
"Hahahaha kau baru tahu rupanya, gadis yang malang," ucap Penyihir Evilen dengan mendongkakkan kepala Ayara dengan kasar
Ayara menjadi tidak nyaman dengan aura Penyihir bergaun serba hitam.
BATS !
Seorang pemuda Remaja seumuran Ayara yang menarik tangan Evilen dengan rada kasar. Dan yang tak lain adalah Ares.
"Singkirkan tanganmu dari Ayara!"
"Kurang ajar! Siapa kau berani mengganggu aku hah?!"
"Kau gak perlu tahu aku siapa! Lebih baik kau pergi dari sini!" luap Ares
"Hah? Dasar pemuda tak tau diri. Aku penguasa alam hutan ini! Jadi kau tidak berhak menyuruhku pergi dari sini, atau perlu aku musnahkan kalian berdua agar tamat?"
Ares membelakangi melindungi Ayara, "jangan kau apa-apakan Ayara!"
"Wah nyalimu juga kuat ya, sini kau!"
Evilen mencekik leher Ares kuat dan mengangkat tubuhnya. Kini Ares tak menapakkan kakinya di tanah, karena saat ini ia tengah di cekik oleh Evilen.
"Lepaskan Ares!"
"Diam kau gadis malang!"
SWING !
Ayara terpental dari tangan mantra Evilen yang cukup kuat hingga Ayara terlempar jauh ke belakang.
BRUGH !
Ares tak bisa berkata mengeluarkan suara saja tidak mampu.
"Masih ingin melawan atau membantah!"
"Eeeenggghhh!!!"
Ares mengerang kesakitan. Dadanya sesak bercampur dengan rasa sakit luar biasa di lehernya tepat di mana Evilen mencekik leher milik Ares.
"L..lepash," lemah Ares
Tangan Ares meraba di belakang saku celana jeans-nya, dan mengambil tongkat mantra yang ia punya dan ia simpan.
Ia menggenggam tongkat mantra-nya di ujung bawah permata mengkilap itu.
"A..Va..Da..Ke..Da..Vra."
SPLASH !
Secara spontan Tongkat mantra yang di genggam oleh Ares menyerang Evilen usai Ares mengucapkannya walapun lemah.
Cekikan dari Evilen pun terlepas begitu saja, dan Evilen terpental lalu menabrak pohon.
Bruagh !
Ares jatuh terbaring dan tongkat mantra yang ia pegang ikut terjatuh.
"Areeeeesss!!!" teriak Ayara berlari menghampirinya
Ayara berlari dan berjongkok menatap Ares yang kini telah menutup matanya.
Ayara menepuk-nepuk perlahan pipi Ares, "res..Ares?"
Ares tak bergeming dan tak bergerak.
"Ares bangun dong, kamu jangan bercanda!"
Ayara mengguncang guncangkan tubuh Ares, yang kini sudah tidak ada pergerakan sama sekali.
Ayara gelisah, bingung, panik bagaimana bisa menyadarkan Ares dari pingsannya.
"Apa jangan-jangan Ares salah gunain mantra!"
Wajah Ares memucat, begitu juga tangannya yang mulai mendingin.
"Ares please banguuunn!!"
...⚛⚛⚛...
"Woi ada yang ngeliat Ares sama Ayara gak??" tanya Ken sambil mencari
"Kagak mungkin jalan-jalan."
"Woi Nat, tadi kan Ares sama lo."
__ADS_1
"Ya terus kenapa?"
"Kok gak peduli amat sih?"
"Gue mana tau, tadi gue tidur! Bangun-bangun Ares-nya gak ada di samping gue."
"Kita cari aja yok lah, perasaan gue gak enak nih sama Ayara ma Ares."
"HEH LIAT AYARA GAK?!" teriak Rachel tiba-tiba
"Ah telat kamu! Kita mau cari Ares sama Ayara dulu, bye—"
"Eh kita ikut!"
"Aku juga!"
"Aku pun!"
Ken hanya mengangguk lalu berbalik badan dan mencari keberadaan Ayara dan juga Ares.
Mereka semua pergi meninggalkan danau dan fokus mencari mereka berdua.
...⚛⚛⚛...
"AREEESS! AYARAAA! KLEAN DI MANAAA!!"
Ken berteriak memanggil mereka berdua di hutan yang gelap itu.
Sahabat-sahabatnya juga ikut berteriak memanggil nama kedua Sahaabatnya.
"Eh bentar— Eh itu Ayara bukan?!"
Rachel berlari menuju seorang gadis yang tengah menangis dengan menggoyang-goyangkan tubuh pemuda yang lemah tak sadarkan diri.
Ayara
"Hiks! Bangun Ares! Buka matamu!"
Puk
Seseorang menepuk punggung mungil Ayara.
Ayara menghapus air matanya dan menoleh kebelakang.
"Ayara kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi?!"
"Penyihir itu mencelakai Ares sampe kayak giniii!"
Penyihir Evilen yang menabrak pohon sekarang hilang entah kemana.
"AREEESS!"
