
Malam itu, di klub malam. Fernad, laki-laki itu terus menikmati pemandangan dewasa di hadapannya dari orang orang yang berada di situ, di sampingnya ia memeluk 1 perempuan yang menjadi pemuasnya selama ini. Bermain manja di dadanya dengan tangan kekar Fernand memainkan surai wanita itu.
"Kudengar kau akan menikah dengan seorang wanita." Wanita itu mendongak untuk melihat wajah Fernad yang terus menatapnya, "Siapa itu? Apakah kamu juga menyukainya?"
Fernand tersenyum kecil, dia langsung melahap bibir se—ksi yang membuat tertarik pelanggan lain, mereka beradu bibir cukup lama dan saling bertatapan. Fernad kemudian melepaskan ketika sang wanita sudah terengah-engah, " Aku tidak tahu apakah harus bahagia atau tidak, itu sangat membebani pikiranku.”
Wanita itu tersenyum dan langsung duduk di pangkuan Fernad, dia melingkarkan tangannya di leher Fernad, " Mengapa? Kau takut dia tak bisa memuaskan mu di ranjang seperti ku? Tak apa tampan,kau bisa bermain dengan ku, sepuas mu," ujar sang wanita berbisik manja, dan melepaskan kancing Fernad perlahan-lahan.
Sejauh ini Fernad hanya diam, tentu saja bukan itu alasannya tapi ada hal lain dan dia juga tidak tahu. Perasaannya campur aduk, ia merasa senang namun juga terkejut.
Fernand terus melamun hingga kini sebagian tubuhnya yang atletis tersingkap gara-gara sang wanita yang bermain manja di dadanya dengan jari-jarinya.
"Kalaupun menikah, aku akan tetap menikmati tubuh indah ini karena tidak ada suami yang bisa setia pada istrinya, seindah apapun itu kan?" Fernad mengalihkan pandangannya pada sang wanita yang terus memainkan dadanya.
" Apa aku harus menikahi mu?" Mendengar itu, wanita itu langsung menjauhkan diri namun langsung dicegah dengan cengkeraman kuat Fernad di pinggangnya, "Kau takut?"
"Aku hanya menerima pelanggan! Bukan lamaran," ujar wanita itu dengan ekspresi tidak senang.
Fernand hanya menghela napas kasar, "Dasar jal—ang nakal, sama-sama gila uang."
Wanita tersebut hanya tersenyum kecil dan segera menyenderkan kembali wajahnya di dada Fernad.
__ADS_1
Dari arah pintu masuk, seorang wanita berpenampilan sek—si memasuki area klub dengan anggun. Surai rambut hitamnya yang tergerai membangkitkan aroma yang mampu membangkitkan hasrat, ia tak kalah cantik dan menggairahkan seperti para wanita yang ada di dalamnya atau bahkan melebihinya. High heels yang terus menimbulkan getaran membuat beberapa pria menatapnya dengan penuh nafsu.
Mengabaikan beberapa godaan dari pria yang ada di sana, wanita itu terus berjalan sampai dia berhenti di tempat Fernad dan wanita jala—ng itu sedang bermesraan dan Fernad tidak pernah menyadarinya, karena dia asyik melamun.
" Aku heran,mengapa wanita di sini begitu murahan hanya untuk mendapatkan uang dengan cara tak berkelas," ucapannya berhasil membuat wanita di pangkuan Fernad bingung dan langsung menatapnya termasuk Fernad yang kemudian menatapnya.
" Hei kalian! Aku memesan kamar untukku dan laki-laki ini!" kata wanita itu sambil menunjuk wajah Fernad yang pandangannya buram akibat efek alkohol yang tinggi.
" Siapa kau!" ujar sang wanita yang berada di pangkuan Fernad berdiri dan menatapnya dari atas sampai bawah.
" Wah wah,kau bahkan ingin melebihiku? Kau yang terlalu bersikap murahan untuk mendapatkan pelanggan ku!" Wanita tersebut segera menatap Fernad yang hanya menatapnya dengan sayu dan pelacur dihadapannya.
"Dia? Pelanggan ku? Sejak kapan calon suamiku menjadi pelangganku?” Kata-katanya berhasil membuat wanita di depannya melebarkan matanya.
" Menurut mu?"
"Tapi... tapi bagaimana bisa?" ujar wanita itu dengan bibir tergigit berusaha menyembunyikan rasa tersaingi.
"Kau sempat bertanya siapa aku bukan ?Aku," wanita itu mendekatkan wajahnya, "Veronica Aifisin."
...----------------...
__ADS_1
Veronica segera melemparkan tubuh Fernad ke ranjang dan mengunci pintu kamar club. Ia menatap Fernad dengan emosi.
" KENAPA KAU BEGITU CEROBOH HAH!! Kau tahu media membicarakan kita, citraku bisa rusak karena ORANG BODOH SEPERTIMU!"
Fernad hanya tertawa kecil sukses membuat emosi Veronica tersulut. Ia langsung menghampiri Fernad dan mencengkram dagu pria itu.
"Dengar, aku memilihmu untuk tidak membuat kekacauan ini, baji—ngan! Beraninya kau tertawa!"
PLAK
" KAU TAHU ITU!! Dasar baji—ngan murahan!" Veronica berusaha menahan emosinya dan kembali menatap Fernad yang baru saja ditamparnya.
Fernad memegang pipinya rasa sakitnya membuat ia teringat pada suatu hal, ia menatap Veronica dengan sayu, " Kau menamparku? Lalu bagaimana nasibku kedepannya jika kau hanya MEMENTINGKAN EGO DAN UANG TANPA MERASA BERSALAH PADA ORANG LAIN DI SEPANJANG PERNIKAHAN KITA HAH!"
" DIAM!"
" Veronica Aifisin, VERONICA AIFISIN Aku benar-benar tidak mengerti tentang dirimu, aku bingung aku juga takut, aku takut akan melakukan kesalahan yang sama seperti sebelumnya, lalu apa yang akan terjadi padaku jika kau hanya membuatku menjadi sampah?"
"Sejak kapan aku menjadikanmu sampah?"
"Mereka! Mereka bilang kau hanya menganggap laki-laki sebagai sampah!"
__ADS_1
Veronica terdiam, dia melihat Fernad yang mulai menitikkan air mata dan terlihat sangat frustasi.
" Dasar gila, aku tak pernah melihat orang aneh seperti mu."