Badgirl Cantik

Badgirl Cantik
part 9


__ADS_3

#Badgirl_Cantik


"Ada apa yah pak?" tanya papa Siska.


"Hm--anuu-tu-"


"Kenapa pak?" tanya papa Ara.


"Ti-da-k tuan, saya hanya menelpon kalian untuk menjemput anak kalian," ucap Pak Hardi masih dengan nada gugup.


Siska dkk yang mendengar itu semua tertawa di dalam hati.


"Dasar tukang bohong!" batin Siska dkk.


"Oh gitu, kami kira ada apa," ucap 4 orang lelaki paru baya itu.


"I-ya, tuan," ucap pak Hardi.


"Ayo nak kita pulang," ajak mereka kepada anak nya masing-masing.


"Ayo pa!" ucap Siska dkk sambil melirik pak Hardi yang sedang pucat pasi.


Siska dkk pun memutuskan untuk diam karna mereka akan memberi pak Hardi pelajaran.


"Tidak seru jika mereka langsung di keluarkan! Lumayan buat di jahilin." Pikir Siska dkk.


Pak Hardi membuang nafas lega sampai dia tidak sadar jika sedang di perhatikan oleh ibu Indi- guru kesiswaan.


"Mengapa bapak tadi berbohong?" tanya ibu Indi.


β€Œ"Sudah lah, lagian kasian mereka


jika di keluarkan," ucap pak Hardi.


"Wah bapak baik sekali," kagum ibu Indi.


🌻


Setelah ibu Indi pulang. Pak Hardi pergi kerumah sakit untuk menjenguk Rissa.


Ceklek..


Pintu ruang inap Rissa terbuka lalu muncul lah seorang pria paru baya.


"Papa!" panggil Rissa.


"Apa papa sudah mengeluarkan Siska? tanya Rissa.


"Belum! dimana Celin?" tanya pak Hardi.


"Dia tadi sudah pulang mas," ucap Melani-- mama nya Rissa.


"Kenapa dia kalian suruh pulang?!" tanya pak Hardi dengan suara meninggi.


"Kasian dia mas, dia dari tadi pagi belum makan karna ngejagain Rissa," jelas mama Rissa.


"Ini semua gara-gara dia! Papa hampir saja kehilangan pekerjaan," ucap pak Hardi.


"Maksud mas apa?" tanya mama Rissa.


"Lupakan!" ucap papa Rissa sambil melangkah menuju kursi.


"Mama sih! Coba aja Celin nya masih disini kan bisa kita siksa," ucap Rissa.


"Kasihan dia nak," ucap mama Rissa.


"Terserah!" ketus Rissa lalu memejam kan mata nya untuk tidur.

__ADS_1


"Kapan kalian bisa berubah," batin mama Rissa sambil tertunduk lesu.


🌻


Siska kini sedang bersantai di balkon kamar nya dengan di temani coklat panas.


"Hay Nay, luh apa kabar di sana?" lirih Siska sambil menatap langit yang di penuhi bintang.


"Luh pasti udah tenang kan? luh tau gak pas gua denger kabar luh meninggal? Gua saat itu langsung kehilangan semangat buat hidup,"


"Gua mau marah karna orang tua gua baru ngasih tau sekarang! Tapi itu semua udah gak berguna,"


"8 tahun yang lalu luh meninggal, dan gua baru tau sekarang? Maafin gua Nay yang belum bisa jadi sahabat terbaik buat luh,"


"Gua berasa malu jadi sahabat luh! Gua ngerasa gak berguna bagi luh, hikss..hikss!" tangis Siska pun pecah saat itu juga.


Pagi hari nya Siska sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. Hari ini dia memutus kan untuk diantar supir.


Selama di perjalanan Siska sibuk dengan game nya. Sampai-sampai dia tidak sadar jika sudah tiba di sekolah nya.


"Non, kita udah sampai," ucap pak Toni-- Supir Siska.


"Oh iya, pak," ucap Siska.


Seluruh murid yang ada di sekolah menatap terkejut kedatangan Siska.


"Gak jadi di keluarin?"


"Bukan nya kemarin mau di keluarin?


"Kok kak Siska masih sekolah?"


