AZMORA NATURAL WORLD

AZMORA NATURAL WORLD
Bab 1 : Meet the Silver Book


__ADS_3

Kedelapan remaja yang bersekolah di SMA Kurnia kota Jakarta dan duduk di bangku kelas XII IPA 5 terpaksa mengharuskan pergi mencari sebuah ramuan obat bunga yang ada di suatu hutan. Ada sebuah alasan mereka pergi ke sana, yaitu di suruh paksa oleh beberapa siswi kelas yang sepangkat dengan mereka hanya saja beda jurusan.


Salah satu gadis dewasa yang bernama Eyndera Atrya Anaya menendang batu kerikil yang ada di depannya dengan wajah penuh sebal karena mau-mau nurut suruhan beberapa siswi musuh terbesarnya tersebut.


“Anjir sialan!! Ngapain coba kita mau nurutin suruhan dari anak-anak bajingan di kelas itu?! Mereka kan punya mata sama punya kaki, harusnya nyari sendiri dong itu ramuan obat bunga!”


“Sabar, Eyndera ... ini salah satu caranya mereka nggak ganggu persahabatan kita lagi, mending kita turuti saja. Toh, kalau sudah berhasil ketemu, mereka bilangnya gak akan pernah lagi ganggu kita berdelapan. Gue tahu, mereka pengen menghancurkan persahabatan kita semua ini yang selalu erat dan rekat.”


Ayara Athaliya Arsyana mencoba meredakan emosi sahabatnya yang ditengah-tengah perjalanan hutan.


“Coba deh Ay, lo pikir pake otak pikiran lo. Dira kan kecelakaan jatuh dari motor bukan salah lo, walaupun di posisi itu elo ada di tepat sampingnya. Dan sekarang dengan mudahnya, temennya nuduh-nuduh lo dan menyuruh diri lo dan kami semua untuk cari obat ampuh penyembuh luka!”


Yang baru saja mengeluarkan suara ini adalah gadis anggun nan menawan, yaitu bernama Rachael Ariely Chindy. Rachael sebenarnya juga kesal seperti Eyndera karena sudah menuruti permintaan suruhan dari anak kelas sebelah musuhnya.


“Lagian, kita semua nggak tahu dimana ramuan obat bunga itu. Kita cari-cari dua jam juga gak dapet-dapet, lho.”


Alandrya Australa Aimee yang berwajah kalem dan suaranya nang menimpali ucapan Ayara, Rachael, sekaligus Eyndera. Alandrya menghela napasnya sesekali memegang kedua pahanya dikarenakan merasakan kakinya telah pegal, 2 jam terus menempuh perjalanan di hutan yang belum sama sekali menjumpai ramuan bunga obat yang disuruh oleh siswi-siswi kelas yang sebelahan dari kelas mereka berdelapan.


Pemuda berwajah tampan terlebihnya seorang kapten pemimpin jalan, berhenti melangkah dan menoleh menghadap ke belakang tepatnya menatap kesemua sahabatnya dan kekasihnya yang berada di barisan belakangnya. Pemuda tersebut bernama Antares Altregha Afareynza.


“Akan lebih baik kita semua istirahat dulu aja, gak mungkin kita terus menelusuri hutan ini berjam-jam.”


“Nah, bener tuh Res!!”


Suara lantang pekikan yang menjawab Antares ini adalah Keinze Erdylan Wiranada sang lelaki humoris suka bergurau. Keinze nampak membusungkan dadanya sembari kedua tangannya menyangga punggungnya, tentu saja punggung pemuda satu ini hampir saja butuh obat koyo.


“Kita istirahat dimana, Bro?”


Nah yang bertanya pada Antares namanya adalah Damien Hadric Andries, sang pemuda pintar meramal orang lain dan orang terdekatnya.


Antares hanya menunjukkan tempat beristirahat dengan menggunakan dagunya. Pertengahan hutan rupanya ada sebuah lapang luas banyaknya pepohonan di sekeliling lapang, lapang tersebut cocok untuk mendirikan tenda dan sekaligus acara api unggun bersama-sama. Namun, hari ini mereka berdelapan tak berlibur namun diberikan tugas untuk mencarikan ramuan bunga obat buat Dira yang mengalami kecelakaan motor hingga kakinya terluka.


