
Bukan halusinasi bahkan bukan mimpi, mereka benar-benar melihat wajah rupa kembar yang sama seperti mereka di nyata. Kedelapan remaja itu terdiam Syok karena masih tidak menyangka apa yang mereka lihat di depannya. Alandrya menelan ludahnya dengan belum sama sekali melepaskan ataupun melonggarkan dekapannya dari tubuh Rachael yang setia memberikan nirwana jiwa agar tak terlalu takut, karena memang dasarnya kalau Alandrya ketakutan apalagi sampai Tremor, gadis kalem tersebut bisa mengalami pingsan di tempat.
Damien dengan detak jantung tak beraturan alias batas dari normalnya, menyenggol-nyenggol lengan Keinze yang tertutupi oleh hoodie merah maroon miliknya. “Itu siapa, Kein? Kenapa mereka semua kembar seperti kita berdelapan? Jangan-jangan, sebenarnya kita semua udah mati, terus arwah kita semua sekarang ada di barisan hadapan depan kita.”
Keinze melirik sinis dengan tampang wajah kesalnya. Lagi-lagi sahabatnya yang jago meramal tersebut berbicara seenaknya. “Semprul, emang! Kalau yang di depan itu para arwah kita, raga kita udah gak bisa ngapa-ngapain, lah! Itu otak dijalanin sedikit, napa?! Heran dah, gue!”
“Eh! Iya juga deng, ya! Hehehe!” tanggap Damien dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu sambil cengengesan.
“D-demi apaan ini, coba?! Kalian semua kok wajah dan postur tubuhnya sama seperti kami berdelapan?! Gue gak duga ini!” pekik Ayara karena terkesiap kaget dengan menatap mereka yang mengenakan pakaian serba putih secara bergiliran.
“Sebenarnya saat kami belum berubah menjadi sosok manusia pada umumnya, aku juga terkejut karena tamu yang kami jumpai ini, sama persis wujudnya seperti kami.” Gadis bermuka paras cantik yang macam Ayara, menoleh menatap Alandrya yang masih saja takut pada ia dan kesemua kelompok temannya.
“Jangan takut, kami bukan orang yang jahat, kok. Dan di sini kami ingin memperkenalkan diri kami adalah siapa. Aku dan semua sahabatku adalah seorang kelompok yang tinggal di hutan ini.”
“Perkenalkan namaku adalah Aleyzra sang pemimpin serta penjaga di hutan ini. Dan jika kalian penasaran siapa saja yang ada di para sebelahku, mereka adalah tujuh sahabatku yang bernama Glory, Lucinda, Caitlyn, Wrein, Galend, Lemuel, serta terakhir yaitu Agler.”
Kedelapan remaja 18 tahun itu menyimak seksama saat Aleyzra menunjuk para sahabatnya dengan secara bergiliran seraya memperkenalkan namanya mereka. Mereka yang tidak mengenakan pakaian serba putih alias berwarna-warna, masih melongo tak percaya karena mereka semua memiliki kembaran fantastik masing-masing. Dari senyuman Aleyzra yang telah memperkenalkan seluruh semua sahabatnya, memancarkan sebuah kebaikan tanpa ketaksaan dalam jati dirinya, terlebih lagi gadis cantik itu sama persis seperti Ayara yang memiliki paras wajah dan postur tubuh ideal yang seiras.
Lemuel yang mirip macam Narthan, menghampiri pemuda tersebut yang tengah dirangkul oleh Antares. Lelaki berpakaian serba putih itu berhenti berjalan saat melihat ada bekas darah yang menempel di ujung bawah celana jeansnya Narthan. “Kau baik-baik saja, Narthan?”
“Lo tau darimana nama gue?” Pertanyaan Narthan langsung dijawab oleh Lemuel tanpa senyuman sama sekali, layak persis seperti Narthan. “Tentu saja aku tahu, aku bukan manusia biasa seperti kalian.”
Narthan memutar bola matanya ke sembarang arah. “Gue nggak kenapa-napa.”