Begitulah bisik-bisik yang di dengar oleh Siska tapi dia hanya menganggap nya angin lalu. Di pertengahan koridor dia berlintasan dengan Devan tapi Siska terus berjalan tanpa melihat ke arah Devan.


"Tumben gak telat," gumam Devan sambil memperhatikan Siska.


🌻


Mata bu Lala tertuju kepada Siska yang tertidur dengan kepala di atas meja.


"Siska! Bangun kamu!" teriak ibu Lala.


"Hoamm," Siska menguap lalu mengucek mata nya.


"Saya dari tadi ngejelasin di depan dan kamu malah enak-enakan tidur disini!"


"Ngantuk buk," ucap Siska lalu kembali menguap.


"Sekarang juga kamu pergi dari kelas saya dan bersihkan semua toilet perempuan di sekolah ini!" tegas ibu Lala.


"Oke buk," ucap Siska lalu bangkit keluar dari kelas.


Satu kelas melongo akan jawaban Siska, karna tidak biasa nya dia mau membersihkan toilet.


Siska keluar kelas tapi ketika di depan pintu dia berbalik dan...


"Din, gue di rooftop," ucap Siska lalu segera berlari.


"Okeee!" ucap Dinda semangat.


"Siska!!!!!" teriak ibu Lala.


🌻


Sebelum pergi ke rooftop Siska membeli cemilan di kantin terlebih dahulu.


Setelah membeli beberapa makanan ringan dan air mineral, Siska pergi ke rooftop.

__ADS_1


Siska melihat sekolah nya dari atas rooftop.


"Nay? Setiap hari gue selalu bayangin kalo kita nanti bakalan satu Sma."


"Gue pengen main sama lo lagi, tapi itu semua pasti gak bakalan terjadi," lirih Siska sambil terus memperhatikan sekolahnya.


🌻


Sementara Dinda saat ini sedang memikirkan cara agar bisa kabur dari kelas bu Lala.


"Apa gue pura-pura ke Wc aja yah?" pikir Dinda.


"Eh nggak-nggak gue kan dah sering kayak gitu,"


"Aha! Gue pura-pura sakit kepala aja deh,"


Dinda mulai menjalankan rencana nya.


"Awh!" ringis Dinda sambil memegang kepala nya.


"Kamu kenapa Dinda?" tanya ibu Lala dengan sedikit panik.


"Kepala saya pusing bu, pagi tadi saya gak sarapan," ucap Dinda sambil terus memegang kepalanya.


"Ya sudah kalo begitu kamu ke uks saja," ucap ibu Lala.


"Tapi buk? Bagaimana dengan pelajaran ibu?" tanya Dinda.


"Sudah tidak usah kamu pikirkan yang penting itu kesehatan kamu," ucap ibu Lala.


"Baik bu. Terimakasih," ucap Dinda lalu beranjak keluar dari kelas.


Dinda berjalan keluar kelas dengan sempoyongan. Setelah agak jauh dari kelas nya dia berjalan dengan santai menuju rooftop. Gada akhlak!!


"Woi Siska, lo mau bunuh diri?" tanya Dinda setelah sampai di rooftop dan melihat Siska yang sedang menunduk menatap ke bawah.


"Enak aja lo! Gua belum nikah masa udah mau mati aja," ketus Siska lalu menuju ke arah sofa yang sudah mereka siap kan untuk bolos dan di ikuti oleh Dinda.


"Ngapain lo tadi?" tanya Dinda.


"Gue cuman ngebayangin kita sekolah bareng lagi sama Nay," ucap Siska.


"Ohh gitu, gua juga sering ngebayangin kayak lo Sis," ucap Dinda dengan nada sendu.


"Udah-udah Din, kita harus berusaha buat ikhlasin Nay," lirih Siska.


"Iya Sis, kita coba sama-sama," ucap Dinda.


"Nih makan! Gue tadi beli di kantin,"


"Wih, luh emang the best."


🌻


Ara yang duduk bersebelahan dengan Jeni sedang menatap kesal ke arah kursi Siska dan Dinda.


"Napa lo Ra?" tanya Jeni.


"Pasti lagi makan-makan tuh mereka di rooftop!" ketus Ara.


"Sabar aja, bentar lagi bel kok," ucap Jeni.


"Iya juga sih." Ucap Ara.


Bersambung...


See youuπŸ’š

__ADS_1


__ADS_2