Bad Partner

Bad Partner
Perasaan Yang Kacau


__ADS_3

Veronica segera melangkah keluar, meninggalkan Fernand dengan segala pikirannya. Ini buang-buang waktu dan Veronica tidak pernah menyukainya. Wanita cantik itu masuk ke SUV yang diparkir di samping klub, dia membanting pintu mobil dan memijat pelipisnya.


" Cepat pergi!"


" Tapi bagaimana dengan Fernad no—"


" Ini perintahku! Jangan pedulikan pria aneh itu, membuang buang waktu saja."


" Baik nona."


Sepanjang jalan, Veronica hanya memandang ke luar jendela ke arah langit malam yang belum terlalu larut mencoba meredakan kekesalannya pada Fernad tadi.


" Apakah ada masalah nona?" ujar sang supir mencoba bertanya secara pelan pelan, ia hanya sedikit tak nyaman dengan aura Veronica.


" Menurutmu... Apakah seorang pria bisa memiliki ketakutan atas masa lalunya?"


" Pria juga manusia nona."


" Bahkan pernikahan? Mengapa orang gila ini harus peduli dengan masa depannya? Dia hanya akan terkubur di dalam tanah dan mimpinya sudah hancur, lalu apa yang pria aneh itu pikirkan tentang masa depan."


" Mungkin ia takut untuk jatuh cinta."


" Ck dasar, ia tak akan pernah merasakan cinta bersama ku seumur hidup!"


" Dan Nona tidak akan pernah melepaskannya? Bagaimana itu bisa terjadi, pria dan wanita yang sebelumnya hanyalah orang asing dan kemudian memutuskan untuk bersama secara perlahan pasti akan merasakan perasaan cinta."


Veronica terdiam, pikirannya menjadi terlempar di masa lalu.


" Aku tidak akan pernah melepaskannya, bahkan jika perasaan tidak berguna itu muncul kembali, aku tidak akan mengulangi hal yang sama." Dengan penekanan yang kuat pada kata-katanya, Veronica mengepalkan tangannya.


...----------------...


Malam semakin larut bahkan jalanan yang semula ramai dengan sedikit pengunjung kini menjadi sepi karena sebagian sudah terlelap dalam tidur kembangnya masing-masing. Kehidupan yang indah, bagaimana Fernad bisa bertahan sementara perasaannya kini kacau balau? Dia seperti orang gila tunawisma yang tergantung sendirian di pinggir jalan dengan sekaleng bir kosong.


Dia sudah lama berada di klub, yang menjadi pelariannya setiap malam atau saat dia panik dan di bawah tekanan. Bermain dengan para wanita adalah solusinya, dan membuang sebagian dari uang hasil jerih payahnya ke dalam hutang.


Fernad seolah-olah bingung dengan tujuannya, ia akan pulang ke apartemennya atau ke apartemen milik calon istrinya. Tunggu, sejak kapan ia mau menyebut Veronica adalah calon istrinya?


" DASAR WANITA GILA!! Seharusnya aku tak menerimanya! Sial ! Sial!" Fernand dengan emosi melempar kaleng birnya sembarangan dan mengacak-acak rambutnya seperti orang gila.

__ADS_1


"Siapa yang kau sebut gila, tikus kecil?" Perhatian Fernad dialihkan oleh sekelompok orang kekar yang mencegahnya tidak jauh darinya, dan Fernad menyadari sebuah nasib buruk.


"Debt Collector," bisiknya dengan mata gemetar, bertanya-tanya mengapa Fernand harus merasakan keadaan tak berdaya dan setengah gila ini saat bertemu mereka yang akan menimbulkan pertikaian nantinya.


Para penagih hutang itu perlahan berjalan mendekati Fernad yang mulai pasrah, " Mengapa kau terlihat gila tikus kecil?"


" Apakah Veronica mencampakkan mu?"


" Astaga kasihan sekali, kau pasti akan menjalani hidup mewah bersamanya."