“Tidak-tidak, kaki kau terluka! Pasti akibat dari benda tajam yang menusuk di kakimu. Kau jangan memaksakan diri untuk berdiri. Dan karena kita semua akan menyusuri hutan mencekam ini untuk meninggalkan tempat buruk ini, aku akan memberikanmu sesuatu agar kau tak terlalu banyak melangkah.”
Lemuel membentangkan satu tangan kanannya ke arah tanah dengan menggerak-gerakkan seluruh jari kanannya. Hingga timbul suatu cahaya setengah terang yang memunculkan benda sesuatu di atas tanah tersebut, kedelapan remaja yang merupakan hanyalah manusia biasa tanpa memiliki kekuatan mantra, hanya tersentak kaget apa yang dilakukan Lemuel.
Lemuel menurunkan tangannya saat benda yang ia keluarkan dari kekuatan mantra yang ia kuasai sejak kecil, telah muncul. Pemuda unik itu lalu menoleh menatap Narthan. “Naiklah ke karpet sutra ini, setelah itu kau duduk saja. Karpet ajaib ini akan mampu menerbangkan dirimu saat kami semua menyusuri hutan. Mengerti?”
“Lo nggak lagi mau berbuat macem-macem sama gue, kan?” curiga Narthan.
Lemuel menghempaskan napasnya kasar. “Apakah aku sudah gila sampai berbuat macam-macam denganmu? Lebih baik kau naik saja, semakin berlama di tempat ini, semakin tidak baik untuk kalian semua yang sebagai tamu pendatang di hutan alam nuansa lapuk ini.”
Antares menuntun Narthan berjalan ke karpet sutra lembut yang nampak terlihat nyaman itu. “Pelan-pelan naiknya. Lo jangan curiga atau ambil pikiran negatif, dia orangnya baik kok.”
“Hm.” Itulah yang direspon Narthan dengan nada dingin.
__ADS_1
Dengan perlahan Narthan menginjak karpet sutra tersebut yang telah diberikan oleh Lemuel. Antares bersama lambat serta hati-hati, mendudukkan sahabat dinginnya di atas karpet itu. Setelah Narthan duduk di karpet lembut nan nyaman tersebut, secara otomatis, benda ajaib itu terbang melayang ke atas udara. Pemuda bermuka datar tersebut cuman menunjukkan ekspresi agak terkejutnya.
“Ayo! Lebih baik sekarang kalian ikuti kami ke tempat yang sangat indah memukau hati dan nyaman untuk kalian berdelapan. Tenanglah saja, aku serta ketujuh sahabatku tidak akan menyesatkan kalian semua, kok. Kami adalah penghuni yang baik.”
“Bisa dipercaya,” ucap singkat Ayara.
Aleyzra, Agler, Caitlyn, Wrein, Lucinda, dan Galend tersenyum ramah berhati lega karena ada satu orang yang mempercayai kebaikan mereka, terkecuali Glory beserta Lemuel yang menanggapi Ayara dengan sebuah anggukan kepala saja.
Usai sudah, dua belas remaja tersebut mulai meninggalkan tempat menyeramkan itu. Dipertengahan menyusuri hutan gelap mengerikan tersebut, Alandrya kini bukan memeluk, tetapi menggenggam erat lengan tangan Rachael. Sedangkan Lucinda yang paras wajah lugunya seperti Alandrya, sama sekali tidak takut alias biasa saja, karena gadis yang macam Lucinda telah lama menempati alam ini semenjak bertahun-tahun lalu.
Narthan yang ada di atas karpet terbang, posisi kakinya ia selonjor-kan dengan nyaman agar tak ada permasalahan di luka kaki kirinya. Jelas terlihat luka itu begitu dalam, apalagi tak ada obat dan perban yang menyembuhkan lukanya tersebut.
Nuansa hutan alam menyeramkan ini berjaya membuat kedelapan remaja manusia biasa itu, tubuhnya saling meremang atau merinding. Mereka melangkah menyusuri hutan seraya dengan menengok-nengok kanan-kiri bergantian. Amat gelap sekali, banyak tanaman-tanaman hutan yang tak terawat, bahkan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi ada nang sampai bengkok akan tumbang. Mengerikannya lagi, ada suara burung Gagak hitam yang saling bersahutan di atas langit malam.
