
Semua Sahabat Ares terkejut apa yang di lontarkan Agler. Tidak menyangka tapi ada juga rasa tak percaya dengan Agler.
"Apa? Ares kena kutukan?!" ucap Acara
Agler menghela nafasnya, "iya Ayara."
Ken yang menatap Ares, menoleh cepat ke Agler, "kutukan apa yang di derita Ares?!"
"Tidur Panjang."
"Ares akan terus tidur panjang jika Evilen belum kalah dan pergi dari dunia alam ini selamanya."
Ayara meneteskan air matanya, mendengar penjelasan Agler.
Di benak Ayara tiba-tiba muncul dua pilihan, di antara Maju menyerang atau mundur menahan. Jika Menyerang itu berarti mereka juga harus korban, kalau menahan Ares akan terusan tidur dan tidak bangun.
"Sementara Ares akan ku bawa ke Istana Arwah, agar Ares aman yang dengan kondisi lemah seperti ini."
"Kalian juga bisa menyusul."
Darren mengerutkan dahinya, "bagaimana caranya? Kami semua aja gak tau Istana Arwah yang kau bilang."
"Ada satu caranya kok, satukan lah di masing-masing tongkat mantra kalian, dan sebutlah seperti yang di bilang Sahabatku."
"Avada Kedavra?"
"Iya benar."
Agler mengulurkan tangannya menyentuh pundak Ares dengan memejamkan mata.
Terlihat semacam Cahaya putih yang bersinar dari Agler hingga ke sekujur tubuh Ares. Dan pada hitungan 3 detik, mereka berdua dalam sekejap hilang dengan cepat.
SPLASH !
Dan tinggal hanya tujuh remaja yang mematung kepergian Agler dengan Ares.
Ayara mengelap air matanya yang terus mengalir di kedua pipinya.
Dan ayara melihat tongkat mantra Ares yang tergeletak di tanah. Segeralah Ayara mengambilnya.
Ayara menggenggam benda itu dengan tatapan nanar.
"Eh kalian pada nyadar gak, ada yang beda di tongkat mantra Ares!" teriak Rachel tiba-tiba
"Emang ada apa?" tanya Ken yang sedari tadi murung
"Lihat deh di ujung tongkatnya, permata-nya udah jadi keras kayak batu!"
Ken melihat sekilas saja dengan menghela nafas dengan berat, "pasti Ares gunain mantra-nya terlalu."
"Buat ngalahin si Evilen, pasti Ares ngeluarin nya tenaga yang maksimal."
Nathan yang sedari tadi diam tak berkata kini melontarkan, "darimana lo tau soal itu?"
"Gak tau, pikiran gue aja."
Tak terlihat lagi wajah Ken yang ceria, semua lenyap begitu saja. Kini yang ada sebuah murungan.
__ADS_1
"Ayara?"
"Ya?"
"Kamu sebelumnya napa bisa ada di sini??" tanya Andrea
"Aku...Hanya penasaran sinar-sinar merah tadi di sini."
"Aku terlalu bodoh! Kalau aja aku gak ingin tau sinar merah itu, pasti ini semua gak terjadi."
"Maafin aku Ken."
Ken mendongakkan kepalanya ke Ayara dengan mata yang sayu, "gak ada yang perlu kamu minta maaf. Semua orang pasti ada rasa ingin tau."
"Tongkat Ares sekarang udah gak ada yang berfungsi."
"Kenapa sih, Ares gunain Tongkatnya, toh sekarang dia kena kutukan nya."
Darren mendengus dengan perkataan Ken, "Ken coba lo pikir, kalau Ares gak gunain tongkat mantra-nya, Ares bisa mati!"
"Gue lebih baik Ares kena kutukan itu, daripada Ares diam gak gunain mantra-nya yang ada lo gak bisa ketemu Ares selamanya. Apa lo mau?!"
"Jangan bentak-bentak gue Darren! Gue lagi pusing!"
Darren menarik nafas panjangnya lalu membuangnya perlahan, "maaf."