Seorang pemuda yang banyak diam dan suka berwajah datar namanya adalah Narthan Liem Keuvano. Lelaki yang pemberani diantara para sahabatnya, dan ia ada di barisan paling belakang bermaksud melindungi keempat sahabat perempuannya jika ada sesuatu yang membahayakan.


Bagi delapan remaja tersebut suruhan dari para temannya Dira itu tak masuk akal, dan pastinya si Damien yang pintar meramal, obat tersebut sulit untuk ditemukan apalagi semakin lama mereka menelusuri hutan semakin juga suasana menjadi sedikit gelap.

__ADS_1


“Guys, kita lagi nggak dijebak, kan sama temannya Dira? Suruhan dia itu kayak gak masuk akal banget, kecelakaan motor dan kaki luka kan bisa diobati ke rumah sakit. Tapi kenapa temen-temennya Dira justru keuh-keuh ingin kita berdelapan harus menemukan obat aneh itu?” tanya Rachael.


“Hhhh ... udahlah, pasrah saja lagian ini kebodohan kita pake nurut sama mereka segala,” ujar Damien lesu.


“Sudah, masalah obat ketemu atau belum itu urusan belakang saja. Yang penting kita isi tenaga dulu, sudah hampir tiga jam kita tempuhi. Dan waktunya kita beristirahat sejenak dulu di sini,” tutur Antares.


Tak berapa lama kemudian kedelapan remaja tersebut tiba di lapang hutan luas yang banyak pepohonan besar dan sejuk dipandang. Ayara, Rachael, Alandrya, Eyndera, Antares, Keinze, Damien, dan Narthan memutuskan duduk di atas gelondongan kayu dan mengeluarkan botol air minum merk Tupperware dalam tas punggung mereka karena tenggorokan kedelapan remaja SMA tersebut telah kering.


Ayara meneguk air dalam botol minumnya hingga setengah, dan matanya terpusat pada sebuah buku silver yang terkena sinar matahari membuat buku tersebut berkilau akan warna silver menarik itu. Ayara tanpa izin pada para sahabatnya, beranjak dari duduknya lalu kemudian berjalan mendatangi buku tebal silver yang tergeletak di bawah pohon menjulang tinggi.


Gadis berambut panjang warna coklat terang dengan gaya model lurus rapi itu menyipitkan matanya yang sipit karena silauan buku tersebut menerpa kedua mata gadis cantik ini. Di bagian cover depan buku itu nampak banyak sekali kotoran debu. Ayara tak segan-segan mengambil buku itu dengan kedua tangannya lalu membersihkan buku silver yang ia pegang sekarang.


“Buku apa ya, ini? Kok dari covernya asing banget? Apa gue buka aja kali ya, bukunya? Siapa tahu ini buku novel.”


Tanpa Ayara sadari ketujuh sahabatnya telah berada di belakangnya, mulai dari Rachael, Alandrya, Eyndera, Antares, Keinze, Damien, dan Narthan menatap bingung buku cover asing yang tengah di pegang oleh Ayara. Rachael menggaruk kepalanya dengan mengerutkan keningnya bingung.


“Buku apaan itu, Ay? Novel, kah?”


Ayara tersentak kaget pada celetuk suara Rachael yang bertanya pada dirinya, gadis itu berputar badan tak terlepas dari buku cover bintang tersebut. “Gue juga nggak tahu pasti, Rac. Euumm tapi gue jadi penasaran deh isi dalam buku ini berisi tentang apa. Jarang loh kalau semisalnya ini adalah buku novel.”


“Yaudah, lo buka aja gak usah dilihat lama-lama kalau lo memang penasaran,” titah Eyndera bersedekap tangan di dada.


Ayara membuka perlahan dalam buku silver, dan mulai keluarlah cahaya gold yang memancarkan wajah gadis ini dan ketujuh sahabatnya. Ayara bertambah tak mengerti pada tulisan-tulisan font yang terlihat memukau, ada beberapa kalimat satu paragraf saja, tak lebih.


