
Pagi merayap begitu cepat, mentari sudah menyiarkan sinarnya di penghujung hari yang biasa disebut Sunrise. Cahayanya yang terus menyala setiap detiknya menunjukkan hari yang semakin terang, pada saat itulah Veronica baru bangun dari mimpinya dan sudah bersiap-siap.
Penampilannya selalu anggun, dengan busana yang lebih tertutup dan coat andalannya memancarkan kecantikan yang luar biasa. Veronica mulai berjalan keluar dari kamarnya yang akan dirapikan oleh beberapa pelayan.
Veronica memilih naik SUV hitam dari semua pilihan mobil yang berjejer rapi di garasi mobilnya. Hampir seperti mengoleksi sesuatu.
Di Kediaman utama rumah Aifisin
Sesuai janji Veronica pada sang ibu bahwa akan menyelesaikan masalah kemarin secara pribadi, Veronica kini sudah berada di ruang tamu dengan secangkir kopi sejak dia tiba 15 menit yang lalu.
Kedua insan yang menatap gerak-gerik putri mereka begitu tenang dan seolah-olah tidak ada hal besar yang terjadi, saling memandang dan kemudian mendengus pelan.
" Veronica."
" Ya?" Veronica mendongak dan melihat wajah sedih ibunya yang masih terlihat sangat muda dan cantik, keduanya mengalami kontraksi yang lama.
" Kau yakin dengan pilihan mu?"
" Mengapa tidak?" Albert di samping Meysa mengerang kesal, tak menyembunyikan kekesalannya pada wanita berstatus putrinya itu.
" Mengapa kau lebih tertarik dengan pria rendahan itu daripada Lefan?" Bagi Meysa, ini adalah pertanyaan yang menggerogoti pikirannya sejak kemarin,berusaha melunakkan nadanya karena tidak ingin membuat suasana semakin menggila karena jawaban Veronica yang selalu mengejutkan.
" Karena dia mencintaiku."
" Dan Lefan tidak mencintaimu?" Albert tiba-tiba melontarkan pertanyaan seperti itu untuk menandai hal logis yang tidak boleh sama. Lefan yang pertama kali mengenal Veronica bukan malah pria asing yang dibawa terang-terangan oleh putrinya. Dan seharusnya Veronica dapat melihat perbedaan itu.
" Tidak." Jawaban itu membuat Albert ingin memuncak, namun karena isterinya dengan lembut mengelus lengannya, guratan-guratan hangat mengalir di tubuh Albert dan ia mampu mengendalikan emosinya.
"Mengapa kau mengambil kesimpulan secepat itu, Veronica?" tanya Meysa melanjutkan pertanyaan Albert, membuat Veronica segera menyandarkan punggungnya di sofa.
__ADS_1
" Ibu ingat ketika aku masih di sekolah menengah bahwa ada seseorang menarik perhatianku dan terus menunggu jawaban yang tidak pasti? Dialah laki-laki itu Fernando Elbart, cinta pertamaku yang pernah membuatku tergila-gila dengan laki-laki sekali seumur hidup."
" Dan seseorang yang menolakmu dengan alasan akan fokus belajar di Jepang?"
" Tepat sekali," jelas jika penjelasan Veronica tak sama sekali ada benarnya juga, namun itu adalah fakta bahwa veronica pernah jatuh cinta dan tertolak ketika duduk di bangku SMP namun orang tersebut betul betul bukanlah Fernad. Desas-desus beredar dan informasi yang didapatnya dari Mayde, sang pelayan pribadi, adalah bahwa orang tersebut telah menjadi hakim di pengadilan Jepang ternama bersama keluarga kecilnya.
" Jadi kau..."
" Benar, Fernad adalah orang yang sama." Meysa dan Albert saling berpandangan, air mata mereka mulai tak terbendung. Putri mereka memang mengalami masa seperti itu sebelum akhirnya tumbuh menjadi wanita anti pria yang mereka kenal sekarang. Veronica yang dianggap tidak normal karena sama sekali tidak pernah berhubungan dengan laki-laki ternyata tidak seperti yang mereka kira.