Nathan yang berada di tengah Ken dan Darren, mengulurkan kedua tangannya merangkul dua cowok sahabatnya, "guys situasi kayak gini, lo berdua jangan debat. Itu gak akan nyelesain masalah."
"Maaf." jawab Ken Darren lirih bersamaan
Alanda berkata lirih untuk mencoba membangkitkan Ayara dari sedihnya.
"Iya ada ide. Ngalahin Evilen dari kutukan yang ada di Ares." timpal Ayara lirih
"Itu memang ide yang baik, tapi ada bahaya juga ra."
"Iya aku tau hel."
Ken memainkan batu-batu yang berukuran kecil dengan memutarnya dengan tatapan nanar. Semua menatap Ken yang murung dan tampak tidak ceria.
Bagaimana ia ceria, dengan Kondisi Sahabatnya yang begitu mengkhawatirkan, hati Ken menjadi warna langit yang mendung akan hujan.
Ken menggertakan giginya kuat, dengan tangan yang mengepal kuat yang ia tengah main batu itu.
"Ken."
Darren merangkul Ken, "jangan emosi ya please, iya gue tau lo jengkel sama Evilen. Tapi sementara kita berpikir dulu gimana ngalahinnya."
...⚛⚛⚛...
Evilen masuk ke dalam rumah serba kayu-nya dengan sempoyongan.
"Nona Evilen?!"
Nona Baik-baik saja, apa yang telah terjadi?!"
"Jangan banyak bertanya! Kau pasti sudah tahu!"
__ADS_1
"N..nona, mari Saya bantu dan duduklah."
Mora mengulurkan tangannya untuk membantu Evilen
"Sial! Gara-gara anak itu, aku jadi luka!"
"Siapa yang berani melukai nona?!"
"Siapa lagi kalau bukan anak pemuda yang pemberani itu!"
"Tapi aku sangat senang."
"Apa yang membuat nona senang?"
"Setengah jiwa pemuda Remaja itu sekarang sudah berada di diamond Marron ku wahahahaha!"
"Wah kenapa bisa nona?!"
"Hm! Dia pikir pasti aku telah mati! Wah..Wah sangat bodoh!"
"Setelah dia lemah dan tidak sadarkan diri, diam-diam aku menyerap jiwa dia setengah dan sekarang setengah jiwanya di diamond milikku."
Evilen berkata angkuh dan tertawa jahat. Mora hanya mengangguk pelan dengan suara tertawa keras Evilen.
"Bawalah Diamond aku ini ke pintu ruangan itu. Jangan kau apa-apakan diamondnya. Ngerti?!"
"B..baik Nona Evilen saya akan menaruhnya saja Diamond Nona di atas meja ruangan."
"Bagus. Cepat sana."
"Baik. Mari diamond nya Nona."
Evilen mengulurkan kedua tangannya dengan sebuah Diamond Marron bersinar dan di dalamnya terlihat asap-asap yang tak di mengerti Mora.
Semua memori ingatan bersama Adiknya, pengalamannya, dan sebagainya telah hilang begitu saja waktu di sihir bersama Evilen.
"Dalamnya adalah jiwa setengah pemuda itu. Jika diamond itu pecah ataupun hancur, jiwa setengah milik pemuda itu akan melayang dan kembali ke raga tubuhnya."
"Jadi jangan ceroboh!"
"Saya mengerti Nona."
"Kerja bagus. Dan setelah itu, buatkan ramuan penyembuhan untukku."
Mora mengangguk dan melenggang pergi untuk menaruh Diamond yang bersinar itu ke dalam ruangan.
•••
Temen-temen rasanya kok ceritanya jadi tambah gaje dan ngawur yak. Entah juga deh itu pikiran aku aja gak tau kalau kalian gimana hihihi. 😅
Maaf ya lama nih gara-gara tugas sekolah yang menumpuk kayak gudang huhuhu. 🤕🙏🏻
Oh iya kalau kalian suka dengan part 5 ini please kasih vote dan Comment nya yah. Dan kasih saran juga ke aku jika masih ada typo dan bla-bla-bla ehe.
I Love You All ✿♡✿
TBC
__ADS_1