
Dua botol telah habis dan malam telah menggantikan hari yang cerah, entah sudah berapa lama Veronica berada di apartemen bersama Fernad hingga keduanya kini mabuk. Selama anggur diteguk, mereka berdua memilih diam dan tidak berkata apa-apa karena pada dasarnya mereka hanyalah orang asing yang berusaha mencairkan suasana.
Veronica terus berdiri di depan jendela transparan besar yang menunjukkan malam di penghujung hari yang akan datang, sangat cantik untuk dilihat bersama tapi sayangnya Veronica tidak pernah memiliki inisiatif seperti itu.
Dalam kehidupan wanita itu, pekerjaan dan masa depan yang cerah adalah satu hal yang menjadi fokus. Tetapi dia tidak benar-benar menikmati hidupnya sekali jika dia bosan, dia pergi ke klub atau jalan-jalan.
Masa bodo dengan cinta cintaan yang memikirkan pasangan yang terkadang tak menghargai pasangannya, berselingkuh atau kurang puas benar-benar membuang masa. Dia benar-benar tidak ingin hidupnya berakhir menjadi ibu rumah tangga di mana suaminya meninggalkannya,memilih hidup bersama wanita lain dan memiliki ekonomi yang kritis, tidak punya waktu untuk mengurus dirinya sendiri karena anak-anak yang super rewel.
Itulah kenapa Veronica Aifsin dikenal sebagai anti laki-laki karena dia benar-benar meng—cut laki-laki dalam hidupnya, untuk kebutuhan batin seorang perempuan dia merasa tidak perlu. Veronica kemudian melirik ke arah arloji di tangannya. Astaga, bahkan ia tak sempat datang ke perusahaannya hari ini, merepotkan.
Veronica melirik Fernad yang masih meminum wine-nya yang kini tersisa 1 botol. Veronica mulai mengambil Cream Coat-nya yang telah digantung di pintu lalu merapikan rambutnya, dia menatap Fernad sekali lagi.
" Aku bahkan tak perlu izinnya untuk pulang," ujar Veronica sebelum akhirnya membuka pintu dan meninggalkan Fernad dengan keadaan mabuk yang seimbang, Veronica adalah tipe wanita pemabuk yang kuat.
Setelah Veronica pergi, Fernad memandangi pintu yang tertutup dengan pikiran kalut, lalu dia tersenyum pahit.
"Aku benar-benar akan menikah lagi, maaf Margaret," bisik Fernad sambil menyesap anggur lagi meski kepala pria itu berdenyut.
"Veronica Aifisin, wanita dengan sejuta kejutan dan tubuh yang sangat menggoda. Entah kenapa benda ku ini bisa bertahan lama saat aku melihat lekuk tubuh wanita gila itu tadi."
Kemudian Fernad beranjak dan menjatuhkan diri di ranjang.
"Aku benar-benar akan memiliki kehidupan mewah tanpa bekerja keras, but Adaline I miss you," bisik Fernad dalam tidurnya sebelum ia terlelap ke alam mimpi.
__ADS_1
Veronica Aifisin's house
Malam sudah mulai larut, waktu terus berjalan dengan angin kencang yang menusuk tulang rusuk, dengan pakaiannya yang terbuka Veronica menatap lurus pemandangan malam kota Manchester di balkon kamarnya.
Sepulang dari apartemennya bersama sopir, ia tidak langsung mengistirahatkan badannya dan segera berganti pakaian menjadi Camisole. Bersama sang pelayan wanita yang menemaninya di sampingnya, Veronica ingin mencurahkan beberapa hal tentang Fernad
" Anda tidak lelah nona?" tanya sang pelayan yang masih setia disamping Veronica ketika terus terdiam menikmati angin yang menerpa wajahnya selama ini.
"Tidak, aku bahkan tidak bisa merasakan angin dingin karena aku sudah terbiasa." Veronica menatap sang pelayan.
" Bagaimana hari anda nona?"
" Aku akan menikahi Fernad bukan Lefan."
" Entahlah,aku hanya merasa dia sempurna."
"Mayde, apakah kau sudah melakukan perintahku?" tanya Veronica membuat pelayan yang bernama Mayde itu membungkuk sedikit. Meyde adalah salah satu pembantu rumah yang memiliki pekerjaan ganda, selain sebagai pembantu seperti halnya pelayan lainnya.Meyde juga terlibat dalam masalah pribadi Veronica, yang akan bergabung dengan semua rencana dan perintah Veronica.
"Sudah Nona."
"Bagus, kau bisa pergi, mataku mulai lelah."
" Baik nona, saya permisi."
__ADS_1
Veronica lalu melihat kembali pemandangan malam yang memperlihatkan seluruh kota. Dia mulai masuk ke kamar, menutup pintu transparan yang langsung menghubungkan area balkon dan kolam renang, mengambil benda datar di atas mejanya. Jarinya menekan nomor seseorang sembari duduk di tepi ranjang.
The Washhouse
Klub ternama di Manchester, tepatnya di ruang VIP seorang wanita dengan pakaian minim bahan dan tubuh yang menggoda terus bergoyang di depan pria bernama lengkap Lefan Brian Mcknight yang juga menggandeng 2 wanita bertelanjang dada.
Lefan menikmati keseruan dunianya yang kini terganggu oleh nada dering ponselnya yang menunjukkan di layar bahwa Veronica sedang menelepon, tiba-tiba dengan cepat Lefan mengangkatnya dan menyuruh para wanitanya untuk diam sebentar.
"Well it's lucky for me Veronica Aifisin menelponku, ada apa sayang?"
" Aku ingin bertemu besok." Lefan tersenyum senang.
" Tentu saja , kirimkan alamatmu."
" Tidak perlu aku akan datang ke perusahaan mu besok."
" Oh tentu saja sayang, aku akan menyiapkan ruangan khusus untuk mu di ruangan ku." Setelah Lefan mengatakan hal tersebut, Veronica dari sebrang sana menutup telpon. Dengan semangat Lefan langsung melempar handphonenya ke sembarang arah dan berteriak senang.
" Akuuu menang, hei kau tak tau Veronica mengajakku bertemu! sebuah keberuntungan untuk ku," ujar Lefan dengan gembira. Karena biasanya Lefan yang selalu memaksa Veronica untuk bertemu dan sekarang Veronica yang menelponnya terlebih dahulu dan mengajaknya untuk bertemu.
Astaga Lefan yang malang.
Pria itu bahkan tak segan-segan memeluk beberapa wanita yang ada di sana dan menjadikan pelampiasan kebahagiaannya.
__ADS_1
" Veronica!! Kau milikku!"