Tak ada bintang, dan juga tak ada bulan yang memperindah suasana hutan tersebut. Tetapi mereka yang sedang mengikuti delapan remaja berpakaian serba putih itu, berusaha tidak mengambil negatif thinking, hanya karena menyusuri hutan horor ini. Sampai tiba-tiba setelah 4 jam menempuh perjalanan, mereka yang ada di belakang mendengar suara air terjun dari balik semak-semak daun belukar yang menutupi jalan.
Aleyzra bersama sahabat kecilnya ialah Agler, menyibak semak-semak daun belukar itu dengan secara bersamaan. Mereka berdelapan yang ada di belakang barisan delapan remaja fantastik tersebut, mulutnya menganga lebar bersama mata terbelalak tak percaya pemandangan apa yang mereka lihat sekarang.
“Oh, so beautiful ...” kagum Rachael sambil menutup mulutnya bersama satu tangan dengan mata tak terlepas dari pemandangan air terjun, para tanaman bunga-bunga indah warna-warni, beserta bangunan istana menarik di jauh ujung sana.
“Ayo mari masuk dan ikuti langkah kami. Dan aku yang sekarang akan mewakili Aleyzra, jadi di sini kalian akan kami tempatkan di istana Allevard yang berada di atas ujung air terjun ini. Salah satu caranya menuju ke bangunan itu, kalian cukup menaiki batu tangga yang ada di dalam aliran air terjun jernih ini,” jelas Caitlyn detail.
“Kalau kami menaiki tangga batu yang ada di aliran air terjun kecil itu, kaki dan sepatu kami basah, dong,” protes Rachael.
Caitlyn terkekeh pada Rachael gadis kembarannya tersebut yang memiliki rambut pendek seleher model lurus seperti dirinya. “Jangan takut basah, karena jika menaiki tangga yang bentuknya batu itu, air yang biasanya akan membuat basah, tidak akan buat kaki beserta sepatu milik kalian basah. Ada yang perlu kalian ketahui dan ingat, ini adalah tempat alam dunia sihir ajaib. Jadinya semua tempat fasilitas di sini berbeda jauh dibanding dunianya kalian berada.”
“O-oalah begitu, ya? Wah tempat yang sangat langka dan unik,” celetuk Alandrya.
“Betul sekali! Oh iya, saat menaiki batu tangga, kalian sebaiknya berhati-hati, karena batu yang di sana sangat licin,” peringat Lucinda.
Kesemua ketujuh remaja manusia normal biasa tersebut menganggukkan kepalanya, terkecuali Narthan karena ia tak mungkin menaiki bahkan menginjak batu tangga itu dikarenakan ia keadaannya di atas karpet nyaman yang diberikan oleh Lemuel. Dua belas remaja tersebut mulai memasuki pemandangan luar pencuci mata ini. Seperti apa yang diperingatkan oleh Lucinda, Ayara dan keenam sahabatnya melangkahkan kakinya berhati-hati untuk menaiki tangga bentuk batu alam tersebut. Tetapi kemudian, Keinze yang ada dibarisan paling belakang, salah satu kakinya tergelincir di atas batu alam licin itu.
“Eh lah-lah?! Waaaa!!!” Keinze terhuyung ke belakang dan Wrein yang mirip dengannya, langsung tangkas balik tubuh ke belakang dan mengeluarkan sebuah mantra sihirnya untuk menolong Keinze yang akan terjatuh menggunakan bentangan satu tangan.
“Estavalase!”
__ADS_1
FLESH !
Semacam cahaya yang mampu menyangga tubuh Keinze dari belakang agar pemuda bermata biru Bule tersebut tak jatuh ke bawah. Keinze bernapas lega karena berkat Wrein yang menolong dirinya, ia tak mendapatkan musibah menyakitkan. Wrein sang pemuda manusia ajaib penuh dengan kuasa mantra sihir, menghembuskan napasnya.
“Dibilang berhati-hatilah jika menaikinya! Ceroboh sekali kau!” komentar Wrein.
Keinze mendengus saat mantra cahaya kuning sihir milik Wrein telah menghilang dengan sendirinya. “Gak usah pake acara komen-komen dah, lo! Karena lo cowok mirip banget kayak gue, berarti lo juga ceroboh!”
