguk mencari sosok Evilen, tetapi memang ia sudah tak ada berada di sana.


"Dia kemana kok hilang?!"


...⚛⚛⚛...


Evilen berjalan kembali menuju ke rumah kayunya dengan hati kesal. Bagaimana tidak kesal, ia saja sudah tak melihat lagi bangunan Istana milik Steven. Ya sebenarnya Evilen tahu kalau Steven sengaja membuat seluruh bangunan Istana Allevard menjadi tak ternampak sedikitpun.


"Pasti si gadis anaknya dari Steven memberi tahu kalau aku akan kesana. Anak dan Ayah sama saja Graaaa!!"


Setelah menempuh langkah ke rumah dengan hentakan kaki sepatu heels, ia pun sampai dan segera ke pintu utama.


Cklek!


Usai membuka pintu, Evilen mengernyitkan keningnya dan mata yang melotot tajam melihat Agler yang ada tepat depan mata persis. Wajah Agler nampak datar menatap Evilen.


"Hei sedang apa kau di rumahku!"


"Dasar busuk! Main masuk saja di rumahku!"


"Busuk?"


"KAU LAH YANG BUSUK! KAU TELAH MENGUTUK KAKAKKU MENJADI BATU!!"


"JADI SIAPA YANG BUSUK HAH?! AKU ATAU KAU??!!"


"Oh jadi kau sudah tahu rupanya. Itu untuk pelajaran Mora, jadi mau apa sekarang kau?"


"Kau enak sekali mengomong seperti itu! Kau...Sungguh membuatku MUAK!"


GREP!


Evilen yang sudah muak melihat Agler, kini langsung mencekik leher Agler dengan mata yang memerah.


"KAU LAH YANG MEMBUATKU MUAK AGLER! GARA-GARA KAU SEMUA KEBERHASILANKU TELAH GAGAL TOTAL!!!"


"KENAPA? KAU TIDAK SUKA??!!"


"KAU TAK TAKUT MATI DI TANGANKU?!"


"UNTUK APA AKU TAKUT MATI DI TANGANMU YANG PERILAKUNYA KEJI SEPERTI DIRIMU!!!"


"HATIMU SUNGGUH BUSUK! KAU DATANG KE DUNIA HUTAN AZMORA HANYA UNTUK MENGHANCUR DAN MELAKUKAN SESUKAMU!!!"


"HARUSNYA KAU PERGI! TAK PANTAS KAU BERADA DI HUTAN AZMORA!!"


"INI HUTAN ALAM MILIK KAKAKKU! KAU TAK BERHAK MENGUASAI HUTAN INI SESUKA HATIMU YANG BUSUK ITU!"


BATS!


Agler menepis tangan kuat Evilen bersama gigi gertakannya


Agler mengepal tangannya kuat. Hatinya amat terkoyak-koyak, rasanya ingin menghempaskan Evilen dari Hutan alam Azmora itu.


"Ayo mari bertarunglah denganku Evilen Gramayalor!"


•••


Halo semuaaa bertemu lagi bersama Author! Gak usah di jelasin 'Author' nya pastinya kalian udah paham lah yaaakk 🤦🏻‍♀️


Aku sungguh minta maaf banget ke kalian nih, baru Update part 8 ini hari. Soalnya sebelum itu badanku drop banget gara" tugas sekolah yang menumpuk bak segudang rumahku hehehe ya diperkirain segitu lah...Jadi ya maaf baru bisa Update sekarang tolong pengertiannya yah 👐🏻😄🙏🏻


Ok kalo kalian suka Part 8 ini tolong kasih Voment like nya yaahh dan Share ke temen kalian bagi ada yang suka dengan cerita novelku ini hehehe 👉🏻😉👈🏻


Love You All ✿♡✿

__ADS_1


TBC


__ADS_2