“What?! Kata-kata apaan itu? Kayak ucapan mantra aja dah,” ucap Keinze.


Ayara beralih membuka lembaran-lembaran buku tebal silver tersebut sampai di ujung akhir lembaran, dan rupanya kata-kata kalimat tersebut sepadan dengan halaman pertama. Ayara yang jalan otaknya selalu berjalan dan cerdas, kebingungan terhadap maksud arti buku silver tersebut.


“Sebenarnya apa maksud dari buku yang Ayara pegang itu? Gue sama sekali nggak paham, dan gue tahu kalian pasti juga tidak paham seperti gue.”


Kesemua yang ada didekatnya Antares mengangguk pada penuturan ucapannya, dan Keinze mulai berkomentar usai angguk-angguk kepalanya, “Otak lo yang pinter kek profesor aja gak ngerti apa maksud dari buku itu, ditambah lagi otak gue yang jalannya seperti bekicot!”


“Idih, baru nyadar lo kalau diri lo jalan otaknya kek hewan bekicot? Emang bener sih, tapi yang penting lo gak diciptakan manusia bentuk bekicot.”


Keinze mendengus. “Heh anak dukun! Lu bisa-bisanya menghina gue, daripada lo tukang pelamar orang lain kayak mbah dukun!”

__ADS_1


“Peramal, bukan pelamar!” ucap Narthan membenarkan kata Keinze dengan nada tinggi.


“Eh, nah iya itu maksud gue.”


“Mulut lu kemasukan apaan sih, Kein?” tanya Damien.


“Kemasukan ribuan semut, karena bau nafas mulut gue wangi seperti bunga melati.”


Damien menatap sinis Keinze. “Bau bunga kantil, kali.”


“Eh?! Anjir lu, Mbah Dukun!!”


“Heh, sudah! Kalian berdua ini apa-apa diributin. Apa nggak bosan, setiap hari begitu terus? Lama-lama kalau gue sudah terlanjur jengkel, gue akan buang kalian berdua ke jurang yang ada disekitar hutan sini!”


“Galak banget sih, Res?! Untung lo ganteng kayak pangeran!” serempak ucapan antara Keinze dan Damien.


Eyndera berdecak kesal tak menyukai perdebatan di belakangnya, dirinya membalikkan badannya ke depan. “Eh Ay, mending elo coba deh baca tulisan-tulisan itu secara lisan. Biar kami semua bisa mencerna maksud dari tulisan-tulisan itu apaan.”


“Oke,” setuju Ayara.


Ayara menghembuskan napasnya lalu mulai membacakannya dengan suara lembutnya sepadan saat ia tengah berbicara dan berceloteh.


“Wahai para engkau atau kalian yang telah melihat buku ini dan tulisan-tulisan indah yang bermakna di dalamnya. Sepertinya kalian berpikir buku ini adalah buku biasa, justru tidak. Buku ini adalah suatu jebakan untuk kalian, dan bersiaplah kalian akan menghilang dari tempat kalian dalam hitungan satu, dua, tiga, empat, lima.”


Rachael nyengir. “Astaga, perkataan apaan ini? Paling cuman pameran semata doang.”


“Kayaknya gak terjadi apa-apa deh,” sambung Alandrya.


Kejadian tak terduga dimana datanglah sebuah suara angin topan dari bawah tanah tepatnya yang mereka pijak hingga tiba-tiba....


WHUUUUUUUUUUSSSTT !!!


“WAAAAAAAAA!!!”


Kedelapan remaja dewasa tersebut berteriak spontan kencang disaat tubuh mereka terangkat ke atas bersamaan pada munculnya angin topan berwarna sinaran biru tua. Tubuh mereka disengaja dibuat berputar-putar pada pusaran dalam angin topan aneh itu hingga 2 detik kemudian, angin topan sinar biru menghilang begitu juga kedelapan remaja 18 tahun tersebut.

__ADS_1


Lalu, apa yang akan terjadi pada mereka semua? Apakah mereka baik-baik saja?


ANW To Be Continued  »


__ADS_2