Keduanya kini segera memeluk Veronica dengan rasa bersalah, di dalam lubuk hati Veronica, wanita itu benar-benar bersorak gembira karena ia sekali lagi dan lagi berhasil mendapatkan keinginannya meski hal ini sangatlah licik. Kedua insan tersebut memberikan usapan lembut pada putri tercinta mereka dan kemudian sedikit melepaskan pelukannya.
"Apa yang kau inginkan nak ? Ibu akan mengurus semuanya karena kamu telah menemukan orang yang tepat dalam hidupmu nak. Seseorang yang pernah membuatmu menjadi Veronica yang manja dan lucu."
" Dan ayah akan membatalkan perjodohan mu dengan Lefan apapun yang terjadi."
Melihat dari raut keyakinan kedua orang tuanya. Veronica tersenyum kecil tanpa rasa bersalah yang muncul karena sekali lagi ia mendapatkan apa yang diinginkannya.
" Tentu saja."
Perusahaan LU, Manchester
Suara high heels melangkah keluar dari mobil sport mewah, memperlihatkan secara langsung seorang wanita dengan tubuh menggoda dibalut gaun selutut tanpa pelindung, surai rambut hitam yang dibiarkan tergerai dengan penampilan anggun berkacamata hitam.
Beberapa orang tertangkap oleh perhatian wanita tersebut yang melangkah dengan anggun ke dalam perusahaan yang disambut asing.
" Hei Kau!!" seorang karyawan di meja resepsionis tidak menyukai wanita tersebut yang masuk tanpa mendekatinya dan berjalan melewatinya dengan penuh percaya diri.
Karena tak digubris, karyawan tersebut berjalan mendekati dan menghalangi langkah wanita itu.
__ADS_1
" Minggir."
" Siapa kau," ujar sang karyawan melipat tangan didada dengan tatapan remeh.
" Aku ?" ujar wanita itu yang kemudian melepas kacamatanya dan menatap datar seseorang yang menghalangi langkahnya saat ini. Aura mahal dan berkelas yang terpancar membuat karyawan tersebut membelalakkan matanya, terkejut.
" Nona Veronica?" ujar sang karyawan yang hanya ditanggapi decihan kecil.
" Maafkan saya nona, saya bersikap tak sopan pada anda," ujar karyawan itu sambil membungkukkan badan sambil mengutuk kesalahannya, bagaimana bisa dia melupakan penampilan seorang Veronica yang begitu berpengaruh di perusahaan LU milik Lefan.
Memang perusahaan LU yang sekarang Veronica kunjungi adalah milik Lefan, sesuai percakapannya dengan Lefan di telepon tadi malam bahwa dia ingin meminta pertemuan langsung diperusahaan. Bahkan setelah bertemu dengan orang tuanya tadi ia menyempatkan untuk berganti pakaian dan mobil.
" Dimana Lefan?"
" Dia ada di ruangannya Nona," ujar sang karyawan masih dalam posisi membungkuknya. Veronica segera kembali memakai kacamatanya dan berjalan melewati sang karyawan.
"Bencana," gumam karyawan itu, yang menarik banyak perhatian setelah Veronica benar-benar meninggalkan tempat itu.
Ruang utama Lefan. Pria berstatus CEO itu tampak sedang berkutat serius dengan tumpukan kertas dan laptop di depannya tanpa ada orang selain dirinya. Pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka tanpa izin membuat Lefan mendengus kesal.
"Ketuk dulu Vero kalau mau masuk."
" Mengapa harus begitu?" ujar Veronica setelah kembali menutup pintu dan berjalan perlahan ke arah Lefan. Pria itu kemudian menatapnya.
" Lupakan, mari kuantar di tempat yang lebih nyaman."
" Tidak perlu, aku akan langsung ke intinya." Kata-kata serius Veronica menghentikan langkah Lefan yang akan membawa wanita itu ke ruangan khusus di tempat itu.
" Apa itu?"
__ADS_1
" Aku menang dan kau kalah, pernikahan kita resmi batal."