Ken yang baru saja sampai, langsung melihat Ares yang tak sadarkan diri.
"Ares! Lo kenapa kayak gini! Jawab gue woi!"
"Ares lo pingsan apa mati sih?!" lantang Darren
Kalimat Darren yang "mati" itu membuat mata Ken membelalak lebar takut jika sahabatnya benar sudah tiada.
Ken mengecek nafas hidung Ares. Dan walaupun wajahnya sangat pucat dan lemah, Ares masih bernafas hanya saja juga lemah.
Ken tak sengaja menyentuh telapak tangan Ares yang mendingin.
"Lho-lho kok dingin tangan Ares?!"
"Tapi Ares masih hidup."
"Tongkat mantra-tongkat mantra! Gue perlu sembuhin Ares!"
Ken yang telah menggenggam tongkat mantra-nya, langsung mengucapkan "Avada Kedavra" tepat di badan Ares.
Setelah mengucapkan kata itu, dari ujung kepala dan ujung kaki Ares, bersinar terang.
Ken berharap Ares segera bangun dari pingsannya yang cukup mengancam nyawa.
SRING !
SRING !
Suara dari mantra Ken cukup menderu berisik, tetapi itu berguna untuk menyembuhkan Ares.
Semakin lama juga, sinar mantra memudar dan menghilang.
Dan saatnya mereka menanti kesadaran Ares usai ini.
__ADS_1
Dan benar saja, Ares perlahan membuka matanya dengan mata sayu.
Semua Sahabatnya terbelalak senang melihat Ares sadar.
"Ares lo udah sadar!" haru Ken
Namun kebahagian itu lenyap kembali.
Ares kembali menutup mata dengan tenang. Sahabatnya yang senang kembali sedih membungkam dan kaget, ternyata di mantra Ken tidak ada hasilnya sama sekali.
Semua kembali berteriak memanggil nama Ares yang tak sadarkan diri lagi.
Mengguncang-guncang tubuh Ares bersamaan dengan teriakan sedih.
"Ada apa dengan Ares?"
Seseorang dengan suara yang sangat Familliar di belakang mereka.
Suaranya sangat mirip dengan suara Ares.
Saat berbalik kebelakang mereka hampir terlompat kaget.
Seseorang yang bertampang seiras dengan Ares. Dari tingginya, gaya rambut, kulit, dan postur tubuh juga sama sekali dengan Ares.
Hanya saja ia mengenakan pakaian serba putih.
Mereka saking gak percayanya menatap Ares dan juga pemuda yang berwajah mirip Ares secara bergantian.
"Ares kamu udah jadi Arwah?!" kaget Ayara
"Bukan Ares aku adalah Agler."
"Agler? Yang kuda transparan itu?!"
"Yap betul."
"Aku gak menyangkanya kalian berwajah sama!" ujar Ken
"Aku juga. Oh iya ada apa dengan Ares?"
"A-ares di lukai Penyihir Evilen!"
Agler berdecak kesal,"sial Evileeennn!"
"Kau tau?"
"Tentu aku tau. Aku di sini sudah bertahun-tahun bahkan sebelum kedatangan Evilen."
"Apakah kau berasal dari sini?" tanya Rachel dengan memicingkan mata
"Iya aku asal dari sini, dan aku mempunyai seorang Kakak perempuan yang bernama Mora."
"Mora, tunggu sebentar bukannya nama dunia alam ini Azmora kan. Itu berarti Kakakmu pemilik alam hutan ini?!" tebak Ayara
"Wah bagaimana kau tau Ayara?! Tapi kau sangat cerdas juga ya!"
"A-aku hanya menebaknya saja Agler."
"Lalu sekarang Kakakmu ada dimana?"
"Huh! Kakakku..Kakakku berubah sifat karna terkena mantra penurut dari Evilen. Aku tidak bisa menghentikannya karena Evilen sangat kuat dan tak terkalahkan."
"Aku sedang mencari cara bagaimana memusnahkan Evilen dari dunia alam hutan ini."
"Yang sekarang aku tanya adalah, kenapa Ares bisa menjadi pucat seperti ini? Ini sangat jarang terkena mantra dari Evilen, hingga Ares seperti ini."
"Em..Yang aku lihat adalah..Ares waktu itu sedang di cekik kuat oleh Evilen. Dan Ares mengeluarkan tongkat mantra-nya dan mulai menyerangnya."
"Hah?! Apakah di saat itu keadaan Ares lemah?!"
"Iya Agler."
"Aduh gawat! Ares terkena kutukan!"
•••
Halo para my readers..Hehehe bagaimana episode part 5 ini, makin gaje ya? Kalo aku sih mikirnya begitu.
Maaf ya kalo di cerita novelku kebanyakan typo hehehehe 🥺👉🏻👈🏻
Tapi bagi yang suka dengan cerita novel ini tolong kasih tombol like yah dan tinggalkan Comment dan kasih saran kalo ada kesalahan pada cerita gak jelas aku ini. 😉😊
I Love You All ✿♡✿
TBC
__ADS_1