Wrein membungkamkan mulutnya. “Ah- kau benar juga- eh kau mengatakan aku apa tadi?! Ceroboh?! Oh atau agar kau mendapatkan suatu pelajaran dariku, perlukah aku jadikan kau monyet?!”
“Kau!” geram Agler melemparkan tatapan tajamnya pada Wrein sang sahabatnya.
Wrein yang menoleh menghadap depan dan diberikan tatapan tajam oleh Agler, menundukkan kepalanya dengan menutup matanya. “Huh! Iya, maafkan aku.”
Agler yang seiras dengan Antares, kembali memutar tubuhnya ke depan untuk melanjutkan langkahnya menuju ke istana Allevard, begitupun yang lainnya. Setelah kedelapan remaja manusia tanpa sihir tersebut berupaya susah payah melangkah menaiki batu alam yang sebagai tangga itu, kini mereka semua perlu lagi melewati sebuah jembatan emas yang nampak kokoh jika dilintasi.
“Akhirnya kita sampai juga di depan istana!” seru Aleyzra dengan merentangkan kedua tangannya bahagia.
Ayara, Antares, Rachael, Keinze, Alandrya, Damien, Eyndera, dan Narthan lumayan membuka mulutnya bersama memiringkan kepalanya melihat kondisi bangunan istana yang bernama Allevard. Menarik namun terlihat aneh. Agler yang melihat mereka menatap bingung istana sahabat kecilnya, memutar tubuhnya ke belakang menatap mereka satu persatu dengan senyuman aura tampannya yang memiliki mata iris coklat hazel tersebut.
“Kalian pasti merasa istana ini aneh dan membingungkan, ya? Sini aku jelaskan, seorang pemilik istana ini yaitu tuan Holseon, sengaja mengubah bangunan istana Allevard menjadi terlihat tua. Supaya penyihir yang menguasai alam ini, mengira bahwa dalam istana Allevard ini sama sekali tak ada penghuninya sama sekalipun. Bangunan istana milik tuan Holseon dan juga Aleyzra memang terlihat lapuk di luar, namun tidak pula di dalamnya.”
“Akan kami jamin kalian betah tinggal di dalam istana Allevard. Tuan Holseon mempunyai beberapa fasilitas yang luar biasa yang dimiliki oleh beliau dan itu akan membuat kalian merasa lebih aman serta nyaman tinggal di istana Allevard,” tambah Agler.
Antares yang mendengarnya begitu kagum. “Wah itu sangat hebat! Dan gue percaya kalian bukanlah orang sihir yang jahat pada kami. Niat kalian terlihat baik dan ingin menolong kami dari keburukan terjadi.”
Agler tersenyum dengan menganggukkan kepala. “Kau sangat benar, Antares. Baiklah, lebih baik kita masuk ke dalam saja. Dan untuk luka yang dialami Narthan sebaiknya segera diobati, karena dari dasarnya tusukan benda tajam itu adalah sebuah racun yang lambat laun akan menggerogoti dalam tubuh organ Narthan.”
“Apa?! Yang bener aja?! Pantesan mukanya si Narthan udah jadi pucet gitu!” pekik kejut Damien.
“Efek mulanya memang dari situ, Damien. Lebih baik kita segera masuk ke dalam istana, karena kami takutnya tertangkap basah oleh penyihir wanita itu yang sedang berusaha mengincar kami semua,” tutur Glory.
Yang mendengarkan tuturan komando dari Glory yang wujudnya sama persis seperti Eyndera, manggut-manggut kemudian mulai mendekati pintu dua daun istana Allevard yang ukurannya begitu besar dibanding bangunan rumah biasa.
Sungguh antara tidak menyangka dan bahagia, mencampur jadi satu di hati mereka berdelapan sang manusia normal biasa yang tidak mempunyai suatu kekuatan sihir mantra macam kembaran mereka masing-masing. Dan mereka percaya sekali tujuan mereka membawa ke istana Allevard adalah ingin melindunginya dari marabahaya penyihir wanita yang telah lama menguasai alam dunia ajaib ini.
ANW To Be Continued »
__ADS_1