"Jangan khawatir tikus kecil, wanita memang seperti itu." Tubuh berotot Fernand tampak tak berdaya saat tangan yang ia benci memeluk bahunya dengan ramah.


"Jadi, kau menghambur-hamburkan uangmu di tempat yang najis itu?” kata salah satu penagih utang yang menunjuk ke sebuah club tak jauh dari tempatnya sekarang berdiri, dan Fernad terdiam.


" Jawab aku tikus kecil," ujar salah satunya menepuk nepuk pipi Fernad karena hanya diam tak merespons.


"Aku tidak punya uang," ujar Fernad lemah.


Mendengar Fernad mengatakan itu, membuat mereka semua saling memandang dan tertawa.


" Kau pikir kita bodoh hei tikus kecil? kau selalu mengatakan hal yang sama setiap kali kami menagih hutangmu, tetapi nyatanya ... kau selalu bersenang-senang dengan para pela—cur itu " ujar salah satu sembari memukul mukul kepala Fernad yang terasa pusing.


Mereka semua lalu tertawa dan langsung berjongkok melepaskan injakan mereka di telapak tangan Fernad.


" Bermohon lah lagi tikus kecil, jangan harap kita bisa melepaskan mu begitu saja malam ini dengan omongan sampah mu itu." Setelah mengatakan itu, salah satu dari mereka menarik rambut Fernad hingga wajahnya terangkat.


" Hei lihat wajah tampan yang dipuja wanita jala—ng ini, haha ​​​​kau tikus kecil yang sangat tidak berdaya tapi tidak apa-apa lebih mudah bagi kami untuk memberi pelajaran kepada kau yang selalu sok mengalahkan kami."


Setelah mengatakan hal tersebut, Rambut Fernad segera dilepaskan.


" Pukul dia."


BUG...


BUG...


BUG...


BUG...

__ADS_1


Dunia Fernad seakan tak berdaya, tubuhnya lemas meski luka yang diterimanya mengeluarkan darah. Bagi Fernad, ini menyakitkan, tetapi dia tampak mati rasa dengan segalanya.


Fernand kemudian berteriak keras saat tubuhnya diinjak-injak dan kemudian langsung kehilangan kesadaran, kepalanya benar-benar pusing dan pandangannya menjadi buram.


" Hei sudah sudah! Ia tampak kehilangan kesadaran!"


" Dia pingsan!"


" Hei dia tidak mati bukan?"


Salah satu dari mereka segera mengecek denyut nadi Fernad yang masih berpacu.


" Dia hanya pingsan."


" Cih,nyatanya ia lemah berani beraninya selama ini dia melawan kita dan berlagak sok kuat."


" Curi uangnya cepat cepat!"


" Wah tikus kecil ini benar-benar menyimpan banyak uang."


" Kita hanya akan meninggalkannya di sini?"


" Tentu saja!kau pikir jika kita membawanya akan mendapatkan keuntungan?"


" Kau benar kita hanya akan terseret di kantor polisi."


" Ayo cepat pergi!"


Ketika sekelompok orang dengan julukan Debt Collector meninggalkan Fernad yang terluka parah. Namun kesadaran Fernad yang kembali masih setengah membuatnya duduk dan mencoba menjernihkan pikirannya.


"Sialan," umpatnya, lalu berdiri dengan lemas.


"Tidak ada taksi, sial," umpatnya lagi, masih bertahan untuk terus menyusuri jalanan sepi.


BRUUGH....


Fernand jatuh lemas di lantai apartemen berkarpet, rute terdekat adalah apartemen Veronica dan terpaksa Fernad mendatanginya lagi. Dia ingin tidur di tempat ranjang yang entah mengapa bisa kembali rapi, tetapi kekuatan Fernad sepertinya tidak ada dan dia berakhir di lantai dengan suasana yang terasa sangat dingin dan tegang.


Fernad perlahan menutup matanya dengan pikiran kalut.

__ADS_1


__ADS_2