
Hawa dingin malam yang panjang di Manchester berhasil tergantikan oleh pagi yang cerah di kediaman utama rumah Aifisin. Albert Aifisin, ayah Veronica yang berusia 45 tahun, dan Meysa Nica Aifisin, ibu kandung Veronica yang berusia 40 tahun, sedang sarapan bersama.
Sambil menunggu kedatangan putri mereka, kedua sejoli itu tampak mengobrol dan menebak-nebak apa yang dibicarakan Veronica dan Lefan tadi malam. Mengingat Lefan menjemput Veronica dengan mobil mewahnya memberikan kesan positif bahwa Veronica mulai menerima perjodohan ini.
" Veronica bukan wanita seperti itu, aku yakin dia sudah menerima Lefan sebagai calon suaminya," ujar Meysa tersusul dentuman garpu dan pisau lalu memakan sepotong daging.
" Kau bena—"
"Tidak, bukan begitu, mom and dad ," sela Veronica dari tangga sebelum Albert membalas pernyataan istrinya. Keduanya memberikan tatapan bingung.
"Apa maksudmu Vero?"
" Maksudku ... Aku tidak pernah tertarik dengan Lefan sampai detik ini," ujar Veronica sembari mengambil kursi di hadapan kedua orang tuanya.
"Jangan lakukan sesuatu yang berisiko, image mu terlalu tinggi untuk melakukan hal gila. Pernikahanmu akan berlangsung 1 minggu lagi dan publik tahu kau akan menikah dengan Lefan," papar Albert yang khawatir putrinya melakukan sesuatu pada Lefan semalam yang akan membuat lelaki itu berang.
" Tidak, tidak sebelum aku bertindak."
Veronica menatap ibunya "Jangan khawatir bu... kau masih punya harapan untuk memiliki cucu dan Ayah jangan khawatirkan putrimu karena aku bukan wanita belok yang tidak suka lawan jenis, aku tidak seperti itu." Veronica berujar lembut membumbui senyuman tipis di bibir indahnya, dengan sandwich di tangannya ia mulai berdiri.
"Aku pergi, satu sandwich sudah cukup untukku, selamat tinggal, ibu, ayah, enjoy your breakfast."
" Ah ya hampir lupa, tunggu kejutanku ketika aku pulang ... Aku akan memperkenalkan calon suamiku yang sebenarnya," tambah Veronica sedikit berbalik lalu kembali melangkah.
Tepat saat Veronica menghilang dari balik pintu, kedua pasangan itu saling pandang untuk meminimalisir kekhawatiran yang menerpa dan itu karena ulah Veronica.
Coat cream selutut dengan dress merah yang memperlihatkan lekuk tubuhnya membuat keanggunan dan kecantikan CEO satu ini terlihat memancar, kedewasaan sebagai direktur utama di perusahaan HOFE untuk menyediakan layanan rumah impian bagi setiap penyewa di negara-negara sekitar yang menjadi kontrol akses mereka kini sungguh luar biasa.
Veronica dengan mobil sport hitam mewahnya yang ia kendarai sendiri menikmati perjalanan ke perusahaannya sebelum sebuah panggilan masuk membuyarkan fokusnya.
" Hai Veronica!! Kejutan berturut-turut oke! aku, Mely dan Alice telah kembali dari Kanada!! ayo bertemu untuk menghilangkan rindu selama 1 tahun ini!" ujaran keras dari seseorang di sebrang sana tak mengubah ekspresi datar dari wajah Veronica, ia hanya mengubah rute tujuan.
" Dimana?"
" Cafe Bar! mari bersulang sampanye bersama-sama."
" Dalam perjalanan."
Click
__ADS_1
Veronica segera berbalik arah dari perusahaannya, sedikit terlambat tidak apa-apa lagipula dia terlalu disiplin belakangan ini.
Cafe Bar , Manchester.
Hiruk pikuk kehidupan kota Cottonopolis di pagi hari memadatkan beberapa tempat, termasuk kafe tempat Veronica dan 3 temannya sedang berkumpul. Di sana, seorang wanita dengan surai pendek sebahu bernama Mary, yang menelepon Veronica 15 menit yang lalu, terus berbasa-basi dan tampak lebih aktif daripada yang lain.
Selama 2 tahun ini Mary, Mely dan Alice pergi meninggalkan sendiri Veronica di Inggris untuk berlibur ke Kanada. Teman masa kecil untuk menjadi ratapannya dan memungkinkan dia untuk bergaul bersama memberikan keluh kesah.
"Veronica, bagaimana dengan pernikahanmu?" Mely, wanita berkuncir kuda itu sepertinya lebih banyak melontarkan pertanyaan yang menarik perhatian ketimbang Mary yang hanya berbasa-basi.
" Apakah kau benar-benar menyetujui perjodohan itu Veronica?"
"Hei, tentu saja dia setuju, mungkin saja dia tidak tahan bisa mencicipi sesuatu yang enak di malam pertama," ujar Mary, yang sekali lagi berbasa-basi.
"Hentikan Mary, kamu mengejutkan Veronica."
"Tapi bukankah begitu?" tanya Mary kepada Alice yang menegurnya.
" Entahlah."
Maly memutar matanya karena malu lalu melihat ekspresi Veronica yang sedang melihat sekeliling. "Bicaralah dengan jujur kepada kami, apakah kamu benar-benar setuju dengan perjodohan itu?"
"Aku sudah memesannya, cepat beritahu aku." Sekarang, Mary dan Alice juga menunggu jawaban Veronica, yang memandang mereka bertiga satu per satu.
"Wajahmu lebih cerah dari tahun sebelumnya, apakah di Kanada sekeren itu?"
Mereka bertiga mengerang frustasi,tidak mudah mencampuri urusan pribadi Veronica jika wanita itu tidak mau membahasnya terlebih dahulu.
" Aku bertaruh dengan Lefan," ujaran tiba tiba Veronica sukses membuat ketiganya memandanginya kebingungan.
" Apa maksudmu ?"
" Ya apa—"
" Permisi, Caramel Macchiato 4 gelas di sini, selamat menikmati," ujar seorang Waiters menempatkan satu per satu pesanan di depan masing-masing pemilik, namun Veronica hanya memandangi Waiters tersebut tanpa berkedip.
Mata keduanya kini berkontraksi, dan sang Waiters segera memutuskannya.
" Terima kasih tampan!" kata Mary ketika Waiters tersebut pergi, sementara Veronica terus mengawasinya.
__ADS_1
" Astaga dia sangat tampan."
" Hmm kau benar, kau lihat hidung mancungnya tadi?"
" Kau tidak melihat ototnya?"
" Bagaimana kau bisa melihatnya Mary? dia mengenakan lengan panjang."
" Entahlah."
" Jadi Veronica ... taruhan apa yang kau buat dengan Lefan?" ujar Mely yang membuat Veronica tidak teralihkan.
" Sempurna."
Mely tampak tidak mengerti apa yang Veronica bicarakan.
" Apanya yang sempurna?"
" HEI KAU!!" Seluruh pengunjung cafe menoleh memandangi Veronica yang tiba tiba berteriak, membuat ke 3 temannya kebingungan.
" Hei Veronica apa yang kau lakukan!"
Veronica tidak menghiraukannya, dia langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri salah satu Waiters yang mengantarkan pesanannya tadi yang juga sedang menatapnya di tempat.
" Ada apa nona, apakah ada suatu kesalahan?"
" Tidak."
" Lalu apa yang anda butuhkan non—"
" Mari kita menikah." Para pelayan terdiam sesaat setelah Veronica mengatakan itu. Tentu saja tidak ada jawaban pasti, tapi Veronica dengan berani mendekat dan mulai melingkarkan lengannya di leher Waiters tersebut dan mendekatkan wajahnya sampai kecupan panjang berhenti di bibir keduanya.
IG: @coccyxvip
Fernad Elbart ( Myung-soo).
Pria kelahiran Korea yang telah tinggal di Inggris sejak usia 10 tahun. Seorang duda yang suka menghambur-hamburkan uang ke pel*cur di klub, hidupnya serumit tali.
__ADS_1